NovelToon NovelToon
Pengantin Dalam Kegelapan

Pengantin Dalam Kegelapan

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Pengantin Pengganti / Perjodohan / Roman-Angst Mafia / Mafia
Popularitas:691
Nilai: 5
Nama Author: Ladies_kocak

Bagi Celeste Delacroix, sinar matahari adalah vonis mati. Mengidap penyakit langka, hidupnya terkurung dalam kegelapan dan selalu dibanding-bandingkan dengan kembarannya, Caelia, yang dipuja bagai dewi.

Ketika Caelia menolak dijodohkan dengan Lucian St. Claire, milyarder dingin yang bisu akibat trauma, keluarga Delacroix secara licik menumbalkan Celeste untuk menggantikan posisinya di altar pernikahan.

Di balik gaun pengantin dan rahasia besar penyakitnya, Celeste masuk ke kediaman St. Claire. Namun, Lucian yang tak bersuara justru menjadi satu-satunya orang yang mampu memahami bahasa luka Celeste. Di tengah kebohongan yang rapi, akankah cinta mereka bertahan saat kebenaran akhirnya terungkap?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ladies_kocak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jejak yang tertinggal

Bisikan serak Lucian yang berhembus di ceruk lehernya membuat darah Celeste mendadak berdesir hebat. Senyum manis bekas rasa es krim di bibirnya seketika membeku. Ia reflek merapatkan bahunya, memegangi cup es krim di tangannya dengan jemari yang memutih.

​"Kamu... selalu saja berpikiran ke sana," desis Celeste sangat pelan, setengah berbisik agar para keponakan kecil yang masih berada di sekitar mereka tidak mendengar. Matanya bergulir cemas, melirik anak-anak yang kini sibuk berebut topping meses.

​Lucian tidak menjawab dengan ucapan. Pria itu hanya menarik sudut bibirnya tipis—sebuah ukiran senyum tipis nan arogan yang amat menawan. Tangan besarnya terulur, ibu jarinya bergerak lembut menyapu sisa krim vanila yang tertinggal di sudut bibir Celeste, lalu tanpa ragu memasukkan jari itu ke dalam mulutnya sendiri di hadapan sang istri.

​Pipi Celeste membara bagaikan terbakar. Ia dengan cepat berbalik badan, menyembunyikan rona merah di wajahnya seraya melangkah menjauh menuju sofa panjang di ruang keluarga tempat Eleanor dan Flavio sedang bersantai.

​"Kenapa mukamu merah begitu, Celeste?" tanya Flavio terkekeh saat melihat adik iparnya duduk dengan napas yang sedikit tidak teratur. "Lucian menjahilimu?"

​"Tidak begitu, Kak," jawab Celeste cepat, memakan sisa es krimnya dengan gerakan kaku. "Hanya... sedikit hangat di dalam ruangan."

​Eleanor yang duduk di sebelah Flavio tersenyum mengusap bahu Celeste penuh kasih. "Lucian itu dari kecil memang kaku dan dingin, Celeste. Tapi sejak ada kamu, Mommy bisa melihat tatapan matanya jauh lebih hidup. Perhatikan saja bagaimana matanya tidak pernah lepas memandangi setiap pergerakanmu."

Celeste hanya bisa membalas senyuman kaku, karena jujur tak tahu harus menjawab apa.

"Celeste, Sayang... Mommy boleh tanya sesuatu?" ujar Eleanor lembut.

"Boleh, Mom. Ada apa?" jawab Celeste seraya memangku cup es krimnya.

"Apakah ada... perubahan sikap Lucian yang terasa aneh atau membuatmu bingung setelah kalian menikah?" tanya Eleanor, menatap lurus mata hazel Celeste dengan penasaran sekaligus penuh perhatian.

Celeste terdiam sejenak. Ia meremas sendok plastik di tangannya, mengingat kejadian semalam di mansion mereka. "A-ada, Mom," jawab Celeste jujur. "Di malam pertama kami... Lucian terlihat sangat berbeda dari sosok yang aku kenal selama ini. Bahkan... dia tiba-tiba bisa berbicara."

Bukannya terkejut, Eleanor justru terkekeh kecil, menepuk punggung tangan Celeste dengan lembut. "Mommy sudah menduga kamu pasti bingung."

Eleanor menghela napas panjang, merapikan duduknya untuk memberi penjelasan yang mendalam. "Sebenarnya... Lucian itu bisa berbicara setiap jam 9 malam ke atas, Sayang. Di siang hari, pita suaranya seolah terkunci dan dia tidak bisa mengeluarkan suaranya sama sekali akibat trauma hebat yang dialaminya dulu."

Mata Celeste membelalak pelan. Sebuah batu besar yang menyumbat dadanya seketika terangkat. Jadi Lucian tidak sedang mempermainkannya dengan pura-pura bisu!

