Maya menikah dengan Ryan yang berasal dari desa. Setelah menikah mereka tinggal di rumah Maya yang di beli sebelum dia menikah.
Awalnya adik Ryan dan istrinya datang, mereka bilang hanya menumpang sebentar sampai mendapatkan kontrakan baru di Jakarta. Namun sudah sampai sebulan mereka menginap, bukannya pergi malah ibunya Ryan yang dari kampung datang dan ikut tinggal di rumahnya.
Mereka tidak mau bekerja, mereka justru menjadikan Maya sebagai pembantu.
Puncaknya, adik Ryan menampar Maya, sementara Ryan hanya diam saja tanpa membelanya. Saat itu Maya sadar, ia bukan lagi seorang istri di rumah tangganya sendiri.
Maya yang marah akhirnya memilih menjual rumah itu, dan menggugat cerai suaminya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18
Mia duduk di tepi ranjang kamarnya yang sepi. Lampu meja hanya menyala redup, cukup untuk menerangi sudut ruangan yang sudah mulai terasa asing. Di sampingnya, putrinya tertidur nyenyak dengan napas teratur, sama sekali tidak tahu bahwa malam itu ibunya sedang mengambil keputusan besar. Mia menatap wajah anaknya lama, lalu menghela napas pelan. Dari laci nakas, ia mengeluarkan sebuah map coklat tua. Di dalamnya tersimpan sertifikat rumah, dokumen yang selama ini ia jaga dengan hati-hati.
Jari-jarinya gemetar sedikit saat membuka map itu. Sertifikat rumah yang dulu dibeli dengan harapan besar kini terasa berat di genggaman. Ia menatapnya beberapa detik, lalu memasukkannya ke dalam tas tangan hitam yang sudah disiapkan di kursi. Setelah itu, ia mengambil ponsel, menggeser kontak, dan menekan nomor yang sudah ia simpan sejak siang.
Nada dering berbunyi beberapa kali sebelum akhirnya diangkat.
“Selamat malam, dengan Bapak Andi dari Agen Properti Mandiri?” suara Mia terdengar sedikit serak, menahan emosi yang sejak pagi mengambang di dada.
“Ya, benar. Ada yang bisa dibantu?”
Mia menarik napas dalam, menatap ke arah jendela yang gelap. “Saya Mia. Saya ingin menawarkan rumah saya untuk dijual. Lokasinya di kawasan elite. Detail dan fotonya sudah saya kirim via WhatsApp. Saya ingin prosesnya secepat mungkin.”
Di seberang, terdengar suara kertas digeser. Andi sepertinya sedang membuka catatan. “Oh, saya sudah lihat, Bu. Rumahnya bagus. Luas tanah dan bangunan cukup besar, lokasi strategis. Tapi apakah sertifikatnya bersih? Karena dari foto tampak seperti properti yang nilainya tinggi.”
“Sertifikat ada, dan bersih,” jawab Mia jujur, suaranya datar. Ia mengusap pelan rambut putrinya yang tertidur. “Tapi rumah ini masih ditempati seseorang. Saya ingin menjualnya dengan cepat.”
Andi terdiam sejenak. “Baik, Bu. Saya bisa bantu. Kalau ada penghuni, itu bisa kami bantu urus sesuai prosedur. Besok silakan datang ke kantor untuk pembicaraan lebih lanjut. Bawa sertifikat aslinya dan dokumen pendukung. Kita bahas harga, timeline, dan langkah selanjutnya.”
Mia mengangguk pelan, meski lawan bicaranya tidak melihat. “Baik. Saya akan datang besok ke kantor.”
Setelah panggilan berakhir, Mia meletakkan ponsel di atas meja. Ia menyandarkan punggung ke dinding, menutup mata sejenak. Di dadanya, rasa campur aduk yang sulit dijelaskan. Rumah itu dulu dibeli dengan harapan besar, tempat tinggal yang nyaman, simbol status, dan masa depan yang ia bayangkan stabil bersama keluarga. Sekarang, ia harus melepasnya. Bukan karena ingin, melainkan karena keadaan yang memaksa.
Ia berdiri perlahan, berjalan menuju jendela, dan menatap halaman depan yang masih rapi di bawah cahaya lampu taman. Pohon-pohon yang dulu ia rawat sendiri, garasi yang luas, ruang keluarga yang pernah penuh tawa dan suara langkah kaki… semuanya sebentar lagi akan berpindah tangan. Mia menghela napas panjang, menelan rasa sesak di tenggorokan.
Ia kembali ke ranjang, merebahkan tubuh di samping putrinya. Jari-jarinya mengelus rambut anak itu dengan sangat pelan. Di dalam gelap, air matanya akhirnya tumpah tanpa suara. Keputusan sudah diambil. Besok ia akan ke kantor agen. Rumah itu akan dijual. Dan ia harus kuat, demi anaknya, dan demi satu-satunya jalan keluar yang tersisa.
Malam terus berjalan dalam keheningan. Di luar, angin berhembus pelan menggoyangkan daun. Di dalam kamar yang sepi, Mia berbaring dengan mata terbuka, menatap langit-langit, membiarkan semua kenangan rumah itu berlalu satu per satu di kepalanya… sebelum akhirnya benar-benar dilepas.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Keesokan paginya, Mia pergi begitu saja tanpa berpamitan dengan siapapun. Dia tidak perduli dengan teriakan Rukmini dan yang lainnya.
