Di tengah kemegahan Kekaisaran Langit Permata, di mana kekuasaan berpadu dengan tradisi kuno dan setiap langkah selalu diawasi, lahirlah kisah cinta yang tumbuh perlahan, lembut namun kokoh seperti akar pohon tua yang menjalar dalam tanah.
Liān Huā, putri cerdas dan berjiwa bebas dari keluarga pejabat terpercaya, dipindahkan ke ibu kota bersama keluarganya. Berbeda dari wanita-wanita istana yang berusaha tampil sempurna dan menuruti segala aturan, dia tetap menjaga ketulusan hati dan keberaniannya — sifat yang justru membuatnya menarik perhatian Kaisar Yuán Zhēn, penguasa yang dikenal dingin, tegas, dan tak tergoyahkan oleh siapa pun.
Di mata rakyat dan pejabat, Yuán Zhēn adalah kaisar yang hebat dan jauh. Namun di balik wajah berwibawa itu, tersembunyi hati yang kesepian dan rindu pada kehangatan sejati. Pertemuan pertamanya dengan Liān Huā mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AZKA DINARA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jejak yang Tertinggal di Dalam Kegelapan
Malam belum benar-benar berakhir ketika Yuán Zhēn meninggalkan kediaman Liān Huā.
Langkahnya terdengar berat namun tetap teratur di sepanjang koridor istana. Beberapa pengawal berjalan di belakangnya dengan wajah tegang. Tidak seorang pun berani berbicara sebelum sang kaisar memberikan perintah.
Di dalam pikirannya, kejadian malam itu terus berputar.
Anak panah.
Surat.
Penyusupan.
Semuanya terlalu teratur untuk disebut kebetulan.
Yuán Zhēn berhenti di tengah koridor.
“Panggil Kepala Pengawal Istana.”
“Baik, Yang Mulia.”
Tidak lama kemudian, seorang pria berusia sekitar lima puluh tahun datang dan langsung berlutut.
“Yang Mulia.”
“Berapa banyak penjaga yang ditempatkan di sekitar kediaman Liān Huā?”
“Dua belas orang pada siang hari dan dua puluh orang pada malam hari.”
“Apakah ada yang meninggalkan pos?”
Kepala Pengawal terdiam sesaat.
“Belum kami ketahui, Yang Mulia. Kami sedang memeriksa seluruh catatan penjagaan.”
“Periksa lagi.”
Suara Yuán Zhēn tenang, tetapi tekanannya membuat pria itu menundukkan kepala lebih dalam.
“Aku ingin mengetahui siapa yang bertugas di setiap pintu, siapa yang menggantikan mereka, dan siapa yang keluar masuk wilayah kediaman itu sejak sore.”
“Baik.”
“Dan jangan sebarkan berita ini.”
Kepala Pengawal mengangkat wajah.
“Yang Mulia?”
“Jika pelakunya memang berasal dari dalam istana, aku tidak ingin dia tahu bahwa kita sedang mencarinya.”
“Dimengerti.”
Setelah Kepala Pengawal pergi, Yuán Zhēn kembali berjalan.
Namun kali ini ia menuju ruang kerja pribadinya.
Begitu pintu ditutup, ia memberi isyarat kepada seorang pengawal kepercayaannya.
“Bawa anak panah itu kemari.”
“Yang Mulia, benda tersebut sedang diperiksa oleh tabib istana.”
“Bawa hasil pemeriksaannya juga.”
Tidak lama kemudian, sebuah kotak kayu kecil diletakkan di atas meja.
Yuán Zhēn membukanya.
Anak panah yang ditemukan di kediaman Liān Huā terbaring di dalamnya.
Seorang pejabat penyelidik berdiri di hadapan meja.
“Kami belum menemukan racun pada ujung anak panah, Yang Mulia.”
Yuán Zhēn mengangguk.
“Lalu?”
“Kayunya bukan berasal dari bengkel istana yang biasa digunakan pasukan kerajaan.”
“Dari mana?”
“Kami belum dapat memastikan.”
Yuán Zhēn mengangkat anak panah itu dan memperhatikannya dengan saksama.
“Lihat bagian bulunya.”
Pejabat itu mendekat.
“Ada sedikit noda.”
“Bukan darah.”
“Benar. Kami menduga itu tinta.”
Yuán Zhēn menyipitkan mata.
“Tinta?”
“Ya. Sangat tipis. Sepertinya anak panah itu pernah bersentuhan dengan sebuah dokumen.”
Kaisar terdiam.
Kemudian pandangannya jatuh pada surat yang dikirim bersama anak panah tersebut.
Ia mengambilnya.
Surat itu hanya berisi beberapa kalimat singkat yang memperingatkan Liān Huā agar tidak terlalu percaya kepada siapa pun di istana.
Tidak ada nama.
Tidak ada tanda tangan.
Namun justru karena itulah Yuán Zhēn semakin curiga.
“Surat ini tidak ditulis oleh pembunuh biasa.”
