Hujan deras mengguyur gang sempit malam itu. Napas Sesil terengah-engah, memburu bersama ketakutan yang makin membelenggu dada.
Di tengah hawa dingin yang menusuk tulang, ia memeluk erat sebuah buku catatan bersampul hitam—satu-satunya bukti kejahatan mematikan yang berhasil ia temukan.
Tiba-tiba, sorot lampu mobil menyilaukan memotong kegelapan dari arah belakang. Sebuah mobil mewah berhenti mendadak. Sosok pria berpostur jangkung melangkah keluar.
Alden.
Dengan payung hitam di genggamannya, ia berjalan tenang menghampiri Sesil tanpa raut panik sedikit pun.
BRAAKK!
Dentang besi bersahut-sahutan mengudara saat tubuh Sesil terpental keras ke aspal basah. Rasa sakit menusuk seketika, disusul pandangan matanya yang perlahan mengabur dan menggelap. Sebelum kesadarannya hilang sepenuhnya, bisikan dingin berselimut nada manis terdengar tepat di telinganya:
"Tidur yang nyenyak, Sesil. Pas bangun nanti, kamu bakal mencintai aku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon just Zii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25: JEBAKAN TERENCANA
Malam sebelum hari peluncuran besar tiba dengan atmosfer yang teramat sangat mencekam. Angin kencang bertiup melintasi puncak perbukitan, memukul-mukul ranting pohon ke kaca jendela kamar tidur utama bagaikan jemari hantu yang menuntut masuk.
Di dalam ruangan, lampu kristal dinyalakan redup, membiaskan bayangan-bayangan panjang yang menari di atas dinding marmer hitam.
Alden berdiri di dekat meja nakas, membelakangi ranjang. Jemari tangannya yang panjang dan rapi bergerak dengan ketelitian seorang apoteker berdarah dingin.
Di atas nampan perak kecil, tergeletak sebuah botol kaca gelap tanpa label berisi cairan kuning pekat dan dua butir kapsul merah tua.
Itu bukan lagi dosis harian biasa Mandaroba Compound-9. Itu adalah Formulasi-X—dosis konsentrat neurotoksik tingkat tinggi yang dirancang khusus untuk memicu kelumpuhan fungsi kognitif total dan amnesia anterograd permanen dalam hitungan jam.
Insting pemangsa di dalam diri Alden telah terbangun.
Meskipun akting Sesil selama beberapa hari terakhir sangat luar biasa—begitu rapuh, manis, dan bergantung padanya—seorang sosiopat paranoid seperti Alden tidak pernah sepenuhnya mematikan alarm kewaspadaannya.
Ada detail-detail kecil yang mengusik pikirannya:
• Bekas gesekan mikroskopis pada lubang kunci kotak ukiran kayu di ruang kerjanya
• Bau samar teh chamomile dingin yang tertinggal di dekat meja
• Serta kilatan fokus di mata Sesil yang sesekali muncul selama sepersekian detik sebelum redup kembali.
Alden memutar tubuhnya perlahan, menyunggingkan senyuman hangat yang kini tampak mengerikan dan penuh intrik.
"Sesil, Sayang..." panggil Alden dengan suara berat yang menenangkan, melangkah mendekati ranjang tempat Sesil duduk bersandar. "Ini obat pemulihan khusus untukmu. Besok adalah hari besar kita di Grand Hyatt. Aku ingin memastikan kondisimu benar-benar stabil dan bebas dari mimpi buruk."
Sesil menatap nampan perak yang dibawa Alden. Tatapan matanya yang terlatih langsung menangkap perbedaan signifikan: warna kapsul itu jauh lebih pekat dari biasanya, dan cairan di dalam gelas kecil itu memancarkan aroma kimia tajam bersensasi logam yang menyengat indra penciumannya.
Darah Sesil terasa membeku. Otaknya berteriak histeris:
Dia tahu! Dia mencurigaimu!
Namun, kepanikan murni itu berhasil diredam rapat-rapat di balik topeng kepasrahan yang telah diasahnya. Jika ia menolak atau ragu satu detik saja, Alden akan langsung menyadari bahwa ingatannya telah pulih sepenuhnya, dan keberadaannya di rumah ini akan berubah menjadi eksekusi mati di tempat sebelum esok pagi tiba.
"Terima kasih, Alden..." bisik Sesil dengan nada suara yang bergetar rapuh, memandang Alden dengan mata berbinar penuh rasa percaya palsu. "Kamu selalu tahu apa yang terbaik untukku."
