Seorang Pemuda Pengangguran Terdesak pinjol ia pun nekat menjadi Dukun Palsu/Gadungan karena menemukan beberapa barang kuno lalu muncul ide menjadi Dukun..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Al-Ashar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ide Gila di Pinggir Sungai Garang
Sinar matahari pagi yang menembus celah-celah genteng tanah liat membangunkan Mamat dari tidur ayamnya. Kepala Mamat terasa seberat batu kali, akibat semalaman menghirup racun asap obat nyamuk bakar dan stres memikirkan tenggat waktu pembayaran pinjaman online. Jam dinding mati di kamarnya menunjukkan pukul enam lewat sedikit, namun dari getaran ponselnya yang tiada henti di atas kasur, Mamat tahu hari penghakiman telah tiba.
Dia merogoh ponselnya dengan tangan gemetar. Layar retak itu dibanjiri belasan pesan singkat dan lima panggilan tak terjawab dari nomor tak dikenal.
[PINJOL KILAT CEPAT]
Sdr. MAMAT! Tim Penagih Lapangan kami sudah meluncur ke area Kalisari, Semarang. Siapkan uang tunai Rp4.850.000 atau nama baik Anda habis hari ini!
"Jancuk... betul-betul datang mereka!" umpat Mamat sembari meloncat dari tempat tidur.
Pikirannya kalut luar biasa. Jika dia bertahan di dalam rumah, para depkolektor berbadan kekar itu pasti akan mendobrak pintu, mengacak-acak rumah peninggalan orang tuanya, lalu menyeretnya ke tengah jalan kampung. Mamat tidak punya pilihan lain selain melarikan diri sementara untuk menyusun taktik dukun palsunya.
Dia menyambar sarung hitam kusam milik kakeknya, memasukkan batu akik merah besar ke dalam saku, lalu kabur lewat pintu belakang sebelum rombongan penagih utang sempat mengendus keberadaannya.
Tujuan Mamat adalah pinggiran Sungai Garang, sebuah kawasan bantaran sungai yang membelah area Semarang bawah dan perbukitan. Di area ini, pepohonan bambu tumbuh rimbun, menciptakan suasana yang remang-remang, sepi, dan beraroma lembap. Hanya ada gemericik air sungai yang kecokelatan dan suara burung liar. Tempat ini biasa digunakan warga untuk membuang hajat secara sembunyi-sembunyi atau tempat para pemuda putus sekolah untuk minum ciu murah.
Mamat duduk di atas sebuah batu kali yang cukup besar di bawah naungan rumpun bambu yang melengkung. Dia meluruskan kakinya yang gemetar.
"Piye iki..." gumam Mamat frustrasi sambil mengacak-acak rambutnya. "Kalau cuma modal sarung kusam sama batu akik murah, mana ada orang yang mau bayar jutaan rupiah buat jasa dukun? Warga Kalisari memang agak bodoh, tapi mereka tidak se-goblok itu!"
Mamat memutar otak keras-keras. Menjadi dukun di zaman modern tidak bisa hanya mengandalkan mantra-mantra bahasa Jawa kuno yang dia karang sendiri. Dia butuh sensasi, dia butuh bukti visual, dan yang paling penting, dia butuh strategi pemasaran yang menyasar titik lemah warga kampung: ketakutan, rasa penasaran, dan urusan syahwat.
Saat Mamat sedang melamun menatap aliran air sungai, matanya menagkap sebuah benda asing yang hanyut dan tersangkut di antara perakaran bambu dekat kakinya.
Itu adalah sebuah kantong plastik hitam yang sudah robek. Di dalamnya tampak barang-barang bekas yang dibuang orang dari arah hulu. Mamat menggunakan ranting kayu untuk menarik kantong plastik itu ke darat. Naluri pengangguran pengumpul barang bekasnya mendadak bangkit.
Ketika kantong plastik itu terbuka, mata Mamat melotot. Di dalamnya terdapat sebuah keris tua dengan sarung kayu yang sudah agak lapuk. Mamat perlahan menarik gagang keris tersebut.