Pejabat itu menatapnya.
“Maksud Yang Mulia?”
“Orang yang ingin membunuh tidak perlu mengirim peringatan.”
Yuán Zhēn meletakkan surat itu.
“Orang yang mengirim ini ingin melihat reaksi Liān Huā.”
“Jadi... ini hanya pengalihan?”
“Bisa jadi.”
Ia menatap api lilin di atas meja.
“Atau mereka sedang menguji seberapa kuat penjagaan kita.”
Suasana menjadi sunyi.
Tiba-tiba Yuán Zhēn mengingat sesuatu.
“Panggil Xiǎo Yàn.”
Beberapa saat kemudian, Xiǎo Yàn datang dengan wajah cemas.
“Yang Mulia.”
“Aku ingin bertanya tentang sesuatu.”
“Silakan.”
“Apakah sebelum kejadian malam ini ada orang asing yang datang ke kediaman Liān Huā?”
Xiǎo Yàn berpikir sejenak.
“Tidak ada, Yang Mulia. Semua pelayan yang bertugas adalah orang-orang yang sudah lama bekerja di sana.”
“Apakah ada pelayan yang mengaku membawa teh malam ini?”
Wajah Xiǎo Yàn berubah.
“Ada.”
“Siapa?”
“Saya tidak tahu namanya. Dia mengatakan dirinya pelayan baru.”
Yuán Zhēn langsung menatapnya.
“Apakah kau pernah melihat wajahnya?”
“Tidak jelas. Dia berada di luar pintu.”
“Berarti dia tidak pernah masuk?”
“Tidak.”
Kaisar mengangguk.
“Baik. Kau sudah melakukan hal yang benar.”
Xiǎo Yàn membungkuk.
Namun sebelum ia pergi, Yuán Zhēn bertanya lagi.
“Xiǎo Yàn.”
“Ya, Yang Mulia?”
“Apakah Liān Huā mengatakan sesuatu yang aneh sebelum kejadian itu?”
Xiǎo Yàn terdiam.
Kemudian ia menjawab,
“Nona mengatakan sejak sore ia merasa seperti sedang diawasi.”
Yuán Zhēn tidak berkata apa-apa.
Setelah Xiǎo Yàn pergi, ia berdiri di dekat jendela.
Jika Liān Huā sudah merasa diawasi sejak sore, berarti seseorang mungkin telah mengamati kediamannya jauh sebelum malam.
Dan orang itu mungkin masih berada di dalam istana.
---
Keesokan paginya, istana tampak tenang seperti biasa.
Para pelayan berjalan membawa nampan sarapan. Para pejabat mulai berdatangan menuju ruang pertemuan. Suara lonceng pagi terdengar dari kejauhan.
Namun di balik ketenangan itu, penyelidikan Yuán Zhēn telah dimulai.
Tiga orang penjaga dipanggil secara diam-diam.
Mereka ditanyai satu per satu.
Penjaga pertama mengatakan tidak melihat sesuatu yang mencurigakan.
Penjaga kedua juga mengatakan hal yang sama.
Namun penjaga ketiga tampak gelisah.
Yuán Zhēn memperhatikannya.
“Katakan apa yang kau lihat.”
Penjaga itu menunduk.
“Yang Mulia... sekitar satu jam sebelum kejadian, saya melihat seseorang melewati koridor timur.”
“Siapa?”
“Saya tidak tahu.”
“Laki-laki atau perempuan?”
“Laki-laki.”
“Pakaiannya?”
“Jubah gelap.”
Yuán Zhēn diam.
“Apakah kau mengejarnya?”
“Tidak, Yang Mulia.”
“Mengapa?”
Penjaga itu menggigit bibir.
“Karena... saya mengira dia adalah orang dari kediaman Paman Agung Zhāng.”
Ruangan mendadak hening.
Yuán Zhēn menatapnya tajam.
“Mengapa kau berpikir begitu?”
“Karena lambang kecil di pinggangnya.”
“Lambang apa?”
“Lambang keluarga Zhāng.”
Kaisar berdiri.
“Apakah kau yakin?”
“Saya yakin, Yang Mulia.”
Yuán Zhēn tidak langsung memberikan perintah.
Ia justru tersenyum tipis.
Akhirnya, sebuah jejak muncul.
Namun jejak itu terlalu jelas.
Dan justru karena terlalu jelas, Yuán Zhēn merasa ada sesuatu yang salah.
“Jangan tangkap siapa pun.”
Penjaga itu terkejut.
“Yang Mulia?”
“Jangan.”
Ia menatap Kepala Pengawal.
“Jika memang orang dari keluarga Zhāng, kita akan mencari tahu siapa yang mengirimnya. Jika kita menangkapnya sekarang, orang yang berada di belakangnya akan menghilang.”
Kepala Pengawal segera membungkuk.
“Baik, Yang Mulia.”
---
Di kediaman Paman Agung Zhāng, berita tentang penyelidikan itu mulai menyebar.
