NovelToon NovelToon
Pembalasan Raden Roro: Kubuat Suamiku Jadi Gembel

Pembalasan Raden Roro: Kubuat Suamiku Jadi Gembel

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Penyesalan Suami / Romansa pedesaan
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: Erchapram

Raras hanya ingin pernikahannya berjalan tenang. Ia menutupi nama besar keluarganya, meninggalkan kemewahan di Yogyakarta, lalu memilih hidup sederhana bersama Danang, pedagang yang sedang naik daun.

Hingga suatu malam, Raras melihat pesan mesra di ponsel suaminya. Danang berselingkuh.

Yang lebih menyakitkan, keluarga Danang merendahkannya. Mereka menganggap Raras perempuan tanpa masa depan. Bagi mereka, Danang pantas mendapatkan wanita yang lebih cantik, lebih bergengsi, dan lebih menguntungkan.

Raras tidak menangis. Ia hanya berkemas, lalu pulang ke Yogyakarta.

Di balik pintu dalem keluarganya, kehidupan yang selama ini disembunyikan akhirnya terbuka. Ternyata tanah, sawah, kebun, gudang, hingga jaringan dagang milik keluarga Raras selama ini diam-diam menopang kesuksesan bisnis Danang dari belakang.

Raras tidak menghancurkan mantan suaminya. Ia hanya berhenti menopang. Satu per satu bisnis Danang runtuh. Ketika penyesalan itu datang terlambat, Danang sudah kehilangan segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11 — Perempuan yang Dipilih (Revisi)

“Aku minta diperkenalkan, Mas. Bukan pesta.” Niken menekan tepi gelas dengan jarinya. “Itu yang kukatakan ke Mas Danang, Mbak. Persis begitu.”

Raras duduk di bangku kayu warung wedangan ujung gang, tangan kanannya masih berplester. Uap jahe naik dari dua gelas di antara mereka. Pukul tujuh lewat dua puluh, Jumat pagi, dan bangku di sebelah mereka masih kosong.

“Mbak sampai Yogya jam berapa?”

“Subuh. Aku naik kereta pertama. Nggak bilang siapa-siapa.” Niken mencoba tersenyum dan gagal. “Maaf, Mbak. Aku tahu ini nggak pantas. Tapi kalau menunggu lebih lama, aku takut nggak jadi datang.”

“Mas Danang menjawab apa?”

“Dia bilang, ‘Raras nggak pernah minta yang begini.’” Niken menunduk. “Dia nggak bilang sayang sama aku. Dia juga nggak bilang malu. Dia cuma menyebut nama Mbak, seolah-olah Mbak jadi ukuran untuk semuanya.”

Raras memutar gelasnya setengah putaran. Jahenya terlalu panas untuk diminum, jadi ia membiarkannya.

“Lalu?”

“Aku diam. Justru itu yang bikin aku nggak bisa tidur.” Suara Niken serak. “Aku ini perempuan yang dipilih, kan, Mbak? Itu yang dia bilang sejak hari pertama. Tapi setiap aku minta sesuatu, kenapa yang dia sebut malah nama Mbak?”

“Karena aku sudah ada di sana lebih dulu, Mbak.”

“Aku bukan mau menang dari Mbak.”

“Aku tidak bilang begitu.” Raras menarik napas, dan dadanya terasa sempit. “Aku cuma tahu rasanya. Tiga tahun aku dibandingkan dengan ibunya. Sekarang Mbak dibandingkan denganku. Orang yang menilai tetap sama. Cuma orang yang dinilai yang berganti.”

Niken menutup mulut dengan punggung tangan. Bahunya naik turun satu kali.

“Mbak Raras, tempene isih anget (tempenya masih hangat).” Ibu pemilik warung menyodorkan sepiring gorengan tanpa diminta, lalu melirik Niken yang matanya basah. “Ojo nangis neng kene, Mbak. Wedange mundak asin (jangan menangis di sini, Mbak. Wedangnya nanti asin).”

“Matur nuwun, Bu. Sampun (terima kasih, Bu. Sudah).” Raras menggeser piring itu ke arah Niken. “Makan dulu, Mbak. Orang susah berpikir jernih kalau perut kosong.”

“Aku nggak lapar.”

“Kemarin malam Mbak masak lodeh di rumah Ibu.”

Niken mendongak, kaget. “Mbak tahu?”

“Ada yang cerita.” Raras tidak menyebut nama. “Mas Danang menghabiskannya?”

“Habis. Tapi dia nggak bilang apa-apa. Aku tanya enak atau nggak, dia cuma jawab cukup.” Niken menyeka sudut matanya. “Aku pakai gula jawa lebih banyak karena kupikir dia suka manis.”

“Dia tidak...” Raras berhenti. Kata berikutnya sudah di ujung lidah: kuah encer, santan sedikit, jangan manis, cabai rawit utuh dibuang di akhir. Tiga tahun ia hafal semua itu. “Dia terbiasa menyukai apa yang ada di depannya, Mbak. Itu saja.”

“Mbak mau bilang sesuatu, ya?”

“Tidak.”

“Tapi tadi Mbak hampir bilang sesuatu.”

