Norman Turner mengira Grace Wills, wanita yang mudah dibodohi, sayangnya ia tidak memahami istrinya dengan baik.
Grace Wills malah memilih langkah yang paling berbeda saat mengetahui suaminya mendua.
Apa yang dilakukan Grace Wills? Penasaran, kepoin yuk ceritanya ...
Untuk tahu info update, follow IG: @nana_vinli
Diusahakan update setiap hari, 1 sampai 3 bab.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ocean Na Vinli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jumawa
Norman terkejut mendengar perkataan Grace. Tubuhnya bahkan sempat menegang sebelum akhirnya berusaha tertawa kecil, meskipun terdengar sangat kecut.
"Kau cuma bercanda, kan, Sayang?"
Grace hanya tersenyum. Tidak ada jawaban dari bibirnya. Perlahan, ia menurunkan kedua tangannya dari leher Norman, lalu berbalik meninggalkan balkon.
Norman hanya bisa menatap punggung istrinya yang berjalan menuju kamar.
"Sayang."
Grace tetap berjalan tanpa menoleh.
Norman menghela napas panjang. Entah mengapa, perkataan Grace tadi membuat bulu kuduknya berdiri. Meskipun ia berusaha meyakinkan dirinya bahwa itu hanya candaan, perasaan tidak nyaman tetap memenuhi pikirannya.
Ia masih berdiri di balkon selama beberapa detik. Tatapan Norman kosong menatap ke arah halaman yang gelap. Perkataan Grace terus terngiang-ngiang di kepalanya.
"Belah lah jantungmu sekarang, Sayang."
Norman menggeleng pelan. Ia tidak mengerti mengapa sebuah candaan sederhana bisa membuatnya merasa seperti ini.
"Dia hanya bercanda," gumam Norman, berusaha menenangkan dirinya sendiri.
Namun, tetap saja ada sesuatu yang terasa aneh.
Sesampainya di kamar, Grace berjalan menuju pintu.
"Mau ke mana, Sayang?" tanya Norman.
"Ke dapur. Aku mau minum!" jawab Grace dari kejauhan.
Norman hanya mengangguk.
Ia melihat Grace menghilang di balik pintu kamar. Setelah itu, Norman kembali ke atas ranjang. Lelaki itu mengambil ponselnya yang tadi diletakkan di nakas, lalu memeriksa layar sebentar.
Semuanya tampak baik-baik saja. Setidaknya, itulah yang Norman pikirkan. Ia mengembuskan napas perlahan-lahan, lalu meletakkan kembali ponselnya di atas nakas. Norman mencoba mengabaikan perasaan aneh yang sejak tadi mengganggunya.
Mungkin dirinya hanya terlalu memikirkan perkataan Grace. Bukankah selama ini Grace memang selalu menyayanginya?
Norman bahkan tersenyum tipis ketika mengingat bagaimana istrinya berusaha memberinya kejutan. Terlebih, Emma pun bersikap biasa saja, Emma lah yang memberitahu Norman jika Grace ada di rumah. Tidak ada sedikit pun tanda bahwa Grace mengetahui perselingkuhannya. Setidaknya, itulah yang Norman yakini.
Namun, tiba-tiba terdengar getaran dari atas nakas.
Norman langsung menoleh.
Jantungnya seketika berdetak lebih cepat. Ia mengira Mona yang menghubunginya, tetapi ketika melihat layar ponsel, dahinya langsung berkerut. Nomor tak dikenal.
Untuk beberapa saat, Norman hanya menatap layar tersebut. Tangannya bahkan tidak langsung bergerak untuk mengangkat panggilan.
Siapa yang meneleponnya malam-malam seperti ini?
Pikirannya langsung tertuju kepada peneror yang menghubunginya sebelumnya.
Dengan ragu-ragu, Norman akhirnya menyambar ponsel tersebut lalu menempelkannya ke telinga.
"Halo, siapa ini?" tanya Norman langsung.
"Hai, Norman. Masih ingat denganku, 'kan?"
Suara parau langsung menyapa dari ujung telepon.
Mendengar suara tersebut, pupil mata Norman seketika melebar. Tubuhnya menegang. Ia bahkan celingak-celinguk ke sembarang arah, seolah-olah orang yang berada di ujung telepon bisa tiba-tiba muncul di hadapannya.
"Mau apa lagi kau?" tanya Norman, setengah membentak.
Terdengar tawa rendah dari ujung sana.
"7 miliar. Berikan aku 7 miliar, maka aksi perselingkuhanmu dengan sekretarismu tidak akan tersebar."
Tangan kiri Norman seketika mengepal.
"Sialan." gumamnya dalam hati.
Rasa kesal dan panik bercampur menjadi satu. Ia tidak suka ketika ada seseorang yang berani mengancamnya seperti ini.
