Untuk keluar dari penjara keluarga, Charoen Torrer harus menerima pinangan dari seorang mafia ternama. Walau hanya jadi istri sementara, tetapi demi kebebasannya. Char menerima tawaran itu tanpa berpikir dua kali.
Tanpa ia tahu ke depannya, hidupnya jauh lebih rumit di banding rumah yang rasanya seperti penjara itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya Melinda Damayanty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 22
"Grandpa, aku minta maaf atas nama Charoen," ujar Grace lalu membungkuk hormat.
Char yang berdiri tak jauh dari mereka menaikan alisnya sebelah.
"Grandpa?" Rudolph mengerutkan keningnya.
"Iya Grandpa. Anda adalah kakek dari suami sepupu saya jadi saya ...."
Tak!
Rudolph kembali mengetuk tongkatnya kuat-kuat. Mukanya memerah, Grace terkejut bukan main begitu juga semua. Gina buru-buru mendekat dan memeluk erat putrinya yang gemetar ketakutan. Ruang tamu keluarga Torrer itu mendadak mencekam.
Char mendekati Rudolph hati-hati.
"Grandpa," panggilnya lembut. Ia bersimpuh di hadapan pria tetua Romanov itu.
Rudolph mendengkus kasar, tak ada yang berani bicara kurang ajar seperti tadi. Namun, elusan tangan Char menyadarkannya jika ia ada bersama Charoen.
"Apa sudah selesai?" tanyanya dengan suara berat.
"Sedikit lagi, Grandpa. Bajuku tidak banyak. Hanya satu koper saja," jawab Char tenang.
"Cepatlah. Aku sudah sesak di rumah yang penuh kepura-puraan ini!" suruhnya kesal.
Char gegas berdiri dan cepat mengemasi baju-bajunya yang memang hanya satu koper besar itu. Sementara Gorgio, Lotta, Robert, Gina dan empat anaknya berdiri kaku dengan kepala tertunduk. Tak ada yang berani mengatakan apapun.
"Mari Grandpa!" seru Char sambil mengerutkan koper bututnya. Rudolph sangat gusar dengan apa yang ia lihat. Lalu matanya menatap Gorgio di sana.
"Kau apakan anak ini sebelumnya?" desisnya bertanya.
"Grandpa ...," Grace hendak menyela.
"Panggil aku Tuan Besar! Aku bukan kakekmu!"
Gertakan keras Rudolph membuat Grace terlonjak kaget dan memundurkan langkahnya ketakutan, bersembunyi di balik punggung Gina yang ikut gemetar hebat. Ruangan itu benar-benar sunyi, tak ada satu pun yang berani bernapas keras di hadapan amarah sang Tetua Romanov.
Gorgio yang ditatap langsung oleh mata tajam Rudolph merasa lututnya lemas. Pertanyaan 'Kau apakan anak ini sebelumnya?' terasa seperti vonis mati yang digantungkan di atas lehernya.
"S-saya... saya tidak melakukan apa-apa, Tuan Besar..." cicit Gorgio dengan suara bergetar dan peluh dingin yang bercucuran di pelipisnya.
Rudolph mendengkus sinis, matanya melirik koper butut yang diseret Charoen. Koper yang kainnya sudah agak mengelupas di bagian sudutnya—satu-satunya tempat penyimpanan pakaian dari seorang anak perempuan yang bertahun-tahun hidup di rumah ini.
Ia kemudian menatap pakaian yang dikenakan Charoen yang sederhana.
Tidak ada perhiasan berlebihan. Tidak ada tas mahal. Bahkan sepatu yang dikenakannya pun terlihat sudah lama digunakan.
Rudolph perlahan mengangkat wajahnya.
“Kau bilang tidak melakukan apa-apa?” Gorgio menelan ludah.
“Ya, Tuan Besar," cicitnya lirih.
“Lalu kenapa cucu mantuku meninggalkan rumah orang tuanya hanya dengan satu koper tua?”
Lagi-lagi Gorgio menelan ludah.
"Grandpa, sudah yuk," putus Char yang juga sudah tidak betah di rumahnya sendiri.
"Baiklah," angguk Rudolph.
Keduanya melangkah. Robert tiba-tiba bergerak dan membukakan pintu lebar-lebar.
"Tuan, anda kemari naik apa? Biar kami antar ...."
"Naik Aston Martin di depan villa ini ...."
"Apa! Char kamu mau ambil mobil itu!" teriak Don. Lalu Gina gegas menutup mulut putranya dengan tangan rapat-rapat
"Kau ingin mati, Don!" tekannya berbisik sambil melotot pada Don.
Char dan Rudolph mengabaikan mereka, Grace masih berusaha untuk menarik perhatian Rudolph.
"Char kau tak bisa menyetir dah kau tak memiliki SIM ....."
"Aku ada!" potong Char lalu mengeluarkan kartu SIM dari dompet di sakunya dan membungkam Grace.
"Aku bisa apapun tanpa kau mesti tahu, Grace!" lanjutnya menatap sinis sepupunya yang kini menahan semua amarahnya.
Char membukakan pintu untuk Rudolph dan pria itu langsung naik dan duduk dengan manis. Char menutupnya lembut.
Koper ia letakkan di bagasi belakang. Tak lama, kendaraan biru itu melesat meninggalkan halaman villa Torrer.
“Paman lihat sendiri, kan!” teriak Grace setelah Aston Martin biru itu menghilang di ujung jalan.
“Char semakin sombong setelah memiliki segalanya!”
Gorgio tidak menjawab.
“Dulu dia masih tinggal di sini. Sekarang baru menjadi istri Alexander, dia bahkan tidak mau meninggalkan satu mobil untuk keluarganya!”
