Menjadi korban perundungan dan anak broken home membuat Ardelia Aira Safira berharap kehidupan barunya di SMA Bangsa Indonesia berjalan tenang. Namun, segalanya berubah saat ia bertemu kembali dengan dr. Arkanza Dirgantara dokter muda dingin, tampan, sekaligus sahabat dari kakak iparnya.
Berawal dari insiden yang menyelamatkan harga dirinya, Aira perlahan melihat luka masa lalu di balik sikap kaku sang dokter. Dengan kepolosan dan keberaniannya, Aira nekat mengejar Arkan. Namun bagi Arkan, perbedaan usia dan status Aira sebagai adik ipar sahabatnya adalah batas yang tak boleh dilanggar. Puncaknya, Arkan secara tegas menolak Aira serta menghancurkan hati gadis itu seketika.
Namun, ketika Aira benar-benar memilih mundur dan menghilang, keheningan justru menyadarkan Arkan bahwa hidupnya yang monoton terasa hampa. Di antara dinding kaku rumah sakit dan riuhnya masa SMA, akankah Arkan tetap berpegang pada logika, atau menyerah pada hatinya yang mendadak kacau?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabia Sky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelarian dan Drama di Lapangan
Di sudut teras rumah kayu yang bersahaja, Aira terisak dalam hening. Ia menekuk kedua lututnya rapat-rapat, menyembunyikan wajah di atasnya sembari sesekali menyapu air mata dengan lengan sweater panjangnya. Kain rajut itu kini lembap oleh basah pipinya, padahal ia sama sekali tak membawa pakaian ganti satu pun untuk malam ini.
Sejak melangkah pergi dari rumah Reyhan siang tadi, keputusan Aira sudah bulat melarikan diri ke rumah sang nenek di desa. Ia meninggalkan sepeda motornya begitu saja di pelataran rumah Reyhan, lalu bergegas menaiki bus travel antar kota.
Sudah cukup lama Aira tak berkunjung ke rumah nenek dari mamanya ini. Dahulu, sewaktu mulai bekerja dan menikah, Bu Windy memutuskan memboyong keluarga kecil mereka ke kota hingga menetap di sana. Neneknya memiliki dua orang anak Bu Windy sebagai putri sulung, dan Om Gus, sang putra bungsu.
"Aira... Cucu cantik Oma, sudah malam, Nak. Ayo masuk. Pamali menangis di luar malam-malam begini, nanti dikira ada apa-apa kalau ada tetangga yang lewat," panggil Nenek lembut dari ambang pintu.
Aira mendongak, menatap rupa sepuh neneknya yang penuh kehangatan. Ia melirik sekeliling. Suasana luar rumah memang sangat sepi, dikelilingi rindangnya deretan pohon bambu yang bergesekan ditiup angin malam, cukup untuk membuat bulu kuduknya berdiri. Tanpa membantah, Aira bangkit dan menyusul masuk.
"Ayo makan dulu. Dari tadi kamu belum menyentuh makanan, kan?" ajak Nenek.
Aira duduk melipat kaki di atas tikar pandan yang terbentang di ruang tengah. Rumah neneknya khas hunian desa yang bersahaja tak ada set meja makan mewah, hanya kursi kayu berukir di ruang tamu dan sebuah televisi tabung 24 inci di ruang keluarga. Rumah itu tergolong lapang dengan tiga kamar tidur serta satu kamar mandi di area belakang. Di halaman belakang, terhampar kebun sayuran hijau yang tertata asri bukti betapa sang nenek amat menyukai kebersihan dan kerapian.
Tepat di sebelah rumah, berdiri kediaman Om Gus beserta keluarganya. Kendati tinggal terpisah, halaman belakang mereka menyatu, hanya dibatasi pagar kayu setinggi pinggang.
Aira memandangi hidangan yang tersaji di atas tikar tahu dan tempe goreng, ikan asin, sambal terasi, serta tumis kangkung hangat berdampingan dengan nasi jagung yang sudah dituang sang nenek ke piringnya.
"Kamu datang mendadak tanpa kabar, jadi Oma cuma bisa masak lauk seadanya. Tidak ada ayam. Besok Oma belikan ayam ke pasar, ya?" ujar Nenek penuh penyesalan.
