NovelToon NovelToon
Kehidupan Kedua Ivy

Kehidupan Kedua Ivy

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: Nitaastri

Cinta kadang dapat membutakan mata seseorang, itu juga yang terjadi pada Ivy. Cinta membuatnya buta hingga tega merebut tunangan saudara kembarnya sendiri.

Ivy memang berhasil, pertunangan Mateo dan Evelyn dibatalkan dan dia berhasil menikahi Mateo. Tapi sayangnya pria itu tidak pernah mencintai Ivy. Mateo melakukan banyak hal untuk menyakit hati Ivy bahkan dia juga berselingkuh hanya agar Ivy lebih terluka. Tapi Ivy selalu memaafkan Mateo.

Hingga hari itu Ivy benar-benar berhenti mencintai Mateo. Sejak Mateo lebih memilih menemani selingkuhannya dibandingkan mengantarkan putri mereka ke rumah sakit. Hingga akhirnya Ivy harus kehilangan putrinya untuk selamanya. Sejak saat itu, cinta Ivy lenyap dan dia akhirnya memilih bercerai dan meninggalkan Mateo.

Saat Ivy berpikir dia sendirian dan tak punya tempat untuk pulang, Edgar datang memberikan cahaya untuknya. Awalnya Ivy berpikir jika Edgar hanyalah pria biasa. Tapi ternyata identitas Edgar tidak sesederhana itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nitaastri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17 Pengakuan Edgar

Edgar masih menggenggam tangan Ivy, Ia tidak mencoba menghentikan tangisannya lagi. Ia tahu ada luka yang tidak bisa disembuhkan hanya dengan mengatakan,

"Jangan menangis."

Luka seperti itu membutuhkan seseorang yang bersedia untuk mendengarkan setiap ceritanya, seseorang yang tidak pergi ketika air mata mulai jatuh. Dan kali ini, Edgar memilih untuk tetap berada di sana.

"Aku minta maaf," bisik Edgar.

Ivy mendongak menatap Edgar, matanya sembab.

"Untuk apa?" Tanya Ivy.

"Karena aku tidak menemukanmu lebih cepat." Ucap Edgar penuh penyesalan.

Ivy menggeleng pelan.

"Kau tidak perlu meminta maaf." Kata Ivy pelan.

"Tapi seandainya aku..."

"Edgar."

Ivy menghentikannya.

"Jangan menyalahkan dirimu sendiri." Kata Ivy.

Ia menarik napas panjang.

"Aku yang membuat pilihan-pilihan itu." Lanjutnya.

Edgar terdiam.

"Aku menikahi Mateo karena aku mencintainya, padahal aku tahu dia mencintai Evelyn, aku tahu dia tidak pernah benar-benar menerimaku."

Senyum pahit muncul di wajahnya.

"Tapi aku tetap berharap dan harapan itulah yang membuatku bertahan."

Ivy menatap kosong ke rak-rak buku di hadapannya.

"Aku terus berpikir kalau suatu hari nanti, dia bisa cinta sama aku. Tapi ternyata..."

Ivy menghapis air matanya.

"Dia hanya melihatku sebagai kesalahan." Tambah Ivy.

Edgar mengepalkan tangannya.

"Ivy..."

"Kau tau Ed, aku bahkan rela menerima semua kebencian keluargaku hanya demi dia."

Suaranya mulai bergetar.

"Aku rela dicaci orang tuaku sendiri, aku rela saudara-saudaraku membenciku, aku rela keluarga Mateo memperlakukanku seperti orang asing."

Ia menunduk.

"Karena saat itu aku berpikir, selama Mateo masih ada di sisiku, aku masih memiliki alasan untuk bertahan."

Edgar menatapnya dalam-dalam.

"Tapi ternyata aku tidak memiliki apa-apa."

Hening kembali memenuhi ruang di antara mereka.

"Aku kehilangan keluargaku."

Ivy mengangkat satu jarinya.

"Kehilangan suamiku."

Jari kedua.

"Kehilangan rumah."

Jari ketiga.

"Dan akhirnya..."

Tangannya gemetar.

"Aku kehilangan Grizella."

Edgar merasakan dadanya sesak mendengar nama itu.

Ivy menatapnya.

"Setelah semuanya pergi, aku baru sadar. Aku bahkan tidak tahu siapa diriku tanpa mereka."

Edgar perlahan mengangkat tangan Ivy yang masih berada dalam genggamannya.

"Kau adalah Ivy."

Ivy terdiam.

"Jauh sebelum kau menjadi istri Mateo."

Edgar menatap matanya.

"Jauh sebelum kau menjadi seorang ibu dan jauh sebelum semua orang meninggalkanmu."

