NovelToon NovelToon
Jatuh Ke Pelukan Ayah Sahabatku

Jatuh Ke Pelukan Ayah Sahabatku

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / Mengubah Takdir
Popularitas:50.4k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

Terbang menuju Italia demi cinta, Evelyn hanya ingin membahagiakan kekasihnya. Namun, takdir berkata lain saat ia menemukan kenyataan pahit di dalam pesawat: sang kekasih berciuman mesra dengan wanita lain di depan matanya.

Saat air mata menetes dan tubuhnya goyah akibat turbulensi mendadak, sepasang lengan kekar menariknya rapat. Ia berada di pelukan Wiliam, pria dewasa berwajah tegas, berkelas, dan memiliki tatapan dingin membunuh. Pria itu tak membiarkan Evelyn lepas begitu saja. Dari sebuah insiden guncangan pesawat, Evelyn justru melangkah masuk ke dalam dunia sang pria paruh baya yang kaya raya, protektif, dan siap memanjakannya tanpa batas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 33

***

Deru mesin sedan mewah milik Wiliam membelah keheningan malam di perbukitan pinus sebelum akhirnya berhenti tepat di depan pelataran vila tersembunyi. Pintu mobil dibukakan oleh pengawal pribadi yang menunduk khidmat, namun langkah pria paruh baya itu tak tertahan sedikit pun. Dengan jas yang sudah ditanggalkannya dan kemeja abu-abu gelap yang tergulung kaku di lengan, Wiliam melangkah lebar menyusuri lorong berukir kayu menuju kamar utama di lantai dua.

Suasana kamar terasa begitu redup. Hanya pendar keemasan dari lampu nakas yang menerangi sebagian ruangan. Di atas ranjang king size yang membentang luas, Lyn terbaring miring dengan selimut sutra membungkus tubuh ringkihnya. Matanya yang jernih tampak berkaca-kaca, menatap kosong ke arah dinding kaca yang memantulkan kegelapan malam.

Suara gagang pintu yang terdorong membuat Lyn tersentak pelan. Begitu mendapati figur tegap Wiliam melangkah masuk, napas Lyn tertahan di tenggorokan.

Wiliam tidak mengutarakan sepatah kata pun. Pria berkuasa itu melangkah cepat mendekati ranjang, menanggalkan sepatu kulit mewahnya, lalu langsung memanjat naik ke atas kasur. Lengan kokohnya yang hangat seketika menyambar tubuh ramping Lyn, menariknya rapat-rapat ke dalam pelukan dada bidangnya yang memburu.

"W-Wiliam..." bisik Lyn kaget, merasakan deru napas hangat sang tuan yang menyapu leher jenjangnya.

"Diamlah sebentar, Little Lady," bisik Wiliam serak tepat di telinga Lyn. Tangannya yang besar memeluk pinggang ramping sang gadis secara protektif, sementara jemarinya menyusup lembut di antara sela-sela rambut wangi Lyn. "Biarkan aku merasakan kehadiranmu."

Lyn membeku di dalam dekapan itu. Pria paruh baya yang baru saja mengguncang dunia bisnis dan hukum ibu kota untuk membungkam skandal media itu kini bersandar padanya dengan kerapuhan dan keposesifan yang teramat pekat. Wiliam menghirup dalam-dalam aroma tubuh Lyn, membenamkan wajahnya di leher wanitanya seolah-olah seluruh kepenatan dan ancaman dari luar sana lenyap seketika.

"Bagaimana kondisi tubuhmu malam ini?" tanya Wiliam rendah, mengurai pelukannya sedikit demi menatap lurus ke dalam iris mata jernih Lyn. Jemari besarnya yang hangat mengusap lembut pipi pucat wanitanya. "Apakah perutmu masih terasa sakit? Apakah anak kita membuatmu mual lagi?"

Lyn menatap wajah tampan nan matang di hadapannya. Ada pendar kelembutan yang sangat nyata di balik mata sehitam jelaga milik Wiliam—sisi manis yang tak pernah diperlihatkan pria itu kepada siapa pun di dunia luar.

