Menjadi istri pengganti tidaklah mudah, apalagi ketika kamu hanyalah wanita yang menggantikan posisi kakakmu sendiri.
Alih-alih mendapatkan kasih sayang dan cinta dari suaminya, Kinanti justru harus menerima perlakuan kasar yang terus-menerus menyakitinya.
Kinanti tidak pernah membayangkan bahwa dirinya akan menggantikan posisi sang kakak yang kabur bersama kekasihnya sehari sebelum akad nikah dengan pria bernama Yudha.
Demi keselamatan ayahnya dan masa depan kedua adik kembarnya, Kinanti terpaksa mengikhlaskan dan merelakan impiannya untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
Pernikahan yang telah berlangsung selama delapan tahun tidak pernah memberinya kebahagiaan. Namun, Kinanti memilih untuk tetap bertahan, bersabar, dan ikhlas menjalani kehidupan rumah tangganya.
Hingga sebuah kecelakaan tak terduga menimpa suaminya, Yudha Manggala.
Sejak saat itu, kehidupan pernikahan mereka berubah seratus delapan puluh derajat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fania Mikaila AzZahrah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 22 Diremehkan
Namun, di antara banyak orang yang berdiri menyambut kedatangannya, ada satu orang yang justru mematung.
Matanya membelalak.
Mulutnya bahkan sedikit terbuka karena begitu terkejut melihat siapa yang baru saja memasuki ruangan.
Khalid.
Pria itu berdiri kaku di tempatnya. Tatapannya terpaku pada sosok perempuan yang berjalan masuk dengan langkah tenang dan penuh wibawa.
Kinanti Azzahra.
Perempuan yang selama ini hanya dia kenal dari cerita orang-orang ternyata adalah orang yang sangat dikenalnya, orang yang setiap akhir doanya dia sebut dan yang selama ini hendak ditemuinya dalam urusan pekerjaan adalah orang yang saat ini tersenyum kepadanya.
Namun, bagi Khalid, keterkejutannya bukan semata-mata karena mengetahui bahwa CEO K-Tech adalah seorang perempuan yang masih begitu muda dan berwibawa.
Melainkan karena dia mengenal perempuan itu jauh lebih dekat daripada siapa pun di ruangan tersebut.
Kinanti adalah kakak kandungnya.
“Mbak Kinanti?” batinnya, nyaris tidak percaya.
Khalid bahkan sempat mengucek kedua matanya, berharap apa yang dilihatnya hanyalah kesalahan pandangan.
“Apa jangan-jangan aku salah lihat yah? apa aku sedang bermimpi,” batinnya kemudian mencubit lengannya tapi rasa perih di kulitnya menandakan dia saat ini tidak bermimpi.
Namun, ketika kembali membuka mata, sosok Kinanti masih berdiri di sana.
“Kakak kandungku... tidak mungkin,” gumamnya dalam hati. “Apa aku salah lihat?”
Sementara itu, Kinanti yang sejak awal sudah menyadari keberadaan Khalid hanya memberikan senyum tipis.
Tatapannya kemudian berhenti tepat pada pria tersebut.
“Bukankah itu Pak Khalid Anugerah?” tanyanya tenang agar tidak ada yang menganggap Khalid akan bekerjasama dengannya karena jalur orang dalam.
Seulas senyum menghiasi bibir mungilnya.
Khalid tersentak. Dia segera mengubah ekspresinya dan berusaha bersikap profesional.
“Benar, Bu Kinanti nama saya Khalid Anugerah,” jawabnya akhirnya.
Meskipun suaranya terdengar tenang, sebenarnya jantungnya berdetak cukup kencang.
Kinanti hanya mengangguk kecil. Seolah-olah mereka memang baru pertama kali bertemu.
Tidak ada sapaan kakak dan juga panggilan adik. Tidak ada sedikit pun tanda bahwa keduanya memiliki hubungan darah. Sehingga orang-orang yang melihat mereka tidak akan pernah percaya kalau mereka saudara kandung.
Sikap profesional itulah yang membuat Reva dan Amri justru semakin penasaran.
Keduanya saling pandang sebelum kembali memperhatikan Kinanti dan Khalid.
“Kenapa Mbak Kinanti kayak ada sesuatu dengan Khalid, Khalid juga jelas-jelas aku pernah menyatakan cinta tapi kok terang-terangan di depanku memandang Mbak Kinanti kayak terpesona gitu,” batinnya kesal.
Reva sendiri mulai merasa kesal. Bagaimana tidak?
Khalid adalah pria yang diam-diam disukainya sejak mereka masih duduk di bangku kuliah. Perasaan itu bahkan masih bertahan hingga sekarang.
Selama bertahun-tahun, Reva hanya bisa mengagumi Khalid dari kejauhan.
Namun, sekarang dia melihat pria yang disukainya justru tampak begitu terpaku kepada perempuan lain.
“Kenapa Khalid bengong banget melihat Mbak Kinanti?” kesal Reva dalam hati.
“Apa dia tidak tahu atau lupa kalau Mbak Kinanti sudah punya suami dan dua anak? apa dia mau jadi pebinor?” kesalnya Reva yang berusaha menahan amarahnya.
Rasa cemburu perlahan menyelinap ke dalam hatinya.
Di sampingnya, Amri melirik Reva.
Dia sudah cukup lama mengenal perempuan itu sehingga bisa menebak apa yang sedang berkecamuk dalam pikirannya.
