Bagi Roselia, musuh dia hanya satu: Gabriel, putra Adipati saingan keluarganya.
Dua keluarga Adipati itu sudah bermusuhan turun-temurun, jadi tontonan seluruh istana.
Sampai sebuah fitnah keji dari Pangeran Ke-4 menjatuhkan keluarga Roselia. Ia dibuang ke perkebunan terpencil yang kumuh.
Roselia pikir hidupnya sudah berakhir.
Sampai takdir mempertemukan mereka lagi.
Ia menemukan Gabriel — sang musuh bebuyutan yang sombong itu — hanyut pingsan di sungai dekat perkebunannya.
Saat terbangun, Gabriel menatapnya kosong.
"Siapa... aku?"
Dia hilang ingatan!
Dendam Roselia membara. Inilah kesempatannya!
Ia menjadikan pewaris Duke yang angkuh itu sebagai pesuruh kebunnya. Disuruh mencuci, memanen, tidur di gudang!
Balas dendam kecilnya terasa manis... sampai Roselia sadar, Pangeran Ke-4 yang menghancurkan keluarganya, ternyata juga dalang di balik kecelakaan Gabriel.
Mereka dijebak. Diadu domba sejak awal.
Kini, saat ingatan Gabriel perlahan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Peri Bumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Warta Emas
Kepakan sayap merpati hitam itu memecah keheningan perpustakaan. Udara dingin pegunungan menerobos masuk melalui celah jendela yang dibuka Roselie, membawa aroma embun dan bau lilin penyegel yang khas.
Roselie mengambil surat kecil yang terikat di kaki burung tersebut. Saat jemari lentiknya menyentuh stempel lilin berbentuk Mahkota Berduri—lambang rahasia faksi independen Dewan Kerajaan—alis tipisnya bertaut tajam.
"Ini bukan surat dari Ayah..." bisik Roselie pelan, matanya beralih menatap Gabriel yang berdiri tenang dua langkah di sampingnya.
"Buka saja, Nona," usul Gabriel serak, matanya menyipit mengamati stempel emas tersebut. Pria itu kenal betul lambang itu; faksi pengawas independen Istana yang dulu sering bekerja sama dengan aliansi keluarga Valerius dan Hazel.
*Srett...*
Roselie mematahkan segel lilin emas itu, lalu membentangkan gulungan pualam tipis di dalamnya. Tulisan tangan di dalamnya ditulis menggunakan kode sandi bangsawan tinggi yang hanya dipahami oleh para lulusan terbaik Akademi.
Untuk Lady Roselie von Hazel,
Pangeran Cedric telah menyadari hilangnya Kapten Vane beserta dokumen transaksi perak. Kekacauan pecah di Istana Bawah. Cedric telah mendesak Dewan Kerajaan untuk mengeluarkan Dekrit Darurat Militer: seluruh wilayah perkebunan Hazel di selatan resmi dinyatakan dalam status isolasi total.
Pasukan tambahan Serigala Hitam dari Garnisun Utama sedang bergerak menuju perkebunanmu. Tujuan mereka bukan lagi penggeledahan formal, melainkan pembersihan paksa atas tuduhan menyembunyikan sisa-sisa pemberontak Valerius.
Namun, informasi dari muara barat telah tiba. Salinan dokumen pemalsuan stempel Pangeran Cedric telah berhasil kami terima. Bukti itu cukup untuk menjatuhkan Cedric dalam Sidang Agung Dewan Kerajaan tiga hari lagi, tetapi Adipati Edward membutuhkan kehadiranmu dan dokumen aslinya di Ibukota sebagai saksi utama untuk mematahkan dekrit Cedric.
Bawa Gabriel von Valerius—hidup atau mati—jika dia benar-benar ada bersamamu. Dialah satu-satunya Ksatria yang memiliki wewenang hukum untuk menuntut pembantaian keluarganya di hadapan Dewan.
Waktu kalian tidak banyak. Jalur darat utama sudah diblokir sepenuhnya.
V.
Roselie meremas kertas pualam itu hingga agak remuk. Napasnya memburu pelan. Situasi yang mereka hadapi tidak lagi sekadar bertahan di perkebunan, melainkan perlombaan menembus garis barikade menuju ibukota dalam waktu kurang dari tujuh puluh dua jam!
"Ada apa, Nona?" tanya Gabriel, melangkah satu tindak mendekat.
Roselie mendongak, menatap iris mata biru jernih milik Gabriel. Ada gejolak rumit di dadanya. Surat itu mengonfirmasi bahwa dokumen yang diluncurkan Gabriel semalam berhasil mencapai tujuan, namun sekarang taruhannya melipat ganda.
"Cedric sudah gila," ujar Roselie dingin, membuang remasan kertas ke dalam perapian yang menyala. "Dia mengirim seluruh Pasukan Garnisun untuk membumihanguskan perkebunan ini sebelum Sidang Agung digelar tiga hari lagi."
