NovelToon NovelToon
Cinta Dijalur Misi

Cinta Dijalur Misi

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Romansa Fantasi / Action
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: eka sundari

Revan (30), pimpinan tentara elit yang lima tahun tak pulang, mendapat misi mengintai kelompok pemberontak di hutan desa kelahirannya. Selama ini, Revan terlalu sibuk bertugas hingga tidak sempat memikirkan cinta, sang ibu khawatir dan ingin menjodohkan nya.

Di sisi lain, Nara ...bidan ASN cantik yang jago bela diri,pindah tugas ke desa tersebut. Karna menghindar dari beberapa laki laki yang selalu mendekatimya ,maraknya kasus KDRT dan perselingkuhan membuat ia trauma hingga tak percaya cinta dan enggan menikah.

Takdir mempertemukan mereka di gerbong kereta api. Demi menghindari desakan nikah ibunya via telepon, Revan nekat mengambil diam diam gambar dengan wanita di sampingnya yang sedang tertidur,agar sang ibu tenang, Ia tak menyadari bahwa wanita tersebut adalah Nara, bidan baru yang siap mengubah jalan hidup dan misinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eka sundari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hinaan tak berujung

Suara dentuman di atas atap seng masih menyisakan gemetar di dada Nara.

Revan yang kesadarannya terkumpul dalam sekejap, langsung memasang badan. Wajahnya yang semula hangat dan penuh kelembutan berubah drastis dingin, tajam, dan siap tempur.

"Tetap di sini, Nara. Jangan keluar," perintah Revan setengah berbisik namun penuh penekanan.

Tanpa membuang waktu, Revan melangkah cepat menuju pintu depan. lalu menerobos keluar ke kegelapan malam. Senyap. Hanya embusan angin dingin yang menyapa tubuhnya.

Namun, saat Revan membalikkan badan dan mengedarkan pandangan ke dinding depan Polindes,matanya membelalak. Dadanya seolah dihantam benda berat. Hatinya hancur dan amarahnya membakar seketika.

Di dinding putih bangunan itu, tergores tulisan besar berpendar merah yang disemprot asal-asalan:

"PERGI KAU BIDAN KOTOR! KAMI TIDAK MAU MENERIMAMU!"

Di bawah dinding itu, tergeletak sebuah kaleng cat semprot kosong yang penyok benda yang baru saja dilemparkan ke atas atap seng untuk memancing perhatian dan meninggalkan teror.

"ulah siapa ......?!" geram Revan, rahangnya mengeras tajam. Urat-urat di lehernya menegang menahan amarah yang meledak.

Langkah kaki terdengar dari balik pintu. Nara, yang merasa cemas karena Revan tak kunjung kembali, menyusul keluar sambil merapatkan kain selendangnya.

"Bang Revan, ada apa....."

Ucapan Nara terhenti seketika. Matanya terkunci pada tulisan merah menyala di dinding depan tempatnya mengabdi.

Kata demi kata terbaca olehnya. Bidan kotor... Pergi...

Seluruh tubuh Nara mendadak kaku. Darahnya seolah berhenti mengalir. Rasa hangat dan debaran manis yang beberapa menit lalu memenuhi hatinya mendadak sirna, berganti dengan rasa sakit .

"Nara..." suara Revan bergetar.

Melihat Nara berdiri mematung dengan bahu yang berguncang menahan tangis, rasa sakit di hati Revan kian tak tertahankan.

"Sudahlah, Bang... kita masuk saja," bisik Nara dengan suara bergetar, menahan tangis yang menggenang di pelupuk matanya. Ia menyapu air mata di pipinya cepat-cepat, berusaha tampil kuat meski hatinya terasa diremas.

Revan mengepalkan tangan erat-erat, membiarkan Nara menarik pelan ujung bajunya masuk ke dalam rumah. Pintu kayu dikunci rapat kembali.

Di dalam ruangan yang temaram, Nara berjalan menuju meja kerja kecil di sudut kamar. Ia menggeser tumpukan buku medis, lalu membuka sebuah laptop yang tersambung ke sebuah monitor kecil. Jari-jemarinya yang lentik bergerak lincah mengetik serangkaian perintah di atas kibor.

Revan mendampingi di sampingnya, membelalak tak percaya saat melihat layar laptop menampilkan sudut pandang halaman depan Polindes dari beberapa sudut.

"Kamu... memasang CCTV di tempat ini, Nara?" tanya Revan terkejut, tak menyangka bidan desa seanggun Nara memiliki persiapan matang seperti ini.

Nara menoleh tipis, mengulas senyum tipis yang penuh misteri.

"Abang tak usah khawatir. Nara punya cara sendiri untuk menyelesaikan masalah ini,"

jawabnya tenang.

Melalui rekaman CCTV beberapa menit yang lalu, tampak jelas bayangan dua orang bertopeng bergerak cepat melemparkan kaleng cat semprot dan menuliskan kalimat keji tersebut sebelum menghilang ke dalam kegelapan semak-semak.

Belum sempat Revan mencerna keterkejutannya, ponsel lipat di meja Nara bergetar nyaring. Sebuah nama kontak asing berkilat di layarnya. Nara langsung mengangkatnya dan mengaktifkan mode pengeras suara.

