Dijadikan ladang emas oleh sang paman. Fio yang semula setuju dijodohkan oleh anak politisi sekaligus pengusaha besar oleh pamannya memilih berontak.
Fio bersekutu dengan Gio, mafia yang ternyata sudah lama memendam perasaan padanya. Hingga, perlahan semua tabir keluarganya terungkap.
"Aku bukan laki - laki yang bisa menyentuh perempuan sembarang. Tapi, aku juga bukan laki - laki yang bisa menahan untuk tidak menyentuh kamu." -Giorgio Abraham-
Sequel Gairah Cinta Sang Pembalap
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elis Kurniasih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hanya tidur saja
Kruk
Kruk
Bunyi di dalam perut Fio membuyarkan semua. Seketika, Gio melepaskan ciumannya dan menatap istrinya.
Malam ini, mereka sudah bukan lagi orang asing. Bukan lagi, Gio dan Fio yang saling berseberangan karena profesi mereka yang bertolak belakang.
Perlahan, Gio sudah memindahkan asetnya ke beberapa bisnis legal. Fio belum tahu itu, tapi satu tujuannya memang ingin hidup normal dan pensiun menjadi mafia di usia muda.
Gio tertawa dan mengusap wajah istrinya. “Kamu lapar?”
“Tentu saja,” jawab Fio cemberut. “Empat jam, aku dirias. Dan, selama itu aku belum makan.”
Gio kembali tertawa. “Kasihan istriku.”
Mendengar panggilan Gio membuat pipi Fio merona.
“Kenapa pipi merah? Malu? Karena panggilanku tadi?”
Fio menunduk. Pipinya semakin merah. Gio segera mengangkat kepala itu dengan menjepit dagunya. “Mulai sekarang, kamu tidak sendirian. Ada aku, suami yang selalu bisa diandalkan.”
Fio senang. Hatinya berbunga. Dia melayang dan ingin terbang. Fio juga ingin memeluk tubuh tegap dengan dada yang bidang itu. Namun, Fio tak kuasa. Dia tak akan berani hingga akhirnya tetap menunduk.
“So, tunggu apa lagi? Ayo kita keluar! Banyak makanan di sana. lagi pula, kita belum menemu para tamu kan?”
Fio mengangguk. Tidak ada teman. Para tamu yang datang, benar – benar keluarga dan rekan terdekat.
Gio membawa istrinya keluar. Namun, saat kaki mereka sama – sama melangkah, suaranya terdengar pelan dan hanya Fio yang mendengar.
“Sejujurnya, aku tidak ingin mengajakmu keluar. Aku tidak ingin mereka melihatmu dalam keadaan secantik ini.”
Dahi Fio mengernyit. “Maksudnya?”
“Riasan ini untukku. Aku tidak suka berbagi. Atau …”
Tiba – tiba, dia mengajak istrinya untuk berhenti melangkah.
“Ada apa?” tanya Fio bingung.
“Sepertinya, aku akan kembali membawa mu ke kamar.” Gio langsung menarik lagi istrinya dan membawanya ke kamr tadi.
“Gio, aku lapar.”
“Aku akan meminta pelayan untuk membawakan makanan yang banyak untukmu.”
“Tapi …” Fio protes.
“Papa dan Bu lastri yang akan datang menemui di sini.”
Fio kesal. “Tidak begini, Gio. Aku juga ingin keluar dan bertemu orang – orang.”
“Tidak.” Gio menggeleng. “Ada beberapa orang yang bukan keluarga dan mereka tidak boleh melihatmu seperti ini.”
Fio menganga. Dia melihat kepergian suaminya dan tidak habis pikir dengan cara berpikirnya.
“Dasar posesif!”
“Pria gila!”
Fio terus memaki laki – laki yang tanpa dia sadari kini sudah menjadi suami.
“Dasar …”
Fio menggantungkan umpatannya. Dia baru sadar jika istri tidak boleh mendoakan buruk suaminya. Fio pasrah dan kembali duduk di depan meja rias. Benar saja, tak lama kemudian pintu kamar terbuka dengan berbagai makanan datang bergantian. Hingga, kemudian Wiliam, ayah kandung Gio datang bersama istri dan anaknya untuk memberi ucapan.