Aira menerima piring itu sembari mengukir senyum tipis. "Tidak usah, Oma. Ini sudah enak sekali. Ada ikan asin dan tumis kangkung saja sudah nikmat luar biasa. Oma tidak usah beli ayam Aira bosan makan daging ayam, digorengkan ikan hasil mancing Om Gus saja sudah cukup."
Tak lama kemudian, Om Gus muncul membawa ikan dari pintu belakang usai membersihkan diri. Pria paruh baya itu memang baru saja pulang dari sungai tak jauh dari desa, menghabiskan waktu memancing sejak siang hingga menjelang magrib.
❀𖤣𖥧𖡼⊱━━━━━━━━━━━━━━━⊰𖡼𖥧𖤣❀
Keesokan harinya, Aira terbangun lebih awal saat suara berkokok ayam sahut-menyahut di luar. Dengan mata setengah terpejam dan sisa kantuk yang menggelayut, ia melangkah melintasi lorong tengah menuju dapur, mencari keberadaan neneknya.
"Sudah bangun? Cuci muka dan mandi dulu, Nak. Oma sudah siapkan baju ganti di kamar," sapa Nenek yang tengah sibuk mencuci beras di dekat bak air.
Aira berbelok ke kamar mandi membawa handuk yang disiapkan sang nenek. Beruntung, beberapa barang dan pakaian lama Mamanya dulu masih tersimpan rapi di dalam lemari kayu, sehingga ia memiliki pakaian untuk dikenakan hari ini.
Usai mandi, Aira kembali ke kamar dan meraih pakaian yang terbentang di atas kasur. Namun, begitu memegangnya, dahinya berkerut dalam. Ia merasa tak yakin dengan potongan pakaian tersebut.
"Oma... Ini tidak ada baju lain lagi?" tanya Aira, memunculkan kepalanya di balik pintu kamar.
"Tidak ada lagi, Nak. Cuma itu yang muat dan bersih," sahut Nenek dari dapur.
Aira menggigit bibir bawahnya ragu. Bukan karena enggan, melainkan bentuk pakaian itu tampak tidak biasa untuk gadis seusianya. Namun, lantaran tak ada opsi lain, ia terpaksa memakainya.
Aira mengikat rambut sebahunya yang masih agak basah, lalu melangkah ke dapur untuk membantu Nenek yang sedang meracik bumbu. Hari ini Nenek berniat memasak pepes ikan, sayur asam, sambal tomat matang, serta lalapan segar kesukaan Aira.
"Tuh, kan! Cocok sekali kamu pakai baju itu. Dulu Oma yang membelikan baju daster itu waktu Mama kamu sedang hamil tua membumbungkan Reyhan," puji Nenek tertawa kecil.
Aira meringis canggung sembari memperhatikan daster panjang berukuran sangat longgar yang kini melekat di tubuhnya. Ia sudah menduga bahwa pakaian berdada lapang ini adalah daster ibu hamil milik ibunya di masa lalu.
"Sini Aira bantu potong sayurnya, Oma," pusing Aira mencoba mengalihkan pembicaraan.
Nenek tersenyum dan membiarkan cucunya mengambil alih pisau dapur. Beliau tahu betul bahwa Aira diandalkan dalam urusan memasak.
"Ya sudah, kamu teruskan dulu potong sayurnya, ya. Oma mau ke warung depan sebentar beli kerupuk," pamit Nenek.
"Iya, Oma. Hati-hati di jalan."
Aira melanjutkan aktivitasnya sembari sesekali melempar pandang ke luar jendela dapur. Di samping rumah neneknya terhampar petak tanah kosong. Pagi yang cerah itu, beberapa anak laki-laki desa tampak riang berkejaran bermain bola plastik. Memori masa kecil Aira mendadak berputar dulu, setiap kali menginap di sini, ia selalu nekat ikut bergabung bermain di sana, meski kini nama-nama teman kecilnya sudah samar di ingatan.
Selesai urusan dapur, Aira kembali ke kamar dan meraih ponselnya. Ia menggeser tombol daya untuk menyalakannya kembali setelah seharian dimatikan guna menghindari rentetan panggilan Reyhan.