"S-saya sudah lebih baik, Wiliam..." jawab Lyn pelan dengan suara yang tercekik. "Dokter sudah memberikan obat penguat kandungan sore tadi."

"Bagus," Wiliam mendaratkan satu kecupan lama dan hangat di kening Lyn, menyerap kepasrahan wanitanya. "Aku tidak akan mengizinkan apa pun menyakiti kalian berdua."

Lyn menundukkan pandangannya. Jemari lentiknya yang gemetar meremas kain kemeja di dada Wiliam. Berita skandal yang sempat beredar di media sebelum akhirnya dihilangkan secara misterius beberapa jam lalu masih membayang-bayang di otaknya.

"Wiliam..." panggil Lyn serak, memberanikan diri menatap sang tuan. "Berita di internet tadi sore... saya sempat melihatnya sebelum layar televisi di kamar ini dimatikan oleh perawat."

Alis tegas Wiliam berkerut tipis. Pendar matanya mengeras kaku oleh bahaya yang tersirat, namun jemarinya tetap mengusap lembut rahang tirus Lyn. "Jangan memikirkan hal sampah seperti itu, Lyn. Aku sudah menyelesaikan segalanya. Media itu sudah kubeli dan berita itu sudah musnah."

"Tapi Clara melihatnya, kan?!" potong Lyn dengan air mata yang mulai bergenang di sudut matanya. Suaranya bergetar menahan ketakutan yang luar biasa. "Saya kenal Clara, Wiliam! Clara pasti sangat hancur melihat berita itu! Bagaimana kalau Siska terus-terusan memprovokasinya?! Bagaimana kalau suatu hari nanti Clara tahu bahwa wanita simpanan yang dimaksud media itu... adalah sahabatnya sendiri?!"

Lyn mulai terisak pelan, meremas dada kemeja Wiliam kian erat. "Saya takut, Wiliam... Saya sangat takut membayangkan wajah Clara saat tahu kebenaran ini..."

Melihat air mata yang menetes di pipi wanitanya, Wiliam mengepalkan tangannya di belakang punggung Lyn. Pria tua itu menangkup kedua pipi Lyn dengan tangan besarnya yang hangat, memaksa Lyn menatap lurus ke dalam matanya yang penuh otoritas mutlak.

"Dengarkan aku baik-bye, Evelyn," ujar Wiliam dengan nada suara yang teramat rendah, berat, dan tegas. "Aku tidak peduli jika seluruh dunia mencelaku. Aku tidak peduli jika Siska atau media mencoba menghancurkan namaku. Dan jika situasi di luar sana kian liar sampai mengancam ketenanganmu dan anak kita..."

Wiliam menghentikan kalimatnya sejenak, menatap Lyn dengan pendar posesif yang teramat nekad.

"...aku tidak akan ragu membawa pendeta dan saksi ke vila ini besok pagi untuk meresmikan pernikahan kita. Aku siap mengumumkan pernikahan dan kehamilanmu secara resmi kepada publik dan media."

DEG.

Darah di dalam tubuh Lyn terasa berhenti mengalir seketika. Iris matanya membelalak kaku menatap Wiliam dengan pendar syok yang luar biasa.

"W-Wiliam... A-Anda bicara apa...?" bisik Lyn tergagap, napasnya memburu kencang. "Mengumumkan... ke publik?!"

"Benar," tegas Wiliam tanpa keraguan sedikit pun di wajah mewahnya. "Aku akan memberimu nama, status, dan perlindungan penuh di atas hukum dan publik. Tidak akan ada lagi yang bisa menyebutmu sebagai wanita simpanan atau menyebut anak kita sebagai anak haram."

"Tapi bagaimana dengan Clara?!" jerit Lyn pelan, air matanya meluap deras membasahi jemari Wiliam di pipinya. "Clara putri Anda, Wiliam! Clara sangat mencintai Anda! Jika Anda mengumumkan ini... Clara akan membenci Anda selamanya! Clara akan hancur!"

