Up di jam yang sama 12.00 WIB
Martha Giorgiana, gadis asal London yang hobi traveling, memutuskan menjelajahi Indonesia. Setibanya di Bali, di tengah kekagumannya pada keindahan pulau tersebut, ia tak sengaja menabrak seorang pemuda misterius berbusana adat Jawa.
Kejadian canggung itu kian berkesan saat sang pemuda menunduk sopan dan berujar lembut, "Luput kulo nggeh, mbak." Suara dan tatapan teduh itu sukses membuat Martha tertegun sesaat. Pertemuan tak terduga ini menjadi awal mula perjalanan penuh warna, di mana pesona budaya lokal perlahan-lahan mencuri hatinya dan menuntunnya pada kisah cinta yang tak pernah ia duga sebelumnya.
Saksikan kisah Cinta mereka yang beda negara, beda agama, beda adat!!! semoga kalian suka🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayang-Bayang Tradisi di Pendopo Joglo
Hari ketiga kepulangan Adnan dan Martha di Surakarta membawa perubahan suasana yang cukup kontras. Udara pagi yang tenang dan keramahan para petani dusun di pematang sawah perlahan-lahan tergantikan oleh ketegangan yang mengudara di dalam kompleks Rumah Joglo Setiawan.
Sejak pukul sembilan pagi, beberapa mobil berpelat nomor luar kota tampak berjejer rapi di halaman samping joglo. Mereka adalah anggota keluarga besar dari garis keturunan paman Adnan serta para sesepuh sesepuh yayasan seni tradisi—orang-orang tua yang memegang kendali atas keputusan-keputusan penting dan pengelolaan warisan leluhur keluarga Setiawan.
Di dalam pendopo utama yang berlantai kayu jati mengilap, suasana terasa begitu senyap meski dipenuhi oleh belasan orang. Aroma dupa wangi bercampur bau teh tubruk melati memenuhi ruangan. Para sesepuh duduk bersila di atas tikar pandan melingkar, mengenakan busana surjan hitam lengkap dengan blangkon khas Jawa. Wajah mereka tampak serius, memperlihatkan garis-garis ketegasan yang ditempa oleh usia dan pengalaman hidup bertahun-tahun di bawah tekanan adat.
Adnan duduk di tengah-tengah mereka, mengenakan kemeja koko putih dan sarung rapi, menunjukkan sikap takzim yang luar biasa kepada para orang tua. Sementara Martha diminta duduk di kursi kayu antik di sudut pendopo—tidak bergabung di lingkaran utama, posisi yang sengaja diambil untuk menjaga batasan adat, namun tetap memungkinkan wanita itu mendengarkan jalannya pertemuan penting tersebut.
Eyang Broto, sesepuh tertua dalam garis keluarga besar Setiawan yang sudah berusia lebih dari delapan puluh tahun namun masih terlihat bugar dan tajam pandangannya, membuka pembicaraan dengan suara parau namun berwibawa.
"Adnan," panggil Eyang Broto, matanya menatap tajam kepada cucu didikan terbaik keluarga itu. "Kepulanganmu ke Solo bukan sekadar untuk menyelamatkan bangunan joglo ini dari utang peninggalan pamanmu. Kamu tahu betul bahwa yayasan ini didirikan di atas nilai-nilai luhur budaya dan keyakinan agama yang dijaga turun-temurun oleh leluhur kita. Keberadaan yayasan ini adalah pusat peradaban moral dusun ini."
"Nggih, Eyang. Saya sangat mengerti," jawab Adnan tenang, menundukkan kepalanya hormat.
"Lalu," Eyang Broto mengalihkan pandangannya melintasi ruangan, tepat mengarah kepada Martha yang duduk terpaku di sudut pendopo. Sorot mata pria tua itu menyipit, mengamati setiap detail penampilan Martha dengan saksama. "Bagaimana kami harus menjelaskan kehadiran wanita asing dari barat ini di tengah-tengah keluarga besar kita? Di saat yayasan ini membutuhkan legitimasi moral yang kuat untuk menarik kembali para investor dan mendapatkan kepercayaan masyarakat, kamu justru membawa seorang perempuan bule yang tidak mengerti adat, budaya, apalagi prinsip keimanan kita?"
Pertanyaan itu meluncur tajam bagai belati bermata dua. Seluruh isi pendopo langsung terdiam. Beberapa paman dan kerabat jauh Adnan tampak berbisik-bisik pelan, menunjukkan ketidaksetujuan yang selama ini tertahan di dalam dada mereka.
Martha merasa darahnya berdesir hebat. Jantungnya berdegup kencang di balik balutan blus sopan yang dikenakannya. Meskipun ia tidak memahami seluruh kosa kata bahasa Jawa krama yang digunakan, intonasi dan arah pandangan para sesepuh itu sudah lebih dari cukup untuk menjelaskan betapa besar penolakan kultural yang sedang diarahkan kepada dirinya.
Sebelum ada di antara kerabat yang melontarkan kalimat yang lebih keras, Adnan bangkit sedikit dari duduknya, merapatkan kedua tangan di depan dada, lalu berbicara dengan suara yang tegas, tenang, dan penuh keyakinan.
