NovelToon NovelToon
Breeze Of Youth: Aturan Cinta Sang Ketua Kelas

Breeze Of Youth: Aturan Cinta Sang Ketua Kelas

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Enemy to Lovers / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:72
Nilai: 5
Nama Author: Arya Setya

Bagi Lu Feng, cowok pindahan yang hobinya tidur di kelas dan telat masuk sekolah, aturan diciptakan untuk dilanggar. Tapi hari pertamanya di SMA Mingde mengubah segalanya. Ia bertemu dengan Lin Xiao, ketua kelas teladan yang super disiplin, dingin, namun diam-diam memiliki senyum termanis yang pernah Lu Feng lihat. Lin Xiao diberi tugas oleh wali kelas untuk "menjinakkan" Lu Feng agar tidak menjadi siswa bermasalah. Dari interaksi yang dipenuhi adu mulut, hukuman membersihkan papan tulis, hingga berbagi payung di bawah hujan deras, benih-benih cinta pertama mulai tumbuh. Namun, perbedaan sifat, tekanan ujian akhir (GaoKao), dan saingan dari masa lalu menguji apakah cinta masa muda ini bisa bertahan melewati rintangan yang ada.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arya Setya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Proyek Kelompok Neraka, Ego Ibu Kota, dan Serangan Balik Sang Berandal

Kehidupan mahasiswa baru di Universitas Beijing tidak pernah memberikan waktu untuk bernapas. Baru menginjak bulan ketiga, tugas-tugas besar mulai berdatangan seperti badai topan. Dan bagi mahasiswa Fakultas Manajemen Bisnis, ada satu momok yang paling ditakuti: Proyek Pitching Bisnis dari Profesor Zhao.

Profesor Zhao dikenal sebagai 'malaikat maut' di fakultas. Beliau mantan CEO perusahaan rintisan raksasa yang tidak segan-segan memberikan nilai D jika ide bisnis yang dipresentasikan dianggap sebagai "sampah tidak realistis".

Sore itu, di salah satu kafe eksklusif di dalam area kampus, Lu Feng sedang duduk menghadapi laptopnya. Di sekeliling meja bundar itu, duduk tiga teman sekelompoknya. Ketiganya adalah anak-anak asli Beijing dari keluarga kaya raya. Pemimpin kelompok tak resmi mereka, Li Wei, mengenakan kemeja polo bermerk yang harganya mungkin setara dengan biaya hidup Lu Feng selama tiga bulan.

"Jadi, ideku adalah membuat aplikasi pengiriman makanan eksklusif untuk kalangan atas, menggunakan drone terintegrasi AI," ucap Li Wei dengan nada congkak, menyeruput espresso machiato-nya. "Kita butuh investasi awal sekitar lima juta yuan untuk riset algoritma."

Lu Feng yang sedari tadi diam sambil membaca cetakan proposal itu akhirnya menghela napas panjang. Dia menaruh kertas itu di atas meja dan menatap Li Wei dengan tatapan malas.

"Lima juta yuan buat riset awal doang? Target pasarnya siapa? Orang kaya nggak pesen makanan pakai aplikasi, mereka punya koki pribadi atau makan langsung di restoran bintang lima," sanggah Lu Feng santai namun menohok. "Ide ini terlalu ngawang, Li Wei. Profesor Zhao nggak butuh teori fiksi ilmiah, beliau butuh bisnis yang muter duit dari bulan pertama."

Li Wei tersinggung. Wajahnya memerah. Dia menatap penampilan Lu Feng yang hanya mengenakan kaos hitam polos dan jaket denim belel dengan tatapan meremehkan.

"Dengar, Lu Feng," desis Li Wei dengan senyum sinis. "Kamu mungkin berhasil masuk ke kampus ini karena nilai ujianmu beruntung pas di batas bawah. Tapi ini dunia bisnis nyata. Ini ibu kota. Apa yang kamu tahu soal bisnis skala besar? Mengelola bengkel motor di kota kecilmu itu?"

Dua anggota kelompok lainnya tertawa kecil, berusaha menutupi ejekan mereka.

Rahang Lu Feng mengeras. Dulu, di Jiangcheng, satu kalimat ejekan seperti itu sudah cukup untuk membuat Lu Feng mematahkan hidung Li Wei. Tapi ini Beijing. Kalau dia membuat keributan, bukan hanya masa depannya yang hancur, tapi dia juga akan menghancurkan nama Lin Xiao yang sudah membantunya mati-matian.

Lu Feng menarik napas dalam-dalam, menekan egonya dalam-dalam. "Gue tahu gimana caranya bikin duit muter tanpa harus bakar modal yang nggak lo punya. Ide gue soal logistik mikro buat mahasiswa di asrama jauh lebih masuk akal dan minim risiko."

"Simpan saja ide mikromu itu," potong Li Wei kasar, merebut kertas proposal dari tangan Lu Feng. "Kami yang akan menyusun presentasinya. Kamu bagian beli kopi dan cetak materi saja. Jangan bicara saat presentasi nanti kalau tidak mau mengacaukan nilai kami."