Sreeek...
Bilah besi keris itu keluar dari sarungnya. Namun, alih-alih lurus atau berluk indah seperti keris pusaka Jawa pada umumnya, bentuk keris ini sangat aneh. Bilahnya melengkung tajam di bagian tengah, bengkok seperti pisang ambon atau lebih tepatnya menyerupai huruf 'L' yang cacat.
"Keris kok bentuknya bengkok begini?" Mamat mengamati keris itu dari dekat. Besinya bertahi lalat dan berbau karat menyengat. "Ini keris pusaka apa hasil kerajinan tangan anak STM yang gagal welder?"
Mamat mencoba meluruskan bilah besi itu dengan membenturkannya pelan ke batu kali, tapi keris itu tetap bengkok dan kaku. Namun, di mata Mamat yang penuh dengan niat licik, keris cacat ini adalah sebuah mahakarya.
"Tunggu dulu..." Mamat tersenyum lebar. Matanya berbinar-binar. "Keris lurus itu sudah biasa! Dukun-dukun di TV semuanya pakai keris lurus atau keris lekuk sembilan. Tapi keris bengkok? Ini langka! Ini bisa kujadikan 'Keris Pusaka Kelurusan Jiwa'!"
Ide-ide gila mulai membanjiri benak Mamat seperti air bah. Dia menyatukan semua puzzle di kepalanya:
Pusaka Utama: Keris Bengkok Ki Ageng Penjelit (diklaim bisa membelokkan nasib buruk dan meluruskan niat jahat).
Media Ritual: Air Suci Sungai Garang yang dicampur dengan kembang setaman dari pekarangan warga (diklaim sebagai Air Penyucian Dosa dan Pelaris Usaha).
Syarat Klien: Sangat spesifik dan cenderung mesum, khusus untuk klien wanita atau janda kaya—misalnya ritual ditepuk punggungnya, disyaratkan membawa pakaian dalam warna tertentu untuk "dibersihkan dari aura ghaib", atau ritual mandi kembang malam Selasa Kliwon.
Target Pertama: Orang-orang kampung yang sedang terdesak masalah ekonomi atau asmara, terutama Mbak Wiwin dan Pak RT yang sering kehilangan barang.
"Iya! Betul sekali!" Mamat menepuk paha kakinya sendiri dengan keras hingga menimbulkan suara nyaring. "Orang-orang zaman sekarang itu makin aneh syaratnya, justru makin percaya kalau dukunnya sakti! Kalau syaratnya cuma suruh sholat atau berbuat baik, mereka tidak percaya. Tapi kalau disuruh puasa makan cabai rawit sambil pakai sarung terbalik, mereka pasti manut!"
Mamat membayangkan Mbak Wiwin datang ke rumahnya dengan wajah penuh ketakutan, meminta perlindungan ghaib dari "maling pisang" yang sebenarnya adalah Mamat sendiri. Lalu Mamat akan menyuruh Mbak Wiwin menjalani "Ritual Tepuk Punggung Penyucian Syahwat" di kamar belakangnya yang sudah diberi aroma asap obat nyamuk bakar.
"Aduh, Mbak Wiwin..." Mamat membayangkan wajah janda cantik itu sambil tersenyum-senyum sendiri di tepi sungai. Air liurnya hampir menetes membayangkan lekuk tubuh Mbak Wiwin yang semalam hanya tertutup handuk tipis.
Namun, lamunan mesum Mamat mendadak buyar ketika suara derap langkah kaki yang berat dan terburu-buru terdengar menembus rimbun kebun bambu di atas bantaran sungai.
"Cari di sekitar sini! Katanya rumahnya si Mamat dekat bantaran sungai!" suara teriakan seorang pria dengan nada berat dan serak memecah ketenangan Sungai Garang.
Mamat membeku. Dia mengintip dari balik semak bambu.