"Eyang, para sesepuh sekalian," ucap Adnan lantang namun penuh kesantunan. "Martha bukan sekadar orang asing yang datang membawa perbedaan. Selama di London, di saat saya berada di titik paling rendah dalam perjuangan hidup dan karier saya, dialah yang berdiri di samping saya, menghadapi cemoohan keluarga aristokrasi barat yang menolak saya karena latar belakang saya sebagai orang Jawa."
Adnan menarik napas dalam-dalam, menegakkan postur tubuhnya. "Jika di tanah barat yang asing saja dia rela pasang badan untuk membela kehormatan saya dan nilai-nilai budaya kita, maka tidak ada alasan bagi kita di tanah leluhur ini untuk menolak kehadirannya hanya karena ketidaktahuannya di masa lalu. Martha datang ke sini dengan niat tulus untuk belajar, menghormati, dan menyatukan hidupnya dengan apa yang saya yakini."
Suasana pendopo semakin tegang. Salah seorang paman Adnan, Paklik Martoyo—pria paruh baya dengan tubuh gempal dan raut wajah keras yang selama ini memegang kendali keuangan yayasan—langsung menyela dengan nada suara tinggi.
"Cinta tidak cukup untuk menyelamatkan yayasan ini, Adnan!" seru Paklik Martoyo tajam. "Investor luar menarik diri bukan cuma karena masalah utang, tapi karena mereka meragukan arah kepemimpinan yayasan yang mulai tercemar oleh budaya asing! Jika kamu ngotot membawa perempuan barat ini masuk ke dalam keluarga inti kita, masyarakat dusun akan kehilangan kepercayaan pada garis keturunan kita. Kamu sedang mempertaruhkan seluruh warisan leluhur demi seorang wanita!"
Perdebatan di dalam pendopo pun memanas. Suara-suara bantahan dan pembelaan saling bersahutan menggunakan bahasa Jawa cepat yang membuat Martha merasa semakin terisolasi. Di sudut ruangan, air mata perlahan menggenang di pelupuk mata Martha. Ia merasa dirinya menjadi duri dalam daging bagi kelangsungan hidup keluarga Adnan. Ia tidak ingin menjadi alasan hancurnya perjuangan pria yang dicintainya itu.
Mungkin aku seharusnya tidak pernah ikut ke sini, batin Martha getir, jemarinya meremas erat kain bajunya sendiri. Mungkin duniaku dan dunia Adnan memang terbuat dari garis pararel yang tidak akan pernah diizinkan untuk berpotongan.
Di tengah riuhnya perdebatan para sesepuh, Eyang Broto mengangkat tangan kanannya ke udara. Seketika itu juga, seluruh ruangan kembali terdiam sunyi. Wibawa pria sepuh itu begitu mutlak; tidak ada seorang pun yang berani membantah saat Eyang Broto hendak berbicara.
Eyang Broto menatap Adnan cukup lama, lalu perlahan mengalihkan pandangannya kembali kepada Martha. Ada keheningan yang mencekam selama beberapa detik sebelum pria tua itu membuka suara.
"Adnan," kata Eyang Broto dengan nada suara yang dalam dan berwibawa. "Keputusan ada di tanganmu sebagai pewaris sah yayasan ini. Tapi ingatlah pepatah lama leluhur kita: 'Becik ketitik, ala ketara'—segala perbuatan baik maupun buruk pasti akan menampakkan hasilnya pada waktunya. Kami tidak akan mengusir tamumu, tapi kami juga tidak akan memberikan pengesahan apa pun sebelum perempuan itu membuktikan keseriusannya untuk tunduk dan memahami nilai-nilai hidup yang kita junjung di tanah ini."
Sebuah syarat berat telah dijatuhkan.
Bukan penolakan mentah-mentah, melainkan sebuah ujian pembuktian yang harus dijalani oleh Martha di hadapan seluruh komunitas tradisional dusun tersebut.
Begitu pertemuan bubar dan para kerabat satu persatu meninggalkan pendopo dengan wajah dingin, Adnan langsung menghampiri Martha di sudut ruangan. Pria itu melihat sisa-sisa air mata di pipi wanita tersebut dan langsung merengkuh tubuh Martha ke dalam pelukannya yang hangat.
"Jangan dengarkan perkataan mereka, Martha," bisik Adnan lembut, mencium puncak kepala wanita itu penuh kasih sayang. "Saya ada di sini. Kita akan hadapi ujian ini bersama-sama."
Martha mendongak, menatap mata Adnan dengan keteguhan baru yang mulai tumbuh di dalam dadanya. Ia tahu, perjuangannya di tanah Jawa baru saja dimulai—dan ia tidak akan menyerah begitu saja pada bayang-bayang tradisi yang mencoba memisahkan mereka.
baru bab awal ,ceritanya udah penuh dgn kata2 bijak n keren...mbak autor 👍
kebetulan kita tetangga kabupaten
saya dari jombang ,tp sudah menetap di samarinda
author nulisnya menggunakan adat jawa juga karena author berasal dari Jawa Timur, Kabupaten Tulungagung.
Salam paseduluran rek❤️❤️