Reyhan (31), pemilik Waroeng Sederhana di Bandung, dingin dan penuh gengsi. Anindya (30), tukang cuci piring baru dengan mimpi kecil membuka usaha kuliner sendiri.
Sepasang sarung tangan tanpa nama, wedang jahe yang "kebetulan kelebihan", dan tumpangan "searah" mengubah segalanya. Tapi gengsi lebih keras dari perasaan, dan gosip dapur tak pernah berhenti.
Saat Reyhan terpaksa memecatnya, mereka berpisah. Akankah gengsi terus berdiri di antara mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aravienne, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7
Tiga hari setelah teguran Mbak Sari, dapur kembali seperti biasa. Atau setidaknya, kelihatannya begitu.
Teh Lilis berhenti berbisik, Rafi berhenti menghindar, dan Dimas, walau masih lebih pendiam dari biasanya, mulai lagi melempar satu-dua celetukan ke arah penggorengan. Tidak ada yang menyinggung Sabtu malam itu. Tapi ada sesuatu di antara mereka semua yang seperti retakan tipis di kaca: tidak terlihat dari jauh, tapi terasa kalau disentuh.
Anindya bekerja dengan kepala menunduk dan telinga terbuka. Ia menolak tumpangan Reyhan tiga hari berturut-turut, dan setiap kali, laki-laki itu hanya mengangguk, mengatakan "Oh", lalu pergi dengan wajah yang makin sulit dibaca. Anindya sendiri tidak tahu mana yang lebih menyiksa: pura-pura tidak peduli, atau membayangkan betapa sepi bagian dalam mobil abu-abu itu.
Setiap sore, ketika angkot melaju di jalan yang sama, ia menahan diri untuk tidak menoleh ke belakang.
Rabu siang, ketika piring-piring mulai mereda, Reyhan muncul di ambang dapur membawa piring kecil.
"Mbak Sari, Teh Lilis." Suaranya datar seperti biasa. "Saya punya ide menu baru. Coba rasakan."
Di atas piring itu ada ayam goreng dengan sambal yang warnanya merah pekat, masih mengepul. Mbak Sari mengambil sendok dan mencicip sedikit sambalnya. Ia mengunyah pelan, wajahnya tidak berubah.
"Pedasnya cukup," katanya. "Garamnya pas."
Teh Lilis ikut mencoba. "Enak, Mas! Cuma... kayaknya ada yang kurang, tapi saya nggak tahu apa."
Reyhan mengangguk. Ia menoleh sebentar ke arah bak cuci, ke seseorang yang sedang berusaha pura-pura tidak mendengar, lalu berkata dengan nada seolah hanya menyebut sesuatu yang kebetulan.
"Anin."
Anindya hampir menjatuhkan gelas. "Iya, Mas?"
"Coba."
"Saya, Mas? Saya kan..."
"Coba."
Di balik meja potong, Mbak Sari berhenti mengunyah. Teh Lilis melirik Mbak Sari, lalu Anindya, lalu Reyhan. Dimas dan Jaka mendadak sangat sibuk dengan wajan yang sama sekali tidak butuh perhatian.
Anindya melepas sarung tangan dan mengelap tangan di apron. Jantungnya berdetak lebih cepat dari seharusnya. Di pikirannya, kalimat lama muncul tanpa diundang, dari pemilik toko roti yang dulu menepis sarannya soal resep: *Kamu itu cuma tukang bungkus. Nggak usah sok tahu.* Ia sudah belajar bahwa orang kecil sebaiknya tidak punya pendapat di dapur orang lain.
Tapi ia melangkah maju. Entah kenapa, kali ini kakinya tidak mau mundur.
Ia mengambil sendok kecil, mencicip sambal itu sedikit saja, dan memejamkan mata sebentar.
Rasanya dalam. Pedas yang matang, bumbu yang meresap, ada aroma terasi yang dibakar sebentar sebelum diulek. Tapi ada sesuatu yang terasa terlalu penuh, terlalu bundar, seperti lagu yang kehilangan satu nada tinggi.
"Kurang asam, Mas."
"Asam?"
"Iya. Sambalnya enak, tapi ayam gorengnya berminyak. Biasanya ada yang kasih penyeimbang. Perasan jeruk limau, atau tomat hijau yang diulek kasar." Anindya buru-buru menambahkan, "Maaf, Mas, saya nggak bermaksud..."
"Jeruk limau." Reyhan mengulang pelan, matanya menatap sambal itu seperti sedang memikirkan sesuatu yang jauh. "Ibu saya dulu pakai jeruk limau."
Hening sejenak. Lalu ia berbalik ke Teh Lilis. "Lis, ada limau di gudang?"
"Ada, Mas. Sebentar."
Tidak sampai lima menit, sambal itu sudah ditambah perasan limau dan diaduk ulang. Reyhan mencicipinya sendiri, menutup mata sebentar, lalu membukanya lagi dengan ekspresi yang hampir bisa disebut lega.
"Ini dia," katanya pelan, nyaris pada dirinya sendiri.
