Alvierra Zea Khanza atau biasa dipanggil Zea rela menjadi gubernur demi mewujudkan impian sang nenek. Tapi sejak menjabat, berbagai teror dan ancaman mulai mengincarnya.
Demi keselamatan Zea, sang kakek mengirim seorang pengawal pribadi bernama Sagara Arya, kapten dingin yang ternyata menyimpan misi rahasia yaitu membunuh Zea.
Sayangnya, menghadapi gubernur yang bar-bar, keras kepala, tetapi begitu tulus mencintai rakyatnya membuat Kapten Sagara perlahan melupakan misinya.
Di antara ancaman, rahasia, dan perasaan yang tak seharusnya tumbuh, sang kapten justru jatuh cinta kepada perempuan yang seharusnya menjadi targetnya.
Ketika tugas dan cinta berada di dua sisi yang berlawanan, akankah Sagara memilih perintah atau melindungi perempuan yang telah mencuri hatinya?
Yuk stay tune ya. Yang gak suka silakan skip.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yulianti Azis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Main Keroyokan
“Tidak! Ibu tidak bisa memecat kami begitu saja!” teriak Pak Lurah dengan wajah memerah setelah Zea menyampaikan keputusan pencopotan jabatannya. “Kami ini sudah menjadi lurah dan perangkat desa di sini secara turun-temurun!”
Beberapa perangkat desa langsung ikut berdiri dan memprotes keputusan tersebut.
Para kepala desa yang namanya juga terseret dalam pemeriksaan ikut maju, seolah merasa keputusan Zea tidak memiliki kekuatan di hadapan mereka.
“Benar, Bu Gubernur!” seru salah seorang kepala desa. “Keluarga kami sudah lama mengabdi di pemerintahan!”
“Bahkan saya punya kerabat yang bekerja di pemerintahan tingkat atas,” timpal yang lain dengan nada penuh percaya diri. “Jangan kira kami tidak punya orang kuat.”
Zea hanya memandang mereka tanpa sedikit pun gentar. Ia kemudian melipat kedua tangannya di depan dada dan berkata, “Kalian boleh punya keluarga siapa pun, tapi itu tidak membuat kalian kebal dari aturan dan hukum.”
Suasana mendadak hening.
“Kalian sudah menyalahgunakan jabatan dan membuat rakyat yang seharusnya kalian lindungi justru kesulitan,” lanjut Zea tegas. “Seharusnya kalian menjadi salah satu tiang pemerintahan yang berdiri untuk masyarakat, tetapi kalian malah menyelewengkan bantuan dan membiarkan rakyat menderita.”
Pak Lurah mengepalkan tangannya. “Ibu jangan sok suci!”
“Saya tidak sedang bicara tentang kesucian,” jawab Zea dingin. “Saya sedang bicara tentang tanggung jawab.”
Beberapa warga menunduk semakin dalam. Mereka sebenarnya sudah lama mengetahui permainan yang terjadi di desa tersebut, tetapi selama ini tidak ada yang berani berbicara karena takut mendapat masalah.
Melihat Zea tetap berdiri tanpa rasa takut, Pak Lurah justru tersenyum sinis. “Kalau begitu, kalau Ibu memaksa, jangan salahkan kami kalau masalah ini kami selesaikan dengan cara yang lebih keras.”
Beberapa kepala desa di belakangnya ikut menyeringai. Tatapan mereka membuat warga langsung gelisah.
Intan yang berdiri di samping Zea perlahan mendekat. “Zea, aku rasa mereka benar-benar mau menggunakan kekerasan.”
Zea justru tersenyum tipis. “Biarkan saja.”
Intan menatapnya tidak percaya. “Biarkan?”
“Iya,” jawab Zea santai. “Intan, telepon pihak kepolisian.”
Intan langsung mengeluarkan ponselnya. “Baik.”
Sagara yang sejak tadi berdiri beberapa langkah di belakang Zea langsung bergerak maju. Ia berdiri tepat di depan sang gubernur, tubuhnya menjadi penghalang antara Zea dan kelompok perangkat desa tersebut.
“Bu! Biarkan saya yang mengurus mereka.” Sagara berbicara dengan tenabg.
Zea menatap punggung Sagara sesaat. “Baiklah, Kapten Es Batu.”
Pak Lurah kembali tertawa kecil. “Sebenarnya kami masih memberikan kesempatan kepada Ibu.”
Zea mengangkat alis. “Kesempatan?”
“Cabut keputusan pemecatan kami,” ujar Pak Lurah dengan senyum meremehkan. “Kembalikan jabatan kami seperti semula, dan masalah ini selesai lalu anggap saja semua yang ada di sini, tidak terjadi apa-apa. Gampangkan?”
Para kepala desa mengangguk setuju.
Zea justru tertawa pendek. “Gampang palamu peang.”
Senyum di wajah mereka langsung menghilang.
“Apa?” salah seorang kepala desa membentak.
Zea menatap mereka satu per satu. “Keputusan sudah dibuat berdasarkan pelanggaran yang kalian lakukan. Saya tidak akan membatalkannya hanya karena kalian mengancam saya.”
Pak Lurah mengepalkan tangan. “Ibu benar-benar tidak tahu aturan!”
“Justru karena saya tahu aturan, saya tidak akan membiarkan kalian terus berada di jabatan itu,” jawab Zea.
Wajah Pak Lurah berubah merah. Ia kemudian menoleh kepada seseorang di belakangnya.