Ceklek...
Mia membuka pintu rumah dan keluar. Mobil menyala pelan, lalu melaju meninggalkan halaman rumahnya.
Pertama-tama ia menuju rumah orang tuanya. Maya yang sudah menunggu di teras langsung menyambut cucunya dengan pelukan hangat.
“Titip Kayla dulu, Ma,” bisik Mia. “Aku ada urusan penting.”
Ibunya mengangguk mengerti, tidak banyak bertanya. Setelah memastikan putrinya aman, Mia kembali ke mobil dan melanjutkan perjalanan menuju kawasan bisnis kota.
Di dalam mobil, ia mengenggam setir erat. Bibirnya bergumam pelan, seolah menguatkan diri sendiri.
“Kalau kamu tidak bisa mengambil keputusan, maka aku sendiri yang akan mengambil keputusan itu.”
Ia tidak akan lagi menunggu persetujuan Rian. Semua yang selama ini ia pendam, semua ketidakadilan yang ia terima, akan ia selesaikan dengan caranya sendiri.
Beberapa menit kemudian, mobil berhenti di depan sebuah kantor agen properti yang cukup dikenal. Papan nama besar terpasang di depan, menampilkan foto-foto rumah dan ruko yang dijual maupun disewakan. Mia menarik napas dalam-dalam, merapikan rambut, lalu membuka pintu mobil.
Dengan langkah anggun dan tegap, ia masuk ke dalam kantor tersebut.
Resepsionis menyambutnya dengan senyum profesional. “Selamat pagi, Bu. Ada yang bisa kami bantu?”
Mia tersenyum tipis, suaranya tenang tapi tegas. “Saya ingin berkonsultasi mengenai properti. Rumah yang sudah saya miliki sepenuhnya, dan kemungkinan untuk menjual atau menyewakannya.”
Karyawan senior segera mempersilakan Mia duduk di ruang pertemuan. Dokumen-dokumen mulai dikeluarkan, penawaran dijelaskan, dan Mia mendengarkan dengan saksama. Di matanya tidak ada lagi keraguan. Ia tahu tepat apa yang harus di lakukan.
“Selamat pagi, Nyonya Mia,” sapa Andi sambil tersenyum profesional, lalu duduk di hadapan Mia.
Mia menganggukkan kepalanya sebagai balasan. Tanpa banyak basa-basi, ia langsung membuka map yang dibawanya dan mengeluarkan beberapa lembar dokumen serta foto.
“Ini sertifikatnya, dan foto rumahnya serta beberapa ruangan di dalamnya,” ucap Mia singkat, mendorong dokumen-dokumen itu ke atas meja.
Andi menerima lembaran-lembaran itu dengan hati-hati. Ia memeriksa sertifikat tanah dan bangunan terlebih dahulu, lalu membolak-balik foto-foto yang dilampirkan. Rumah satu lantai dengan desain sederhana tapi terawat, halaman yang cukup luas, kamar-kamar yang rapi, hingga ruang tamu dan dapur yang terlihat nyaman.
“Rumahnya bagus, nyonya” komentar Andi setelah beberapa saat. “Lokasinya strategis, dan dari sertifikat ini jelas tercatat atas nama anda sepenuhnya. Apakah anda berencana menjual, atau menyewakan?”
Mia menatapnya tenang. “Saya ingin opsi keduanya. Tapi prioritas saya saat ini adalah menyewakan dalam jangka panjang, atau jika ada penawaran bagus, bisa juga dijual. Saya butuh proses yang cepat dan bersih.”
Andi mengangguk mengerti. Ia segera mencatat beberapa poin di bukunya. “Baik, nyonya Mia. Kami bisa bantu survey pasar dulu, lalu pasang iklan. Untuk sewa, kisaran harganya bisa kami sesuaikan dengan lokasi dan kondisi rumah. Kalau jual, kami juga punya beberapa calon pembeli potensial.”
Mia menyandarkan punggungnya di kursi. Di dalam hati, ia merasa lega sekaligus tegang. Langkah ini besar. Rumah yang dulu ia beli dengan keringat sendiri, rumah yang selama ini diisi tawa Kayla sekaligus tekanan dari keluarga Rian, kini siap ia lepaskan jika memang harus.
“Saya ingin semuanya atas nama saya saja,” tegas Mia. “Tidak perlu melibatkan pihak lain. Semua keputusan ada di tangan saya.”
Andi tersenyum profesional. “Tentu, nyonya. Kami akan jaga kerahasiaan dan prosesnya. Nanti siang atau besok kami hubungi untuk update awal.”
Mia mengangguk. Ia mengumpulkan kembali fotonya, menyisakan salinan sertifikat yang diminta Andi, lalu berdiri.“Terima kasih,” katanya singkat.
Keluar dari kantor itu, langkah Mia terasa lebih ringan. Di dalam mobil, ia menatap ponsel yang masih sepi dari pesan Rian. Tidak apa-apa. Hari ini ia tidak menunggu siapa pun.
THOR BUAT YG HAJAR MIA DI JEBLOSKAN PENJARA TANPA ADA NEGOSIASI BIAR IPAR DAN MANTAN MERTUA TAU ARTINYA K.A.R.M.A😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈
kl masih bertahan ya goblok saja jd wanita. dah di pukul juga kn, foto trus lapor kan polisi lo.