NovelToon NovelToon
CINTA KETIGA GUZ AZAM Ning Sopiah Yang Ku Kagumi

CINTA KETIGA GUZ AZAM Ning Sopiah Yang Ku Kagumi

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Aurelia Sadewa

Ning sopiah

Aku adalah santri Alumni Pesantren Darunajjah yang sudah lulus S1 Ilmu Tafsir Hadis.
Dulu aku adalah santai yang aktif dan cerdas di pesantren, Kiayi Kholil Pendiri dan Pemilik Pesantren sering menyebut ku ini calon mantu... tapi aku selalu tidak menghiraukan beliau, aku anggap itu candaan.

Empat tahun sudah berlalu setelah aku selesai S1, tiba-tiba aku diminta untuk kembali ke Pesantren.
Aku kaget Kiayi Kholil telah meninggal 3 tahun yang lalu dan di teruskan oleh Anak nya Gus Azam yang aku pun tak pernah bertemu, karena sewaktu aku mondok gus azam kuliah di Kairo Mesir....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurelia Sadewa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Murojaah Yang Tertunda

Jam 10 malam, motor Gus Azam baru pelan-pelan masuk gerbang Darunnajah. Hujan rintik masih nempel di jas hujan.

Di ndalem, lampu kamar Ning Sopiah masih nyala kuning temaram.

Ning Sopiah udah ganti mukena jadi daster santri yang panjang, kerudungnya dilipet di leher. Di meja kecil samping tempat tidur, ada dua kitab yang sudah berdebu tipis karena seminggu gak disentuh. Kitab Ta'lim Muta'alim yang biasanya jadi pegangan, dan di bawahnya ada dua kitab yang sampulnya masih wangi baru.

Sopiah duduk di tepi kasur, kakinya digoyang-goyangin pelan. Matanya ngantuk, tapi hatinya masih deg-degan nunggu.

Pintu diketuk pelan, tiga kali.

"Assalamualaikum, Ning."

Suara Gus Azam dari luar, masih pelan tapi berat.

Sopiah langsung berdiri, benerin kerudungnya yang agak miring, "Waalaikumsalam, Gus. Masuk Gus."

Gus Azam masuk, pecinya masih basah pinggirannya, koko putihnya kena cipratan hujan. Di tangannya ada plastik kresek berisi sisa gorengan dari warung depan, bekal pulang musyawarah.

"Ningnya belum tidur?" tanya Gus Azam sambil naruh kresek di meja, senyumnya tipis.

Sopiah nunduk malu, jari-jarinya mainin ujung daster, "Nunggu Gus. Tadi Ning Latifah udah tidur duluan, katanya capek godain Hasna."

Gus Azam duduk di kursi kayu depan meja, ngelap pecinya pakai tisu. Matanya ngelirik ke dua kitab yang berdebu itu, terus ngelirik lagi ke Sopiah yang nunduk.

"Ning," panggil Gus Azam pelan.

"Iya Gus?"

"Minggu-minggu ini Ning sibuk ya?"

Sopiah angkat kepala, agak bingung, "Sibuk apa Gus?"

"Sibuk urus perjodohan Hasna sama Hafidz. Sampai murojaah kita ketinggalan," jawab Gus Azam, suaranya tetep lembut tapi ada nada nagihnya, nada Gus yang kalau udah kangen ngaji bareng. "Hayoo, nakal ya? Lupa tugas utamanya jadi santri ndalem."

Deg.

Sopiah langsung merah dari leher sampai pipi, nunduk dalam banget. Tangannya yang tadi mainin daster sekarang ngeremas bantal kecil.

"Iya Gus, maaf ya..." bisiknya pelan banget, hampir gak kedengeran. "Sopiah keasyikan jadi mak comblang. Sampai lupa setoran murojaah ke Gus. Maaf Gus..."

Gus Azam ketawa kecil, ketawa yang ditahan, karena liat istrinya yang biasanya cerewet jadi pendiem kalau udah dinagih ngaji.

"Ya sudah, gak apa-apa. Namanya juga Ningnya lagi seneng sepupunya mau jadi, eh maksudnya muridnya mau punya partner ngajar," godanya.

Sopiah manyun, masih nunduk, "Gusss... jangan digodain. Sopiah beneran lupa."

Gus Azam geser duduknya agak maju, ngambil kitab paling atas, ditepuk-tepuk debunya pelan.

"Baiklah, kalau begitu kita tebus ya malam ini? Mumpung Gus belum ngantuk, Ning juga belum tidur. Subuh nanti habis jamaah di masjid, kita lanjutkan murojaahnya. Kita baca kitab Uqudulujain ya, sekalian Qurrotul Uyun, bagaimana?"

Sopiah yang tadinya nunduk, langsung ngangkat kepala kaget, matanya bulat.

"Uq-Uqudulujain, Gus? Sama Qurrotul Uyun?"

