Ini menceritakan kisah seorang pemuda yang memiliki sembilan Akar Spiritual, yang dianggap sebagai sampah oleh dunia kultivasi. Namun, tanpa sengaja, ia justru dibimbing oleh dua sosok legendaris yang telah berdiri di puncak dunia kultivasi.
Membawa dua cincin warisan tersegel yang menyimpan kekayaan dari dua sekte besar, Shen Luo memulai perjalanannya di dunia kultivasi.
Di tengah perjalanan, ia harus terseret ke dalam perselisihan masa lalu kedua gurunya, berhadapan dengan seorang Iblis Suci yang mematikan, serta terikat dalam perjodohan dengan seorang Putri Es yang telah mencintai pria lain.
Dengan sembilan Akar Spiritual yang dianggap sebagai kelemahan, Shen Luo harus bertahan hidup dan mengungkap rahasia kekuatannya, hingga suatu hari segel kedua cincin warisan itu terbuka dan takdirnya mulai berubah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15: Guncangan di Pelataran Dalam
Cahaya fajar mulai menembus awan kelabu di atas Sekte Bintang Jatuh setelah badai panjang semalam berlalu. Udara pagi terasa segar, tetapi suasana di kaki Puncak Hantu Kesunyian justru membuat siapa pun yang melihatnya bergidik.
Beberapa murid luar yang sedang berpatroli mendadak berhenti.
Di tengah jalan yang masih basah oleh hujan, lima belas orang berjubah hitam tergeletak di dalam lumpur. Tubuh mereka penuh luka dan darah yang telah mengering. Mereka masih hidup, tetapi hanya mampu mengerang lemah.
Pemimpin mereka, Zhao Feng, terbaring menatap langit dengan tatapan kosong. Perutnya menyisakan luka mengerikan. Dantiannya telah hancur dan seluruh kultivasinya lenyap.
Zhao Feng adalah ahli Pembentukan Fondasi Tahap Awal.
Namun kini, ia telah menjadi seorang cacat.
Empat belas orang lainnya mengalami nasib yang sama.
"Ini... Senior Zhao Feng!"
Wajah para murid patroli berubah pucat.
"Segera laporkan kepada Pelataran Dalam! Pasukan Penegak Hukum telah dihancurkan!"
Kabar itu menyebar ke seluruh Sekte Bintang Jatuh hanya dalam beberapa jam.
Lima belas elit Penegak Hukum telah dilumpuhkan tanpa perlawanan berarti.
Dan pelakunya bukan musuh dari luar sekte.
Melainkan seorang pemuda yang baru tiga bulan sebelumnya ditugaskan menjadi tukang sapu di Puncak Hantu Kesunyian.
Shen Luo.
Sang Sampah Sembilan Akar.
Para murid yang sebelumnya menertawakan keputusan Tetua Su Yuhan kini terdiam. Mereka akhirnya sadar bahwa pemuda yang mereka anggap sampah bukanlah orang yang bisa dipandang sebelah mata.
Menghancurkan Dantian seorang ahli Pembentukan Fondasi bukanlah sesuatu yang dapat dilakukan oleh murid luar.
Terlebih lagi, Shen Luo telah melakukannya terhadap lima belas orang tanpa membunuh seorang pun.
Nama Shen Luo mulai berubah di dalam benak mereka.
Bukan lagi sampah.
Melainkan monster.
Di kediaman Ketua Sekte, suara benda pecah terdengar berturut-turut.
Prang!
Sebuah vas giok berusia ribuan tahun hancur menghantam dinding.
Brak!
Meja kayu cendana terbelah oleh tebasan Qi pedang.
Jian Chen berdiri di tengah ruangan dengan rambut berantakan dan mata merah. Wajahnya dipenuhi amarah sekaligus kepanikan.
"Mustahil!"
Ia menendang pecahan meja di hadapannya.
"Lima belas orang! Zhao Feng bahkan seorang ahli Pembentukan Fondasi! Bagaimana mungkin sampah Sembilan Akar itu menghancurkan Dantian mereka semua?"
