NovelToon NovelToon
IBU TIRI PENYELAMATKU

IBU TIRI PENYELAMATKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri / Balas Dendam / Action
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Icita

Setelah enam bulan wafatnya sang Ibu, Dea memutuskan meninggalkan rumah karena tidak tahan terhadap tekanan dan siksaan dari Paman, Bibi dan sepupunya yang sengaja ingin merebut warisan dari sang ayah yang merupakan seorang CEO sebuah perusahaan Ekspor-Impor bernilai ratusan triluin.

Takdir Pelarian Dea mempertemukannya dengan Tania, seorang gadis desa yang merantau ke kota untuk mencari keluarga dan asal usul jati dirinya.
Dea akhirnya mau kembali ke rumah setelah sang ayah menikahi Tania dan menjadi ibu tiri untuk Dea. Kembalinya Dea ke rumah menimbulkan ketidak sukaan dari paman dan bibi Dea, apalagi sekarang adanya Tania yang menjadi perisai hidup bagi Dea.

Banyak drama dan kejadian yang menguras emosi, banyak plot twist dalam setiap bab kejadiannya, baik dalam kehidupan Dea maupun kehidupan Tania dalam mencari keluarganya di ibukota.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Icita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rahasia di Balik Sampul Kulit dan Tarian Sang Predator

Tangan Tania gemetar saat ujung jemarinya menelusuri ukiran perisai dan mawar hitam di atas pelat kuningan buku harian itu. Udara di dalam kamar utama yang mewah mendadak terasa setipis kertas, mencekiknya dengan ribuan pertanyaan yang tak terjawab. Selimut bayi yang selama dua puluh tahun menjadi satu-satunya kompas identitasnya kini tergeletak berdampingan dengan buku harian milik mendiang istri pertama suaminya, Diana Adhitama. Ibunda Dea.

Dengan napas tertahan, Tania menggunakan jepit rambutnya untuk meretas gembok kuningan kecil yang mengunci buku tersebut. Terdengar bunyi klik yang pelan, dan buku harian itu pun terbuka. Halaman-halamannya mulai menguning, menebarkan aroma khas kertas tua dan sisa parfum melati yang samar. Tulisan tangan di dalamnya sangat anggun, namun pada halaman-halaman terakhir, goresan tinta itu tampak bergetar dan terburu-buru, seolah sang penulis tahu waktunya sudah hampir habis.

Mata Tania menyapu entri yang tertanggal tepat sepuluh hari sebelum kematian Diana yang dilaporkan sebagai "serangan jantung".

“Racun digitalis. Aku tahu Hendra menyampurkannya sedikit demi sedikit ke dalam tehku. Jantungku semakin lemah setiap harinya. Tapi aku harus pura-pura tidak tahu, pura-pura rapuh, demi mengulur waktu agar mereka tidak menargetkan Dea. Baskoro terlalu buta oleh kerajaannya sendiri hingga tak melihat ular berbisa bersembunyi di karpet rumahnya. Namun, Hendra hanyalah pion bodoh. Yang benar-benar aku takuti adalah bayangan di belakangnya. Sindikat Teratai Merah sudah menemukan jejakku. Jika mereka tahu aku adalah pewaris Mawar Hitam yang tersisa, Dea akan menjadi korban pembantaian selanjutnya. Oh, Tuhan... andai saja adik perempuanku tidak hilang malam itu dua puluh tahun yang lalu. Andai saja lambang persaudaraan kami utuh, kami tidak akan terus diburu seperti ini.”

Buku harian itu terlepas dari genggaman Tania, jatuh ke atas karpet tebal tanpa suara. Kakinya terasa kehilangan tulang, memaksanya terduduk di tepi ranjang.

Adik perempuan.

Selimut bayi berusia dua puluh tahun. Lambang Mawar Hitam. Air mata panas menggenang di pelupuk mata Tania. Selama ini, keluarga yang ia cari dengan susah payah ternyata telah berada di depan matanya. Mendiang ibu kandung Dea, wanita yang telah disingkirkan dengan keji di rumah ini, adalah kakak kandungnya sendiri! Itu berarti, Dea bukanlah sekadar putri tirinya. Dea adalah keponakan kandungnya, darah dagingnya sendiri. Fakta ini menghantam dada Tania bagai godam besi, mengubah empati dan rasa kasihannya menjadi pusaran amarah yang gelap dan mematikan. Paman, bibi, dan sindikat mana pun yang terlibat dalam kematian kakaknya harus membayar mahal.

Sementara itu, di sudut tergelap ibu kota yang tak tersentuh hukum, dentuman musik berdentang memekakkan telinga di sebuah klub bawah tanah. Hendra duduk gelisah di sebuah sofa kulit berwarna merah marun, keringat dingin membasahi kemeja mahalnya. Di seberangnya, duduk seorang pria dengan setelan jas hitam tanpa dasi, memutar-mutar gelas berisi wiski dengan jari-jarinya yang dipenuhi cincin perak tebal. Pria itu adalah Dirga, seorang fixer atau penyelesai masalah dari dunia bawah yang terkenal dengan kekejamannya.