Namun, baru saja layar ponselnya menyala, suara ketukan pintu depan terdengar beruntun dan tergesa-gesa. Karena Nenek belum kembali dari warung dan Om Gus sudah berangkat ke sawah sejak subuh, Aira bergegas menuju depan. Ia merapikan ikatan rambutnya lalu memutar gagang pintu.
"Bang Reyhan?! Kak Arkan?!" seru Aira terperanjat hebat.
Dua pria di ambang pintu itu mematung seketika. Reyhan dan Arkan menatap penampilan Aira dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan raut terkesima yang sulit diartikan.
Tanpa menguraikan sepatah kata pun, Reyhan melangkah masuk begitu saja melewati adiknya, mengekor di belakangnya Arkan yang memandang sekeliling rumah bersahaja itu.
"Kalian ngapain ke sini?" tanya Aira dengan raut wajah ketus.
"Mau berkunjung ke rumah Oma. Memangnya tidak boleh?" balas Reyhan santai sembari mendaratkan diri di kursi kayu.
"Oma sedang ke warung," cetus Aira tipis.
Reyhan tak membalas. Ia bangkit menuju area belakang untuk mengambil air minum, meninggalkan Arkan yang kini duduk tenang di ruang tamu.
"Kak Arkan kenapa bisa ikut Bang Reyhan ke sini?" tanya Aira yang masih berdiri canggung di dekat pintu.
"Kamu hilang tanpa kabar, ponselmu mati seharian," sahut Arkan datar, matanya tak bisa berpaling dari sosok Aira yang tampak sangat berbeda dalam balutan daster longgar bermotif bunga-bunga pudar.
"Aira cuma tidak mau ketemu Bang Reyhan. Aira masih kesal!" gerutu Aira cemberut, lalu duduk di kursi seberang sembari bersedekap dada.
Arkan tidak menimpali lagi hingga Reyhan kembali dari dapur membawa nampan berisi cangkir dan ceret air dingin.
"Diminum dulu," tutur Reyhan sembari menuangkan air.
Arkan yang merasa tenggorokannya kering akibat perjalanan panjang lintas kabupaten menggunakan mobil, segera meraih gelas tersebut dan meneguknya hingga tandas.
"Eh, ada Reyhan? Kenapa ke sini tidak mengabari Oma dulu, Nak? Tahu begitu Oma masak agak banyak hari ini," sapa Nenek yang baru saja menginjakkan kaki di ambang pintu.
Reyhan tersenyum lebar, bangkit menghampiri sang nenek lalu mencium punggung tangannya khidmat. "Tadi Mama mau ikut, Oma. Tapi lagi mendampingi Dinda jaga si kembar, biasa... Bawaan hamil jadi agak rewel."
"Ooh, begitu... Tidak apa-apa. Eh, ini siapa yang tampan sekali?" tanya Nenek sembari menunjuk Arkan dengan dagunya.
Merasa dipanggil, Arkan bergegas berdiri dan berdiri membungkuk untuk bersalaman dengan Nenek. "Saya Arkan, Oma."
"Tampan sekali... Mirip almarhum suami Oma waktu muda dulu," puji Nenek tersenyum sumringah.
"Astaga, Oma..." ringis Reyhan sembari menepuk jidatnya sendiri.
"Ya sudah, kalian mengobrol dulu di sini. Oma mau ke dapur menyiapkan makan siang untuk kalian."
"Aira bantu!" seru Aira cepat, bersemangat memanfaatkan momen untuk menghindari Reyhan.
Arkan yang paham betul bahwa Aira masih memendam canggung dan kekesalan pada kakaknya, memutuskan menyela untuk memberi ruang bagi mereka berdua.
"Biar saya saja yang bantu di dapur, Oma," tawar Arkan sopan.
Nenek yang menangkap sinyal ketegangan antara kedua cucunya langsung tersenyum cerdik. Beliau merangkul lengan Arkan dan menariknya pelan menuju dapur. "Iya, betul. Calon cucu menantu Oma saja yang bantu di dapur, ya!"
Aira terbelalak menatap punggung Arkan yang pasrah ditarik sang nenek. Baru saja Aira hendak menyusul, cengkeraman tangan Reyhan di pergelangannya menahan langkahnya.
