NovelToon NovelToon
Aku Perna Hidup Dari Cintamu

Aku Perna Hidup Dari Cintamu

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:218
Nilai: 5
Nama Author: My Chubby

Keira Maharani kehilangan rumah setelah konflik besar membuat keluarganya mengusirnya. Di tengah hidup yang serba terbatas, hanya Davin Pratama yang tetap berada di sisinya. Davin memberinya tempat tinggal, makanan, dan rasa aman yang membuat Keira percaya bahwa cintanya adalah satu-satunya hal yang masih ia miliki. Namun perlahan, perhatian Davin berubah menjadi batasan. Keira mulai kehilangan kebebasan, kesempatan bekerja, bahkan keberanian untuk menyuarakan perasaannya. Saat hubungan mereka semakin dipenuhi rahasia dan luka, Keira mulai bertanya: apakah ia masih bertahan karena cinta, atau karena takut hidup sendirian? Sebab ketika cinta yang selama ini ia perjuangkan mulai menghancurkan dirinya, Keira harus memilih—tetap bertahan, atau akhirnya menyelamatkan dirinya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon My Chubby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 17

Beberapa minggu setelah unggahan pertamanya, ritme hidup di kamar kos berukuran tiga kali tiga meter itu membawa ketenangan yang kian terasa bagi Keira.

Buku sketsa bersampul hitam tebal kini bukan lagi sekadar pelarian semata, melainkan sebuah kawan setia yang merekam denyut hidupnya yang mulai pulih.

Di balik layar ponsel retaknya, akun seni anonim miliknya terus bernyawa secara perlahan. Interaksi dengan akun @art_enam berlanjut menjadi obrolan-obrolan singkat seputar teknik menggambar, arsiran pensil, dan pemilihan objek sketsa harian.

Tidak ada janji besar. Tidak ada mimpi muluk tentang pameran megah. Bagi Keira, mengetahui ada orang lain di luar sana yang memandang goresan tangannya dengan tulus sudah menjadi bentuk kebebasan yang teramat manis.

Pagi itu, hari Rabu, matahari menyembulkan sinarnya menembus tirai jendela kos yang tipis. Davin sudah berangkat kerja sejak pukul delapan setelah mengecup kening Keira dan meninggalkan amplop kecil uang belanja di atas meja plastik.

Keira duduk bersila di atas karpet tipis, membuka buku sketsanya pada halaman baru. Kali ini, ia mencoba menggambar sudut kamar kosnya sendiri pemandangan yang setiap hari ia lihat, mulai dari tumpukan diktat kuliah, gelas kosong di atas meja, hingga pantulan cahaya pagi di kaca jendela. Tangannya menari lincah, menyapukan arsiran tipis dengan penuh penghayatan.

Di tengah kesibukan kecil itu, ponselnya bergetar di atas meja. Sebuah pesan singkat masuk dari aplikasi perpesanan lamanya bukan dari Davin, dan bukan pula dari akun seni digitalnya.

Pesan itu datang dari Amara.

“Kei, sibuk nggak? Kalau weekend ini luang, ketemuan yuk di kafe dekat stasiun kemarin. Gua pengen ngobrol, ada hal seru yang mau gua ceritain.”

Keira menatap layar ponselnya cukup lama. Tawaran itu datang secara tiba-tiba, memunculkan memori tentang pertemuan mereka beberapa waktu lalu saat Amara sempat menegurnya habis-habisan karena merasa Keira mulai kehilangan jati dirinya. Ada rasa ragu yang melintas di dada Keira rasa takut kalau-kalau pertemuan itu kembali menyeretnya pada perdebatan lama atau membuat Davin curiga jika sampai mengetahuinya.

Namun, di sisi lain, ada keinginan kuat di dalam hatinya untuk keluar sejenak dari dinding-dinding kos ini, menemui sahabat lamanya sebagai perempuan yang kini sudah mulai menemukan kembali sebagian dari dirinya.

Setelah menimbang-nimbang beberapa saat, ibu jari Keira akhirnya mengetik balasan: “Bisa, Mar. Hari Sabtu jam dua siang ya di tempat biasa.”

Hari Sabtu siang datang dengan cuaca yang cukup bersahabat. Keira meminta izin kepada Davin sehari sebelumnya dengan alasan sederhana: ingin jalan-jalan sebentar ke minimarket dan mampir membeli perlengkapan tulis. Davin, seperti biasa, memberikan izin dengan nada santai tanpa curiga sedikit pun.

Di kafe dekat stasiun, Amara sudah lebih dulu duduk di sudut ruangan sambil memesan segelas es kopi susu.