"Kau berjanji uang itu akan cair minggu lalu, Hendra," suara Dirga serak, menembus kebisingan musik di luar ruangan kedap suara itu. "Bos besar tidak suka dibuat menunggu. Hutangmu sudah menembus angka empat puluh miliar."

"Aku punya rencana yang tertunda, Dirga! Percayalah padaku," Hendra menelan ludah, suaranya bergetar. "Ibu tirinya yang baru, perempuan kampung bernama Tania itu, dia merusak segalanya! Dia bukan wanita biasa, dia punya bela diri dan memegang bukti aliran danaku. Tapi jika kau membantuku menyingkirkannya... dan membuat kematian keponakanku, Dea, terlihat seperti kecelakaan, aku akan mewarisi seluruh perusahaan Baskoro! Aku akan membayar hutangku sepuluh kali lipat, dan memberimu tiga puluh persen saham perusahaan!"

Dirga menghentikan putaran gelasnya. Matanya yang sipit menatap Hendra dengan minat yang baru. Menyingkirkan seorang wanita dan anak remaja bukanlah hal sulit bagi organisasinya. Namun, janji tiga puluh persen saham dari kerajaan bisnis Adhitama adalah tawaran yang terlalu menggiurkan untuk dilewatkan.

"Beri aku denah rumahmu dan jadwal penjagaan keamanan," ucap Dirga dingin. "Malam ini, kalian sekeluarga minumlah obat tidur dan pura-pura tuli. Besok pagi, rumah itu akan kehilangan nyonya dan pewaris barunya."

Matahari baru saja terbenam, memoles langit Jakarta dengan warna jingga keunguan yang suram. Di taman belakang kediaman Adhitama, Tania berdiri berhadapan dengan Dea. Gadis remaja itu mengenakan pakaian olahraga, napasnya terengah-engah dengan keringat membasahi dahi.

"Lagi, Dea," perintah Tania, nadanya tegas, tak ada lagi kelembutan seorang ibu sambung yang memanjakan.

"Aku capek, Kak... eh, Ibu. Tanganku kebas," keluh Dea, memegangi pergelangan tangannya yang memerah akibat latihan menangkis pukulan selama dua jam penuh.

Tania melangkah maju, menatap mata Dea dalam-dalam. "Sangkar ini penuh dengan ular berbisa, Dea. Malam ini, esok, atau lusa, bahaya akan datang, dan aku mungkin tidak selalu berada satu jengkal di sampingmu. Kakimu harus bisa menjejak sendiri. Tanganmu harus bisa melindungi wajahmu sendiri. Kau adalah putri dari klan yang kuat, darah yang mengalir di nadimu adalah darah pejuang. Jangan biarkan mereka membuatmu berpikir kau lemah!"

Mendengar kata-kata itu, sesuatu di dalam diri Dea tersentak. Selama ini ia selalu menempatkan dirinya sebagai korban yang tak berdaya. Namun melihat keteguhan di mata Tania, Dea mengangguk pelan. Ia kembali memasang kuda-kuda, matanya menajam. Mereka kembali berlatih hingga malam benar-benar turun menyelimuti bumi.

Malam itu, jarum jam menunjuk angka dua dini hari. Hujan gerimis mulai turun, meredam suara langkah kaki apa pun di atas paving block halaman rumah. Seluruh penghuni rumah tampak terlelap, termasuk Hendra, Rika, dan Siska yang telah mengunci rapat kamar mereka sesuai instruksi Dirga.

Tiga sosok berpakaian serba hitam menyusup masuk melalui pintu dapur yang akses kuncinya telah dibobol secara digital. Mereka bergerak tanpa suara layaknya bayangan hantu, menaiki tangga melingkar menuju lantai dua. Target pertama mereka adalah kamar Dea.

Pemimpin penyusup itu, seorang pembunuh bayaran elite bertubuh kekar, menempelkan telinganya ke pintu kamar Dea. Sunyi. Ia memberi isyarat kepada dua rekannya, lalu perlahan memutar kenop pintu yang ternyata tidak terkunci.

Namun, saat pintu itu terbuka, kamar Dea kosong melompong. Ranjangnya tersusun rapi tanpa ada sosok yang tertidur di atasnya.

Sebelum pembunuh itu menyadari apa yang terjadi, pintu kamar utama di seberang lorong terbuka pelan. Di ambang pintu, berdirilah Tania. Ia tidak mengenakan gaun sutra, melainkan pakaian bela diri tradisional berwarna hitam pekat. Rambut panjangnya digelung tinggi, diikat dengan tusuk konde logam yang ujungnya runcing berkilat. Dea berada aman di belakangnya, di dalam kamar utama, memegang sebuah tongkat pemukul bisbol dengan tangan bergetar namun tatapan penuh tekad.

