NovelToon NovelToon
Heir To Immortality

Heir To Immortality

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Fantasi / Wuxia
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Danzo28

Pria Terbuang, Topeng Hitam, dan Kekuatan Kuno yang Mengguncang Alam Kultivasi!

​Dibuang oleh keluarga sendiri karena dianggap sampah tanpa masa depan, Lu Mingseng bangkit bersama warisan tiga pembimbing kuno. Dengan topeng hitam separuh wajah dan anomali struktur energi di tubuhnya, ia siap menuntaskan dendam masa lalu dan membakar jalurnya menuju puncak keabadian!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jalan Tak Berujung dan Warisan Abadi

​Hujan belum juga reda saat batas Kota Qinghe perlahan menghilang di balik pekatnya malam.

​Lu Mingseng berjalan tertatih-tatih di atas jalanan tanah yang menjelma jadi lumpur pekat. Setiap kali kakinya melangkah, rasa nyeri dari dadanya menjalar hebat—bekas tendangan Lu Tianhao masih menyisa sebagai memar kebiruan yang menyiksa.

​Di dalam genggamannya yang dingin, ia mencengkeram erat buntalan lusuh dan kantong kain berisi tiga keping perak. Hanya itu yang tersisa dari tujuh belas tahun hidupnya.

​Mingseng sempat berhenti, lalu menoleh ke belakang.

​Lampu-lampu lentera Kota Qinghe samar-samar terlihat membelah kegelapan. Di balik tembok tinggi itu, terdapat keluarga yang membuangnya, saudara yang menertawakannya, serta seorang ayah yang bahkan tak sudi melihatnya bernapas.

​Mingseng terkehak pelan. Tawa yang getir dan hampa.

​"Kembali?" gumamnya pada angin malam. "Dengan tubuh tanpa bakat ini... jangankan membalas dendam, menghadapi seorang pengawal bawahannya pun aku akan hancur."

​Ia menyapu air hujan yang menutupi matanya, lalu berbalik membelakangi kota selamanya. "Aku harus bertahan hidup dulu."

​Dua hari kemudian — Desa Shanyue, Kaki Pegunungan Kabut Hitam.

​Perut Mingseng melilit hebat. Dua hari perjalanan tanpa makanan yang layak membuat tubuhnya kian kurus dan lemas. Ketika aroma gurih kaldu daging menusuk hidungnya dari sebuah penginapan kayu di tepi jalan, kakinya melangkah sendiri seolah terhipnotis.

​Ia mendorong pintu kayu penginapan yang hangat.

​"Mau apa kau?" Penjaga kedai berbadan gemuk langsung menyambutnya dengan dahi berkerut jijik saat melihat pakaian berlumpur Mingseng.

​Mingseng menelan ludah yang terasa kering di tenggorokannya. Dengan tangan bergetar, ia meletakkan sekeping perak di atas meja kayu. "Satu mangkuk sup hangat... dan tempat untuk berteduh malam ini."

​Koin perak itu belum sempat disentuh sang pemilik kedai sebelum sebuah kaki berdada jubah cokelat mendarat keras di atas meja, menutupi koin tersebut.

​"Hei, Pemilik Kedai," kekeh seorang pemuda dengan pedang terikat di pinggangnya. "Sejak kapan tempatmu berubah jadi penampungan bangkai?"

​Ruangan kedai yang ramah mendadak dipenuhi derai tawa dari para pembeli lain.

​Mingseng menunduk rapat. Jarinya mengepal di balik jubah. "Aku punya uang. Aku membayar..."

​"Uangmu bau lumpur, Pengemis," desis kultivator muda itu sinis. Ia memiringkan kepalanya, memamerkan fluktuasi Qi tipis di sekitar tubuhnya—Tingkat Pengumpulan Qi tahap dua. "Bau tubuhmu merusak selera makanku. Keluar sebelum aku mematahkan kakimu."

​"Aku hanya butuh mangkuk sup..." Mingseng mencoba memohon.

​PLAK!

​Tamparan keras mendarat tepat di pipi kiri Mingseng.

​Tubuh Mingseng yang lemah langsung terpelanting, menghantam meja kosong hingga mangkuk tanah liat di atasnya jatuh berkeping-keping. Darah segar menetes dari sudut bibirnya yang robek.

​"Masih tidak tahu diri?!" bentak pemuda berjubah cokelat itu sembari menginjak kepingan perak milik Mingseng hingga terbenam ke dalam lumpur lantai. "Sapu pecahan mangkuk itu dengan tangan kosongmu, lalu pergi!"