Ia menoleh ke Anindya. Untuk pertama kali sejak Sabtu malam itu, ada sesuatu yang hangat di wajahnya, bukan senyum, tapi bayangan senyum yang tertahan di sudut mata.
"Terima kasih."
"Sama-sama, Mas."
Di ujung ruangan, Mbak Sari meletakkan sendoknya perlahan di piring dan kembali memotong bawang dengan gerakan yang sedikit lebih keras dari biasanya.
---
Sore itu, ketika dapur sudah sepi dan Anindya sedang membereskan lap, Reyhan datang lagi, kali ini sendirian.
"Anin."
"Iya, Mas?"
"Kamu pernah belajar masak?"
"Nggak formal, Mas. Cuma dari ibu dan dari nonton orang." Anindya menunduk. "Saya cuma... perhatiin aja gimana bumbunya diracik."
"Lidah kamu bagus."
Anindya terdiam. Itu bukan jenis kalimat yang biasa keluar dari mulut Reyhan. Itu kalimat yang bisa diulang-ulang di kepala sepanjang malam. Dan itu juga kalimat yang tidak pernah ia dengar dari siapa pun sejak ibunya meninggal.
"Makasih, Mas," katanya, dan suaranya lebih kecil dari yang ia inginkan.
"Saya serius." Reyhan menatap lap di tangannya, bukan wajah Anindya. "Ada banyak orang bisa masak, tapi nggak banyak yang bisa ngerasain apa yang kurang. Itu bedanya."
"Mas pernah bilang mimpi jangan disimpan terlalu lama."
Reyhan mengangkat wajahnya.
"Mas sendiri gimana?" Anindya memberanikan diri. "Mimpi yang telat itu... apa?"
Hening. Di luar, sore turun pelan di halaman belakang, dan cahaya oranye menyelinap lewat jendela kecil di dinding.
"Nanti," kata Reyhan akhirnya. Suaranya lebih rendah dari biasanya, dan ada sesuatu di dalamnya yang membuat Anindya yakin ini bukan penolakan, melainkan permintaan untuk bersabar. "Nanti saya cerita. Belum sekarang."
"Iya, Mas."
"Janji."
Kata itu keluar begitu saja, lebih ringan dari yang Reyhan rencanakan. Dan begitu terucap, ia tampak sama terkejutnya dengan Anindya. Laki-laki yang selama ini tidak pernah memberi janji apa pun, termasuk pada dirinya sendiri, baru saja menaruh sesuatu yang berharga di tangan seorang perempuan yang belum ia kenal sebulan.
"Iya, Mas," ulang Anindya, lebih pelan.
Jam tangan menunjukkan pukul empat kurang lima menit. Reyhan menatapnya, lalu menatap Anindya, lalu seperti seseorang yang tiba-tiba teringat sesuatu, ia berdeham dan mundur selangkah.
"Sudah jam pulang. Hati-hati."
"Iya, Mas."
Anindya mengambil tasnya dan melangkah pergi, jantungnya berdetak seperti baru lari. Di belakangnya, Reyhan berdiri diam dengan sebuah janji yang baru ia buat tanpa berniat, dan ia tahu betul betapa mahalnya janji seperti itu.
---
Di pintu belakang dapur, tersembunyi di balik rak bumbu, Mbak Sari berdiri dengan celemek yang sudah dilepas separuh.
Ia sudah di sana sejak percakapan itu dimulai. Bukan karena sengaja menguping, tapi karena kakinya berhenti sendiri begitu mendengar nama itu. *Lidah kamu bagus.* Kalimat yang sama, nyaris persis, pernah dikatakan Reyhan padanya, enam tahun lalu, di hari pertama ia bekerja di sini. Hari pertama dari enam tahun yang ia habiskan membuktikan bahwa kalimat itu benar.
Selama enam tahun itu, ia pernah dua kali mengajukan ide menu. Dua kali Reyhan menjawab, "Nanti saya pikirkan." Dua kali itu tidak pernah dipikirkan.
Dan tadi siang, seorang perempuan yang baru bekerja tiga minggu, yang tangannya masih merah karena air panas, dimintai pendapat di depan seluruh dapur. Hanya dengan satu kata: *Anin.*
Bukan karena Anindya salah. Ia tidak salah. Itu yang membuat sakitnya sulit dibenci. Bagaimana mungkin seseorang marah pada anak yang tidak pernah meminta apa-apa?
Mbak Sari melepas celemeknya sepenuhnya, melipatnya rapi, lalu berjalan keluar tanpa suara. Di wajahnya tidak ada kemarahan. Hanya sesuatu yang lebih pelan dan lebih sulit dihapus, seperti noda yang tidak kelihatan sampai cahayanya jatuh dari sudut yang tepat.
Di luar, ia berdiri sebentar di bawah langit sore yang memerah, memejamkan mata, dan bertanya pada dirinya sendiri sesuatu yang belum pernah ia ucapkan keras-keras: *kapan terakhir kali ada yang memintaku bicara, bukan hanya bekerja?*
Tidak ada yang menjawab. Hanya angin sore, dan di kejauhan, azan magrib yang mulai terdengar.
Bersambung ke Bab 8...