Napas Jian Chen memburu.
"Dia pasti menyembunyikan kultivasi Iblis. Atau menggunakan racun!"
Kepanikan itu bukan tanpa alasan.
Kini Jian Chen sadar bahwa Shen Luo bukan sekadar pion lemah yang dapat ia singkirkan sesuka hati.
Pemuda itu adalah sebuah anomali.
Kekuatan tubuhnya telah melampaui batas nalar. Lebih mengerikan lagi, Shen Luo mampu melumpuhkan lima belas elit tanpa membunuh seorang pun.
Itu bukan keberuntungan. Itu adalah kekuatan mutlak.
Pintu ruangan terbuka perlahan.
Dalam sekejap, udara di dalam ruangan menjadi berat. Tekanan spiritual yang mengerikan memenuhi tempat itu hingga Jian Chen hampir berlutut.
Seorang pria paruh baya berjubah emas melangkah masuk.
Jian Chen segera menundukkan kepala.
"A-Ayah..."
Plak!
Tamparan keras menghantam wajahnya.
Tubuh Jian Chen terlempar dan membentur dinding. Darah mengalir dari sudut bibirnya.
Jian Nantian menatapnya dengan dingin.
"Bodoh."
Suara itu rendah, tetapi mengandung tekanan yang membuat Jian Chen tidak berani bergerak.
"Aku memintamu menyelesaikan masalah ini secara diam-diam. Namun kau malah mengerahkan Penegak Hukum secara terang-terangan di tengah badai."
Jian Nantian mendengus.
"Sekarang seluruh sekte tahu bahwa faksi kita mencoba menyingkirkannya dan justru berakhir dipermalukan."
Jian Chen bangkit perlahan.
"Maafkan aku, Ayah. Aku meremehkannya. Bocah itu memang menyembunyikan kekuatannya."
Jian Nantian tidak menjawab. Ia berjalan menuju jendela dan memandang Puncak Hantu Kesunyian yang diselimuti kabut.
"Su Yuhan tidak salah."
Tatapannya menjadi semakin dalam.
"Dia pasti melihat bayangan Sikong Jian dalam diri pemuda itu."
Jian Nantian berhenti sejenak.
"Dan dari laporan yang kita terima, Shen Luo menghancurkan pedang Zhao Feng hanya dengan tangan kosong.."
Wajah Jian Chen berubah serius.
"Jika dibiarkan tumbuh, dia akan menjadi ancaman bagi kita."
"Benar."
Jian Chen mengepalkan tangan.
"Lalu apa yang harus kita lakukan Ayah? Kita tidak mungkin mengirim pembunuh lagi. Setelah kejadian ini, Su Yuhan pasti mengawasinya."
Senyum tipis muncul di wajah Jian Nantian.
"Kalau kita tidak bisa membunuhnya dalam kegelapan, kita bunuh dia di bawah mata seluruh sekte."
Jian Chen terdiam.
"Maksud Ayah?"
"Bulan depan adalah Ujian Tahunan Sekte Luar."
Mata Jian Nantian berkilat dingin.
"Semua murid luar wajib mengikutinya. Tidak terkecuali seorang tukang sapu."
Jian Chen perlahan memahami maksudnya.
"Ayah ingin memaksanya masuk arena?"
"Benar."
Jian Nantian tersenyum dingin.
"Di arena sekte, hidup dan mati ditentukan oleh kemampuan masing-masing. Jika seseorang mati dalam pertarungan, tidak ada yang bisa menyalahkan kita."
Mata Jian Chen berbinar.
"Jadi arena itu akan menjadi tempat eksekusinya."
"Siapkan orang-orang terbaikmu."
Jian Nantian menatap putranya.
"Kali ini, jangan ulangi kesalahan yang sama."
"Tenang saja, Ayah." Senyum kejam muncul di wajah Jian Chen. "Dia tidak akan keluar hidup-hidup dari arena."