​Mingseng memegang pipinya yang berdenyut panas. Di sekelilingnya, tatapan acuh tak acuh dan derai tawa penonton membakar dadanya.

​Dunia ini memang tidak pernah memberi tempat bagi yang lemah.

​Tanpa bersuara, Mingseng berlutut. Jemarinya yang gemetar mulai memunguti pecahan batu tajam satu per satu, mengabaikan goresan darah baru di telapak tangannya. Setelah selesai, ia mengambil keping peraknya yang kotor, lalu berjalan keluar menerobos hujan tanpa menoleh lagi.

​Malam itu, Mingseng meringkuk di sudut kuil tua yang hampir roboh. Menggigil tanpa selimut, mendekap perutnya yang kosong, dan menatap kegelapan hingga fajar menyingsing.

​Hari Ketiga — Hutan Pegunungan Kabut Hitam.

​Mingseng tahu bahwa memasukinya sama saja dengan mengantarkan nyawa. Namun, kelaparan tidak memberinya pilihan. Demi mencari tanaman obat liar atau buah-buahan untuk disambung hidup, ia melangkah masuk ke dalam rimba yang dipenuhi kabut tebal.

​Pohon-pohon raksasa menjulang, menghalangi cahaya matahari.

​Krak!

​Suara ranting patah menghentikan langkah Mingseng.

​Tubuhnya mendadak kaku. Dari balik semak-semak yang gelap, sepasang mata merah menyala menatapnya tajam. Sesosok binatang buas berbulu abu-abu sebesar anak sapi muncul—Serigala Kabut Hitam!

​Guk... GRRRR!

​"T-tidak..." Mingseng meraba tanah, mencengkeram sebatang kayu lapuk dengan jemari yang lemas.

​Serigala itu tidak memberinya waktu untuk berpikir. Ia melompat menerjang dengan taring terbuka lebar!

​"Aaargh!" Mingseng mengayunkan kayunya secara kalap.

​BRAK!

​Kayu lapuk itu hancur berkeping-keping. Benturan keras melemparkan tubuh Mingseng hingga membentur dinding tebing batu. Rasa sakit yang luar biasa menjalar dari punggungnya, membuatnya tak sanggup berdiri.

​Serigala itu melangkah maju perlahan, meneteskan air liur di atas tanah basah. Mingseng merangkak mundur ketakutan hingga tumitnya menyentuh pinggiran jurang yang tak berdasar.

​Jalan buntu.

​"Aku tidak boleh mati di sini..." Mingseng melempar segenggam tanah ke arah mata serigala itu.

​Serigala itu menggerung marah, melompat menerjang untuk kedua kalinya dengan kecepatan penuh. Mingseng mencoba berguling menepi, namun tanah di tepi jurang mendadak runtuh!

​CRASH!

​"Aaaarrgh!"

​Mingseng kehilangan pijakan. Tubuhnya meluncur deras menembus jurang gelap yang menganga di bawah Pegunungan Kabut Hitam.

​Bruk! Gedebuk!

​Ranting pohon memukul wajahnya, bebatuan tajam menyayat kulitnya, sebelum tubuhnya terhempas keras di atas ubin batu di kedalaman abadi.

​Rasa amis darah memenuhi tenggorokannya. Kaki kirinya mencuat dalam posisi yang tidak alami—patah. Kesadaran Mingseng berputar hebat, di ambang kematian.

​Di tengah rasa dingin dan kegelapan yang pekat, bayangan wajah ibunya yang tersenyum samar mendadak terlintas.

​'Ibu... maafkan aku...' batinnya serak. 'Aku bahkan tidak sanggup bertahan hidup...'

​Air mata hangat menyatu dengan darah di pipinya. Tepat ketika matanya hendak terpejam untuk selamanya, sebuah getaran aneh muncul dari dalam dadanya.

​Humm...

​Cahaya keemasan tipis meledak dari celah-celah retakan tanah di bawah tempatnya terbaring.

​Entah berapa lama waktu berlalu.

​Mingseng terbangun oleh rasa hangat ganjil yang menyelimuti tubuhnya. Saat membuka mata, ia tak lagi berada di dasar jurang berlumpur, melainkan di dalam sebuah lorong batu raksasa yang sangat megah.

