NovelToon NovelToon
CEO Tengil VS Sekertaris Bar-bar

CEO Tengil VS Sekertaris Bar-bar

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / CEO / Mafia / Tamat
Popularitas:131.3k
Nilai: 5
Nama Author: Eli Priwanti

Memasuki bangku kuliah dengan penampilan cupunya, membuat Ananda Ayunindia menjadi target empuk perundungan oleh Tristan Bratadikara dan komplotannya. Tak sekadar dibully, Ananda bahkan dijadikan bahan taruhan hingga berujung kehamilan. Hancur dan trauma, ia terpaksa melepas beasiswanya dan pergi menghilang.

Enam tahun berlalu. Ananda yang kini telah lulus kuliah dan menetap di Bandung, berhasil diterima bekerja sebagai sekretaris di sebuah perusahaan raksasa di Jakarta. Demi masa depan putra kecilnya dan sang ibu yang sudah renta, Ananda terpaksa kembali ke kota penuh memori kelam tersebut.

Siapa sangka, pimpinan tertinggi di perusahaan baru tempatnya bekerja adalah Tristan Bratadikara, pria yang dahulu menghancurkan hidupnya. Namun, Ananda yang sekarang bukan lagi gadis cupu yang bisa ditindas, ia telah bermetamorfosis menjadi wanita yang cantik, energik, dan pemberani. Akankah Tristan mengenali korbannya di masa lalu, atau justru bertekuk lutut pada sosok Ananda yang baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 21

Di tengah kepungan atmosfer yang menyesakkan di meja restoran itu, ponsel di saku celana Indra tiba-tiba bergetar nyaring dan mengeluarkan nada dering khusus. Indra buru-buru merogohnya. Begitu melihat nama komandannya di Polresta tertera di layar, ia langsung menggeser tombol hijau.

"Siap, Komandan!... Siap, laksanakan! Saya segera merapat ke mako sekarang juga!" ucap Indra dengan nada tegas khas aparat, sengaja mengeraskan suaranya agar terdengar oleh Feby dan Ananda.

Indra menutup panggilan tersebut, lalu menatap Feby dengan raut wajah yang dibuat seolah-olah penuh penyesalan. "Sayang, maaf banget ya. Ini ada panggilan darurat dari Polresta. Ada kasus mendesak yang harus segera aku tangani di lapangan. Aku terpaksa harus pergi sekarang."

Feby langsung mengerucutkan bibirnya, tampak kecewa berat. "Yah, Mas... kok mendadak banget sih? Ini kan acaranya El belum selesai."

"Maaf ya, Sayang. Ini perintah langsung dari atasan, aku tidak bisa menolak," bujuk Indra sambil mengusap lembut kepala Feby. Ia kemudian beralih menatap Ananda dengan canggung. "Nanda, El... Om pamit duluan ya. Selamat ulang tahun sekali lagi untuk Elvano."

Setelah berpamitan dengan tergesa-gesa, Indra melangkah lebar keluar dari restoran meninggalkan mall besar tersebut. Begitu tubuhnya berhasil keluar dari pintu kaca mall dan menghirup udara luar, Indra langsung menghentikan langkahnya. Ia menghembuskan napas panjang yang teramat lega, lalu mengusap dadanya berulang kali. Bagi Indra, panggilan tugas tadi benar-benar sebuah anugerah yang menyelamatkannya dari siksaan batin di dalam restoran.

Namun, langkah kakinya mendadak kembali terhenti saat ia hendak menuju tempat parkiran mobil. Wajahnya kembali menegang saat mengingat untaian kata dari Ananda tadi.

‘Pria bajingan itu harus mendapatkan balasan yang setimpal dariku!’

Ancaman si itik buruk rupa bergaung hebat di kepalanya. Indra berada di posisi yang sangat sulit. Di satu sisi, ia memegang sumpah sebagai polisi untuk menegakkan keadilan, dan ia tahu Tristan juga korban malam itu. Di sisi lain, jika ia melapor pada Tristan, Ananda akan menghancurkan hubungannya dengan Feby, wanita yang teramat dicintainya.