“Papa titip Gio padamu. Papa yakin, dia akan lebih baik bersamamu.”
Fio menunduk dan menjawab dengan suara lembut. “Ini berat, Pa. Sebenarnya, Fio tidak yakin bisa menaklukan Gio.”
Wiliam tertawa. “Kamu sudah menaklukkannya, Fio.”
“Oh ya?”
“Ya. Bahkan, dari tiga tahun yang lalu.”
Lagi – lagi, Fio mendengar tentang tiga tahun lalu. Sebelumnya, ia dengar dari Jihan, adik Gio berbeda ibu karena Jihan lahir dari rahim Lastri, perempuan pribumi.
Fio ingat, tiga tahun yang lalu memang Gio menyatakan cinta dan langsung mengatakan itu dengan cincin yang diberikan. Namun, Fio yang tidak mudah percaya pada apa pun apalagi dirinya masih status bertugas sebagai intel, maka Fio menganggap ungkapan itu hanya bualan saja. Tapi, ternyata tidak.
“Tiga tahun lalu, Gio sudah mempersiapkan EO. Dia juga membeli villa ini untukmu., untuk tempat Gio pulang setelah penat melanda diluar.”
Fio menganga. “Apa itu benar?”
“Ya. Putraku sangat mencintaimu.”
Mendengar penuturan langsung dari bibir sang ayah mertua. Fio percaya.
Setelah diberi jeda cukup lama untuk sendiri di kamar ini, Gio datang. Kini, Fio sudah berganti kostum. Dia tak lagi mengenakan gaun pengantin. Riasan diwajahnya juga sudah luntur. Bahkan, tidak berbekas sama sekali karena sudah Fio cuci bersih wajahnya.
“Gio!” Fio lompat.
Tubuhnya yang semula rileks dengan merebahkan diri di atas ranjang, segera bangkit saat pintu itu terbuka. Gio menatapnya lama. Fio memakai pakaian tidur dari satin. Pakaian yang dia beli dan cukup sexy.
“Jaga matamu! Jangan melihat ku begitu!”
Gio tersenyum. Dan, dia tidak menuruti perintah Fio. Kakinya tetap melangkah mendekati istrinya yang malah melangkah mundur.
“Gio, aku bilang berhenti! Jangan mendekat!”
“Kenapa tidak boleh? Aku hanya ingin menyapa istriku.”
Bruk
Punggung Fio terbentur lemari besar yang berdiri kokoh di jejeran walk in closet. Padahal, Fio sudah beralih ke ruang terdalam dan ternyata tetap dikejar juga.
Gio sudah mendekat dan langsung membekap. Dengan posesif, dia menarik pinggang Fio agar tak ada jarak.
“Sudah kenyang?”
Fio mengangguk.
Hap
Tiba – tiba, Gio mengangkat tubuhnya.
“Gio, lepas! Aku mau dibawa ke mana?”
Fio berontak. Namun, pria itu tetap menggendongnya dan menurunkannya ke atas ranjang. Kemudian, dengan cepat Gio ikut naik lalu mengungkung tubuh itu.
“Gio, jangan sekarang! Aku belum siap. Ini terlalu cepat.”
Wajah Gio kina mendekat. Deru nafasnya semakin terasa.
“Gio, aku …”
Sret
Tiba – tiba, Gio menarik selimut dan menutupi tubuh istrinya. “Selamat tidur. Istirahat lah. Hari ini sangat melelahkan.”
Dada Fio naik turun. Nafasnya ikut memburu dan dia melihat Gio bangkit, kemudian hendak meninggalkannya.
“Kamu mau ke mana?” tanya Fio.
“Ke kamar yang lain. Aku tidak akan mengganggu tidurmu.”
Fio terdiam sejenak, hingga dia menepuk busa empuk di sebelahnya. “Tidurlah di sini, tapi ingat. Hanya tidur saja.”
Senyum Gio langsung mengembang.