Lima sahabat Pramuka Penegak — Bima, Arga, Gilang, Maira, dan Elina— masuk ke Rimba Larangan hanya untuk mencari jejak yang hilang.
Satu langkah salah, mereka terperosok ke dimensi lain yang tak terlihat.
Saat Elina tiba-tiba hilang tanpa jejak, Maira panik dan berteriak memanggil namanya sekeras-kerasnya.
Itulah kesalahan fatal mereka.
Teriakan itu membangunkannya.
BHAYAVEDIN — makhluk buta Sang Perasa Takut yang memburu setiap suara. Semakin keras mereka berteriak, semakin dekat ia datang.
Kini mereka terjebak dalam aturan mengerikan: dilarang bersuara.
Dengan satu teman hilang di dalam kabut dan makhluk itu yang terus memburu, satu-satunya cara pulang adalah memecahkan kode rumit di Gerbang Kelima.
Tapi bagaimana memecahkan kode saat kau bahkan dilarang untuk berteriak meminta tolong?
Berhasilkah mereka keluar??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Narishea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 23 : Pohon Bermata
Bima dan teman-temannya melanjutkan perjalanan mereka menuju rute berikutnya.
Hari masih pagi. Cuaca dingin dan berkabut tebal, cukup membuat kelimanya menggigil. Teror di tenda semalam membuat kelimanya tidak bisa tidur nyenyak. Mereka berjalan dengan wajah kantuk yang lelah.
Setelah berjalan 15 menit, mereka sampai di wilayah rute berikutnya.
Hutan Pohon Bermata.
Awal masuk tidak langsung mencekam. Justru 20 meter pertama kebalikannya.
Heningnya enak. Adem. Mata-mata di batang semuanya merem, pules banget. Kelopaknya naik turun pelan, kayak orang tidur siang. Gak ada yang ngelirik.
Saking amannya, Gilang yang gendong carrier paling berat sampai berani napas lega lewat mulut. Pelan sih.
Mereka jalan nyeker. Sepatu dijinjing, kaos kaki diselipin di saku. Tanah hitamnya empuk, dinginnya pas, malah kayak karpet. Maira yang paling belakang, rambutnya diikat kuncir tinggi, kuncirnya goyang-goyang tiap dia jinjit.
Bima di depan buka jalan, nyingkirin akar pakai kayu biar gak keinjek.
Semuanya ngerasa, "oh, paling aturannya cuma jangan teriak aja."
Sampai mereka masuk 30 meter lebih dalam.
Cahaya dari atas makin ketutup daun. Kabut naik dari tanah, setinggi betis. Bau hutan berubah, dari bau tanah basah jadi bau asin. Bau orang nangis lama di bantal.
Maira yang di belakang berhenti jalan.
Ada yang dingin netes di ubun-ubun kepalanya. Pas di belahan rambut.
Tes...
Dia kira embun dari atas. Dia usap pakai punggung tangan.
Lengket.
Dia liat tangannya di remang-remang. Cairannya bukan bening. Putih keruh agak kuning, kental kayak ingus encer. Di cahaya redup keliatan berminyak.
Dia usap lagi ke rambut, mau bersihin. Tapi pas jarinya ngusap, rambut kuncirnya kayak ada yang ketarik sedikit ke atas.
Maira dongakin kepala pelan, takut kalau dongaknya kekencengan lehernya bunyi.
Di atasnya, ada batang pohon yang miring rendah, hampir nyentuh kepalanya. Di batang itu ada satu mata. Gak merem. Melek setengah, ngantuk, tapi pupilnya ngarah lurus ke bawah. Ngeliatin ubun-ubun Maira.
Dan dari ujung kelopak bawahnya yang merah, cairan putih itu ngumpul, makin gede, terus jatuh.
Tes... Jatuh lagi di kepala Maira.
Arga di sebelah Maira liat ke atas, ikutan dongak. Mukanya langsung pucat.
Bukan cuma satu batang. Di kanopi atas, di antara daun-daun gelap, ada akar-akar gantung yang menjuntai rendah. Dan di setiap ujung akar gantung itu, ada mata. Puluhan. Gede kecil beda-beda. Semua melek setengah. Semua lagi nangis tanpa suara. Semua netes cairan putih itu ke bawah.
Hutan ini lagi nangis. Pelan-pelan, kayak gerimis.
