NovelToon NovelToon
Begin Again

Begin Again

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Mantan / Cintapertama
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Lunes_

📍Update 🚥 16 : 16 WIB


Duabelas tahun lalu, Elfiana Putri (Elle) dikhianati oleh taruhan konyol cinta pertamanya, William Adinata (Liam). Kini, takdir membawa mereka kembali dalam sebuah pernikahan pura-pura demi sang Papa.
Di antara luka masa lalu yang belum sembuh dan kebenaran yang perlahan terkuak, bisakah Elle menjaga hatinya agar tidak hancur untuk kedua kalinya?


❣️ I write what I want to write. ❣️

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunes_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

22 - It's Not Like That

Alarm pagi membangunkanku yang sedang terlelap.

Aku langsung membuka mata dan meregangkan tubuhku. Setelah mematikan alarm, aku bangkit, mengambil baju, lalu keluar kamar.

Begitu keluar kamar, aku tersadar bahwa aku tidak sendirian di apartemenku.

Kulihat Liam masih terlelap di balik selimut yang membungkus tubuhnya di sofa. Namun, aku tidak berniat membangunkannya.

Untuk apa?

Siapa aku?

Aku bukan istrinya yang harus membangunkannya.

Aku langsung menuju kamar mandi.

Air shower yang segar menyapu tubuhku. Namun, tiba-tiba aku teringat kejadian kemarin.

Aku kram haid.

Aku pingsan.

Dan...

Liam yang begitu perhatian kepadaku.

Aku langsung mematikan shower dan terdiam.

Liam yang kemarin begitu perhatian kepadaku sama seperti Liam dua belas tahun lalu.

Dulu, pernah suatu ketika aku menonton Liam dan teman-temannya bermain basket. Tanpa sengaja, salah satu temannya melempar bola hingga melesat keluar lapangan dan mengenai kepalaku.

Liam langsung menghampiriku. Dia terlihat begitu khawatir, lalu membawaku ke UKS.

Aku langsung menggelengkan kepala.

"Ingat, Elle. Liam udah jadiin kamu bahan taruhan. Semuanya hanya akting, Elle," ucapku pada diriku sendiri.

Aku menghela napas, lalu menyalakan shower kembali dan melanjutkan mandiku.

Setelah selesai mandi, aku langsung keluar. Liam masih belum juga bangun.

Aku tetap tidak berniat membangunkannya.

Aku langsung menuju dapur. Awalnya aku hendak mengambil roti, tetapi teringat pesan dokter kemarin.

Akhirnya, aku mengurungkan niat untuk makan roti.

Aku mengambil beras dan berniat menanak nasi, lalu membuat nasi goreng.

Selagi menunggu nasi matang, aku menyiapkan bumbu-bumbu untuk membuat nasi goreng.

Setelah nasi matang, aku langsung memasaknya.

Saat sedang mengaduk-aduk nasi di dalam wajan, tiba-tiba terdengar suara Liam.

"Ehm... Apa ini? Wangi banget," ucap Liam.

Aku menoleh.

"Kamu lagi bikin apa?" tanya Liam.

"Nasi goreng," jawabku, lalu kembali menatap wajan.

Tiba-tiba Liam mendekat.

"Wah, kelihatannya enak. Aku nggak sabar mencicipinya," ucap Liam.

"Ini buat aku. Bukan buat kamu," ucapku.

"Buat kamu, tapi kenapa kamu bikinnya banyak? Emang bisa habis?" tanya Liam.

"Kalau nggak habis, ya buat nanti malam."

"Emang nggak basi?"

"Nggak kalau dipanasin lagi."

"Jangan keseringan makan masakan yang dipanasin. Kurang baik," ucap Liam.

"Apa sih? Liam, kamu itu bukan siapa-siapa aku. Jangan bertingkah seolah-olah kamu itu suamiku," ucapku kesal.

"Sekarang memang aku bukan suamimu, tapi sebentar lagi aku akan jadi suamimu," ucap Liam.

Aku mendecakkan lidah.

Lalu aku diam dan kembali melanjutkan memasak nasi goreng.

Tiba-tiba Liam mengambil sedikit nasi dari wajan dengan tangannya dan langsung memakannya.

"Eh!" Aku terkejut.

"Hmm... enak juga," ucap Liam.

"Kenapa kamu ambil? Kan ini punya aku," ucapku kesal.

Liam tertawa kecil.

"Kenapa kamu malah tertawa?" tanyaku.

"Kamu lucu. Kamu kayak anak kecil yang mainannya diambil temannya," ucap Liam.

"Lha, kan ini buat aku doang. Eh, malah kamu ambil," ucapku.

"Kamu pelit banget sih, Elle. Aku juga butuh sarapan, lho," ucap Liam.

"Kamu beli aja sana. Kamu kan kaya," ucapku.