"Abang mau bicara sama kamu," tegas Reyhan.
Aira menundukkan kepala dan menahan napas. Rasa kesalnya masih ada, namun ketakutan akan memperkeruh suasana membuatnya memilih diam dan meluruhkan keangkuhannya.
"Abang... Aira tidak mau bahas soal jurusan kuliah lagi di sini. Terserah Bang Reyhan saja nanti mau bagaimana, biar Aira yang siapkan berkasnya," bisik Aira pelan, kepalanya kian tertunduk.
Reyhan menghela napas panjang, berpindah duduk ke samping adiknya dan memperhatikan wajah lesu itu lekat-lekat.
"Kamu benar-benar yakin dengan jurusan pilihanmu itu? Abang cuma takut kamu main-main dan membuang waktu," ujar Reyhan dengan nada yang jauh lebih lembut dari kemarin.
Aira memberanikan diri mendongak, menatap mata kakaknya lurus-lurus. "Aira tahu selama ini Bang Reyhan selalu menganggap Aira anak kecil yang cuma bisa manja, kekanak-kanakan, dan tidak pernah serius. Tapi untuk masa depan, Aira tidak akan main-main, Bang. Aira serius ingin berjuang. Aira bahkan sudah beli buku-buku dasar psikologi pakai uang tabungan sendiri buat belajar. Kalau Abang tidak percaya, Abang bisa cek kamar Aira di rumah."
Reyhan membisu sejenak. Sorot kejujuran dan keteguhan di mata adiknya runtuh membentengi keraguan yang selama ini menggelayuti pikirannya. Senyum tipis perlahan mengembang di bibirnya.
"Kapan kamu mau mendaftar?" tanya Reyhan leluasa.
"Daftar ke mana?" Aira berkedip bingung.
"Ke jurusan yang kamu inginkan. Nanti Abang yang mengantar dan mengurus biayanya," sahut Reyhan santai.
Aira terpaku, matanya membelalak tak percaya. "Maksud... Bang Reyhan?"
"Berhubung Abangmu ini terlahir sebagai malaikat tanpa sayap," goda Reyhan dengan kehebohan khasnya, "Abang putuskan untuk memberi izin. Kamu boleh ambil jurusan Psikologi, asal kamu bersungguh-sungguh dan membuktikan kata-katamu tadi."
Aira membisu seketika. Rasanya seperti mimpi. Namun selang beberapa detik, pertahanannya jebol dan tangisnya pecah seketika.
"Eh! Kok malah menangis kencang begini? Abang salah bicara lagi, ya?" tanya Reyhan panik.
Aira menutup seluruh wajahnya dengan kedua telapak tangan, terisak-isak meluapkan segala kelegaannya. Reyhan yang merasa bersalah bergegas merengkuh tubuh adiknya, mengelus rambut sebahunya hangat.
"Abang minta maaf, ya... Abang yang salah karena sudah emosi dan memaksakan kehendak kemarin sampai bikin kamu kabur. Sudah, jangan menangis lagi. Kemarin Kak Dinda sama Mama juga sudah marahin Abang habis-habisan," tutur Reyhan mengusap punggung adiknya.
Dengan napas tersengal dan mata sembap, Aira melonggarkan pelukan, menatap kakaknya sengit. "Abang... Kenapa pakai ajak Kak Arkan ke sini segala, sih?"
"Lho? Dia sendiri yang menawarkan diri mau ikut menjemput. Bukannya kamu harusnya senang dijemput sama pangeran esmu itu?" goda Reyhan terkekeh.
Aira mengusap air matanya kasar sembari cemberut maksimal. "Aira malu! Kak Arkan lihat Aira pakai daster kebesaran begini!"
Reyhan tak sanggup lagi menahan tawa maraknya. Ternyata, tangisan heboh adiknya sebagian besar dipicu oleh rasa gengsi dan malu akibat penampilannya di depan Arkan.
"Makanya kalau mau kabur itu bawa baju ganti! Tapi tenang saja, kamu cocok kok pakai daster begini... Sudah mirip ibu-ibu kompleks mau ke posyandu, hahaha!" ledek Reyhan tanpa ampun.