Ia menggenggam tangan Ivy dengan lembut.

"Kau tetap Ivy."

Mata Ivy kembali berkaca-kaca.

"Aku tidak tahu apakah aku masih memiliki tempat di hidupmu." Kata Edgar, tatapannya begitu teduh.

"Aku juga tidak akan memaksamu memberikan tempat itu kepadaku." Lanjut Edgar dengan senyum tipis.

Ivy menatapnya tanpa berkata-kata.

"Aku hanya ingin kau tahu satu hal." Kata Edgar sambil menggenggam tangan Ivy.

"Apa?"

"Kalau kali ini kau jatuh..."

Edgar berhenti sejenak.

"aku tidak akan meninggalkanmu sendirian."

Air mata Ivy kembali jatuh, namun kali ini ada sesuatu yang berbeda. Bukan hanya kesedihan, ada rasa hangat yang sudah lama tidak ia rasakan.

Rasa bahwa untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, seseorang tidak meminta apa pun darinya.

Ivy tersenyum kecil.

"Kenapa?"

Edgar mengernyit.

"Kenapa kau masih seperti ini?" Tanya Ivy pada Edgar.

"Seperti apa?" Tanya Edgar bingung.

"Masih peduli padaku." Kata Ivy pelan.

Edgar terdiam cukup lama, Kemudian ia tersenyum.

"Karena perasaanku padamu tidak pernah benar-benar hilang." Kata Edgar tulus.

Jantung Ivy seolah berhenti berdetak.

"Edgar..."

"Aku tahu kau baru saja melewati sesuatu yang berat." Edgar segera menambahkan.

"Aku tidak mengatakan itu agar kau membalas perasaanku, aku hanya ingin jujur."

Edgar melepaskan genggamannya perlahan.

"Aku mencintaimu, Ivy."

Mendengar pengakuan Edgar, Ivy hanya mampu menundukkan kepalanya.

"Aku tidak tahu apakah aku masih bisa mencintai seseorang." Sahut Ivy lirih.

Edgar mengangguk.

"Aku tahu."

"Aku sudah terlalu lelah." Kata Ivy lagi.

"Aku tahu."

"Aku takut." suaranya bahkan bergetar menahan semua kesedihannya selama ini.

"Aku juga tahu."

Ivy menatap Edgar dengan mata berkaca-kaca.

"Lalu apa yang harus kulakukan?" Tanya Ivy, tangisannya akhirnya pecah.

Edgar tersenyum lembut, mengusap bahu Ivy dengan lembut.

"Untuk sekarang?"

Ia berdiri dan mengulurkan tangannya kepada Ivy.

"Belajar hidup untuk dirimu sendiri."

Ivy menatap tangan itu, dengan air mata yang masih mengalir di pipinya.

"Dan kalau suatu hari nanti kau sudah tidak takut lagi..."

Edgar tersenyum, lalu menghapus air mata Ivy dengan lembut.

"kalau saat itu kau masih ingin berjalan bersamaku, aku akan berada di sini."

Ivy terdiam, kemudian perlahan ia meletakkan tangannya di telapak tangan Edgar. Melihat itu, Edgar segera membantunya berdiri.

Mereka akhirnya keluar dari toko buku itu.

Langit sore mulai berubah warna, cahaya matahari yang mulai tenggelam menyinari jalanan dengan warna keemasan.

Ivy berjalan perlahan di samping Edgar, untuk beberapa saat, tidak ada percakapan di antara mereka. Namun kali ini, kesunyian itu tidak terasa canggung. Justru terasa menenangkan, Edgar sesekali melirik Ivy. Wanita itu tampak jauh lebih tenang dibandingkan ketika mereka pertama kali bertemu di toko buku.

Namun Edgar tahu, ketenangan itu bukan berarti lukanya sudah sembuh. Ia hanya sudah terlalu lama belajar menyembunyikannya.

"Ivy." Panggil Edgar.

"Hm?" Ivy mengerutkan keningnya, menatap Edgar dengan tatapan penuh tanya.

"Mau makan sesuatu?" Tanya Edgar, ini sudah jam makan siang. Tidak mungkin dia membiarkan wanitanya itu kelaparan.

Ivy menggeleng, dia merasa tidak memiliki nafsu makan hari ini.

"Aku tidak lapar." Kata Ivy.

Edgar menghela napas, tapi penolakan Ivy tidak membuatnya menyerah membujuk Ivy.

"Kau sudah mengatakan itu sejak tadi." Kata Edgar sambil bersedekap dada.

"Aku memang tidak lapar." Ujar Ivy.

