Zinnia Arunika terlahir tanpa suara. Tapi malam itu, di tepi pantai saat perpisahan kampus, bahkan jika ia bisa berteriak sekalipun, mungkin tak akan ada yang mendengar.
Niatnya menolong seorang pria yang diduganya hendak mengakhiri hidup justru berakhir menjadi malam paling kelam dalam hidupnya.
Pria itu, Arvid Danendra, berada di bawah pengaruh obat dan kehilangan kendali. Ia merenggut kesucian Zinnia.
Sebelum pergi karena keadaan darurat, ia meninggalkan sebuah cincin dan janji tanggung jawab.
Siapa sangka, Zinnia malah mengandung anak dari malam yang ingin ia lupakan. Ia memilih diam, tak menuntut haknya karena dunia pria itu berbeda darinya. Arvid pewaris keluarga konglomerat dan keluarganya tak pernah dirancang untuk menerima gadis sepertinya.
Zinnia yang bisu memilih membisu. Namun bagaimana saat takdir memaksa mereka kembali bertemu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
3. Yang Tak Bisa Kukatakan
Sore itu, ketukan pelan terdengar di pintu kamar.
Tok. Tok.
Zinnia yang sejak tadi duduk di lantai sambil memegang ponsel langsung menoleh.
"Zin?"
Suara ibunya terdengar dari luar. Zinnia buru-buru mengusap wajahnya.
Pintu terbuka sedikit. Ibunya masuk sambil membawa semangkuk sup hangat. "Ibu bikin sup. Kamu belum makan yang benar dari tadi."
Tatapan ibunya langsung menyapu isi kamar. Gelas soda yang hampir habis tergeletak di meja. Beberapa bungkus makanan berserakan. Ada pula bungkus obat dari apotek di samping ponsel Zinnia. Kening ibunya berkerut.
"Ini kamu makan semua?"
Zinnia segera menggeleng.
"Terus kenapa dari tadi minumnya soda?"
Zinnia terdiam.
"Bukannya kamu paling gak suka?"
Zinnia kembali menggeleng, kali ini tanpa menatap ibunya.
Ibunya meletakkan mangkuk sup di meja, lalu duduk di samping putrinya. "Zin."
Zinnia masih diam.
"Kamu kenapa?"
Zinnia mengangkat wajah.
Ibunya menatapnya lekat-lekat. "Sejak pulang dari resort, kamu beda deh."
Zinnia menelan ludah.
"Kamu pucet banget. Dari tadi ngurung diri. Makan yang aneh-aneh pula."
Tatapan ibunya kemudian jatuh pada bungkus obat di atas meja. "Itu obat apa? Kok Ibu gak pernah lihat?"
Zinnia tersentak. Tangannya langsung bergerak mengambil bungkus obat itu, lalu menyelipkannya ke bawah bantal.
Terlambat. Riri sudah melihat gerakannya. "Kenapa diumpetin?"
Zinnia menggeleng cepat.
"Zin."
Zinnia menunduk.
Riri tidak langsung mengambil obat itu meski penasaran sekaligus khawatir. Ia justru memerhatikan wajah putrinya yang semakin pucat. Tangannya perlahan terangkat, menyentuh dahi Zinnia.
"Demam?"
Zinnia kembali menggeleng.
"Pusing?"
Zinnia diam sebentar, lalu mengangguk kecil.
Riri menghela napas. "Makanya bilang sama Ibu. Jangan minum obat sembarangan."
Zinnia menggenggam ujung bajunya. Ia ingin mengatakan bahwa obat itu bukan untuk sakit kepala. Tetapi bagaimana mungkin ia menjelaskan alasan sebenarnya?
Riri masih menatapnya penuh khawatir. "Zin, kamu yakin cuma sakit kepala?"
Zinnia memaksakan senyum dan mengangguk. Namun senyum itu justru membuat mata ibunya semakin penuh curiga.
"Sakit banget?"
Zinnia menggeleng.
"Yakin?"
Zinnia menggigit bibir. Tangannya terangkat, membentuk isyarat yang sudah sangat dikenali ibunya.
Aku gak apa-apa.
Namun gerakannya tidak meyakinkan. Bahkan sebelum selesai, tangannya sudah gemetar.
Ibunya menangkap tangan itu. "Jangan bohong sama Ibu."
Mata Zinnia langsung berkaca-kaca.
Riri tidak memaksa. Ia hanya menggenggam tangan putrinya lebih erat. "Kalo belum siap cerita, gak apa-apa."
Zinnia menatapnya.
"Kamu gak harus selalu kuat sendirian."
Air mata yang sejak tadi ditahan akhirnya jatuh. Riri langsung menarik Zinnia ke dalam pelukan. Zinnia kaku beberapa detik sebelum akhirnya membalas pelukan itu. Namun bibirnya tetap terkunci. Tidak ada satu pun isyarat yang sanggup ia bentuk untuk menjelaskan apa yang terjadi.
Riri mengusap punggungnya perlahan. "Menangislah. Ibu di sini."
Beberapa saat kemudian, ibunya melepaskan pelukan. "Supnya dimakan dikit ya. Gak perlu habis."
Zinnia mengangguk.
Riri berdiri, tetapi sebelum keluar ia kembali menatap putrinya. "Kalo kamu butuh apa-apa, panggil Ibu. Jangan ngurung diri kayak gini."
Zinnia mengangguk lagi.
Pintu perlahan tertutup. Di baliknya, ibunya tidak langsung pergi. Ia berdiri beberapa saat di lorong, menatap pintu kamar putrinya. Wajahnya berubah cemas.
Ada sesuatu yang terjadi. Ia tidak tahu apa. Namun ia tahu satu hal, Zinnia bukan sekadar kelelahan setelah acara perpisahan.