"Dan dokumen itu... sudah sampai di tangan jaringan Tuan Adipati?" desak Gabriel, memastikan detail strategisnya.
"Ya. Tapi Ayah butuh kita di Ibukota," Roselie menatap Gabriel lekat-lekat, menyilangkan tangan di dada. "Atau lebih tepatnya... Ayah butuh kau di Ibukota. Hanya saksi hidup dari Komandan Valerius yang bisa secara sah memicu Hukum Duel dan Penuntutan Makar terhadap Pangeran Cedric di hadapan Dewan Kerajaan."
Gabriel membeku sejenak. Kata 'Hukum Duel dan Penuntutan Makar' menyentak ingatan militernya. Sebuah kepuasan dingin meletup di dalam dadanya. Pintu menuju pembalasan dendam atas eksekusi ayahnya kini resmi terbuka di panggung tertinggi Istana.
Namun, alih-alih menunjukkan ekspresi ksatria yang haus darah, Gabriel cepat-cepat memasang kembali raut wajah polos dan penurutnya di hadapan Roselie.
"Ibukota...?" Gabriel memegangi keningnya, meringis pelan seolah ingatan tentang ibukota membuatnya kesakitan. "Tapi Nona... Ibukota adalah tempat di mana keluarga saya ditangkap, kan? Saya... saya takut tidak bisa melindungi Nona jika kita pergi ke tempat penuh monster seperti itu."
Roselie mendengkus pelan, melangkah mendekati Gabriel dan memegang kedua lengan tegap pria itu dengan tatapan penuh kepalsuan manis.
"Jangan takut, Gabriel sayang," bisik Roselie merdu, menatap mata pria itu dengan binar yang dibuat-buat. "Kau tidak akan sendirian. Aku yang akan memandumu. Bukankah dulu kau bilang kau akan pergi ke ujung dunia sekalipun asal bersamaku?"
Gabriel menatap wajah cantik Roselie yang begitu lihai bersilat kata. Di balik dadanya yang tegap, Sang Komandan Valerius membatin dengan kekehan dingin: 'Kau benar-benar tidak pernah kehabisan akal untuk memanfaatkanku, Putri Hazel.'
"Jika Nona meminta saya ke ujung dunia... saya akan mengikutimu, Roselie," jawab Gabriel dengan suara rendah yang terdengar teramat tulus, mengusap jemari Roselie yang berada di jalur mantelnya.
Deg!
Roselie menarik napas halus, menahan getaran aneh di dadanya akibat tatapan mata Gabriel yang mendadak begitu intens. Dia buru-buru mengalihkan pembicaraan.
"Kita harus menyiapkan rencana pelarian malam ini," kata Roselie tegas seraya berbalik menuju meja kerja. "Pasukan Garnisun Cedric akan tiba esok pagi. Kita tidak bisa menggunakan jalur darat atau kereta kuda biasa. Kita harus menembus jalur sungai menggunakan kapal dagang keluarga Hazel yang menyamar di muara selatan."
"Bagaimana dengan Lily?" tanya Gabriel cepat, raut wajahnya berubah serius tanpa akting. Keselamatan adiknya adalah batas suci yang tak boleh dilanggar.
"Lily dan para pelayan setia akan dievakuasi Paman Bret melalui jalur gua bawah tanah perkebunan menuju markas rahasia armada laut Hazel di pesisir," jawab Roselie pasti. "Dia akan aman di sana sampai situasi ibukota terkendali."
Gabriel menghembuskan napas lega. "Terima kasih, Lady Roselie."
"Sekarang," Roselie mengetuk jari di atas meja mahoni, matanya berkilat tajam memancarkan aura seorang penguasa strategi. "Pergilah siapkan kudamu dan bawa senjatamu yang paling efektif. Malam ini, kita akan membakar jembatan perbatasan dan menerobos blokade Serigala Hitam menuju pelabuhan selatan!"
Gabriel membungkuk hormat dengan tatapan mata biru yang membara.
"Perintah diterima, My Lady."
Saat Gabriel keluar dari ruang perpustakaan, angin malam mulai bertiup kencang memukul jendela kaca. Dua musuh bebuyutan dari Akademi Kerajaan itu kini resmi melangkah bersama menuju pusat badai—siap meruntuhkan takhta Pangeran Cedric dengan darah dan intrik politik terlarang.
panik Khan Rosalie..
kebayang malunya gimana 🥲. Rosalie udh donk jangan sandiwara trus. Gabriel udh inget itu 😭😭😭
eeehhhh🤭🤭🤭
trus gimana donk.. satu2nya jalan keluar Gabriel terjun ke sungai.. tapi..... 😮💨😮💨
. Gabriel udh inget lagi...🤭🤭🤭 gmNa nasib Rosalie yang mentah2 membohongi Gabriel..🤣🤣🤣 aduuhh pasti abis ini Gabriel pura2 deh sama Rosalie.. mau ngapain coba dia🤣, nggak mungkin kalo nggak balas dendam