"Lucian yang bisa berbicara di atas jam 9 malam itu adalah sisi beraninya, sisi di mana mekanismenya bangkit untuk melindungi diri," lanjut Eleanor dengan nada serius namun hangat. "Tapi kamu tidak perlu khawatir. Dia tidak punya kepribadian ganda. Dia tetap orang yang sama, dan dia ingat betul setiap hal yang dia lakukan saat malam tiba. Hanya saja, dorongan emosi dan keberaniannya jauh lebih mendominasi di malam hari."

Celeste terpaku, mencerna setiap kata mertuanya.

Melihat keterdiaman menantunya, Eleanor memiringkan kepala. "Kenapa kamu tidak bertanya tentang trauma apa yang sebenarnya dialami Lucian?"

Celeste menunduk kaku, mengusap cangkir es krimnya. "A-aku takut itu hal privasi Lucian, Mom... Aku tidak berani lancang."

Eleanor tersenyum kuyu, menggelengkan kepala. "Tidak, Sayang. Kamu adalah istrinya, kamu berhak mengetahui semua tentang Lucian. Kalau menunggu dia menceritakannya sendiri... entah sampai kapan. Kebiasaan pria di keluarga ini sangat gengsi menceritakan masa lalunya yang kelam."

Celeste menatap Eleanor ragu, lalu berbisik pelan, "Apa... apa aku benar-benar boleh mengetahuinya, Mom?"

"Tentu saja boleh," jawab Eleanor mantap. Raut wajahnya berubah sendu, matanya menerawang menembus kenangan belasan tahun silam.

"Dulu saat Lucian masih kecil, dia punya paras yang sangat tampan untuk ukuran anak-anak. Ketampanan itu justru membawa petaka... Banyak orang dewasa yang secara terang-terangan terobsesi padanya. Pengasuh pribadinya sendiri sering menyentuhnya secara berlebihan."

Celeste menahan napasnya, dadanya mendadak terasa sesak mendengarnya. Masa kecil suaminya mengalami hal semacam itu? Pantaskah orang dewasa bersikap seperti itu terhadap anak kecil?

"Puncaknya, pengasuh laknat itu menjual Lucian ke komplotan penculik anak-anak," suara Eleanor mulai bergetar menahan amarah yang terpendam. "Kamu tahu apa yang mereka lakukan pada anak-anak di sana? Mereka tidak memberi mereka makan. Dan yang paling mengerikan... para penculik itu bersetubuh secara terbuka di depan anak-anak kecil yang disekap."

Deg.

Celeste membelalak horor. Tangannya gemetaran hebat, kedua matanya berkaca-kaca menahan penderitaan yang tak terbayangkan. Bayangan bagaimana seorang anak kecil harus menyaksikan kekejaman dan kebejatan seperti itu menghantam dadanya hingga terasa remuk.

"Bayangkan... anak sekecil itu harus menyaksikan hal sekeji itu setiap hari," bisik Eleanor dengan mata berkaca-kaca. "Sampai akhirnya, naluri bertahan hidup dan sisi beraninya tercipta secara paksa. Lucian kecil... membantai semua penculik itu dan pengasuhnya dengan kedua tangannya sendiri sebelum kami menemukannya."

Air mata Celeste akhirnya menetes melintasi pipinya. Hatinya hancur berkeping-keping membayangkan masa kecil suaminya yang begitu kelam dan berdarah.

"Setelah kami membawanya pulang, dia mengalami trauma berat," sambung Eleanor, memegang erat kedua tangan dingin Celeste. "Dia benci dan jijik disentuh oleh perempuan. Sampai dia dewasa, dia selalu merasa jijik pada wanita di luar keluarga kami. Makanya, Mommy sungguh terkejut dan bersyukur... saat bersama kamu, dia sama sekali tidak merasa jijik. Kamu adalah pelengkap dan penawar yang selama ini dia butuhkan, Celeste."

Celeste mengusap air matanya, menatap Eleanor dengan perasaan campur aduk, iba, haru, dan rasa hormat yang mendalam pada perjuangan hidup suaminya.

Eleanor mendadak tersenyum goda, mencubit pelan pipi Celeste untuk mencairkan suasana. "Tapi ingat pesan Mommy... Lucian yang di atas jam 9 malam itu sangatlah mesum dan liar. Kamu harus ekstra hati-hati menanganinya."

Blush!

Seketika rona merah padam membakar seluruh wajah dan leher Celeste. Ingatan akan pergulatan gila enam ronde mereka di malam pertama langsung berputar liar di kepalanya. Jadi sifat liar tak kenal ampun itu memang bawaan dari sisi beraninya?!

"Mommy...!" cicit Celeste malu bukan main, menyembunyikan wajahnya pada kedua tangannya.

Tiba-tiba, langkah kaki tegap mendekat. Lucian sudah berdiri di samping sofa dengan jas yang tersampir di lengannya. Pria itu menatap istrinya yang sedang merona hebat dengan alis terangkat samar, lalu berkata dengan suara berat.

"Mom, aku mengajak Celeste pulang sekarang. Malam sudah semakin larut"

Eleanor tertawa pelan melihat keposesifan putranya. "Iya, iya, bawa istri cantikmu pulang. Hati-hati di jalan, Lucian."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!