Sementara itu, di belahan sudut kota Jakarta yang lain, ketegangan dengan intensitas berbeda sedang melanda sebuah penthouse apartemen mewah. Tristan Bratadikara sedang berdiri di dekat jendela besar yang menampilkan gemerlap gedung pencakar langit. Pria itu tampak begitu gelisah, terus melirik jam tangannya dengan tidak sabar.

Ia sudah tidak sanggup lagi menahan rasa penasarannya untuk mendapatkan kabar dari Ronal. Pikirannya dipenuhi oleh kecurigaan bahwa sekretaris barunya, Ananda, adalah sosok si itik buruk rupa, satu-satunya wanita yang ia cari selama enam tahun ini, sekaligus wanita pertama yang berhasil mencuri seluruh hatinya.

Ting tong!

Bel pintu apartemen berbunyi nyaring. Netra Tristan berkilat tajam. Ia bergegas melangkah menuju pintu dan membukanya. Sosok Ronal, orang kepercayaannya, berdiri di sana dengan setelan jas hitam formal.

"Masuk, Ronal," perintah Tristan mutlak.

Keduanya melangkah menuju ruang tengah dan mendudukkan diri di atas sofa kulit berwarna hitam yang empuk dan mewah. Tanpa basa-basi atau sekadar basa-basi formal, Tristan langsung menuntut jawaban.

"Bagaimana, Ronal? Apakah kau sudah menemukan foto atau bukti apa pun mengenai masa lalu sekretarisku di kampus dulu?" tanya Tristan, suaranya bergetar menahan gejolak emosi yang menggebu-gebu.

"Sudah, Tuan. Semua informasi yang Anda cari dan Anda ragukan kemarin, semuanya sudah terkumpul di dalam map ini," ucap Ronal dengan tenang seraya menyerahkan sebuah amplop besar berwarna cokelat tebal ke atas meja kaca di hadapan Tristan.

Jantung Tristan berdegup berkali-kali lipat lebih kencang. Dengan tangan yang sedikit gemetar karena rasa tak sabar yang membakar dadanya, ia meraih amplop tersebut dan merobek ujungnya. Ia menarik selembar kertas biodata resmi serta selembar foto berukuran cukup besar dari dalam sana.

Begitu netranya menangkap gambar di foto itu, napas Tristan seketika tercekat. Tubuhnya kaku, mematung di atas sofa mewah tersebut. Di dalam foto lama itu, terlihat seorang mahasiswi Universitas Airlangga berpenampilan sangat sederhana, mengenakan kacamata bulat bertangkai tebal, rambut yang dijepit asal, dan wajah polos tanpa riasan sama sekali.

Itu adalah foto si itik buruk rupa. Namun, di lembar biodata yang menempel di belakangnya, nama yang tertera di sana tertulis dengan tinta hitam yang sangat jelas: Ananda Ayunindia.

"Jadi... Jadi ini adalah foto asli sekretarisku saat ia berkuliah di Universitas Airlangga dulu?" tanya Tristan dengan suara tercekat di tenggorokan, memastikan apa yang dilihat matanya bukan sebuah halusinasi.

"Betul sekali, Tuan. Nama asli si itik buruk rupa yang Anda cari selama enam tahun ini adalah Ananda Ayunindia. Sekretaris baru yang saat ini bekerja tepat di samping Anda," jawab Ronal tegas, menginformasikan kebenaran yang mutlak.

Tristan menatap tak percaya ke arah foto di genggamannya. Matanya perlahan berkaca-kaca, memancarkan perpaduan antara rasa syok yang luar biasa, kebahagiaan yang membuncah, sekaligus rasa bersalah yang teramat dalam yang menghantam dadanya. Wanita yang selama ini ia tangisi, ia cari sampai ke ujung dunia, ternyata selama ini berada sangat dekat dengannya, duduk di meja kerja yang hanya berjarak beberapa meter dari ruangannya.

Tristan menatap lembaran foto di genggamannya dengan jemari yang bergetar hebat. Detik berikutnya, pertahanan pria berdarah dingin itu runtuh total. Air mata bahagia yang selama enam tahun ini tertahan di pelupuk matanya kini mengalir perlahan, membasahi pipi tegasnya. Dadanya sesak oleh rasa syukur yang membuncah. Wanita yang ia tangisi setiap malam, wanita yang ia sangka telah hilang ditelan bumi, ternyata berada tepat di depan matanya.