"Nara... aku sudah melacak Semuanya," suara tenang namun tegas seorang wanita terdengar nyaring dari balik telepon. "Fitnah ini murni bersumber dan dimainkan oleh oknum militer ."

Revan tersentak. Alis tebalnya bertaut tajam, mendengarkan setiap patah kata dari di seberang sana.

"Bukti rekaman CCTV dan jejak digital yang kamu kirim tadi sudah kuolah," lanjut suara itu penuh keyakinan. "Malam ini juga, bukti lengkap ini akan kukirimkan langsung ke Panglima TNI serta Seskab. Supaya tidak ada satu pun oknum yang berani mengganggu atau menyentuhmu lagi, Sahabatku sayang... Sekalian ini jadi bukti mutlak untuk menjatuhkan pelakunya sampai ke akar-akarnya., bukan kah seharusnya mereka berterima kasih padamu ....kenapa mala menyudutkan mu begini...."

Nara menghela napas, dadanya terasa jauh lebih lapang. "entahlah biarkan saja, arogan yang tinggi membuat mata gelap . Baiklah....terima kasih banyak ya, Sayangku... Kamu sehat-sehat di sana, jangan begadang terus ya," sahut Nara penuh kehangatan.

"kamu juga ,Bidan Kesayangaku ..... dan jaga diri di sana. Dadah..." Telepon pun terputus.

Di samping Nara, hawa ruangan mendadak terasa mencekam. Revan berdiri kaku dengan rahang menegang keras. Sorot matanya yang tajam berkilat-kilat penuh rasa cemburu yang membakar.

Sayangku?

"Siapa dia, menelpon malam malam ?" panggil Revan dengan suara berat bertangga nada rendah, menuntut penjelasan.

Nara menoleh, mendapati raut wajah Revan yang terlipat emosi namun terlihat sangat menggemaskan.

Nara tak sanggup menahan senyum tipis di bibirnya.

"Dia sahabat Nara sejak masa kuliah, ahli IT dan pakar cyber security," jelas Nara lembut, menikmati raut cemburu sang Komandan.

"Dia yang sedang membantu membereskan masalah ini dari pusat."

Revan menarik napas panjang, berusaha menata detak jantungnya yang bergemuruh campur aduk antara lega dan gengsi yang terluka. Pria itu menggaruk alisnya, pura-pura batuk kecil.

Nara menepuk pelan lengan Revan, memberikan sentuhan hangat yang seketika menenangkan amarah pria itu.

"Sudah ya, Bang... sekarang Abang istirahat. Jangan dipikirkan lagi."

Revan yang hendak mencium Nara ...lalu dihentikan dengan jemari lentik Nara.

Nara menjauh smabil menggeleng .

"berapa wanita yang Abang gituin....." ledek Nara ...menjauh dari Revan ,yang masih dengan nafas memburuh.

" Uda Abang istirahat dengan Aris " ...tegur Nara sambil masuk kedalam kamar.

saat Nara menutup pintu kamar ,, Nara berdiri dibalik pintu sambil memegang dada ... menenangkan ritme jantung yang tidak beraturan ......

" rasa apa ini ...., seperti ada rasa aneh disekitar perut dan tubuh ku " batin Nara yang kian penuh gejolak.

*****

Ternyata berita tentang Nara dinodai

Membuat beberapa warga Tidak mau di berobat dipolindes....

Revan sudah bangun sejak fajar. Dengan kaos singlet militer hitam dan celana doreng yang dilipat hingga betis, Komandan gagah itu sibuk mengoleskan kuas cat putih ke dinding depan Polindes. Ia ingin menghapus seluruh tulisan fitnah dan caci maki itu sebelum warga terbangun dan memandangnya, tak ingin hati Nara kembali terluka.

​Tak lama kemudian, Pak Hadi salah satu warga desa yang istrinya sedang hamil tua melintas di depan Polindes. Nara yang melihatnya dari teras langsung menyapa ramah seperti biasa.

​"Pak Hadi... Ibunya mana? Hari ini jadwal periksa perkembangan janin Ibu, "

panggil Nara dengan senyum hangat.

Pria setengah baya itu menatap Nara dari atas ke bawah dengan raut wajah penuh kejijikan dan keengganan yang sangat jelas.

​"Gak usah repot-repot, Bu Nara!" sahut Pak Hadi ketus dan dingin. "Istri saya sudah saya periksakan ke dukun bayi."

Deg ......

jawaban itu, seketika mematahkan semangat nara ..

​

1
Gabutz
double up dongs thor
Gabutz: wahhh makasih ya thor, sering-sering double up hihihi
total 2 replies
Lestari Muji
lanjut Thor gak ikhlas Nara Revan gak nikah🥹
es moon: 🙏🙏🙏
sip .... ditunggu kelanjutannya
total 1 replies
Lestari Muji
duhh deg"an
sakura
....
es moon: terima sudah mampir, semoga suka ,happy reading
total 1 replies
Rian Moontero
Mampiiirr
es moon: terima kasih, semoga suka..happy reading
total 1 replies
Apis
huuu revan belum jadian asal main kokop aj
es moon: Wkwkwk 😂 Revan emang gercep ya, Kak. Belum jadian udah berani macam-macam.
Terima kasih telah mengikuti kisah cinta Revan dan Nara ❤️ , DiTunggu ya kak kelanjutannya,
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!