"Kenapa sih kamu bilang aku kaya terus?" tanya Liam.

"Kan kamu memang kaya," jawabku.

"Tapi dari cara kamu ngomong, kamu kayak nggak suka sama aku yang sekarang. Perasaan dulu kamu nggak gini."

"Ya, dulu kan aku nggak tahu latar belakang kamu. Kamu nggak pernah cerita."

"Aku nggak cerita karena aku mau kamu suka sama aku karena aku, bukan karena latar belakangku," ucap Liam.

Hening.

Aku terdiam sejenak.

"Ah, udah. Sana kamu mandi. Kamu bau," ucapku akhirnya.

“Masa sih?”

“Iya.”

"Ya udah, mana handuknya?"

Aku menghela napas.

Aku mematikan kompor, lalu menuju kamarku untuk mengambil handuk.

Begitu kembali ke dapur, kulihat Liam sedang mengaduk-aduk nasi goreng di dalam wajan.

"Ini," ucapku sambil menyerahkan handuk kepadanya.

"Tolong ambilin dua piring dulu," pinta Liam.

"Itu buat aku semua, Liam," ucapku.

"Iya, iya. Yang satu buat kamu sarapan, yang satu buat makan malam kamu," jawab Liam santai.

Aku diam.

Lalu aku mengambil dua piring dan meletakkannya di meja makan.

Setelah itu, Liam menuangkan nasi goreng ke dalam dua piring tersebut, lalu meletakkan wajannya kembali di atas kompor.

Liam kemudian mengambil handuk yang tadi aku taruh di bahuku dan masuk ke kamar mandi.

Begitu Liam masuk ke kamar mandi, aku duduk di kursi di hadapan dua piring nasi goreng itu.

Aku menatap kedua piring tersebut.

Sepertinya aku akan terlihat jahat kalau semua nasi goreng itu kumakan sendiri, sementara ada orang lain yang juga membutuhkan sarapan.

Akhirnya, aku memutuskan untuk makan satu piring saja dan membiarkan satu piring lainnya untuk Liam.

Tepat saat aku selesai makan, Liam keluar dari kamar mandi.

Dia kemudian duduk di sofa dan menelepon sopirnya.

Aku diam memperhatikannya sambil minum.

"Pak, tolong jemput saya di tempat kemarin sekarang. Terima kasih, Pak," ucap Liam.

Aku menatap piring nasi goreng yang masih tersisa, lalu mendorongnya sedikit ke tengah meja.

"Ini, buat kamu aja," ucapku.

"Katanya itu buat kamu semua," ucap Liam.

"Nggak jadi. Nanti malam aku makan yang lain aja."

Aku kemudian membawa piring dan gelasku ke wastafel.

Setelah itu, aku mendekat ke arah Liam.

"Selimut dan bantalnya, tolong," ucapku.

Liam memberikan selimut dan bantal kepadaku. Setelah itu, aku masuk ke kamar.

Aku menaruh selimut dan bantal di atas tempat tidur, lalu merias wajahku.

Setelah selesai, aku mengambil tas dan ponsel, lalu keluar kamar.

Begitu keluar kamar, aku melihat Liam sedang mencuci piring.

"Hei, kenapa kamu malah nyuci piring? Udah, di situ aja. Nanti aku yang nyuci," ucapku.

"Nggak apa-apa. Lagian kamu kan udah masak. Jadi, gantian aku yang nyuci piring," jawab Liam.

Eh?

Aku pun duduk di kursi meja makan sambil memperhatikan Liam mencuci piring.

Kulihat lengan kemejanya digulung hingga lengannya terlihat. Tanpa sadar, aku memperhatikannya.

Lengannya terlihat lebih berisi dibandingkan dulu.

Kenapa bisa seperti itu?

Apa dia sering olahraga?

Aku langsung menggelengkan kepala.

Kenapa aku malah memperhatikan lengannya?

Aku kemudian menepuk-nepuk kedua pipiku.

Liam menoleh.

"Ada apa?" tanyanya.

"Ah... ada nyamuk," jawabku berbohong.

"Oh...."

Tak lama kemudian, Liam selesai mencuci piring. Dia lalu mengambil jas dan ponselnya.

"Kamu berangkatnya bareng aku aja," ucap Liam.

"Eh, nggak usah. Aku bisa pakai ojol kok," jawabku.

"Nggak. Kamu bareng aku. Lagian kamu kan sekarang pacarku," ucap Liam.

"Pacar pura-pura," sahutku.

"Iya, pacar pura-pura. Kalau kamu ikut aku, kamu bisa hemat ongkos, lho," ucap Liam.

Benar juga.

Tapi...

"Udah, ayo. Nanti kita telat, lho," ucap Liam seraya berjalan keluar.

