Kebangkitan goblin yang akan menjadi kuat dan akan melampaui semuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nash, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 02.
Pedang pendek itu menyeret tanah basah, seekor goblin berjalan sendirian di antara pepohonan raksasa. Sudah hampir tiga hari semenjak kejadian malam itu dia telah meninggalkan tempat yang pernah disebutnya rumah.
Dia bersumpah suatu hari nanti para manusia akan takut pada suara langkah goblin, tapi dunia ini tidak pernah peduli pada sumpah seekor goblin.
Dia berhenti di depan sebuah batang pohon sambil menatap guratan-guratan kasar dan panjang pada kulit pohon itu, kemudian ia mengangkat pedangnya, kedua tangannya menggenggam gagang, kakinya sedikit ditekuk lalu menarik nafas.
"Haaah..."
Tebas.
Pedangnya menghantam batang pohon tapi itu tidak dalam, dia mengerutkan dahi lalu mencoba kembali menarik pedangnya, dirinya mundur satu langkah mengangkat pedang sekali lagi.
Tebas.
Takh!
Sekali lagi.
Tebas.
Takh!
Lagi dan lagi hingga tangannya mulai terasa sakit tapi dia tidak berhenti dan terus melakukan hal yang sama hanya untuk melatih otot dan kekuatannya. Sampai telapak tangannya pecah, darah mulai mengalir di sepanjang gagang pedang dan akhirnya dia berhenti.
Nafasnya terengah-engah sambil menatap tangannya kemudian melihat pohon di depan, bekas tebasannya hanya beberapa sentimeter saja, goblin itu mengusap keringat dari dahinya "Masih kurang..."
Hari berikutnya ia mencoba metode latihan lain, dia mengambil batu lalu menaruhnya di tanah, kemudian mulai melakukan latihan baru seperti mengangkat dan menurunkannya.
Buk..
Buk..
Buk..
Setiap hari, setiap pagi, setiap sore, ketika hujan turun ataupun panas terik dia tetap berlatih, rasa lapar ia hiraukan dan ia tunda nanti demi latihannya. Semua itu karena satu hal dan sadar kalau goblin tidak bisa mengalahkan manusia, maka dia harus terus berlatih dan menjadi kuat.
...
Beberapa bulan kemudian "GRAAAAH!" seekor serigala menerjang, si goblin reflek dan langsung berguling ke samping dengan cepat, cakar melewati wajahnya.
Sraakh!
Tiga garis merah muncul di pipinya namun dia tidak berhenti, saat serigala itu berbalik- 'Tebas' pedangnya berhasil mengenai kaki belakang serigala dan membuatnya terjatuh, goblin langsung menerjang menancapkan pedangnya ke leher serigala 'Jlebb..'
Serigala meronta-ronta kesakitan kemudian diam, goblin terlihat terengah-engah dan darah hangat mengalir di kedua tangannya, ia menatap bangkai serigala itu kemudian tersenyum "Menang!" sambil mengangkat kedua tangannya "Menang" untuk pertama kalinya.
Dia menyeret bangkai serigala menuju tempat persembunyiannya, hari itu dia makan sampai kenyang.
Hari berikutnya dia kembali berlatih keras seperti biasanya dan berburu serigala atau hewan buas selevel serigala lainnya.
...
Satu tahun kemudian.
GRAAAAH!
Serigala menerjang dari belakang tapi goblin menghindarinya dengan mudah, satu tebasan, dua tebasan 'Zraath!' serigala itu terjatuh seketika, nafasnya tidak lagi seberat dulu karena otot-otot tubuhnya telah berubah, senyuman bangga terlihat diwajahnya yang menandakan kalau semua hasil latihannya selama setahun lebih ini membuahkan hasil.
Namun kemudian ia mendengar suara langkah dari semak-semak 'Krrssk' goblin menoleh dan ternyata itu adalah sekelompok serigala, matanya langsung menghitung jumlah mereka "Empat?"
Ke empat serigala itu langsung mengetahui keberadaan goblin dan mengelilinginya, goblin menelan ludah, keringat dingin muncul dari dahinya tapi dia tetap mengangkat pedang "...Tidak apa-apa!" lalu ia berlari menyerang salah satu dari mereka.
Pertempuran yang tak pernah ia alami sebelumnya, melawan empat serigala sekaligus, tapi ia tetap bertarung melawan mereka dengan berani dan sangat sengit.
Ketika semuanya berakhir, empat serigala itu tergeletak di tanah dan berhasil ia kalahkan semuanya, goblin itu menjatuhkan lututnya karena kelelahan dan mencapai batasnya, darah hangat mengalir dari bahu, punggung dan pahanya "Aku bisa..." sambil tersenyum.
Namun senyuman itu tidak berlangsung lama karena dia menyadari sesuatu hal, dia membutuhkan waktu cukup lama untuk mencapai titik ini dan hasilnya hanya mampu mengalahkan empat serigala saja.
Singkat waktu beberapa bulan kedepan atau sudah menginjak dua tahun latihannya, ia tetap tidak berubah dan tidak bertambah kuat entah kenapa, bahkan dirinya tetap sama dan kewalahan saat melawan empat serigala lagi, dirinya merasa kalau fisik goblin memang tak bisa lebih jauh dari sekarang dan ini sudah maksimal.
Sudah dua tahun, dua tahun berlatih, dua tahun berburu, dua tahun bertahan hidup dan sekarang batasnya terlihat "...Hanya ini?" tubuhnya terduduk di tanah dan hujan membasahi wajahnya.