“Kayaknya bakal terjadi perang batin nih,” pikir Amri sambil menahan senyum.
Reva melirik ke arah Amri,” jangan senyum kayak gitu! wajahmu jelek tau.”
Amri terkekeh mendengarnya dan geleng-geleng kepala melihat rekannya terbakar api cemburu buta.
Sementara itu, dua atasan Khalid juga tidak luput dari keheranan.
Pak Ridwan, Direktur Global, memperhatikan Khalid dengan tatapan penuh tanda tanya. Begitu pula Rudy, sang manajer yang sejak awal bertanggung jawab atas proyek tersebut.
Dari cara Khalid dan Kinanti saling memandang, keduanya menangkap kesan bahwa kedua orang itu bukanlah orang asing.
“Apa sebenarnya hubungan Bu Kinanti dengan Khalid?” batin Pak Ridwan. “Kalau mereka memang saling mengenal dekat, mungkin hubungan itu bisa membantu memperlancar kerja sama kami.”
Berbeda dengan Pak Ridwan, Rudy justru memiliki pikiran lain.
“Apa mereka pernah berpacaran?” pikirnya. “Tapi rasanya tidak mungkin. Bu Kinanti sudah memiliki suami dan dua anak, sedangkan Khalid masih bujangan.”
Kinanti menyadari bahwa hampir semua mata kini tertuju kepadanya.
Dia pun berdeham kecil.
“Ehem.”
Seketika suasana kembali mencair dari yang nampak tegang penuh tanda tanya.
“Silakan, Bapak dan Ibu. Mari kita duduk terlebih dahulu,” ujar Kinanti dengan ramah.
Semua orang kemudian mengambil tempat masing-masing.
Setelah duduk, Kinanti membuka berkas proposal yang telah disiapkan di atas meja.
Dia membaca beberapa halaman dengan cepat, kemudian menutupnya kembali.
Tatapannya beralih kepada Khalid.
“Khalid Anugerah.” ucapnya singkat.
Khalid yang sejak tadi berusaha menenangkan pikirannya langsung menegakkan tubuh.
“Ya, Bu?” balasnya Khalid.
“Bagaimana kalau Anda yang menjelaskan proposal kerja sama ini?”
Suasana di dalam ruangan mendadak hening.
Rudy langsung menoleh kepada Kinanti.
Pak Ridwan sebenarnya tidak mempermasalahkan keputusan tersebut. Bahkan, dia melihatnya sebagai kesempatan yang cukup baik.
Namun, Rudy justru merasa keberatan.
“Maaf, Bu Kinanti,” katanya. “Khalid itu hanya karyawan biasa di perusahaan kami. Saya yang memegang proyek ini sejak awal dan saya pula yang bertanggung jawab atas proposal tersebut.”
Nada suaranya terdengar jelas menunjukkan ketidaksetujuannya.
Khalid hanya diam. Dia sama sekali tidak terpancing.
Sementara Kinanti tetap tenang. Tangannya memainkan pulpen yang sejak tadi berada di atas meja.
“Baiklah,” ucapnya datar.
Dia menatap Rudy.
“Kalau Anda keberatan saya meminta Pak Khalid yang mempresentasikan proposal ini, berarti tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan.”
Rudy terdiam.
Kinanti menyandarkan punggungnya ke kursi.
“Saya ingin Pak Khalid yang mempresentasikan proposal tersebut.”
Wajah Rudy langsung berubah.
“Bu, tetapi—” ucapnya Rudy yang terpotong.
“Rudy,” potong Pak Ridwan cepat.
Pak Ridwan menyadari bahwa bawahannya mulai bertindak terlalu jauh.
“Tidak apa-apa kalau Khalid yang mempresentasikannya.”
“Tapi, Pak...” protes Rudy lagi.
“Kita datang ke sini untuk mendapatkan kerja sama dengan K-Tech. Jangan sampai masalah kecil seperti ini justru menghancurkan kesempatan besar yang sudah ada di depan mata.”
Rudy mengepalkan tangannya di bawah meja.
Dia sebenarnya sangat murka.
Proyek ini sudah dianggap sebagai batu loncatan untuk mendapatkan promosi jabatan. Jika kerja sama tersebut berhasil, dia yakin posisinya akan semakin kuat di perusahaan.
Namun, kini kesempatan itu justru terasa terganggu hanya karena Kinanti memilih Khalid.
Khalid yang menyadari situasi tersebut kemudian menatap Kinanti.
Dia menggelengkan kepala pelan.
Tatapannya seolah mengatakan agar Kinanti tidak perlu membuat masalah hanya demi dirinya.
Kinanti memahami maksud tersebut.
Dia kemudian memberikan isyarat kecil dengan tangannya agar Khalid tetap tenang.
“Kakak, tolonglah jangan persulit keadaan,” batin Khalid. “Aku tidak ingin terlihat seperti sedang mencari muka di hadapan mereka.”
Namun, Kinanti tetap pada keputusannya.
Dia memang sengaja memberikan kesempatan kepada Khalid. Bukan karena hubungan darah mereka.
Setidaknya, bukan itu alasan yang ingin dia tunjukkan di hadapan orang lain.
“Kalau Pak Manajer Rudy masih bermasalah dengan keputusan saya, mungkin…” ucapnya Kinanti yang mengandung ancaman dan tak menyukai jika keputusannya dibantah.