Tampak dua orang pria berbadan besar dengan kulit gelap, mengenakan jaket kulit hitam dan celana jeans ketat, sedang berjalan turun menyisir jalan setapak menuju sungai. Salah satu dari mereka memegang gulungan kertas yang tak lain adalah cetakan foto wajah Mamat dari media sosial beserta lembaran tagihan utang pinjol.
"Itu orangnya tidak ada di rumah! Pintunya dikunci dari luar, tapi sendalnya masih ada!" seru pria yang satu lagi, bertato ular di lehernya. "Awas saja kalau ketemu si Mamat, tak patahkan kakinya! Utang lima juta dibiarkan nunggak berbulan-bulan!"
Jantung Mamat seperti melompat keluar dari dadanya. Itu adalah depkolektor Pinjol Kilat Cepat! Mereka benar-benar datang dan jumlah mereka dua orang, masing-masing berukuran dua kali lipat ukuran tubuh Mamat yang kerempeng.
Mamat dengan cepat merangkak mundur, bersembunyi lebih dalam di balik tumpukan sampah plastik dan batang bambu lapuk. Dia merapatkan tubuhnya ke tanah, memeluk keris bengkok dan sarung kusam milik kakeknya erat-erat.
"Aduh, Gusti... ampunilah dosa-dosa Mamat," bisik Mamat dengan napas tertahan. "Jangan sampai Mamat mati konyol di tepi sungai sebelum sempat merasakan jadi dukun kaya..."
Kedua depkolektor itu makin mendekat. Suara gesekan sepatu boot mereka di atas daun-daun bambu kering makin jelas.
"Bro, ada bau menyengat ini... bau apa ya?" tanya depkolektor bertato ular tiba-tiba. Dia berhenti tepat tiga meter di depan semak-semak tempat Mamat bersembunyi.
"Bau kemenyan bercampur busuk sampah, khas bau tempat keramat," jawab temannya yang mengenakan kacamata hitam.
Sebenarnya, bau menyengat itu adalah campuran dari bau sisa racun obat nyamuk bakar yang meresap di sarung Mamat, bau karat keris bengkok, dan bau keringat dingin Mamat yang ketakutan setengah mati.
Depkolektor berkacamata hitam itu tiba-morrow melangkah mendekati semak bambu tempat Mamat meringkuk. Tangannya menjangkau batang bambu untuk menyibak dedaunan.
Dalam kondisi terdesak dan panik tak terhingga, Mamat kehilangan akal sehatnya. Dia menyadari kalau dia tertangkap sekarang, tamat sudah riwayatnya. Tidak ada waktu untuk lari. Satu-satunya cara adalah menggunakan taktik gila yang baru saja dirancangnya.
Mamat mendadak bangkit berdiri dari balik semak-semak secara tiba-tiba!
CRASH!
Dia melilitkan sarung hitamnya ke kepala seperti sorban liar, memegang keris bengkok tinggi-tinggi di udara dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya memegang batu akik merah yang diarahkan tepat ke wajah kedua depkolektor tersebut. Matanya dibuat melotot selebar-lebarnya hingga urat-urat matanya terlihat, dan mulutnya mulai mengeluarkan suara erangan berat yang melengking.
"HOOOOAAAARRRRGGGFFFGGHHH!" teriak Mamat dengan nada suara seperti orang kesurupan banteng liar.
Kedua depkolektor berbadan kekar itu terperanjat, refleks melangkah mundur dua langkah karena kaget luar biasa. Mereka tidak menyangka dari balik semak sampah tiba-tiba muncul sesosok manusia aneh berwajah pucat, berselimut kain hitam kusam, dan memegang besi bengkok yang mengancam.
"S-Siapa kamu?!" bentak depkolektor bertato ular, mencoba menutupi rasa kagetnya meski suaranya sedikit berguncang.
Mamat memiringkan kepalanya sembilan puluh derajat secara patah-patah, menirukan gerakan hantu di film-film murah.