Namun, Tristan buru-buru menghapus air matanya. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba mengendalikan gemuruh di dadanya. Ia sadar, ia harus ekstra bersabar untuk bisa mendapatkan kembali hati si itik. Nanda yang sekarang bukanlah gadis penakut berpakaian cupu yang dulu selalu menunduk dan tak berani melawan saat dirundung di kampus. Nanda yang sekarang adalah wanita mandiri, tegas, dan memiliki dinding pertahanan yang teramat tinggi.

‘Itik... ops, maksudku Nanda. Aku tidak akan pernah melepaskan kamu lagi. Apapun caranya, kau harus kembali menjadi milikku!’ batin Tristan penuh tekad, mendekap foto lama itu erat di dadanya.

Tanpa terasa, akhir pekan pun berakhir dengan cepat. Hari Senin telah tiba, dan Ananda kembali disibukkan dengan rutinitas pekerjaannya yang padat sebagai seorang sekretaris di Bratadikara Group.

Meskipun hari Sabtu kemarin sempat terjadi insiden menegangkan di mall karena pertemuan tak terduganya dengan Indra, Ananda mencoba meyakinkan dirinya sendiri untuk tetap tenang. Ia sangat berharap ancaman tajamnya tempo hari bisa membuat mulut polisi itu bungkam, sehingga tidak berani membocorkan identitas aslinya kepada Tristan.

Saat Ananda sedang fokus menyusun agenda mingguan di depan meja kerjanya, pintu lift VIP berdenting terbuka. Tristan muncul didampingi oleh Kevin, sang asisten pribadi.

Namun, pagi ini ada yang sangat berbeda dari atmosfir di sekitar sang CEO. Raut wajah Tristan tampak begitu berseri-seri, langkah kakinya terasa ringan, dan di sudut bibirnya terukir sebuah senyuman tipis yang teramat manis. Pemandangan langka itu seketika membuat para karyawan yang berpapasan di koridor merasa seperti sedang bermimpi di siang bolong.

Kevin yang berjalan di belakangnya pun hanya bisa geleng-geleng kepala. Ia merasa akhir-akhir ini sikap tuannya benar-benar aneh dan di luar nalar. Dari yang biasanya hobi mengamuk dan berwajah garang, kini berubah drastis menjadi pria ramah yang murah senyum.

Mendengar langkah kaki yang mendekat, Ananda terpaksa berdiri dari kursinya untuk menyambut sang atasan. Dengan wajah yang dibuat seformal mungkin, meski sebenarnya menyiratkan rasa malas yang kentara, Ananda membungkuk sedikit. "Selamat pagi, Tuan Tristan."

Bukannya langsung melenggang masuk ke dalam ruang kerjanya yang mewah seperti biasa, Tristan justru menghentikan langkahnya tepat di depan meja Ananda. Pria itu memiringkan kepalanya sedikit, lalu melemparkan senyuman tipis yang teramat dalam langsung ke arah bola matanya Ananda.

Tristan menatap lekat-lekat wajah cantik di hadapannya dengan binar mata yang dipenuhi kerinduan yang membuncah.

‘Itik... hari ini adalah hari yang paling membahagiakan dalam hidupku. Kini kau ada di hadapanku, meskipun dengan penampilanmu yang sudah jauh berbeda. Kuakui, aku hampir saja tertipu oleh paras cantikmu ini. Tapi... dari dulu kau memang sudah sangat cantik di mataku. Itik... aku sangat merindukanmu. Aku ingin sekali memelukmu saat ini juga...’ batin Tristan menjerit, mengagumi setiap jengkal wajah Ananda tanpa berkedip sedikit pun.

Ditatap dengan pandangan seintens dan selembut itu oleh pria yang biasanya ketus membuat Ananda mendadak disergap rasa gugup yang luar biasa. Ia salah tingkah, jemarinya meremas pelan pulpen yang dipegangnya, sementara matanya bergerak gelisah menghindari kontak mata dengan Tristan.