Di Puncak Teratai Salju, suasana Paviliun Es jauh lebih sunyi.
Mu Qingxue duduk di atas ranjang kristal sambil membaca sebuah laporan yang baru saja diberikan pelayannya.
Laporan itu mencatat keadaan lima belas anggota Penegak Hukum yang ditemukan di kaki Puncak Hantu Kesunyian.
Tangan Qingxue perlahan bergetar.
Lima belas orang.
Semuanya telah dilumpuhkan dalam satu malam.
Ingatan tentang kejadian malam sebelumnya kembali terlintas di benaknya.
Ia masih mengingat tatapan Shen Luo di tengah kegelapan.
Tatapan itu dingin dan penuh tekanan.
"Jika Jian Chen berani mengirim masalah ke gunungku, aku yang akan membunuhnya."
Dulu, Qingxue mengira Shen Luo hanya sedang menggertak.
Kini ia tahu bahwa pemuda itu serius.
Shen Luo benar-benar tidak takut pada Jian Chen. Bahkan faksi Ketua Sekte pun tidak membuatnya gentar.
Qingxue menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Untuk pertama kalinya, rasa takut yang nyata muncul di dalam hatinya.
Selama ini ia selalu menganggap Jian Chen sebagai seorang jenius yang tidak terkalahkan.
Namun sekarang, ia sadar bahwa Jian Chen telah memilih lawan yang salah.
"Kau sebenarnya menyembunyikan kultivasi mu, Shen Luo..."
Suaranya bergetar.
Tatapannya terhadap Shen Luo telah berubah sepenuhnya.
Rasa jijik yang dulu ia miliki kini bercampur dengan ketakutan yang sulit dijelaskan.
Tiga hari setelah badai berlalu, Puncak Hantu Kesunyian kembali tenang.
Kabut tipis menyelimuti gunung.
Shen Luo duduk di depan air terjun kering sambil membersihkan pedang kayunya dengan kain basah.
Tiba-tiba, seekor bangau kertas terbang menembus kabut.
Burung itu mendarat di pangkuannya dan memancarkan aura emas milik Dewan Tetua.
Shen Luo menyentuhnya.
Bangau kertas itu langsung terbuka dan berubah menjadi selembar surat.
Tulisan berwarna merah darah muncul di permukaannya.
Surat Pemanggilan Paksa.
Atas perintah Ketua Sekte, seluruh murid Pelataran Luar tanpa terkecuali wajib mengikuti Ujian Tahunan Sekte Luar bulan depan. Siapa pun yang menolak dianggap menentang perintah sekte dan akan dihukum mati.
Shen Luo membaca surat itu tanpa perubahan wajah.
Ia tidak marah. Tidak pula terkejut. Sebaliknya, ia tertawa pelan.
Surat itu kemudian diremas di tangannya. Qi Darah Iblis mengalir dari sela jarinya dan membakarnya hingga menjadi abu.
"Ujian Tahunan?"
Shen Luo mengangkat pandangan ke langit kelabu.
"Jian Chen dan Ketua Sekte, kau benar-benar memberiku kesempatan yang bagus."
Sudut bibirnya terangkat.
"Aku sedang memikirkan bagaimana cara menghadapi pion-pionmu tanpa harus menyembunyikan mayat mereka."
Tatapan Shen Luo berubah dingin.
"Dan sekarang kau sendiri yang menyediakan arena untukku."
Senyumnya semakin lebar.
"Kalau begitu, datanglah."
Kabut di sekelilingnya bergetar samar.
"Bulan depan, biarkan seluruh Sekte Bintang Jatuh melihat sendiri siapa yang mereka sebut sampah."
Di atas Puncak Hantu Kesunyian, tawa dingin Shen Luo perlahan bergema.
Dukung cerita ini dengan cara Like, Rating, Vote, dan gift ya. Semakin banyak dukungan, semakin banyak updatenya.
Terimakasih👍
Moga2 MC nya ga kegatelan ma cewek2, dan ga punya banyak bini /Facepalm//Facepalm/