"Abang!" seru Aira gemas, memukul pelan lengan Reyhan. Tangisnya berganti cengiran lega.
"Mana ada orang kabur harus pulang dulu cuma buat ambil baju!" sungut Aira.
"Sudah, tidak usah menangis. Setelah makan siang kita langsung pulang ke kota, ya," ujar Reyhan menyudahi godaannya.
Kebekuan di antara mereka akhirnya mencair sepenuhnya. Siang itu, mereka berempat Aira, Reyhan, Arkan, dan sang Nenek menikmati makan siang bersama di atas tikar pandan dengan canda tawa yang menghangatkan suasana.
❀𖤣𖥧𖡼⊱━━━━━━━━━━━━━━━⊰𖡼𖥧𖤣❀
Selepas adzan dzuhur berkumandang, sembari menunggu Reyhan yang masih berbincang serius mengenai keperluan kebun dengan Om Gus di dalam, Arkan dan Aira duduk berdua di bale-bale bambu di bawah rindangnya pohon mangga. Pandangan mereka tertuju pada lapangan tanah di samping rumah, tempat anak-anak desa sedang asyik bertanding sepak bola.
Sejak tadi, Aira tak bisa duduk tenang. Kaki kirinya terus bergoyang-goyang menjejak tanah.
"Kenapa kakinya tidak bisa diam? Kebelet?" tegur Arkan pelan, melirik gerak-gerik gadis di sampingnya.
"Pengin banget ikut main bola..." gumam Aira menopang dagu.
Arkan menaikkan sebelah alisnya. "Main bola? Sama anak-anak itu?" tanyanya sembari menunjuk ke arah lapangan.
Aira mengangguk lesu. "Sudah lama sekali Aira tidak main bola. Lihat mereka main jadi pengin ikut bergabung. Dulu waktu kecil, setiap ke rumah Oma, Aira selalu main bola sama anak-anak sini. Seru banget, walau temannya laki-laki semua."
"Kenapa kamu dari dulu lebih suka berteman dengan anak laki-laki? Bahkan sampai sekarang, cuma Zara teman perempuan terdekatmu," selidik Arkan penasaran.
"Soalnya kalau sama anak perempuan kurang seru, sibuk rebutan boneka atau main pasaran. Kalau main bola kan enak, bisa lari dan oper sana-sini. Ya... walaupun pulang-pulang kaki Aira selalu lecet dan Bang Reyhan bakal mengomel semalaman," kenang Aira terkekeh.
Arkan mengangguk-angguk paham.
Aira mendadak berdiri dan mengintip ke arah jendela rumah. "Bang Reyhan sepertinya masih sibuk mengobrol sama Om Gus... Kak Arkan, kalau Bang Reyhan keluar, panggilkan Aira, ya! Aira mau main sebentar saja. Dah!"
Tanpa menunggu persetujuan Arkan, Aira langsung berlari kencang menuju lapangan sembari mengangkat sedikit ujung dasternya agar tidak tersandung.
Arkan hanya bisa terpaku menggelengkan kepala. Matanya tak lepas memperhatikan sosok gadis berdaster longgar itu yang tanpa canggung berbaur, berlarian lincah mengiring bola bersama anak-anak SD. Senyum tipis mengembang di bibir Arkan melihat betapa lepas dan menggemaskannya Aira saat mengibas dasternya setiap kali hendak menendang.
Begitu keasyikan memperhatikan Aira, Arkan tak menyadari bahwa Reyhan sudah berdiri di sampingnya dengan tangan bersedekap.
"Khusyuk sekali pandangannya, Dokter. Sedang memperhatikan apa?" tegur Reyhan mendadak.
Arkan terperanjat kecil, langsung menoleh. "Eh, Bang Reyhan..."
"Aira ke mana? Bukannya tadi bersama kamu di sini?" tanya Reyhan sembari mengedarkan pandangan.
Belum sempat Arkan menyusun kalimat alibi untuk menyembunyikan Aira, mata tajam Reyhan sudah lebih dulu menangkap objek mencurigakan di tengah lapangan.