“Grace,” tegur Gorgio pelan.
“Apa?” Grace menoleh cepat.
“Mobil itu milik Char.”
“Tapi Alexander pasti punya banyak mobil!”
“Lalu?”
Grace terdiam sesaat.
“Lalu... apa salahnya kalau satu mobil itu ditinggalkan di sini? Kami juga keluarga!"
Gorgio menghela napas panjang.
“Char baru saja datang untuk mengambil barang-barangnya.”
“Justru itu!” Grace semakin kesal. “Dia membawa semuanya pergi seolah-olah rumah ini tidak pernah menjadi rumahnya!”
"Sudah lah, mau protes juga tak ada guna. Mobil itu memang tak pernah untuk kalian,' ujar Lotta lalu masuk ke dalam villa.
"Maksud aku bukan begitu, Bi!" seru Grace mengikuti Lotta begitu juga semuanya.
"Kita kan juga keluarganya. Ia seperti tidak pernah diurus saja!" gerutu Grace.
"Diamlah Grace ... kau membuat Paman pusing!" sentak Gorgio.
"Kakak!" Gina hendak membela putrinya tapi Gorgio mengangkat satu tangan untuk menghentikan perkataan Gina selanjutnya.
"Sudah jangan dibicarakan lagi. Ayo kita makan," putus Lotta menghentikan pembicaraan.
Grace menghentakkan kaki kesal, lalu ia pergi ke depan kamar Char yang dulu adalah kamarnya.
Klik! Pintu terbuka, matanya berbinar.
"Jangan coba-coba untuk kembali menempati kamar itu, Grace!" seru Gorgio.
"Paman, Char tidak akan pernah kembali!" teriak Grace.
"Tutup dan duduk di sini!" teriak Gorgio marah dan Grace buru-buru menutup pintu itu.
'Aku pastikan kamar ini jadi milikku lagi!' tekadnya dalam hati.
Sementara mobil Aston Martin biru melesat membelah jalan ibukota Seradam. Char mengemudikan kendaraan itu sangat baik, Rudolph senang dengan cara Char mengemudi.
"Kau sepertinya sudah mahir!" pujinya.
Char hanya tersenyum mendengar perkataan itu.
"Kau masih bisa mengendarai mobil. Berarti ayahmu tak sekejam pikiranku," sahut Rudolph tenang.
"Bukan Ayah yang mengajariku, Grandpa," sahut Char menjawab.
"Apa?" Rudolph menatap cucu menantunya.
"Waktu kuliah, aku pernah jadi joki dealer mobi untuk test drive. Jadi aku bisa mengendarai ini," jawab Char.
"Bukan balapan mobil?" tanya Rudolph yang sedikit membuat bibir Char berkedut ketika hendak menjawab.
"Tidak!" ia yakin tak ada yang tahu tentang dirinya.
"Baiklah, aku tidak memaksamu. Melihatmu pergi dengan membawa koper butut. Aku memastikan jika hidupmu sangat sulit di rumah itu," ujar Rudolph yakin.
Char hanya diam, ia memang seperti itu. Tak begitu terbuka untuk menjelaskan pada dirinya.
Tiba-tiba, ponsel Char berbunyi. Ia menekan tombol dan mengaktifkan pengeras suara.
"Halo sayang. Kau di mana!" teriak Alexander panik.
"Tidak sayang, aku kan sudah bilang kalau ingin mengambil barang-barangku," jawab Char tenang.
"Kau tidak bekerja?" tanya Alexander lagi.
"Aku ambil cuti. Besok baru bekerja lagi," jawab Char.
"Kalau begitu cepat pulang. Jangan lama-lama di luar!" suruh Alexander tegas.
"Baik!" seru Char lalu menekan gas dalam-dalam.
"Char!" teriakan girang Rudolph terdengar tapi sambungan telepon terputus.
Alexander membeku, ia belum sempat memperingati agar berhati-hati.
"Dia ...," Alexander menatap ponselnya.
Raph datang melapor jika Char mengemudi kendaraan sangat cepat dan berhasil mengecoh para pengawal yang membuntutinya.
"Tuan Muda, saya sudah memperingatkan Nyonya agar pergi bersama supir dan pengawal. Tetapi Nyonya justru tidak menggubris dan tetap membawa Tuan Besar pergi!" ujar Rovelet mengadu.
Tak lama terdengar deru suara mesin mobil. Alexander tak menggubris perkataan kepala pelayan itu. Ia berlari ke teras dan melihat mobil yang dikendarai istrinya berhenti.
Ia lega setelah melihat Rudolph turun dengan santai dan wajah berbinar-binar. Ia senang sekali dibawa ngebut cucu menantunya.
"Hahahaha .... Alex! Kau kalah cepat. Char membawaku tak lebih dari lima menit perjalanan!" teriak Rudolph bersuka cita.
Char hanya tersenyum, lalu ia pergi ke bagasi mengambil kopernya.
Lalu ....
"Sayang, kamu bawa apa?" tanya Alexander menatap koper butut milik istrinya.
"Alexander, beruntung kau membawanya ke rumah ini. Di sana istrimu menderita!" adu Rudolph yang seketika membuat Alexander marah.
"Raph!" serunya.
"Saya Tuan!" Raph sudah bersiap.
"Kita berikan konferensi pers! Beberkan semua bukti fitnah dan seret Gorgio meminta maaf pada istriku secara publik!" perintah Alexander tegas.
"Siap Tuan!"
Bersambung.
Hohoho .... Hayo loh
Next?
semakin seru nh,gak sabar nunggu reaksi keluar char terutama ayahnya n si grace
si Grace carmuk.banget
gengsi Segede gunung
bau bau akan keromantisan n kebucinan sang mafia akan segera menguar nh