"AKU... ADALAH KI AGENG PENJELIT!" jerit Mamat dengan suara dibuat-buat parau dan seram. "SIAPA YANG BERANI MENGGANGGU KETENANGAN WADAH ASTRAL MAMAT DI BANTRAN SUNGAI INI?!"
Kedua pria itu saling pandang. Depkolektor berkacamata hitam menyipitkan mata, memperhatikan wajah Mamat yang penuh dengan tanah dan debu bambu.
"Sebentar... ini kan si Mamat?!" seru depkolektor berkacamata hitam sambil mencocokkan foto di kertasnya. "Woi, Mamat! Jangan pura-pura gila kamu! Bayar utangmu!"
Mamat tidak menurunkan aktingnya. Dia justru makin menjadi-jadi. Dia melangkah maju satu langkah sambil menghentakkan kakinya ke tanah dengan keras.
"MAMAT SUDAH MATI DIHISAP KEKUATAN PUSAKA KERIS BENGKOK!" teriak Mamat histeris. Dia mengacungkan keris bengkoknya ke arah dada depkolektor bertato. "JIKA KALIAN MENAGIH UTANG PADA JASAD INI, MAKA TUJUH TURUNAN KALIAN AKAN KENA KUTUKAN MANCURAN DARAH DARI SUNGAI GARANG!"
Mamat lalu berpura-pura kejang-kejang, memperagakan gerakan jurus silat ngawur sambil mengibaskan sarung hitamnya yang berbau obat nyamuk bakar ke udara.
Aroma menyengat yang keluar dari kibasan sarung itu langsung menyengat hidung kedua depkolektor. Dikombinasikan dengan tatapan mata Mamat yang juling dan liar, serta suasana tempat yang memang remang-remang dan angker, kedua pria kekar itu mendadak kehilangan keberanian mereka.
"Bro... ini orang kayaknya beneran gila atau kesurupan setan sungai," bisik depkolektor bertato ular dengan wajah cemas. "Lihat matanya, juling begitu, kayak lagi dipelototi genderuwo!"
"Tapi utangnya lima juta, Bro!" sahut temannya ragu-ragu.
"Alah, lima juta tak sebanding kalau kita kualat disumpahi mati darah! Ayo cabut dulu, kita lapor bos kalau si Mamat sudah gila permanen!"
Tanpa menunggu aba-aba kedua, kedua penagih utang berbadan kekar itu berbalik arah dan berlari setengah kencang menaiki tanjakan bantaran sungai, meninggalkan Mamat yang masih berdiri tegak di tengah semak-semak.
Mamat memperhatikan kedua punggung pria itu yang makin menjauh hingga menghilang di balik pepohonan.
Perlahan-lahan, napas Mamat kembali teratur. Hentakan kejang-kejangnya berhenti. Dia menurunkan keris bengkoknya, melepaskan ikatan sarung di kepalanya, lalu mengusap keringat dingin yang mengucur deras di jidatnya.
Mamat menatap keris bengkok di tangan kanannya, lalu menatap arah lari kedua depkolektor tadi. Sebuah tawa pelan muncul dari tenggorokannya, makin lama makin keras hingga menjadi tawa terbahak-bahak yang menggema di sepanjang aliran Sungai Garang.
"Bisa... Hahaha! Ternyata betul-betul bisa!" seru Mamat kegirangan. "Depkolektor pinjol berbadan kekar saja takut sama akting dukun gadunganku! Apalagi cuma warga Kampung Kalisari!"
Mamat mengepalkan tangannya. Rasa takutnya hilang berganti dengan kepercayaan diri yang meluap-luap. Ide gila yang berawal dari keputusasaan itu kini sah menjadi senjata utamanya. Dia telah menemukan resep sempurna untuk bertahan hidup, mencari uang, dan tentu saja... memanfaatkan kepolosan warga demi niat-niat mesumnya.
"Tunggu aku, Kampung Kalisari," gumam Mamat sambil menyelipkan keris bengkoknya ke dalam sarung hitam di pinggangnya. "Ki Mamat Sastrogati siap membocorkan rahasia ghaib kalian!"