“Tadi aku hampir mengajari Mbak, dan itu keliru.” Raras meletakkan tangan kirinya di atas meja, menahan jari yang mulai bergetar. “Aku tidak akan mengajari Mbak menjadi istri Mas Danang. Tiga tahun aku berusaha memahami semua yang dia suka, tapi dia tidak pernah benar-benar melihat usahaku. Kalau Mbak mau menjalani hidup dengannya, cari tahu sendiri apa yang Mbak inginkan. Jangan cuma sibuk menebak keinginannya.”

“Tangan Mbak masih sakit?” Niken melirik plester itu. “Waktu itu aku mau ke dapur, tapi Mas Danang...”

“Sudah, Mbak. Lukanya akan sembuh. Yang lain belum.” Raras menyembunyikan tangannya di pangkuan. “Mas Danang menyuruh Mbak datang ke sini?”

“Nggak. Dia malah menelepon tadi malam dan bilang aku nggak perlu menemui Mbak. Katanya, Raras nggak perlu tahu.”

“Nggak perlu tahu apa?”

“Itu yang kutanyakan. Dia cuma bilang, ‘Jangan dibikin rumit.’”

“Kalimat itu sudah kudengar selama tiga tahun.” Raras tersenyum miris. “Kalau ada masalah, selalu perempuan yang dianggap bikin rumit.”

“Mbak marah?”

“Aku terluka, Mbak. Marah itu cuma cara menutupinya.” Ia tersenyum tipis. “Tapi aku masih bisa duduk di sini dan membayar wedang Mbak.”

Niken tertawa kecil, basah, lalu cepat-cepat berhenti. “Mbak lucu sekali. Aku jadi tambah nggak enak.”

“Mbak, aku boleh tanya soal gudang?” Niken menurunkan suaranya. “Mas Danang bilang ada yang sengaja menghambat pesanannya. Katanya, barangnya mendadak lama datang.”

“Siapa yang menghambat?” Raras mengulang tanpa nada. “Pesanan Mas Danang dilayani sesuai antrean, Mbak, sama seperti pembeli lain. Mulai kemarin, pembeli yang tidak punya jaminan harus membayar tunai.”

“Itu aturan baru?”

“Bukan. Aturannya memang begitu. Dulu Mas Danang tidak perlu memikirkannya karena ada yang mengurus semua untuk dia.”

“Berarti selama ini ada yang mengurusnya tanpa dia tahu.”

“Mbak cepat belajar.” Raras mengangkat gelas, lalu menurunkannya lagi karena tangannya mulai goyah. “Aku tidak akan menyebut nama siapa pun. Itu bukan urusan Mbak, apalagi urusan warung ini.”

“Sekarang jawab satu pertanyaanku, dan jawab jujur. Waktu Mas Danang menelepon Senin malam dan bertanya apakah Ibu sudah bilang kepadanya, siapa yang dimaksud?”

Niken diam lama.

“Aku, Mbak.” Ia mengaduk jahenya yang sudah dingin. “Dua kali arisan lalu, Bu Marlina memperkenalkan aku ke Bu Hartati dan ibu-ibu lain sebagai calon yang cocok. Calon untuk apa, nggak ada yang bilang. Semua orang paham, kecuali aku.”

“Dan aku tidak pernah diajak ke arisan itu.”

“Aku baru sadar Mbak nggak pernah datang waktu seorang ibu bertanya, ‘Mbak Raras kok mboten ketingal, Bu?’ (Mbak Raras kok tidak kelihatan, Bu?).” Niken menelan ludah. “Bu Marlina menjawab, Raras sibuk di dapur. Semua orang tertawa.”

Raras menggenggam gelasnya. Panasnya merambat ke telapak, dan ia tidak melepaskan. “Dapur. Ya.” Ia tertawa pendek, kering. “Di dapur aku belajar menyiapkan makanan untuk seratus orang, Mbak. Tapi ibu-ibu itu tidak perlu tahu.”

“Maaf, Mbak. Waktu itu aku ikut tertawa.”

“Kenapa?”

“Karena semua orang tertawa. Aku takut kalau cuma aku yang diam, mereka akan memperhatikanku.”

“Itu jawaban yang jujur.” Raras mengangguk. “Aku juga pernah ikut tertawa, Mbak. Waktu di rumah itu.”

“Mbak, aku tahu ini terdengar jahat. Tapi aku datang bukan untuk meminta Mbak mundur.” Niken mengangkat wajah. “Kemarin malam di meja makan Pak Surya, aku melihat Mas Danang diam saja waktu Bapak bilang ayah Mbak orang kampung. Aku mau tanya, Mbak. Kalau suatu hari orang menghina aku, apa dia akan membelaku?”

“Mbak bertanya kepada orang yang salah.”

“Lalu aku harus bertanya kepada siapa?”

“Mas Danang.” Raras mendorong piring tempe lebih dekat. “Tanya langsung kepadanya. Jangan puas dengan jawaban ‘cukup’. Itu satu-satunya nasihat yang akan kuberikan, dan ini bukan soal makanan.”