"Kalau begitu, temani aku makan." Kata Edgar akhirnya, dia tidak ingin memaksa Ivy untuk makan lagi.

Ivy menatapnya bingung.

"Kenapa?" Tanya Ivy.

"Karena aku lapar." Jawab Edgar cengengesan.

Ivy hampir tertawa saat melihat ekspresi wajah Edgar.

"Kau bisa makan sendiri." Ujar Ivy.

"Tapi makan sendirian tidak menyenangkan." Kata Edgar cemberut.

Ivy memandang wajah Edgar beberapa detik, kemudian tanpa sadar, sudut bibirnya terangkat.

"Baiklah." Ujar Ivy akhirnya mengalah dan memutuskan untuk menemani pria itu makan siang, daripada dia terus mendengar rengekan pria itu lebih baik dia menemaninya.

Edgar tersenyum sumringah, akhirnya ajakannya di setujui oleh Ivy.

Mereka kemudian berjalan menuju sebuah restoran kecil yang tidak jauh dari toko buku.

Setelah sampai di restoran itu, Edgar mempersilahkan Ivy untuk duduk, lalu memberikan buku menu kepada Ivy.

"Pilih apa pun yang kau mau." Kata Edgar sambil melipat tanganya di dada.

Ivy menatap Edgar heran, bukankah dia hanya menemani pria itu saja. Lalu kenapa sekarang dia justru di beri buku menu dan di suruh memilih makanan yang ingin dia makan.

"Aku tidak suka makan sendiri." Ujar Edgar, saat tau apa maksud dari ekspresi yang di tunjukkan Ivy padanya.

"Aku tidak terlalu suka makan banyak." Kata Ivy akhirnya.

"Aku tidak bertanya apakah kau suka makan banyak."

Edgar lalu menunjuk menu di depan Ivy.

"Aku bertanya apa yang ingin kau makan." Ujar Edgar.

Ivy mendengar perkataan Edgar, Ivy lagi-lagi hanya diam. Sudah lama tidak ada seseorang yang bertanya hal sederhana seperti itu kepadanya.

Apa yang ingin ia makan? Apa yang ingin ia lakukan? Apa yang membuatnya bahagia?

Selama bertahun-tahun, hanya dia yang selalu memikirkan dan menanyakan itu pada suaminya Mateo. Sampai akhirnya dia lupa menanyakan hal yang paling sederhana kepada dirinya sendiri.

Apa yang sebenarnya dirinya inginkan?

"Aku..."

Ivy melihat buku menu itu sekali lagi.

"Aku ingin pasta."

Edgar tersenyum.

"Oke."

Setelah memesan makanan, mereka kembali terdiam. Namun beberapa menit kemudian, Ivy tiba-tiba berbicara.

"Edgar."

"Ya?" Tanya Edgar, keningnya berkerut menatap Ivy.

"Kalau Grizella masih hidup..."

Edgar terdiam, Ivy menatap meja.

"Menurutmu, dia akan seperti apa sekarang?" Tanya Ivy hati-hati.

Pertanyaan itu membuat hati Edgar terasa sesak,

Ia tahu tidak ada jawaban yang benar, namun ia tidak ingin menghindari pertanyaan itu.

"Mungkin dia akan menjadi anak yang ceria." Sahut Edgar sambil menggenggam tangan Ivy yang ada di atas meja.

Ivy tersenyum tipis.

"Dia memang anak yang ceria." Ujar Ivy, kembali mengingat setiap kenangan anatar dirinya dan Grizella.

"Benarkah?" Tanya Edgar antusias.

Ivy mengangguk, senyum tipis tersungging di bibir tipisnya.

"Dia sangat suka tertawa, dia juga suka sekali menggambar." Jelas Ivy.

Edgar mendengarkan Ivy tampa memotong sedikit pun ucapan Ivy.

"Kadang-kadang dia menggambar sesuatu yang aneh." Lanjut Ivy.

"Aneh?"

"Iya." Ivy mengangguk, lalu tersenyum kecil.

"Dia pernah menggambar kami bertiga." Lanjutnya.

"Dia, kau, dan Mateo?" Tanya Edgar memastikan.

Ivy mengangguk, lalu senyumnya pudar.

"Awalnya dia menggambar kami bertiga." Kata Ivy.

"Awalnya?"

"Ya, lalu 3 bulan yang lalu tiba-tiba dia hanya menggambar aku dan dia. Grizella tidak pernah lagi menggambar Mateo di antara kami." Ucap Ivy sedih.

"Lalu aku bertanya padanya, mengapa hanya ada kami berdua. Dia lalu bilang kami tidak membutuhkan siapa pun selama kami memiliki satu sama lain." Ivy lalu kembali melanjutkan.