"Kalian merusak karpet mahalku dengan sepatu berlumpur itu," suara Tania memecah keheningan malam, dingin dan setajam silet.

Ketiga penyusup itu terkejut, namun segera mencabut belati karambit dari sabuk mereka dan menerjang maju serentak. Mereka tidak tahu bahwa mereka baru saja membangunkan naga yang sedang tertidur.

Penyusup pertama mengayunkan belatinya ke arah leher Tania. Alih-alih mundur, Tania menunduk tajam, merendahkan pusat gravitasinya. Ia menyapu kaki penyusup itu dengan putaran tumit yang brutal, disusul dengan hantaman siku telak ke rusuk sang musuh hingga terdengar bunyi tulang retak yang mengerikan. Penyusup itu roboh tanpa sempat menjerit, karena Tania langsung menekan titik syaraf di pangkal lehernya, membuatnya pingsan seketika.

Dua penyusup lainnya tersentak. Mereka menyadari ini bukan sekadar perkelahian biasa; wanita di depan mereka adalah master bela diri murni tingkat tinggi. Keduanya menyerang dari dua sisi berbeda. Tania bergerak seolah sedang menarikan tarian kematian. Ia menangkap lengan penyusup kedua, menggunakan momentum serangan pria itu sendiri untuk membantingnya melewati bahunya, langsung menabrak penyusup ketiga hingga keduanya terjerembap ke dinding lorong.

Dalam hitungan kurang dari tiga menit, ketiga pembunuh bayaran itu telah terkapar tak berdaya, mengerang kesakitan dengan persendian yang dilucuti.

Tania mencengkeram kerah pemimpin penyusup yang masih setengah sadar, mengangkat kepalanya agar menatap wajahnya. "Siapa yang mengirimmu? Jawab, atau kupatahkan lehermu perlahan-lahan."

Pria itu meludah darah, tersenyum mengejek. "Kau tidak tahu... dengan siapa kau berurusan, pelacur. Teratai Merah... tidak akan pernah... melepaskan keturunan Mawar Hitam."

Mata Tania melebar. Pria ini bukan sekadar suruhan Hendra atau rentenir biasa. Ini adalah sindikat pembunuh internasional yang memburu kakaknya.

Tiba-tiba, suara tepuk tangan pelan terdengar dari ujung lorong tangga yang gelap. Seorang pria jangkung melangkah keluar dari bayang-bayang. Ia mengenakan jas panjang berwarna kelabu, wajahnya setengah tertutup oleh bayangan, namun aura membunuh yang dipancarkannya seratus kali lipat lebih pekat daripada ketiga kroco yang terkapar di lantai.

"Gaya Tarung Rajawali Selatan, dipadukan dengan kuncian mematikan dari aliran kuno... Luar biasa indah," ucap pria misterius itu. Suaranya berat dan bergema. Ia adalah Dirga, yang datang untuk memastikan pekerjaan kotor ini selesai.

Mata Dirga turun, menatap tusuk konde berukir mawar hitam di rambut Tania, lalu ia tersenyum miring. "Ternyata rumor itu benar. Pewaris kedua Mawar Hitam tidak mati di dalam hutan dua puluh tahun yang lalu. Kau tumbuh menjadi iblis yang cantik. Sayang sekali, malam ini kau harus menyusul kakakmu."

Tania berdiri tegak, merentangkan tangannya memasang kuda-kuda pertahanan paripurna, menutupi tubuh Dea yang mengintip pucat dari balik pintu kamar. Jantung Tania berdetak kencang, bukan karena takut, melainkan karena darah juangnya mendidih. Dendam yang baru saja mekar dalam dadanya kini menemukan muaranya.

"Kau salah," desis Tania, sorot matanya menyala dalam kegelapan lorong itu layaknya predator yang mengunci mangsa terbesarnya. "Malam ini, tidak ada yang mati kecuali kalian yang berani masuk ke sarangku."

1
sunaryati jarum
Mantaaap technologynya
sunaryati jarum
Bermimpilah setinggi langit Baskoro,bilang jatuh nanti langsung remek
sunaryati jarum
Makin penasaran
sunaryati jarum
Perang antara klan
sunaryati jarum
Wonder woman kamu Tania
sunaryati jarum
baru mampir
Icita: Tks KK, semoga betah y.. sehat selalu
total 1 replies
ceuceu
ga kebaca alur ceritanya,ternyata beda dari prediksi pembaca,keren sih
ceuceu
Baru mulai baca.
sejauh ini sy suka ceritanya,sy kasi like thor
Icita: mkasih kk, sehat selalu..💪💪
total 1 replies
Nica
sangat suka dan luar biasa...lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!