Namun, kali ini Norman mencoba mengendalikan dirinya.
"Tidak. Memangnya kau punya bukti perselingkuhanku? Jangan asal tuduh kau!" balasnya sambil menyeringai tipis.
Tidak seperti tadi siang, sekarang Norman berusaha membalikkan keadaan. Ia merasa orang di ujung telepon itu hanya menggertaknya. Selama tidak ada bukti, Norman yakin orang tersebut tidak akan bisa berbuat apa-apa.
Setelah berkata demikian, tidak ada jawaban dari seberang sana.
Hanya suara hening yang membuat Norman semakin yakin bahwa dirinya berada di atas angin.
Melihat situasi sepertinya berpihak kepadanya, Norman kembali tersenyum angkuh.
"Lihat, kau saja tidak bisa membuktikan. Jangan harap kau bisa mendapatkan—"
Belum sempat Norman meneruskan perkataannya, panggilan langsung dimatikan.
Norman menatap layar ponselnya sambil menghela napas.
"Cih."
Ia merasa sedikit lega. Setidaknya, orang itu tidak bisa berbuat banyak tanpa bukti.
Norman hendak menaruh ponselnya kembali ke nakas. Namun, sebuah notifikasi pesan masuk muncul di layar, sebuah video.
Norman mengernyitkan dahi. Tangannya yang semula hendak meletakkan ponsel kembali berhenti. Dengan rasa penasaran, ia membuka pesan tersebut.
Hanya dalam hitungan detik, wajah Norman berubah pucat pasi. Matanya membesar dan napasnya seakan tercekat di tenggorokan.
Video itu memperlihatkan dirinya bersama Mona di villa dengan sangat jelas.
Norman membeku. Untuk beberapa saat, lelaki itu bahkan tidak mampu berkata-kata.
Tidak ada yang bisa dibantah dari video tersebut. Semua terlihat begitu jelas.
Wajahnya dan wajah Mona. Tempat mereka berada tadi siang, bahkan apa yang mereka lakukan.
Jari-jari Norman mulai bergetar. Ia kembali memutar video itu untuk memastikan apa yang dilihatnya bukan kesalahan. Namun, hasilnya tetap sama.
"Sialan." Suara Norman tercekat.
Dada Norman terasa sesak. Rasa percaya dirinya yang beberapa detik lalu begitu tinggi, kini seolah lenyap begitu saja.
Bagaimana bisa? Bagaimana si peneror mendapatkan video tersebut?
Pikiran Norman langsung dipenuhi berbagai kemungkinan. Ia bahkan mulai merasa takut jika video itu sampai tersebar ke publik.
Jika itu terjadi, bukan hanya dirinya yang akan terkena masalah. Keluarganya juga bisa ikut terseret. Nama perusahaan keluarganya bisa tercoreng. Dan yang paling Norman benci adalah jika media sampai mengetahui perselingkuhannya. Ia tidak boleh membiarkan itu terjadi.
Tentu saja, ketika Grace melihat Norman dan Mona berhubungan di luar tadi siang, wanita itu merekam mereka menggunakan ponselnya yang lain.
Tanpa Norman sadari, sejak tadi Grace sudah memiliki bukti yang cukup untuk menghancurkan dirinya.
"Sialan." Norman kembali mengumpat.
Dalam sepersekian detik, ponselnya kembali bergetar.
Nomor tak dikenal terpampang jelas di layar.
Norman segera mengangkat panggilan tersebut.
"Sebenarnya kau ini siapa dan apa maumu?!" kata Norman dengan napas memburu.
Di ujung sana, Grace kembali tertawa.
Tawanya terdengar sangat menyebalkan di telinga Norman. Sampai-sampai membuat mata Norman berkilat menyala.
"Uang," jawab Grace kemudian.
"Baik, aku akan memberikan kau uang! Puas kau!" bentak Norman.
Norman bahkan tidak ingin memperpanjang pembicaraan. Yang ada di pikirannya sekarang hanyalah bagaimana caranya agar video tersebut tidak sampai tersebar.
Namun, suara Grace kembali terdengar. "Sepertinya aku berubah pikiran."
Dahi Norman langsung berkerut kuat. "Berubah pikiran apanya?"
Tidak ada jawaban yang langsung terdengar.
Beberapa detik kemudian, mata Norman tiba-tiba melebar. Wajahnya berubah tegang dan tangannya mencengkeram ponsel semakin kuat.
"Aku akan menemukanmu, bajingan!"
Bersambung ~
Akan bahagia klo video perselingkuhan Edmund juga juga viral 🤣
Mona yang haus status Turner hingga tak sadar bahwa Mona membuka jalan untuk keruntuhan Turner sekeluarga 🤣