Aku pun mengikutinya dari belakang hingga kami masuk ke dalam lift.

Lift turun hingga akhirnya terbuka di lantai satu. Aku dan Liam keluar dari lift, lalu berjalan keluar gedung.

Kami berdua menuju depan gedung dan berdiri di tepi jalan, menunggu sopir Liam datang.

Beberapa saat kemudian, sopirnya datang. Aku dan Liam lalu masuk ke dalam mobil dan meninggalkan apartemenku.

Sepanjang perjalanan, kami hanya diam.

Aku bersandar di jendela sambil menatap jalanan yang ramai.

Beberapa menit kemudian, kami sampai di kantorku.

Setelah mengucapkan terima kasih, aku langsung keluar dari mobil dan masuk ke gedung kantorku. Aku kemudian masuk ke dalam lift bersama beberapa karyawan lainnya.

Beberapa saat kemudian, lift terbuka di lantai kantorku. Aku langsung keluar.

"Pagi, Risa..." sapaku.

"Elle? Kamu berangkat? Kamu udah sehat? Aku kaget dengarnya kemarin kamu pingsan," ucap Risa.

"Aku udah nggak apa-apa, kok. Kemarin cuma karena lagi kram haid aja," jawabku.

"Oh..."

"Ya udah, aku masuk dulu, ya."

Risa mengangguk.

Aku berjalan masuk hingga sampai di divisiku.

"Pagi...." sapaku.

"Pagi...." jawab semua orang.

Bintang langsung mendekat ke arahku.

"Kamu udah baikan, Elle?" tanyanya.

"Udah. Makanya aku bisa berangkat sekarang," jawabku.

"kemarin aku kaget waktu Sinta bilang di grup kalau kamu pingsan. Aku pengen ikut ke rumah sakit, tapi udah ada Mona dan Aldi. Ya udah deh," ucap Bintang.

"Elle... Kemarin Aldi kelihatan khawatir banget, lho, sama kamu," ujar Rendi.

Aku langsung menatap ke arah Aldi.

"Iya, bener. Dia sesuka itu, lho, sama kamu. Yakin nggak mau terima dia?" tanya Nino.

"Hei, kalian. Udah... Aku nggak apa-apa, kok," ucap Aldi.

"Udah ada orang yang aku suka," ucapku begitu saja.

Aku berbohong.

Aku ingin Aldi melupakan perasaannya terhadapku. Karena sampai kapan pun, aku tidak akan bisa membalas perasaannya.

"Apa?!" Semua orang terkejut.

"Siapa, Elle?" tanya Bintang.

"Iya, Elle. Jangan bikin anak orang patah hati dua kali dong," ujar Rendi.

"Apa Pak William?" tanya Aldi.

"Kenapa kamu langsung berpikiran dia?" tanyaku.

"Soalnya sejak pertama kali kalian ketemu, tatapan kamu ke dia beda. Kamu terkejut kayak orang terpesona," ujar Aldi.

"Aku nggak gitu, ya. Dan, Aldi... tolong kamu jangan berasumsi tentang sesuatu yang belum kamu ketahui faktanya. Kalau kamu cemburu sama Pak William, ya silakan. Tapi tolong jangan berasumsi seolah-olah aku sukanya pria kaya kayak Pak William," ucapku sedikit kesal.

Aldi terdiam.

"Kamu nggak tahu apa yang aku alami dulu. Jadi, tolong jangan berasumsi seenaknya sendiri," lanjutku.

Hening.

Aku kemudian menuju mejaku dan menyalakan komputer.

Tiba-tiba ada pesan dari Mona.

Aku menoleh sebentar ke arahnya, lalu membaca pesannya.

[ Siapa orang yang kamu suka? Beneran bukan Pak William, nih? ]

Aku langsung membalas.

[ Aku tadi cuma bohong biar Aldi lupain perasaannya ke aku. ]

Mona membalas.

[ Gila kamu, Elle. Bohongin anak orang. Oh iya, katanya kemarin Pak William nginep lagi di tempat kamu. Hayo, kalian ngapain? ]

Aku kesal membacanya.

[ Nggak ngapa-ngapain, lah. Gila aja aku ngapa-ngapain sama orang yang udah nyakitin aku. ]

Mona membalas lagi.

[ Siapa tahu kalian terbawa suasana. ]

Aku mengepalkan tangan, lalu membalas pesan Mona.

[ NGGAK!!! ]

Setelah itu, aku mengirim stiker orang marah.

Terbawa suasana?

Tidak akan!

Tidak akan kubiarkan itu terjadi.

Meski nanti aku dan Liam akan menikah, aku tidak akan membiarkan dia menyentuhku.

Tidak akan!

1
Srie Wahyuni
nezt thor , like this 👍
사기타
Tidak akan? 😄 lihat aja nanti gimana. 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!