Li Wei dan dua temannya bangkit berdiri, meninggalkan Lu Feng sendirian di meja kafe.

Lu Feng menatap layar laptopnya yang kosong. Dadanya terasa sesak oleh amarah dan rasa tidak berdaya. Harga dirinya diinjak-injak, namun dia dipaksa diam oleh realita.

Malam harinya, di kamar asrama putra yang sempit, Lu Feng sedang berbaring menatap langit-langit. Ponsel di telinganya sedang tersambung dalam panggilan dengan Chen Hao, yang kini berkuliah di universitas provinsi di kota asal mereka.

"Hajar aja anjir mukanya! Gedeg banget gue dengernya!" teriak Chen Hao dari seberang telepon, suaranya sampai sedikit pecah. "Sombong bener tuh anak ibu kota mentang-mentang lahirnya udah di atas tumpukan duit!"

"Gue nggak bisa sembarangan mukul orang lagi, Hao. Kampus ini ketat," gumam Lu Feng parau.

"Terus lo mau diem aja disuruh jadi babu *print* kertas?! Bos, ini bukan elo banget, sumpah!"

Lu Feng terdiam. Dia memejamkan matanya, dan tiba-tiba bayangan senyum Lin Xiao di bawah cahaya kembang api kembali melintas di otaknya. *Lo itu kuat. Jauh lebih kuat dari yang lo pikirin,* kalimat Lin Xiao di pinggir danau malam itu kembali bergema.

Mata Lu Feng tiba-tiba terbuka. Tatapan sayunya berubah menjadi setajam elang. Percikan api berandal yang selalu ia tekan kini menyala lagi, namun kali ini bukan untuk bertarung dengan otot, melainkan dengan otak.

"Lo bener, Hao. Diem aja bukan gaya gue," ucap Lu Feng dingin, seringai mautnya kembali terukir di bibirnya. Dia bangkit dari kasur, membuka laptopnya, dan mulai mengetik dengan kecepatan gila. "Gue bakal bikin mereka nyesel udah ngeremehin anak daerah."

***

Satu minggu kemudian. Hari presentasi Proyek Pitching Bisnis.

Auditorium Fakultas Manajemen dipenuhi oleh ratusan mahasiswa tingkat pertama. Di barisan paling depan, Profesor Zhao duduk dengan wajah sedatar tembok beton, siap membantai ide-ide yang dianggapnya tidak layak.

Ketika giliran kelompok Li Wei dipanggil, Li Wei melangkah maju dengan penuh percaya diri, mengenakan setelan jas mahal. Lu Feng hanya berdiri diam di ujung panggung, memegang *clicker* slide presentasi, mengenakan kemeja hitam yang lengannya digulung rapi.

Li Wei mulai mempresentasikan ide "Aplikasi Pengiriman Makanan Drone Elite"-nya dengan bahasa tingkat tinggi, menggunakan istilah-istilah ekonomi rumit yang terdengar sangat pintar.

Namun, baru lima menit Li Wei berbicara, Profesor Zhao mengangkat tangannya.

"Berhenti," potong Profesor Zhao. Suaranya menggema di seluruh auditorium. "Berapa lama perkiraan *Return of Investment* (ROI) dari lima juta yuan yang kamu minta?"

Li Wei sedikit gelagapan. "E-eh... dengan asumsi target pasar kami tertarik dalam tahun pertama, sekitar tiga sampai empat tahun, Profesor."

"Omong kosong!" bentak Profesor Zhao, melempar kertas proposal kelompok mereka ke atas meja. "Kalian membakar lima juta yuan untuk teknologi yang regulasinya bahkan belum disahkan pemerintah kota. Pasar tidak butuh makanan mahal yang diantar drone, mereka butuh kepraktisan. Ini bukan bisnis, ini amal untuk membakar uang orang tua kalian. Nol besar!"

Auditorium seketika hening. Li Wei pucat pasi, keringat dingin membasahi keningnya. Dua teman kelompoknya yang lain sudah gemetar ketakutan.

"Ada dari kelompok kalian yang bisa menyelamatkan presentasi sampah ini? Kalau tidak, kalian semua mendapat nilai D!" ancam Profesor Zhao.

Li Wei menunduk, tidak bisa berkata-kata. Egonya hancur berkeping-keping di depan ratusan mahasiswa.

Tepat pada detik itu, Lu Feng melangkah maju ke tengah panggung.

Tanpa ragu, dia menekan tombol *clicker*, mengganti slide presentasi drone mewah itu ke slide presentasi lain yang desainnya sangat sederhana, namun memuat grafik data yang padat.

Li Wei membelalakkan matanya kaget melihat slide itu berubah. Itu bukan presentasi buatannya!

"Selamat siang, Profesor Zhao," suara bariton Lu Feng mengudara, tenang, tegas, dan penuh wibawa. "Saya menyadari bahwa ide rekan saya terlalu berisiko. Oleh karena itu, sebagai rencana cadangan yang lebih realistis, saya ingin mempresentasikan *Micro-Logistics Campus Relay*."

Profesor Zhao menyipitkan matanya, mulai tertarik. "Lanjutkan."