​Dinding batu di sekelilingnya dihiasi ukiran relief kuno: gambar dewa-dewa yang memegang petir, kaisar purba yang menundukkan naga, dan perang antar benua.

​"Di mana... ini?" suara Mingseng memantul pelan.

​Di ujung lorong, pendar cahaya keemasan yang murni memanggil jiwanya. Dengan menyeret kakinya yang patah dan kesakitan, Mingseng merangkak mendekati gerbang batu hitam raksasa di hadapannya.

​Di permukaan gerbang itu, terukir bahasa simbol purba yang berkilat samar.

​Secara refleks, Mingseng mengangkat tangannya yang berdarah, menyentuh ukiran batu tersebut.

​Tetes.

​Darah Mingseng meresap ke dalam ukiran.

​WUSH!

​Seluruh struktur bawah tanah bergetar hebat! Cahaya emas melejit memenuhi lorong, membakar debu puluhan ribu tahun.

​Brak!

​Gerbang batu terkuak lebar. Di tengah aula yang sangat luas, sebuah peti batu hitam melayang di udara, terikat oleh sembilan rantai keemasan raksasa. Aura tekanan (pressure) yang terpancar darinya begitu dahsyat hingga memaksa tubuh Mingseng tersungkur bertekuk lutut secara otomatis.

​"Siapa... yang berani mengganggu tidur panjangku?"

​Suara tua yang dalam dan ghaib bergema, menggetarkan dinding-dinding aula.

​Mingseng menahan dadanya yang sesak oleh aura tersebut. "Aku... aku jatuh dari atas jurang!"

​Aura itu mendadak hening. Lalu, seberkas cahaya keemasan keluar dari peti batu, menjelma menjadi sebuah Mata Vertikal raksasa yang menatap tepat ke arah jiwa Mingseng.

​"Anak Manusia... Sembilan Meridian Terkunci?!" suara tua itu bergema penuh nada terkejut yang belum pernah ada sebelumnya. "Bagaimana mungkin jasad dengan cacat langit seperti ini sanggup bertahan hidup sampai detik ini?!"

​"Cacat langit?" Mingseng mendongak bingung.

​BOM!

​Tiba-tiba, salah satu rantai emas yang mengikat peti batu meledak hancur!

​Gelombang energi purba terhempas hebat. Peti batu hitam pecah berkeping-keping, memperlihatkan sebuah Tulang Jari Emas yang melayang anggun di tengah ruang hampa, memancarkan aura keabadian yang murni.

​Suara tua itu tertawa bergelora, menggoncang seluruh kedalaman bumi.

​"Setelah jutaan tahun... garis keturunan itu akhirnya kembali!"

​Tulang Jari Emas itu memancarkan pijar keemasan yang makin terang, lalu terdengar suara tua yang menuntut jawaban:

​"Anak Muda! Katakan padaku... apakah kau menginginkan KEKUATAN?!"

​Mingseng mengepalkan tangannya di atas lantai batu. Bayangan penghinaan di keluarga Lu, tatapan jijik orang-orang di kedai, dan rasa ketidakberdayaan saat ibunya meninggal berputar hebat dalam pikirannya.

​"Aku menginginkannya!" teriak Mingseng dengan mata membara penuh tekad dan dendam. "Aku tidak ingin diinjak-injak lagi!"

​"Bagus! Jika kau siap menanggung penderitaan yang membelah jiwa... terimalah takdirmu!"

​Syuut... BRESSS!

​Tulang Jari Emas itu melesat cepat, menembus tepat di tengah dahi Lu Mingseng!

​Cahaya menyilaukan meledak, menghancurkan seluruh meridian dan menyusun ulang struktur tulang di tubuhnya secara paksa. Mingseng menjerit histeris sebelum akhirnya kesadarannya terlempar ke dalam kegelapan.

​Di saat yang sama, jauh di langit malam Pegunungan Kabut Hitam, awan hitam terbelah oleh petir keemasan raksasa.

​Sebuah Takdir Baru... telah terbangun.

1
Sri
😍😍😍
Sri
❤️‍🔥❤️‍🔥❤️‍🔥
Sri
😎😎😎
kute
keren
Sri
❤️‍🔥❤️‍🔥❤️‍🔥
Sri
😎😎😎
Sri
😍😍😍
Danzo28
Yuk Like komen vote nya Jangan lupa yahh ❤️❤️❤️🙏👍
Danzo28
pantau terus ya
Jan lupa vote nya 🥳🥳🥳
Uranenantios
langsung up 4 ni thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!