"Iya," jawab Gus Azam santai, tapi matanya gak bisa bohong, ada deg-degannya juga. "Itu kan kitab yang memang harusnya kita khatamin bulan ini. Kan kemarin baru sampai bab awal."

Sopiah langsung narik bantal peluknya, dipeluk kenceng di depan dada, mukanya merah padam.

"Aduh Gus... di sana kan ada pembahasan kewajiban perempuan melayani suami, nafkah lahir dan batin... bab-babnya..." suaranya makin pelan, makin malu. "Apa ini gak kecepetan ya Gus kita bahas kitab itu? Kan kita baru..."

Kalimatnya gak selesai, digantung.

Gus Azam diem sebentar, terus jawabnya pelan, serius tapi hangat, bukan menggurui, tapi ngemong.

"Ning, ini ilmu. Dan Gus wajib untuk menyampaikan ke kamu. Bukan karena Gus mau nagih apa-apa, tapi karena ini adab rumah tangga. Di Uqudulujain itu diajarin bagaimana caranya istri menjaga adab, bagaimana caranya suami menjaga amanah. Di Qurrotul Uyun juga begitu, diajarin adabnya, bukan yang aneh-aneh. Kita bacanya sebagai santri, sebagai suami istri yang belajar."

Sopiah masih meluk bantal, tapi matanya mulai berkaca-kaca karena terharu, bukan karena takut. Dia ngerti maksud Gus Azam.

"Iya Gus, Sopiah paham... cuma Sopiah malu..." bisiknya.

Gus Azam senyum, senyumnya yang bikin Sopiah dari dulu luluh.

"Kalau malu, besok bacanya pelan-pelan aja. Gus yang bacain, Ning yang dengerin. Kalau ada yang belum paham, tanya. Kalau ada yang bikin deg-degan, bilang. Kita belajarnya berdua, bukan ujian."

Sopiah akhirnya ketawa kecil, ketawanya masih malu-malu.

"Gus bisa aja... ya udah deh, subuh nanti ya Gus? Habis jamaah di masjid, Sopiah siapin teh anget dulu buat Gus."

"Janji?" tanya Gus Azam, tangannya ngeluarin jari kelingking kayak anak santri kecil kalau janji.

Sopiah ngakak, lupa malunya, terus nyantolin kelingkingnya ke kelingking Gus Azam.

"Janji Gus!"

Suasana kamar yang tadinya tegang karena kangen murojaah jadi hangat lagi. Di luar masih hujan rintik, di dalam cuma ada lampu kuning, dua kitab, dan dua orang yang sama-sama deg-degan tapi sama-sama seneng.

Gus Azam berdiri, mau balik ke kamarnya, karena di pesantren mereka tidurnya masih pisah kalau belum ada jadwal. Sopiah ikut berdiri.

"Baiklah Gus, selamat ketemu besok ya... selamat beristirahat ya Gus..." katanya, suaranya udah ceria lagi, tapi masih ada malu-malunya.

Terus Sopiah balik badan, mau menuju tempat tidur, tapi dadanya masih berdegup kencang banget. Tangannya megang dada, napasnya agak cepet.

Di belakangnya, Gus Azam yang udah di pintu, balik badan lagi.

"Ning."

Sopiah balik badan, "Iya Gus?"

"Kitabnya jangan lupa dilap ya, berdebu. Besok Gus mau lihat catatannya Ning sudah sampai mana."

Sopiah langsung ngambil lap kecil, ngelap kitabnya dengan semangat, "Siap Gus!"

Gus Azam ketawa, "Ya sudah, tidur yang nyenyak, Ningku yang pinter jadi mak comblang."

Pintu ditutup pelan.

Sopiah langsung ambruk di kasur, mukanya ditutup bantal, tapi senyumnya lebar banget.

"Aduh... Uqudulujain... Qurrotul Uyun... Gus Azam... Sopiah bisa gak ya besok gak grogi..."

Dia ngomong sendiri, terus ngambil HP, ngetik di grup ndalem yang isinya cuma dia sama Ning Latifah.

*Ning Sopiah:* _Tif, gawat, besok subuh disuruh murojaah Uqudulujain sama Gus!_

Gak sampai semenit, dibales.

*Ning Latifah:* _WKWKWK MAMPUS KAMU SOP! MAKANYA JANGAN SIBUK JODOHIN ORANG MULU, SUAMI SENDIRI DILUPAIN! Besok aku ngintip dari jendela ya!_

Sopiah langsung ngakak kenceng di kamar sendirian, deg-degannya hilang jadi lucu.

Malam itu, di Darunnajah yang dingin, dua kamar ndalem lampunya masih nyala agak lama. Satu kamar Gus Azam lagi buka-buka kitab sambil senyum-senyum sendiri, satu kamar Ning Sopiah lagi bolak-balik buka tutup kitab sambil deg-degan tapi bahagia.

Besok subuh, janji murojaah akan dimulai.

---Bersambung---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!