Tes... Tes... Tes....
Sekarang bukan cuma Maira. Bima yang di depan ngerasa bahunya dingin. Elina ngerasa tengkuknya basah. Gilang ngerasa carriernya jadi berat karena ketetesan.
Maira yang paling banyak, karena dia berdiri pas di bawah mata yang paling gede. Cairan itu udah netes dari rambut, ngalir ke dahi, ke pelipis, ke pipi. Dia ngerasa asin di bibir.
Bima ngusap cairan di tangannya sendiri. Pas dia perhatiin deket-deket, di dalam cairan putih keruh itu ada yang gerak.
Halus banget. Kayak benang jahit putih transparan, panjangnya seujung kuku, menggeliat-geliat di dalam cairan. Banyak.
Cacing mata.
Bima langsung ngerti. Air mata ini bukan air mata. Ini sarang.
Maira mulai gatal di kepalanya. Gatal banget, kayak kutuan. Dia gak tahan, dia garuk. Pelan dulu, terus makin kenceng karena gak tahan.
Srek... srek...
Kuku Maira kegores kulit kepalanya yang basah.
Suara garukannya kecil, tapi di hutan yang hening total itu, suara srek itu kedengeran sampai ke depan.
Detik itu juga...
Pletak!
Mata yang di atas Maira yang tadinya melek setengah, kebuka lebar. Full. Merah semua uratnya keluar. Pupilnya ngecilin, fokus, marah karena dibangunin.
Mata itu kedip sekali, kenceng.
Byurr...
Semua cairan yang ketahan di kelopaknya selama ini tumpah barengan. Sekepala Maira diguyur. Rambut kuncirnya basah kuyup, lepek, mukanya basah, kaos hitamnya basah sampai dada.
Maira merem, gak bisa liat. Dia ngerasa cacing-cacing benang putih itu sekarang ada di mukanya semua. Gerak-gerak di pipi, mau masuk ke sudut mata, ke lubang hidung, ke telinga. Dingin, geli, gatal.
Dia mau jerit, mulutnya udah kebuka.
Bima lari balik, gak peduli berisik. Dia langsung tarik selendang lehernya sendiri yang melingkar di leher, yang udah bau keringet, dia bekap muka Maira, dia lap kasar, sekuat tenaga. Sambil tangan satunya nutup mata, hidung, telinga Maira biar cacingnya gak masuk.
Cacing-cacing itu keusap, jatuh ke tanah hitam. Di tanah, mereka menggeliat sebentar, terus langsung masuk lagi ke tanah, hilang.
Di atas, mata yang udah kebuka lebar itu masih ngeliatin mereka berdua. Kulit kayu di bawah mata itu mulai sobek.
Srekk... pelan, keluar akar hitam kecil, tajam kayak jarum, mau turun nyolok.
Maira nangis, tapi nangisnya ditahan Bima pakai selendang leher itu, jadi cuma -huhu- ketahan.
Dia nunjuk ke atas pakai jari gemetar.
Akar-akar gantungan mata yang lain, yang tadi cuma nangis, sekarang satu-satu turun. Pelan, tapi pasti. Kayak rambut yang mau jatuh. Semua ngarah ke kepala Maira yang masih basah. Mau gantiin rambut kuncirnya.
Berlima gak ada pilihan, mereka mundur. Mundur jinjit, pelan-pelan, sambil Bima masih meluk kepala Maira pakai selendang leher biar gak ketetesan lagi.
Mereka mundur sampai punggung mereka mentok.
Mentok ke sesuatu yang gede, hangat, empuk. Bukan batang keras.
Pohon Induk.
Pohon paling gede di tengah hutan, batangnya sepuluh orang meluk gak cukup, kulitnya hitam, hangat, kayak kulit orang demam.
Dan dari belakang, tepat dari atas kepala mereka berlima yang lagi nempel di Pohon Induk itu...
Tes...
Tes...
Ada yang netes lagi. Barengan. Di kepala Bima, Gilang, Elina, Arga, Maira. Lebih kental dari tadi. Lebih banyak. Kayak lendir.
Pelan-pelan mereka dongak ke atas, ke batang Pohon Induk.
Mata raksasanya masih merem. Tapi dari sela kelopaknya yang jahit pakai akar, ngalir cairan kental itu terus.
Dan mereka baru sadar, cairan itu netesnya bukan karena nangis.
***
***