Lu Feng tidak menggunakan teks. Dia berbicara dari pengalamannya bekerja kasar di jalanan dan mengamati kebiasaan mahasiswa.

"Daripada menargetkan kalangan elit yang pasarnya sempit, kita menargetkan 40.000 mahasiswa di kampus ini sendiri," Lu Feng mulai menjelaskan, sambil berjalan pelan menguasai panggung. "Banyak mahasiswa yang tidak punya waktu untuk mengambil paket kiriman belanjaan mereka di pos satpam gerbang utama yang jaraknya jauh dari asrama. Solusi saya? Kita merekrut mahasiswa yang punya sepeda untuk menjadi kurir estafet dari gerbang ke asrama."

"Modal awal?" potong Profesor Zhao menguji.

"Nol yuan untuk infrastruktur," jawab Lu Feng cepat, menatap langsung ke mata sang profesor. "Kita hanya menggunakan WeChat Mini Program untuk sistem pemesanan. Komisi dibagi 70% untuk mahasiswa kurir, 30% untuk kita sebagai penyedia *platform*. Mahasiswa mendapat uang saku tambahan, mahasiswa lain menghemat waktu, dan kita meraup keuntungan dari volume transaksi yang masif. Bisnis ini bisa diputar hari ini juga."

Auditorium hening, namun kali ini bukan karena takut, melainkan karena takjub. Konsep itu sangat sederhana, mentah, tapi sangat cerdas dan bisa langsung dieksekusi. Tidak ada kata-kata rumit, hanya murni insting bertahan hidup dan perputaran uang jalanan yang dibawa ke ranah akademis.

Profesor Zhao terdiam selama sepuluh detik yang terasa seperti satu jam. Beliau menatap Lu Feng dari ujung kepala hingga ujung kaki.

Perlahan, senyum tipis yang sangat langka muncul di wajah Profesor Zhao yang keriput.

"Siapa namamu, anak muda?"

"Kang Lu Feng, Profesor."

"Kamu belajar banyak dari jalanan, Kang Lu Feng. Itu adalah insting bisnis murni yang tidak bisa diajarkan di buku teks mana pun," puji Profesor Zhao, dan seisi auditorium langsung menahan napas kaget mendengar pujian itu. "Kelompokmu terselamatkan. Nilai A- untuk presentasi ini. Dan kamu, Li Wei, belajarlah untuk melihat realita dari temanmu ini."

Li Wei tertunduk sangat dalam, wajahnya merah padam menahan rasa malu yang tak tertahankan. Dia dikalahkan telak, di wilayahnya sendiri, oleh anak daerah yang sejak awal dia rendahkan.

Saat Lu Feng turun dari panggung, tepuk tangan riuh terdengar dari barisan belakang.

Lu Feng berjalan keluar dari auditorium dengan perasaan sangat lega. Beban berat yang menghimpit dadanya selama seminggu ini hancur tak bersisa. Dia merogoh sakunya, berniat mengambil ponsel untuk memberitahu Lin Xiao tentang kemenangannya hari ini.

Namun, saat Lu Feng mendorong pintu ganda auditorium untuk keluar ke lorong fakultas, langkahnya terhenti.

Di sana, bersandar di dinding lorong, berdiri Lin Xiao.

Cewek itu mengenakan kemeja biru muda yang rapi, memeluk beberapa buku tebal di dadanya. Senyum paling manis dan bangga terukir di bibirnya. Dia ternyata sudah bolos dari setengah jam terakhir kelasnya sendiri hanya untuk berdiri di belakang pintu auditorium yang sedikit terbuka, mendengarkan pacarnya membungkam kesombongan ibu kota.

"Presentasi yang sangat memukau, Tuan Kang," goda Lin Xiao, melangkah maju mendekati Lu Feng. "Skor 100 untuk gagasan inovatif."

Lu Feng terkekeh pelan. Tanpa peduli pada mahasiswa lain yang mulai keluar dari auditorium, cowok itu melingkarkan lengannya di pinggang Lin Xiao, menarik cewek itu merapat ke dadanya.

"Gue nggak butuh skor dari profesor, Yang," bisik Lu Feng, menatap mata bulat Lin Xiao dengan intens. "Gue cuma butuh hadiah dari pacar gue karena berhasil nggak mukul anak orang hari ini."

Lin Xiao tertawa pelan, rona merah menghiasi pipinya. Cewek itu sedikit berjinjit, dan dengan sangat berani, mendaratkan kecupan singkat namun manis tepat di bibir Lu Feng.

"Itu DP-nya," bisik Lin Xiao menahan malu. "Pelunasannya nanti malam kalau kamu mau temani aku makan *hotpot* pedas."

Lu Feng menyeringai lebar, hatinya terasa ingin meledak saking bahagianya. Kerasnya ibu kota, cemoohan anak elit, dan sulitnya perkuliahan... semua itu hanyalah kerikil kecil yang kini bisa ia hancurkan kapan saja. Sang murid pindahan berandal telah resmi berevolusi, dan dengan sang ratu di pelukannya, Universitas Beijing kini resmi menjadi arena bermain mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!