Edgar terdiam, kalimat sederhana seorang anak itu justru terasa begitu menyakitkan. Edgar rasa, Mateo tidak hanya gagal menjadi suami yang baik untuk Ivy tapi pria itu juga gagal menjadi ayah yang baik untuk putrinya.

"Ivy..."

"Aku sering memikirkan kalimat itu, hingga aku menemukan satu jawaban. Mungkin Grizela sudah terlalu lelah di abaikan oleh ayahnya, hingga dia menyerah mengharapkan kasih sayang darinya."

Ivy menatap kosong ke depan.

"Edgar, seandainya waktu bisa kembali..."

Suaranya bergetar.

"Aku akan memilihnya."

Edgar tidak menjawab, membiarkan Ivy meluapkan semua emosinya.

"Aku akan memilih Grizella daripada Mateo."

Air mata kembali menggenang di mata Ivy.

"Aku akan memilih putriku daripada cinta yang tidak pernah menjadi milikku."

Edgar perlahan menhampiri Ivy dan menarik wanita itu ke dalam pelukannya.

"Kau tidak bisa mengubah masa lalu." Kata Edgar sambil mengusap punggung Ivy lembut.

"Aku tahu." Jawab Ivy sambil mengangguk kecil.

"Tapi kau masih bisa melakukan sesuatu untuk dirimu sendiri." Sambung Edgar.

Ivy menatapnya, dia merasa bingung dengan perkataan pria itu.

"Apa?" Tanya Ivy dengan mengerutkan keningnya.

"Hidup." Ujar Edgar sambil tersenyum lembut.

"Jalani hidup yang dulu tidak sempat kau jalani."

Ivy terdiam.

"Dan jangan hidup hanya untuk menebus kesalahanmu."

"Kenapa?"

"Karena Grizella tidak akan menginginkan ibunya terus menyalahkan dirinya sendiri."

Mata Ivy langsung dipenuhi air mata.

Edgar kembali melanjutkan.

"Kalau kau benar-benar mencintainya..."

Ia mengusap kepala Ivy lembut.

".maka hiduplah."

Ivy membenamkan kepalanya di perut Edgar, berusaha menahan tangisnya. Namun akhirnya air matanya jatuh juga, Edgar tidak mengatakan apa-apa lagi. Ia hanya membiarkannya menangis, setelah puas menangis, Ivy lalu mengusap air matanya.

"Aku akan mencoba." Kata Ivy sambil menatap mata Edgar, dia bahagia di tengah kesedihannya ternyata Tuhan mengirimkan Edgar untuknya.

Edgar tersenyum, menatap mata Ivy dengan lembut. Mata yang dulu selalu terlihat berbinar, kini redup karena ulah pria brengsek itu. Tapi Edgar berjanji dalam hatinya, dia tidak akan membiarkan binar itu kembali redup.

"Itu sudah cukup."

Pelayan kemudian datang membawa makanan mereka, Ivy menatap pasta di hadapannya.

setelah sekian lama, ia makan tanpa memikirkan apakah seseorang akan menyukainya atau tidak.

Ia makan karena dirinya sendiri yang menginginkannya dan Edgar tidak mengatakan apa pun. Ia hanya tersenyum melihat Ivy perlahan mulai belajar kembali menjadi dirinya sendiri.

Bersambung

1
Putry Chan
gara gara kejadian ini lvy inisiatif pgen jadi kuat , waduh lvy serem nih nanti 🤣
Putry Chan
lvy tenangkan pikiran mu aku yakin Edgar baik baik aja
Putry Chan
jelas lah kan dia cinta kau apa lah isi pikiran laki ini 🗿
Putry Chan
semoga Edgar baik baik aja ya
Putry Chan
lvy calon suami mu ini lumayan menantang ya
Putry Chan
mungkin musuh nya
Putry Chan
siapa ya yang ikutin mereka
Itha Ast
Menarik
Mundri Astuti
good ivy
Putry Chan
aku mendukung kalian dan semoga kalian bahagia
Putry Chan
langka yang bagus untuk membagikan hubungan baik
Misa
Bagus
Mundri Astuti
aamiin ...aku dukung Edgar 🤭
Dinda Putri
semangat yo thor 🔥🔥🔥
Dinda Putri
lanjut up thor
Putry Chan
wah sepertinya lvy di terima baik
Putry Chan
bagus lah akhirnya MC kita nikah juga
Putry Chan
bagus lah semoga cepat ya ke hubungan yang lebih serius
Putry Chan
ya tapi hati mu tidak berubah
Putry Chan
untung lah ada Edgar yang mulai sekarang nemenin lvy
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!