"Tunggu... Itu yang pakai daster merah mengibar-ngibar main bola... si Aira bukan?" tanya Reyhan menunjuk penuh kepastian, mengucek matanya seakan tak percaya.
BUK!!!
Tepat di saat yang sama, bola plastik yang ditendang penuh tenaga oleh Aira melayang melenceng dan menghantam telak kepala seorang bapak paruh baya berkepala plontos yang tengah melintas di tepi lapangan.
"Aduh!" pekik bapak itu memegangi kepalanya yang terpukul bola.
Melihat situasi darurat tersebut, Arkan bergegas berlari menghampiri lapangan, disusul Reyhan yang sudah menggeram kesal melihat kelakuan ajaib adiknya.
"Aduh! Maaf sekali, Pak! Saya tidak sengaja!" panggil Aira panik, menangkupkan kedua tangannya dengan raut bersalah.
Pria paruh baya itu berbalik dengan wajah memerah, siap meluapkan kekesalannya. Namun sebelum makian keluar dari mulutnya, Arkan lebih dulu melangkah maju dan menarik lembut lengan Aira ke belakang tubuhnya.
"Mohon maaf yang sebesar-besarnya, Pak. Istri saya ini sedang hamil muda dan mendadak ngidam ingin main bola. Tadi sudah saya larang, tapi dia nekat lari ke lapangan. Saya minta maaf atas ketidaksengajaannya, apa Bapak ada yang terluka?" tutur Arkan dengan raut wajah sangat serius dan penuh penyesalan.
Aira dan Reyhan seketika membeku. Keduanya saling bertukar tatap dalam cengang yang luar biasa mendengarkan skenario spontan dari mulut sang dokter.
Ajaibnya, kebohongan Arkan bekerja sempurna. Amarah di raut wajah pria paruh baya itu luntur seketika, berganti rasa prihatin dan pemakluman.
"Oalah... Lagi hamil toh? Ya ampun, Mas, harusnya dijaga istrinya! Bawaan bayi memang suka aneh-aneh, tapi berbahaya kalau main bola begini. Saya tidak apa-apa, Mas, tidak luka kok," respon bapak itu melunak sepenuhnya.
"Iya, Pak, maafkan adik saya ini. Bawaan hamilnya memang agak ekstrem. Kemarin malah sempat ngidam mau mengunyah pecahan beling, untung kami cegah," pangkas Reyhan menambahi alibi sembari memberikan tatapan 'awas kamu' pada Aira.
Aira mendelik tajam ke arah Reyhan, menahan kekesalan yang membubung tinggi.
"Hahaha, ada-ada saja ngidamnya orang kota. Ya sudah, tidak apa-apa. Hati-hati ya, Neng!" ujar bapak itu ramah sembari mengembalikan bola ke anak-anak lalu berlalu pergi.
Setelah ancaman bahaya mereda dan pria itu menjauh, Aira langsung meledak.
"Kak Arkan! Bang Reyhan! Yang benar saja?! Dikira Aira lagi ikut pertunjukan reog pakai ngidam makan beling segala?!" semprot Aira bersungut-sungut.
"Kalau Arkan tidak bersilat lidah begitu, kamu sudah diseret ke balai desa sama bapak tadi!" omel Reyhan gemas. "Sudah! Masuk rumah dan ganti baju sekarang sebelum kamu beneran melahirkan di tengah lapangan bola!"
Melihat raut sang kakak yang siap meledak, Aira memanyunkan bibirnya rapat-rapat lalu berbalik berjalan cepat menuju rumah.
Reyhan kemudian berbalik menatap Arkan dengan napas terengah. "Kamu juga, Arkan! Bukannya dilarang, malah dibiarkan main bola pakai daster!"
Arkan mengerjapkan matanya, agak terpana karena mendadak ikut disemprot dan disalahkan oleh Reyhan. Padahal, niat awalnya ikut ke desa adalah untuk menjadi penengah dan membantu mereka berbaikan. Namun alih-alih menjadi pahlawan, ia justru berakhir menjadi korban salah sasaran dari keposesifan seorang Reyhan.
Tanpa membantah, Arkan memilih mengangguk pelan dan menyusul langkah Aira kembali ke rumah untuk bersiap pulang ke kota.
Bersambung__
_____