Tangannya mengepal "Aku tidak berkembang..." menatap pedang karat ditangannya, pedang yang menemani selama ini "Aku berlatih setiap hati tanpa henti.. Tapi kenapa?" lalu ia berdiri dengan berat dan merasa sangat frustasi.
Krrssk!
Goblin itu langsung bersiaga dan menyembunyikan keberadaannya di balik semak, ia kira itu adalah serigala lain tapi ternyata itu adalah langkah kaki seorang manusia yang berjalan diantara pepohonan "Manusia!" dengan wajah penuh amarah.
Manusia itu hanya seorang diri dan mungkin sedang mencari bahan herbal atau mungkin seorang pemburu penyendiri.
Meskipun tubuhnya masih lelah akibat bertarung melawan empat serigala, tapi ia langsung menyerang manusia itu dengan buru-buru tanpa pikir panjang.
Manusia itu menyadari serangan tiba-tiba si goblin dari belakang "Hmm?" manusia itu mengangkat alis dan bersikap tenang "Goblin?" lalu wajahnya tersenyum sambil mengangkat pedangnya.
Trang.
Pedang goblin dan pedang manusia itu beradu "Jadi masih ada goblin tersisa? Kukira goblin sudah musnah!" goblin tidak menjawabnya dan tetap menyerangnya tapi manusia itu terlihat tenang dan tidak terlihat serius "Grraaah!" goblin melesat cepat mengayunkan pedang ke leher.
Klang.
Manusia itu menangkisnya dengan mudah, goblin terkejut dan melanjutkan serangan lainnya, manusia menepisnya, menyerang lagi, ditepis lagi dengan mudah, goblin mundur karena kelelahan "Boleh juga kau!" ujar manusia itu.
Goblin melakukan kombinasi serangan, manusia menghindar lalu melakukan serangan balik dengan menyiku dada goblin sampai si goblin itu terhempas.
Bruk!
Tubuh kecilnya menghantam pohon dan membuat goblin sesak nafas "Ukh!.." berusaha bangkit dengan susah payah lalu kembali mengangkat pedangnya, manusia berjalan mendekatinya, tiba-tiba si goblin melemparkan pedangnya dan menargetkan ke kepala manusia itu.
Klang!
Manusia itu kembali menangkisnya dengan mudah tapi itu sengaja dilakukan untuk mengalihkan pandangan manusia "Goblin itu berbeda..." gumam manusia yang membiarkannya pergi.
Goblin berhasil melarikan dengan trik murahannya tadi dan sekarang ia berada di sebuah goa kecil dan sempit merenungkan semuanya.
Kepalanya tertunduk frustasi, hujan terdengar dari luar, ia menatap tangannya yang goresan hasil dari latihannya selama ini, dia memukul tanah berkali-kali 'Buk.. Buk.. Buk!' air matanya keluar "Kenapa?.. KENAPA?!" suaranya menggema didalam goa sambil terus memukul tanah hingga kukunya patah, menggertakkan giginya.
"Semua latihan ini tidak ada gunanya!" untuk pertama kalinya ia membenci dirinya sendiri "Kenapa aku lemah!" lalu menatap langit-langit goa "DUNIA TIDAK ADIL!"
...
Beberapa hari kemudian goblin berjalan tanpa arah tujuan, tidak lagi berlatih, tidak lagi berburu, hanya berjalan entah kemana.
Daun-daun meneteskan air bekas hujan semalam, kemudian ia menginjak sesuatu 'Plof' dia berhenti dan menunduk "...Apa ini?" seperti cacing tapi bukan, bentuknya telalu tipis, warnanya hitam pekat, tidak memiliki mata atau kepala.
Goblin mengibaskan kakinya untuk melepaskan mahluk itu, namun itu menempel seperti lintah dan tak bisa dilepaskan "Apa ini-" tiba-tiba mahluk aneh itu masuk kedalam pori-porinya dan masuk kedalam tubuhnya.
Dia mengerutkan dahinya lalu memeriksa kulitnya, tapi tidak ada efek apa-apa "...Aneh" tak lama setelah itu dia merasa pusing dan lemas, dadanya terasa panas "Apa?!..." jantungnya mulai berdetak keras.
Dia terhuyung "Ugh..." tubuhnya kehilangan keseimbangan, berusaha berpegangan pada pohon, tangannya bergetar, kemudian seluruh tubuhnya merasa sangat kesakitan "AAAAARGH!" tubuhnya terjatuh.
Kuku-kukunya mencakar tanah hingga patah karena saking sakitnya, hingga akhirnya ia tak sadarkan diri.
Mahluk misterius aneh seperti parasit itu telah masuk kedalam darahnya, kedalam jantung, paru-paru, hati, ginjal, otak dan ke semua organ tubuh.
Tidak diketahui berapa lama dia tak sadarkan diri, satu jam? satu hari? mungkin lebih.
Ketika akhirnya matanya terbuka perlahan, hal yang pertama ia rasakan adalah dingin, namun kali ini dingin terasa berbeda.
Udara yang masuk kedalam paru-parunya terasa jauh lebih segar, membuka dan menutup kepalan tangan dengan lancar tanpa rasa sakit, tidak ada rasa nyeri seperti sebelumnya.
Dia melihat pantulan tubuh dan wajahnya di genangan air bekas hujan, tidak ada yang berubah, tetap kecil dan hijau, tapi sesuatu terasa berbeda, tubuhnya terasa ringan, sangat ringan.
Mencoba melompat dan berlari kecil "Ringan!.. Cepat!" ia berhenti dan sadar kalau dirinya yang sekarang ini sudah sedikit berubah, ia merasakan ada sesuatu di dalam tubuhnya, sesuatu yang kecil, asing, misterius, dan tidak tahu apa yang telah memasuki tubuhnya itu.