Paman Agung duduk diam di ruang dalam ketika seorang pelayan datang membisikkan sesuatu kepadanya.
Wajahnya langsung berubah.
“Dia sudah menemukan jejak?”
“Belum pasti, Tuan. Tetapi beberapa penjaga telah diperiksa.”
Paman Agung mengusap dahinya.
“Bodoh.”
Xiǎo Lán yang duduk tidak jauh darinya mengangkat kepala.
“Jangan menyalahkan siapa pun dulu.”
“Kalau dia menemukan lambang keluarga kita—”
“Lambang itu memang sengaja diletakkan.”
Paman Agung menatapnya.
“Apa?”
Xiǎo Lán tersenyum dingin.
“Bukankah tadi malam kita ingin mengetahui seberapa cepat kaisar akan bereaksi?”
Paman Agung mulai memahami maksudnya.
“Kau sengaja?”
“Ya.”
Xiǎo Lán bangkit dan berjalan perlahan.
“Kita memberinya sebuah jejak yang cukup jelas untuk membuatnya yakin bahwa kita terlibat. Tapi tidak cukup kuat untuk membuktikan apa pun.”
Paman Agung terdiam.
“Jika dia mengejar jejak itu, kita bisa membuatnya terlihat seperti kesalahpahaman.”
Xiǎo Lán berhenti di depan jendela.
“Namun jika dia tidak mengejarnya...”
Tatapannya berubah tajam.
“Berarti dia jauh lebih cerdas daripada yang kita perkirakan.”
Paman Agung tidak menjawab.
Di saat yang sama, tanpa mereka sadari, seseorang berdiri di balik pintu luar.
Seorang pelayan muda.
Ia menundukkan kepala, berpura-pura sedang membersihkan lantai.
Namun telinganya menangkap setiap kata.
Setelah memastikan tidak ada orang yang memperhatikannya, ia segera pergi.
---
Siang harinya, Liān Huā duduk di taman kecil bersama Xiǎo Yàn.
Ia masih memikirkan kejadian malam sebelumnya.
“Nona,” kata Xiǎo Yàn pelan, “apakah Anda takut?”
Liān Huā tersenyum kecil.
“Kalau aku mengatakan tidak, aku akan berbohong.”
Xiǎo Yàn menatapnya.
“Tapi saya melihat Anda tetap tenang.”
“Karena takut tidak akan membuat keadaan menjadi lebih baik.”
Liān Huā menatap bunga-bunga di hadapannya.
“Yang paling membuatku takut bukanlah apa yang akan mereka lakukan kepadaku.”
“Lalu?”
“Aku takut Zhēn terlalu mengkhawatirkanku hingga kehilangan kejernihan pikirannya.”
Xiǎo Yàn terdiam.
Liān Huā kemudian tersenyum lembut.
“Dia seorang kaisar. Dia tidak boleh membiarkan perasaannya menguasai keputusan yang menyangkut seluruh negeri.”
Dari kejauhan, terdengar langkah kaki.
Liān Huā menoleh.
Yuán Zhēn datang bersama dua pengawal.
Begitu melihatnya, wajah Liān Huā sedikit melunak.
“Kau datang.”
Yuán Zhēn mengangguk.
“Aku ingin memastikan kau baik-baik saja.”
Liān Huā tersenyum.
“Aku baik-baik saja.”
Yuán Zhēn duduk di hadapannya.
“Aku menemukan sesuatu.”
“Apa?”
“Orang yang menyusup malam itu kemungkinan berasal dari pihak Paman Agung Zhāng.”
Liān Huā terdiam.
Namun setelah beberapa saat, ia justru berkata,
“Kalau begitu, jangan langsung menangkapnya.”
Yuán Zhēn menatapnya.
“Aku berpikir hal yang sama.”
Liān Huā tersenyum tipis.
“Mungkin mereka ingin kita melihat jejak itu.”
“Benar.”
Yuán Zhēn mengangguk.
“Dan kalau begitu, kita akan membiarkan mereka mengira kita telah mengikuti jejak yang mereka tinggalkan.”
Liān Huā memahami maksudnya.
“Kau ingin menggunakan rencana mereka untuk menemukan rencana yang sebenarnya.”
“Ya.”
Tatapan keduanya bertemu.
Kali ini, mereka tidak hanya akan bertahan.
Mereka akan mulai memburu.
Namun jauh di tempat lain, Xiǎo Lán juga sedang menyusun langkah berikutnya.
Dan tanpa diketahui Yuán Zhēn maupun Liān Huā, sebuah rencana yang jauh lebih besar telah mulai bergerak.
Karena percobaan malam sebelumnya hanyalah umpan.
Target sebenarnya belum disentuh.
Dan ketika langkah berikutnya dimulai, seluruh istana mungkin tidak akan lagi mampu membedakan siapa yang menjadi pemburu...
dan siapa yang sebenarnya sedang diburu.