Ananda mengerutkan keningnya dalam-diam, membatin dengan penuh rasa heran dan curiga, ‘Ada apa dengan si monster Tristan ini? Kenapa dia menatapku seperti itu? Apakah hari ini dia salah minum obat?’

Bersambung...

1
mimief
wahhhh....tamat juga
nice ending
beautiful story

setiap orang selalu punya masa lalu yg tidak semua indah bukan,?
tapi kita hidup di masa kini..dan masa depan asal dia mau berubah.
kl ga..tinggal say goodbye ys ga si?
semoga kita semua berbahagia pada waktunya masing masing
terimakasih atas cerita indah nya Thor
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: wah, terimakasih akak 🙏😘
total 3 replies
mimief
memang motor di gas mulu😒
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: /Curse//Curse//Curse/
total 1 replies
mimief
biarin aja dia tertawa ntar
kasih paham Thor
dia yg bakalan ikutan nyari dengan segala ke ngidaman si Tristan 🤣🤣🤣
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: siap akak 🤣🤣🤣
total 1 replies
mimief
cakeeep..
si utun pandai mendeteksi bibit" pelakor🤣🤣
mimief
biarin..
siksa aja na
siksa Daddy mu🤣🤣
mimief
wkwkwkwk
dia yg ngidam 🫣
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: /Curse//Curse//Curse/
total 1 replies
mimief
kukira aku yg tak normal selalu ber delusi kau wanita. tapi ternyata memang kau wanita,tapi wanita yg sudah punya pasangan juga🥹🥹.
kukira kisah kita kyk didrama drama yg MC perempuan nya ternyata wanita dan kita bisa saling mencintai dan bahagia selamanya 🥹🥹
🤣🤣🤣🤣
aakh ..aku kasian tapi lucu
mimief
dan doain ya..dari lubuk hatimu yg terdalam
aku bisa move on🥹🥹🥹🫣😁
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: ku doakan kak 🤭
total 1 replies
Uba Muhammad Al-varo
terima kasih kakak author, ceritanya selalu bagus dan menghibur, semoga kakak author selalu sehat, selalu semangat dan selalu sukses dalam berkarya, aamiin...🙏♥️💪💪💪
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: Aamiin ya rabbal alamin 🤲🏼
terimakasih banyak kakak atas semua dukungannya, jangan pernah bosan dengan karya-karya ku 🙏😘
total 1 replies
Ika Yanti Unyil
karena jebakan 1 malam membuat hidup tristan yg kelabu menjadi bewarna.setelah dia menemukan si itik buruk rupanya yang ternyata telah melahirkan pewaris untuk keluarganya.apalagi ditambah intrik dr musuhnya mereka bisa bertemu dengan keluarga ananda yang telah terpisah.kembaran dan juga papanya.semakin lengkap dengan kehadiran triplet yang tidak terduga.hepi ending...
terus semangat berkarya thor ❤️❤️❤️❤️
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: terimakasih banyak kak 🙏😘
total 1 replies
Sri Rahayu
Terima kasih Thorr...kisah Ananda dan Tristan TAMAT dgn happy ending punya 4 anak 😘😘😘😘😘
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: terimakasih juga kak 🙏😘
total 1 replies
Patrick Khan
aku suka ❤️😍
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: terimakasih kak 🙏
total 1 replies
Patrick Khan
yaaa udah tamat..q punya saran kisah anak mereka aja lah..💃💃❤️❤️😍

trimakasih ceritanya kak❤️❤️
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: terimakasih juga kak 🙏😘
total 1 replies
Patrick Khan
wihhhh kembar 3 💃💃
Nar Sih
yaahh..udah end ,kan blm ada nama si kmbr dan elle blm punya ank ,😭😭tpi ending yg bagus kak 👍🥰🥰
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: terimakasih kak 🙏😘
total 1 replies
Nar Sih
wah..kembar 3langsung jdi ramee nih
Les Tary
ha ha ha ha
Oma Gavin
akhirnya happy ending untuk semua
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
buset dah, langsung triplets. siap2 lah kau tristan
Nar Sih
pasti positip nanti hasil nya ,dan good job 👍buat mu kevin udh kasih tau tanda,,kehamilan nanda
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!