Rasa yang tidak seharusnya ada itu kian tumbuh pada Carol, dari sebuah kekaguman berubah menjadi cinta. Carol mengubur semua itu dalam-dalam karena cinta itu tidak akan pernah bisa dia gapai. Sampai suatu hari dimana ternyata semesta seperti memberinya sebuah kesempatan. Dan Carol tidak mau menyia-nyiakannya, dia berjuang mendapatkan sesuatu yang sebelumnya terasa sangat mustahil itu. Dia mengambilnya meski harus menghadapi banyaknya sudut pandang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MeNickname, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Sesampainya mereka di kota tujuan, Carol nampak marah. Dia berjalan lebih dulu dari Andrew.
"Carl, tunggu dulu."
"Aku capek."
"Carl, sudah kubilang aku memang mengajaknya naik karena kan dia sekertarisku sebelum kamu. Tapi kami tidak duduk bersampingan seperti kita tadi."
"Ya, ya."
"Carl, plis jangan seperti ini. Bukannya kita datang kesini untuk bekerja sekalian liburan? Masa kita mau seperti ini."
Andrew berbicara sambil menyeimbangi langkah Carol yang tiba-tiba melebar itu, dia sudah seperti anak kecil.
Namun tiba-tiba langkah Carol berhenti, dia menatap Andrew dengan penuh rencana.
"Baiklah, aku tidak marah. Asalkan kita menginap di satu kamar saja. Aku gak mau pisah kamar."
Andrew terdiam, dia menelan ludah. Bagaimana mungkin dia akan berada di dalam kamar yang sama dengan gadis yang selalu menggodanya ini.
Merasa Andrew akan menolak keinginannya Carol langsung mengeluarkan jurus lain, "Baiklah kalau tidak mau, terserah!"
"Tu-tunggu dulu, baiklah kita satu kamar. Tapi.."
"Yes!" Carol berteriak senang.
"Kalau begitu ayo cepat, aku ngantuk pengen tidur." Carol menarik tangan Andrew tanpa sempat memberi pria itu waktu untuk melanjutkan ucapannya.
...----------------...
Malam itu, Andrew lewati dengan harap-harap cemas. Saat memasuki kamar Carol memang tidak menunjukan sesuatu yang aneh. Dia langsung membersihkan badan kemudian mengganti pakaian dengan piyama yang normal-normal saja.
Gadis itu pun naik ke ranjang dan tertidur. Sementara Andrew tidur sebelahnya dengan ragu takut tiba-tiba Carol menggerayanginya.
Sebenarnya dia berniat untuk tidur di sofa namun sebelum tidur Carol malah mengancam.
"Awas saja kalau sampai aku bangun dan lihat kamu tidur di sofa, jangan salahin aku kalau tengah malam aku menghilang dari sini."
Berakhirlah Andrew disini. Jika biasanya wanita yang akan takut tidur dengan seseorang yang bukan suaminya kali ini justru kebalikannya, sang pria lah yang takut tidur dengan seseorang yang bukan istrinya.
...----------------...
Menjelang pagi, barulah tidur Andrew terlihat pulas. Berbeda dengan Carol yang malah sudah bangun dan terlihat sangat bersemangat untuk hari ini.
Sebelum turun, dia duduk cukup lama di atas ranjang sambil memperhatikan wajah tampan dan damai Andrew yang sedang tertidur itu.
"Aku harus melihat pemandangan seperti ini setiap hari." gumamnya.
Gadis itu turun dari ranjang dengan hati-hati, dia tidak mau mengganggu tidur Andrew.
Dia kemudian masuk ke kamar mandi untuk mandi. Tidak lama, hanya butuh waktu sekitar lima belas menit saja Carol sudah keluar menggunakan handuk kimononya.
Tidak langsung berpakaian, dia malah mengotak-ngatik ponsel beberapa saat barulah dia membongkar koper dimana beberapa pasang pakaian sudah dia siapkan disana.
Dia memilih sebuah setelan kemeja kerja berwarna merah maroon yang terlihat simple namun tetap modis, dan tentunya sangat sopan tidak seperti j4lang kantor itu.
Lagi-lagi dia hanya memoles make up tipis di wajahnya yang sudah cantik natural ini. Saat pouch make up dia tutup, tiba-tiba bel berbunyi. Gadis itu berjalan menuju pintu dengan hati yang gembira.
Ternyata yang datang adalah pengantar makanan. Berhubung mereka tidak akan sempat bergabung di area sarapan yang disediakan pihak hotel, jadi Carol meminta untuk diantar ke kamar saja.
Carol mendorong troley makanan itu ke dalam dan kemudian mendekati Andrew yang masih tertidur pulas.
"Sayang, hei. Bangun!" panggilnya pelan.
Andrew mulai terganggu, dia bergumam sebelum akhirnya membuka mata dan hal pertama yang dia lihat adalah Carol yang sudah rapi dan cantik.
"Astaga!" Andrew terlihat kaget bahkan dia langsung terduduk.
"Kenapa sih? Aku cuma bangunin kok."
Andrew mencoba mengingat dan akhirnya dia ingat jika saat ini mereka memang sedang sekamar.
"Ya ampun, aku lupa. Aku pikir tadi mimpi."
"Ada-ada saja, udah ayo bangun dan mandi. Aku akan menyiapkan sarapannya."
"Sarapan?"
"Ya, sarapannya sudah datang aku yang meminta untuk diantar kesini."
"Kenapa gak bangunin aku dari tadi?"
"Ya gak apa-apa biar kamu puas aja tidurnya. Udah ah sana, cepet mandi. Jam sembilan kita udah harus sampe di tempat klien kan."
"Ya udah, tunggu sebentar ya."
"Oke."
Carol senyum-senyum sendiri saat Andrew mulai masuk ke kamar mandi. Rasanya mereka ini sudah seperti pasangan suami istri baru.
Gadis itu mulai menyiapkan sarapannya, tak lupa tadi dia juga meminta kopi panas untuk Andrew. Pria tampan itu memang sangat menyukai kopi di pagi hari.