"Clara harus belajar menerima kenyataan," pangkas Wiliam dingin dan tanpa ampun. "Aku sudah memenuhi seluruh tanggung jawabku sebagai ayah selama puluhan tahun. Aku memberinya kemewahan, nama besar, dan masa depan yang tak terbatas. Tapi aku tidak akan mengorbankan kamu dan darah dagingku sendiri hanya demi memanjakan emosi kekanak-kanakan Clara."

"Anda kejam, Wiliam... Ini tidak adil untuk Clara!" tangis Lyn pecah, menggelengkan kepalanya kuat-kuat di dalam pelukan sang tuan.

"Dunia memang tidak pernah adil, Little Lady," bisik Wiliam serak di telinga Lyn, merapatkan tubuh wanitanya makin erat hingga tak ada celah sedikit pun di antara mereka. "Pilihannya hanya dua: membahagiakan orang lain atau melindungi milikku sendiri. Dan aku memilih melindungi milikku."

Lyn melarutkan wajahnya di dada bidang Wiliam, melepaskan tangisan yang sesak di dalam kungkungan hangat pria tua itu. Dadanya terasa bagaikan dihantam sembilu ganda. Di satu sisi, keputusasaan dan rasa dicintai yang amat dalam merayap hangat di kalbunya—mengetahui betapa pria paling berkuasa di kota ini rela mempertaruhkan segalanya demi melindungi dirinya dan janin di rahimnya. Namun di sisi lain, ketakutan luar biasa akan kehancuran persahabatannya dengan Clara terasa bagaikan hukuman mati yang menghantuinya setiap detik.

Wiliam tidak melepaskan pelukannya. Pria paruh baya itu menyapukan jemarinya di sela-sela rambut lepek Lyn, mendaratkan ciuman-ciuman hangat di puncak kepala dan pelipis wanitanya.

"Tidurlah, Lyn," bisik Wiliam serak dan lembut. "Biarkan aku yang menanggung seluruh dosanya. Tugasmu hanya satu... tetap berada di sisiku dan lahirkan anak kita dengan selamat."

Di bawah naungan pendar redup kamar dan aroma sandalwood yang mengikat, Lyn akhirnya memejamkan matanya dalam kepasrahan yang menyakitkan. Ia terkunci rapat di dalam sangkar emas ini—sebuah sangkar tempat cinta, kekuasaan, dan dosa bersatu dalam kehangatan yang memabukkan.

Bersambung....

1
Mutaharotin Rotin
😍😍😍
Mutaharotin Rotin
🥰🥰🥰🥰 suka ceritanya
ollyooliver
knp gak panggil mami papi aja..kalau mami papa apa bedanya kay dengan clara yg punya ibu sambung pdhl kaay itu anak kandung evelyn dan william
D_wiwied
Clara sdh ketemu jodohnya, smg Julian benar-benar orang baik
D_wiwied
hanya di dunia halu hamilpun bisa request kembar 😆😆
beybi T.Halim
entah lah., pertama kaki,lalu tangan,gas lah kita baca aja daripada mikir..walau pusing🙈
Heresnanaa_: hai Kaka, happy reading 😚🫶
total 1 replies
D_wiwied
gelagatnya calonnya Clara nih 😆🤭
ollyooliver
wah si kecil yang sudah dewasa🤏😄
ollyooliver
sudah suami istri punya anak pula masih pake "saya". formal ya
Mutaharotin Rotin
🫣🫣🫣🫣
Mutaharotin Rotin
😍😍😍😍
D_wiwied
alamat bs punya adik nih kaysan, si daddy main sembur aja 😆😆🤭
Mutaharotin Rotin
🫣🫣🫣🫣
Mutaharotin Rotin
🫣🫣🫣🫣🫣
Mutaharotin Rotin
😍😍😍😍🫣🫣
Arum Dyah
jangan end dlu lo kak... tau² udh umur 4th aja kan🤣🤣
Mutaharotin Rotin
🫣🫣🫣
Mutaharotin Rotin
👍🥰👍🥰🥰
Mutaharotin Rotin
🥰🥰🥰🥰 mampir baca
Arum Dyah
kalo perlu dibikin season ke 2🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!