Riri mengembuskan napas panjang. Tangannya terangkat hendak mengetuk pintu lagi, tetapi urung.
"Kalo kamu belum siap cerita..." gumamnya pelan. Ia menatap pintu itu sekali lagi. "...akan Ibu tunggu."
Barulah ia berjalan menjauh. Namun sepanjang menuju ruang tengah, pikirannya tidak berhenti bekerja. Ia teringat wajah Zinnia ketika baru pulang.
Terlalu pucat. Terlalu diam. Dan sekarang, ada obat di kamarnya. Riri berhenti di ambang pintu dapur. Kekhawatiran di wajahnya semakin jelas.
"Zinnia sebenarnya kenapa?"
***
Malam itu, suara bel pintu terdengar memenuhi ruangan. Zinnia yang sedang duduk di tepi tempat tidur langsung menoleh.
Tak lama kemudian, terdengar suara riang ibunya menyambut seseorang.
"Dandy? Udah lama banget gak ke sini."
"Baru pulang dari luar kota, Bu."
Zinnia membeku. Ia sangat familiar dengan suara pria itu. Dandy. Ia baru mengingat kekasihnya itu. Dalam kekacauan dua hari terakhir, sosok Dandy benar-benar terlupakan begitu saja dari pikirannya.
Lelaki yang selama ini selalu menunggunya dengan sabar. Yang memahami bahasa isyaratnya bahkan ketika orang lain membutuhkan waktu untuk mengerti. Lelaki yang selalu meyakinkannya bahwa tidak bisa berbicara bukan berarti dirinya memiliki kekurangan.
Terdengar suara ibunya dari ruang tamu. "Zin!"
Zinnia tersentak.
"Ibu panggil Zinnia sebentar, ya."
Beberapa saat kemudian, ibunya muncul di ambang pintu kamar. "Zin, ada Dandy tuh. Baru pulang dari luar kota lansung mampir buat ketemu kamu, loh."
Zinnia terdiam.
"Temuin, gih," ujar ibunya. Berharap kehadiran Dandy bisa menghibur Zinnia. "Kasihan loh, udah jauh-jauh dateng."
Zinnia menunduk. Tangannya mengepal di atas selimut. Ada keinginan untuk menolak. Ia ingin tetap berada di kamar, mengunci pintu, dan tidak bertemu siapa pun. Namun Dandy sudah datang. Kalau ia tidak menemuinya, tentu lelaki itu akan bertanya-tanya.
Zinnia akhirnya mengangguk. Ia bangkit dari tempat tidur dan mengikuti ibunya keluar dari kamar.
Dandy langsung berdiri begitu melihatnya. Senyum lebar terukir di wajah lelaki itu. Kedua tangannya membawa beberapa kantong oleh-oleh.
"Zin, aku kangen banget tau."
Zinnia berhenti beberapa langkah darinya.
Dandy tertawa kecil. "Gimana acara perpisahannya? Seru?"
Zinnia mengangguk pelan. Namun senyum yang ia berikan terasa kaku.
Dandy memerhatikan wajahnya lebih lama. Senyumnya perlahan memudar. "Kamu kenapa?"
Zinnia menggeleng.
"Capek?" tanya Dandy tanpa mengalihkan pandangannya dari Zinnia.
Zinnia kembali mengangguk.
"Kelihatannya emang capek," sahut Riri. "Tadi pulang-pulang langsung masuk kamar."
Dandy mengangguk pelan. "Ya udah. Duduk dulu, Zin." Ia menggeser kursi untuk Zinnia.
Zinnia duduk.
Dandy kemudian meletakkan kantong oleh-oleh di meja. "Aku bawain ini buat kamu. Tadi lihat di jalan, langsung ke inget kamu."
Zinnia menatap kantong itu. Biasanya ia akan tersenyum lebar. Biasanya ia akan langsung mengambil tangan Dandy dan mengucapkan terima kasih lewat bahasa isyarat. Namun malam ini, tangannya justru diam di pangkuan.
Dandy mulai terlihat semakin bingung. "Zin?"
Zinnia mengangkat wajah. Mata lelaki itu menatapnya dengan sorot yang begitu dikenalnya. Tatapan yang selama ini membuatnya merasa aman. Dadanya terasa sesak. Ia buru-buru mengalihkan pandangan. Tangannya bergerak perlahan.
Aku cuma capek.
Dandy memerhatikan gerakan tangannya, kemudian mengangguk. "Oke. Kalo kamu capek, aku gak bakal ganggu."
Zinnia menggigit bibirnya. Justru kalimat sederhana itu membuat dadanya semakin sakit. Karena Dandy masih menjadi Dandy yang sama. Lelaki yang selama ini mencintainya tanpa pernah mempermasalahkan keterbatasannya.
Sementara sekarang, Zinnia bahkan merasa tidak sanggup membiarkan lelaki itu menyentuh tangannya. Bukan karena ia tidak mencintai Dandy.
Melainkan karena ada sesuatu yang terjadi pada dirinya yang bahkan belum sanggup ia terima sendiri.
---
...🔸🔸🔸...
...“Orang yang terluka tidak selalu membutuhkan pertanyaan. Kadang ia hanya membutuhkan seseorang yang tetap berada di sisinya tanpa menuntut jawaban.”...
...“Tidak semua luka membutuhkan pertanyaan. Ada luka yang membutuhkan waktu, ruang, dan seseorang yang bersedia tetap tinggal tanpa memaksa.”...
..."Nana 17 Oktober"...
...🌸❤️🌸...
.......
To be continued
semoga Arvid bida menyelidiki dan mengetahui kebenarannya dan mengakuinya di depan ibunya...
Keburu kehamilanmu membesar