Luna meninggal tepat di usianya yang masih tergolong muda, percintaan juga kehidupan yang tak pernah memihaknya membuatnya jatuh terperangkap semakin dalam pada dusta.
Tidak ada yang berjalan baik dalam kehidupannya, namun sebuah keajaiban membuatnya memiliki satu kesempatan untuk mengulang segala hal dan merubahnya menjadi lebih baik.
"Aku.... aku masih hidup?" ucap Luna dengan raut wajah yang tak percaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon senja liana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Unit Apartment milik Arkan
Sore itu Arkan dan juga Rachel terlihat tengah sedang melakukan olahraga sore khas para pengantin. Keduanya nampak bergulat di atas kasur dengan keahlian masing-masing. Keringat yang mengucur deras walau keduanya berada di ruangan ber ace, menunjukkan bagaimana kehebatan skill mereka dalam urusan ranjang.
Rachel bangkit dari posisinya dan mengambil posisi menunduk m3nj1lati area dada bidang milik Arkan kala itu dengan gerakan sensual. Entah sudah ronde keberapa yang keduanya lakukan sore itu, namun yang jelas keduanya tidak berharap untuk berakhir sebelum salah satu di antara keduanya tumbang karena kelelahan.
"Bagaimana servis ku kali ini sayang?" bisik Rachel dengan nada yang begitu lirih tepat di telinga kanan Arkan kala itu.
"Akhhh benar-benar luar biasa sayanggggg, lanjutkan akhhhh... Aku benar-benar merasa seperti melayang akhhhh..." ucap Arkan sambil beberapa kali terdengar m3nd3sah karena sentuhan Rachel saat itu.
Disaat keduanya benar-benar hendak mencapai klimaks, suara bel yang terdengar begitu keras beberapa kali lantas langsung menghentikan aktifitas keduanya.
Ting tong.... Ting tong.... Ting tong......
"Sialan! Siapa sih ganggu aja!" pekik Arkan dengan raut wajah yang kesal.
"Apa kita perlu membukakan pintu untuknya atau melanjutkan kegiatan kita?" ucap Rachel dengan nada yang menggoda.
"Tentu saja...." ucap Arkan hendak memberi jawaban namun suara bel tersebut kembali terdengar.
Ting tong .... Ting tong ..... Ting tong.....
"Arghhhhhh dasar sialan!" teriak Arkan karena pada akhirnya mau tidak mau ia tetap harus membukakan pintu karena suara bel yang terus ditekan berulang benar-benar mengganggu.
.
.
.
Kriettt
Suara pintu yang terbuka dengan perlahan, menampilkan raut wajah kesal yang di tunjukkan oleh Arkan saat itu.
"Ada apa sih? Mengapa kalian ribut sekali!" ucap Arkan begitu pintu ia buka.
Sedangkan Radit selaku bagian koordinasi setiap unit Apartment di gedung tersebut, lantas terlihat menelan salivanya dengan kasar sambil sedikit tertawa kecil. Bukan karena takut akan amarah Arkan saat ini, namun penampilan Arkan yang acak-acakan dengan jubah mandi melekat di tubuhnya, menandakan jika Arkan tengah menikmati kesenangan dunia, apalagi tanda merah di setiap area tengkuk leher dan dada bidang milik Arkan yang sedikit terbuka, lantas memperkuat dugaan Radit barusan.
"Maaf mengganggu aktifitas berat anda Pak, kedatangan kami di sini untuk melakukan survey meninjau setiap sudut unit Apartment ini." jawab Radit kemudian yang lantas mendapat tatapan kesal dari wajah Arkan yang langsung membenarkan jubah mandinya begitu mendengar perkataan Radit barusan.
"Meninjau setiap sudut? Apa maksud perkataanmu barusan?" ucap Arkan yang tak mengerti menatap ke arah Radit dengan tatapan yang penuh tanda tanya.
"Ah maaf sebelumnya karena tidak memberitahukan kepada anda, berhubung unit Apartment ini disewa setiap bulannya dan tidak ada itikad untuk melanjutkan prosesnya, maka kami akan mulai membukanya untuk penyewa yang baru. Lagipula si penyewa sudah menunggak pembayaran selama 3 bulan yang dalam kesepakatan jika unit Apartment tidak di perpanjang hingga waktu 3 bulan, maka pemilik berhak menawarkannya kepada pembeli atau penyewa yang lain. Jadi hari ini akan ada pembeli yang melihat-lihat setiap unit Apartment ini, jika mereka cocok mereka akan langsung membelinya." ucap Radit dengan full senyum, namun berbanding terbalik dengan Arkan.