Begitu melihat Keira melangkah masuk dengan kerudung abu-abu sederhana dan tas selempang kecilnya, Amara langsung melambaikan tangan dengan penuh semangat.

"Kei! Sini!" sapa Amara riang.

Keira tersenyum, lalu menghampiri meja tersebut dan duduk di kursi plastik yang berhadapan langsung dengan sahabatnya.

"Udah lama nunggu, Mar?" tanya Keira sambil merapikan duduknya.

"Enggak kok, baru sepuluh menit," jawab Amara antusias, langsung menyodorkan buku menu.

"Pesan minum dulu, nih. Gua traktir sebagai perayaan karena lu akhirnya mau diajak ketemuan lagi."

Mereka memesan minuman ringan, lalu obrolan mengalir dengan cair. Berbeda dengan pertemuan sebelumnya yang diwarnai teguran keras dan air mata, suasana hari ini jauh lebih ringan. Amara bercerita banyak tentang pekerjaannya di agensi kreatif, dinamika rekan sekantor yang menyebalkan, hingga rencana liburan kecil yang ingin ia ambil akhir tahun nanti.

Di tengah obrolan itu, Amara menatap Keira lekat-lekat dengan mata menyipit penuh selidik.

"Lu kelihatan beda, Kei," kata Amara tiba-tiba, membuat Keira mengangkat alisnya kaget.

"Beda gimana maksudnya?" tanya Keira pelan.

"Yah... kayaknya aura muka lu lebih tenang sekarang. Enggak kayak pas terakhir kita ketemu, yang kelihatan kayak orang tertekan dan bingung mau ngapa-ngapain," jelas Amara sambil menyeruput minumannya.

"Lu lagi ada kesibukan rahasia ya? Atau Davin lagi baik banget belakangan ini?"

Keira tersenyum kecil, merasakan debar hangat di dadanya. Ia tahu persis apa yang membuat dirinya merasa lebih tenang, dan itu sama sekali bukan karena Davin bersikap manis, melainkan karena buku sketsa dan dunia kecil yang ia bangun sendiri secara sembunyi-sembunyi.

Namun, Keira belum siap menceritakan semuanya secara terbuka terutama soal akun anonim dan rasa percayanya yang mulai tumbuh di atas kertas. Ia memilih menjawab dengan senyuman misterius.

"Cuma lagi nyoba meluangkan waktu buat hobi lama aja, Mar," jawab Keira setengah jujur.

"Gambar-gambar lagi buat ngilangin penat di kos."

Mendengar itu, mata Amara langsung berbinar lebar.

"Nah! Gitu dong! Jangan biarkan bakat menggambar lu berkarat di kamar sempit itu, Kei. Lu tuh punya potensi dari dulu, sayang banget kalau cuma dibuang percuma."

Pertemuan sore itu berlangsung selama hampir dua jam penuh gelak tawa dan obrolan hangat. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Keira bisa tertawa lepas di depan Amara tanpa terus memikirkan apa yang akan dikatakan Davin.

Pukul empat sore, Keira tiba kembali di kos Jalan Melati. Langkah kakinya terasa jauh lebih ringan dari biasanya. Ia membuka pintu kayu, menguncinya rapat-rapat dari dalam, lalu meletakkan tas selempangnya di atas meja.

Saat ia hendak merapikan buku sketsanya, matanya tanpa sengaja menangkap secarik kertas kecil yang terselip di antara tumpukan diktat kartu nama Galeri Senja Bimantara yang beberapa waktu lalu ia simpan di sana.

Keira mengambil kartu tersebut. Jemarinya mengusap permukaan kertas yang halus. Jika beberapa minggu lalu kartu itu terasa seperti sebuah angan-angan yang mustahil digapai, kini, setelah ia berhasil mengunggah sketsa pertamanya, mendapat komentar dari @art_enam, dan mengobrol lepas dengan Amara, rasa gentar di dadanya sedikit menyusut.

Ia belum berniat melamar pekerjaan hari ini. Ia juga belum berani melangkah keluar secara terang-terangan meninggalkan bayang-bayang Davin. Namun, memegang kartu nama itu di tengah ketenangan batin yang baru saja ia rasakan membuat Keira menyadari satu hal penting: dunia di luar sana tidak lagi semenakutkan itu.

Ketika suara deru motor matic Davin terdengar memasuki halaman kos menjelang petang, Keira dengan tenang memasukkan kembali kartu nama tersebut ke tempat amannya, lalu bersiap menyambut kedatangan kekasihnya dengan senyuman hangat yang tidak lagi menyembunyikan kehampaan di dalam dadanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!