Sesil mengulurkan tangannya yang sengaja dibuat sedikit gemetar, meraih gelas kecil berisi cairan kuning pekat tersebut. Alden berdiri tepat di hadapannya, menatap setiap gerakan Sesil dengan mata yang memicing tajam—menunggu kepatuhan mutlak dari mangsanya.
Sesil mendekatkan gelas itu ke bibirnya. Aroma menyengat Formulasi-X membuat tenggorokannya terasa gatal dan mual.
Saat gelas menyentuh bibirnya, Sesil melakukan gerakan meminum yang sangat meyakinkan: menengadahkan kepala, meneguk cairan tersebut, dan menutup matanya rapat-rapat seolah menelan rasa pahit yang membakar.
Namun, di dalam celah mulutnya yang terlatih, Sesil tidak membiarkan cairan beracun itu masuk ke tenggorokannya.
Dengan teknik menahan napas dan mengunci pangkal lidah yang dipelajarinya, ia menampung seluruh cairan kental itu di dalam kantong pipi bagian bawahnya, di belakang deretan gigi gerahamnya.
Ia mengambil dua kapsul merah tua, memasukkannya ke dalam mulut, dan dengan ketangkasan luar biasa menyembunyikan kapsul tersebut di balik lidahnya tanpa tertelan.
"Gleg."
Sesil membuat gerakan menelan yang kentara pada jakun dan lehernya, disusul oleh helaan napas lega yang dipaksakan. Ia menyapu bibirnya dengan punggung tangan, lalu menatap Alden dengan senyuman tipis yang sayu.
"Pahit sekali, Alden..." desis Sesil pelan, kelopak matanya mulai dipasrahkan melorot turun berpura-pura terkena efek sedatif cepat.
Alden meraih gelas kosong dari tangan Sesil, mengamatinya dengan cermat, lalu menyunggingkan senyuman puas yang teramat sangat lega.
Ego dan rasa percaya dirinya yang berlebihan kembali membutakan akal sehatnya. Ia yakin bahwa cairan racun tingkat tinggi itu telah masuk ke dalam sistem pencernaan Sesil dan akan melumpuhkan otaknya selamanya sebelum panggung esok hari menyala.
"Tidurlah, Sayang," bisik Alden, mengusap dahi Sesil dengan kelembutan yang beracun. "Besok, kamu akan menjadi saksi kejayaan mutlakku."
Alden membaringkan tubuh Sesil di atas bantal, menyelimutinya dengan kain beludru, lalu berbalik melangkah menuju kamar mandi utama untuk membersihkan diri.
Begitu pintu kamar mandi tertutup rapat dan suara gemericik air shower berbunyi, mata Sesil mendadak terbuka lebar. Binar matanya yang tadi redup berubah menjadi kilatan amarah yang tajam dan dingin.
Tanpa membuang waktu satu detik pun, Sesil bangkit dari ranjang. Dengan gerakan tanpa suara, ia berlari kecil menuju vas bunga kaca besar berair di sudut ruangan.
Crrhh!
Sesil menyemburkan seluruh cairan Formulasi-X dari dalam kantong pipinya dan melepehkan dua kapsul merah dari balik lidahnya ke dalam tanah dan dasar vas bunga tersebut. Ia mengambil segelas air putih netral yang tergeletak di nakas lain, membilas mulutnya hingga bersih dari sisa rasa logam yang membakar, lalu meludahkannya kembali ke vas.
Napasnya memburu, dadanya naik turun oleh arus adrenalin yang intens. Ia baru saja lolos dari jebakan kematian yang dipasang oleh sang sosiopat.
Sesil berjalan kembali menuju ranjang, mengusap bibirnya hingga kering, dan berbaring kembali dalam posisi semula.
Di dalam kegelapan kamar yang diringi suara kucuran air mandi Alden, Sesil mengepalkan kedua tangannya erat-erat. Jebakan terencana yang dipasang Alden untuk melumpuhkannya justru menjadi dorongan terakhir yang memantapkan keputusannya.
Alden berpikir bahwa Formulasi-X telah mengubah Sesil menjadi mayat hidup yang tak berdaya untuk dipamerkan di atas panggung besok.
Pria itu tidak pernah tahu bahwa yang akan dibawanya ke Hotel Grand Hyatt bukanlah seorang korban yang terbius, melainkan sebuah bom waktu yang siap meledakkan seluruh kekuasaan dan dinastinya ke udara.
Sesil memejamkan matanya rapat-rapat, mengukir senyuman dingin di balik kegelapan.
Terima kasih atas racunmu malam ini, Alden, dengan dendam yang sudah matang sempurna.
Besok, panggung megahmu akan berubah menjadi panggung pembantaian bagi seluruh kebohonganmu. Batin Sesil.