“Berikan wanita manja ini pelajaran!”
Warga langsung panik.
“Bu Gubernur, pergi saja! Jangan sampai ibu kenapa-napa hanya karena kami yang miskin ini.”
“Jangan di sini, Bu! Ibu orang baik.”
“Pak Lurah punya orang-orang!”
Beberapa warga bahkan berusaha menarik Zea menjauh dari tempat itu. Tapi Zea menolak sambil menggelengkan kepala.
“Saya tidak akan pergi.”
“Bu, mereka banyak!”
“Saya tahu.”
“Kalau begitu kenapa Ibu masih berdiri di sini?”
Zea menatap warga tersebut dengan tenang. “Karena kalau saya pergi sekarang, siapa yang akan memastikan mereka tidak melakukan hal yang sama lagi kepada kalian lagi?”
Belum sempat warga menjawab, terdengar suara mesin kendaraan dari arah jalan.
Sebuah mobil bak terbuka memasuki halaman dengan kecepatan cukup tinggi. Beberapa pria turun dari kendaraan tersebut dengan wajah sangar dan langkah penuh percaya diri.
Warga langsung berhamburan mencari tempat berlindung. Beberapa bahkan menutup pintu rumah mereka dari dalam.
“Itu mereka ....” bisik seorang warga dengan wajah pucat. “Orang-orang yang selama ini menguasai daerah ini.”
Intan menelan ludah. “Zea sepertinya masalahnya semakin besar.”
Zea masih berdiri di tempatnya. “Tenang.”
Salah seorang pria kemudian maju sambil mengepalkan tangannya. “Mana orang yang katanya berani mencopot lurah kami?”
Pak Lurah menunjuk Zea. “Itu orangnya.”
Pria tersebut tertawa mengejek. “Gubernur?”
Zea mengangkat alis. “Kenapa? Belum pernah lihat gubernur cantik sepertiku?”
Beberapa warga hampir tidak percaya mendengar jawaban santainya.
Sagara tetap berdiri di depan Zea. “Jangan mendekat.”
Pria itu menyeringai. “Kalau tidak?”
Sagara tidak menjawab.
Pria tersebut langsung melangkah maju dan mengayunkan tangannya. Sagara bergerak cepat menangkis serangan itu, lalu mendorongnya mundur dengan satu gerakan tegas.
Pria itu terhuyung beberapa langkah. Teman-temannya langsung maju bersamaan.
“Kapten!” seru Intan.
“Jangan khawatir,” jawab Zea tenang. “Dia tahu apa yang dia lakukan.”
Sagara menghadapi mereka dengan gerakan terukur. Satu serangan berhasil ia hindari, serangan berikutnya ia tangkis, kemudian ia menjatuhkan lawan dengan gerakan cepat tanpa membuang banyak tenaga.
Bugh!
Bugh!
Satu demi satu pria tersebut mundur. Tapi jumlah mereka cukup banyak sehingga Sagara harus terus bergerak menjaga jarak.
Zea memperhatikan dari belakang. “Kapten, jangan sampai celanamu kotor.”
Sagara sempat menoleh. “Bu, ini bukan waktunya bercanda.”
“Saya cuma mengingatkan.”
Sagara kembali menghadapi para pria tersebut. Namun suara mesin kendaraan kembali terdengar dari ujung jalan.
Sebuah mobil bak terbuka lain datang dan berhenti tidak jauh dari tempat mereka. Kali ini jumlah orang yang turun jauh lebih banyak.
Mata Zea langsung membesar.
“Waduh,” gumamnya.
Intan yang melihat jumlah mereka langsung panik. “Zea, itu tambah banyak!”
Para pria tersebut segera bergerak mengepung Sagara.
Sagara menghela napas pendek. Ia mengambil posisi bertahan ketika kelompok tersebut mulai bergerak dari beberapa arah sekaligus.
“Kapten!” seru Zea.
Sagara menoleh sekilas. “Tetap di belakang saya!”
Zea justru melangkah maju.
“Zea!” Intan langsung berteriak.
Zea berdiri di samping Sagara. “Kita berdua saja?”
Sagara menatapnya dengan wajah tidak percaya. “Bu, saya menyuruh Anda tetap di belakang.”
“Kalau saya tetap di belakang, mereka akan mengeroyokmu.”
“Saya bisa mengatasi mereka.”
Zea menyingsingkan sedikit lengan bajunya. “Kalau begitu, anggap saja saya membantu.”
Sagara menghela napas panjang. “Kenapa Anda selalu melakukan hal seperti ini?”
“Karena saya gubernur yang peduli bawahan.”
“Ini bukan kantor.”
“Saya tahu.”
Kelompok pria tersebut mulai maju bersama-sama.
Salah seorang warga yang mengintip dari balik pintu sampai membelalakkan mata. “Bu Gubernur mau ikut melawan?”
Warga lainnya menjawab gugup, “Jangan-jangan beliau tidak bisa bela diri!”
Tapi kekhawatiran itu hanya berlangsung beberapa detik.
Seorang pria mencoba mendekati Zea dari samping. Zea bergerak cepat menghindar, kemudian menggunakan momentum lawannya untuk membuat pria tersebut kehilangan keseimbangan dan jatuh terduduk.
Bugh!
pimter sekali mereka bikin si kanebo kereing mati kutu
mau bilang apa lagi coba hadeh
hadeh mulai deh ngeles nya