“Mbak nggak mau mengingatkan aku soal apa pun lagi?” Niken meremas ujung blusnya. “Aku nggak mau mengulangi kesalahan yang sama.”

“Satu lagi.” Raras menahan sudut matanya yang mulai hangat. “Mbak bilang Mbak dipilih. Dipilih itu memang menyenangkan. Tapi cari tahu Mbak dipilih untuk apa. Jangan sampai suatu hari Mbak sadar kalau selama ini Mbak cuma mengisi kursi yang ditinggalkan orang lain.”

Niken terdiam. Bibirnya bergerak tanpa suara, lalu ia mengangguk satu kali, kecil, dengan wajah anak yang menerima hukuman adil.

“Boleh aku tanya satu hal lagi?” bisiknya. “Mbak benci aku?”

“Aku belum sempat, Mbak.” Raras berkata jujur, dan justru itu yang membuat suaranya patah. “Aku masih sibuk menyalahkan diriku sendiri karena tidak bertanya lebih awal.”

“Itu bukan salah Mbak.”

“Mungkin bukan. Tapi aku tetap harus menanggung akibatnya.” Raras mengeluarkan selembar uang dari tas dan menjepitnya di bawah piring. “Dengar, Mbak. Aku tidak akan menyuruh Mbak pergi atau memaksa Mbak bertahan. Apa pun pilihan Mbak, pastikan Mbak tahu apa yang sedang dihadapi.”

“Mbak bicara seperti orang yang sudah selesai.”

“Belum, Mbak. Aku cuma sudah berhenti menunggu.”

“Mas Danang bilang Mbak nggak akan melawan.” Niken berbisik, malu sendiri. “Dia bilang Raras itu orangnya selalu mengalah.”

“Dia benar sampai Senin malam.” Raras menegakkan bahu. “Aku tidak sedang melawan, Mbak. Aku hanya berhenti membantunya. Orang sering mengira keduanya sama.”

“Apa bedanya?”

“Kalau melawan, aku masih sibuk menghadapi dia. Kalau berhenti membantu, aku bisa mengambil kembali kendali atas hidupku sendiri.”

“Aku belum sepenuhnya mengerti, Mbak. Tapi aku mau mencoba.”

“Mulai dari makan tempenya, Mbak.” Raras mengulurkan piring itu sekali lagi. “Sisanya bisa menyusul.”

Ponsel Niken bergetar di meja kayu. Sekali, lalu terus menyala. Niken melirik layarnya dan wajahnya memucat sampai ke bibir.

“Dari siapa?” tanya Raras.

“Bu Marlina.” Niken membaca keras-keras, dengan suara yang lebih kecil dari napasnya. “‘Pulang. Sekarang.’”

“Mbak sudah bilang kepada Ibu kalau mau ke sini?”

“Nggak, Mbak. Aku nggak bilang siapa-siapa.” Ponsel itu bergetar lagi di tangannya. Satu pesan baru, dari nomor yang sama, tanpa isi selain titik. “Mbak, Ibu tahu aku di sini.”

1
Nurlaila Hidayah
Dia lah yg telah membersihkan jalan untuk ku mempermudah usahaku tnpa adanya hambatan, tapi dengan tidak tahu malu dan tidak tahu diri nya, diri ini berani untuk menduakan dan menceraikan demi wanita lain. padahal dia yg telah membantu usahaku
Sri Widiyarti
lanjut thor semangat up-nya
Erchapram: Mohon sabar menunggu ya Kak, karena aku sedang revisi mulai bab 1. Terima kasih supportnya 🙏
total 1 replies
Sri Widiyarti
Danang kesuksesanmu ternyata bantuan istri yang kau ceraikan demi perempuan lain..
Erchapram
Yang sudah baca sampai bab ini, boleh gak sih aku minta bintang limanya 🙏 Makasih banyak sebelumnya.
Sri Widiyarti
lanjut thor jangan lama2 🙏
Erchapram: Iya, Kak. Terima kasih supportnya 🙏
total 1 replies
Muft Smoker
lanjuuut kak ,,
Muft Smoker
Raras udh mulai bergerak ,,
Baek chanhun
next thort 💪💪
Muft Smoker
baruuu ini ad cerita byk pake bahasa daerah ,, cerita ny bagus kak ,,
lanjuut
Muft Smoker
hai kak ,, mampir aq ,,
Baek chanhun
thank, saran nya di terimah, yg bab tarakhir itu flasback ya.
🙏💪
Erchapram: Terima kasih kembali Kak dan iya, itu flashback.
total 1 replies
Baek chanhun
senang banget ada bahasa daerah, tapi, kalo ada artinya lebih bagus lagi, gua orang luar jawa ng ngerti apa.yg.di omongin, 🙏🙏
Erchapram: Sudah aku revisi Kak, bisa dibaca ulang. Terima kasih.😍
total 2 replies
Soraya
lanjut thor
Soraya
hadir thor lanjut
Baek chanhun
lanjutkan thort. 💪💪
Erchapram: Baik... terima kasih supportnya.
total 1 replies
Ma Em
mampir Thor , buat Danang menyesal karena sdh menduakan Raras .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!