"Apa katamu barusan? Gak bisa gitu dong, enak aja! Mau tinggal dimana aku jika Apartment ini di beli? Ngaco kamu itu..." ucap Arkan dengan nada yang kesal.
"Sekali lagi saya mohon maaf ya Pak, ini sudah sesuai dengan aturan yang sudah disepakati pada setiap seseorang yang menyewa di Apartment ini. Jika Bapak keberatan sebaiknya Bapak menghubungi si penyewa dan bertanya bagaimana kelanjutannya." ucap Radit dengan ramah.
"Kalian tunggu di sini aku akan menghubungi seseorang terlebih dahulu." ucap Arkan kemudian yang lantas dibalas anggukan kepala oleh Radit.
"Dengan senang hati, silahkan...." ucap Radit masih dengan senyuman di wajahnya.
.
.
.
Arkan yang tak tahu menahu dengan apa yang terjadi saat ini, lantas langsung mengambil ponselnya dengan kesal dan menghubungi Luna.
"Halo...." ucap suara diseberang sana begitu panggilan Arkan terhubung.
"Lun aku tahu ini pertanyaan yang aneh, tapi apakah benar kamu sudah menunggak sewa selama 3 bulan?" ucap Arkan kemudian yang langsung membuat Rachel mengernyit begitu mendengar pertanyaan Arkan kepada Luna barusan.
"Emmmm bagaimana aku menjelaskannya, sebelumnya aku minta maaf Ar... Aku memang tidak membayar sewa selama 3 bulan, kartu kredit pemberian Papa dibekukan karena ia tahu aku dekat dengan mu dan sedang merencanakan pernikahan. Aku kekurangan uang selama ini jadi tidak bisa membayar unit Apartment mu tepat waktu." ucap Luna sambil memasang nada yang sedih, berharap Arkan akan percaya kepadanya.
"Mengapa kamu tidak bilang Lun... kamu tahu? Hari ini pihak koordinasi unit Apartment datang dan mengatakan jika unit Apartment ini akan ada pembeli, lalu aku harus gimana ha?" ucap Arkan dengan nada yang terdengar kesal.
"Ya bayarlah goblok, ngapain lu malah nelpon gue." ucap Luna bergumam.
"Apa Lun?" ucap Arkan yang tak begitu mendengar gumaman Luna barusan.
"Bukan, maksud ku...aku harus gimana? Aku sama sekali tidak ada uang, bagaimana kalau kamu bayar dulu....nanti jika Papa sudah membuka kartu kredit ku aku akan langsung mentransfer kamu." ucap Luna kemudian.
"Kamu itu gimana sih, emangnya berapa biaya sewanya?" ucap Arkan pada akhirnya sambil memijit pelipisnya pelan.
"Tidak banyak, karena unit yang kamu tinggali termasuk VVIP dan berada di lantai 2, biaya sewa perbulannya hanya berkisar 246 juta rupiah. Jika dikali 3 bulan jadi 738 juta ditambah denda keterlambatan dimana setiap bulannya senilai 50 juta, jadi total keseluruhannya hanya 888 juta rupiah saja." ucap Luna dengan nada yang santai namun berhasil membuat manik mata Arkan langsung melotot dengan seketika.
"Apa? Gila kamu ya.... Mobil yang ku kendarai saja hanya berkisar 500 juta, sedangkan kamu bilang biaya sewa per 3 bulan hanya sekitar 888 juta? Gaji perbulan ku saja gak sampai 100 juta Lunnnnaaaa, apa kamu sudah kehilangan akal?" ucap Arkan yang tak percaya akan biaya sewa fantastis itu.
"Mengapa kamu malah menyalahkan ku? Kan kamu sendiri yang meminta dicarikan unit Apartment mewah dengan fasilitas yang lengkap. Mengapa sekarang jadi salah aku.... Aku sebel sama kamu! Terserah deh, mau kamu bayar atau enggak itu sewa... Terserah!" ucap Luna sebelum menutup panggilan telponnya begitu saja tanpa menunggu jawaban dari Arkan sama sekali.
"Halo Lun.... Luna.... Halo..." pekik Arkan berulang kali yang lantas membuat Rachel yang sembunyi di balik selimut sedari tadi bangkit dari atas kasur.
"Ada apa sih? Mengapa teriak-teriak begitu?" ucap Rachel dengan raut wajah yang bingung.
"Kita harus bayar sewa unit Apartment sekarang atau keluar dari sini." ucap Arkan dengan frustasi.
"Memangnya berapa sih? Mengapa kamu heboh sekali?" tanya Rachel.
"888 juta...." ucap Arkan dengan penuh penekanan.
"Apa..."
Bersambung