Alexa tak pernah menyangka hidupnya akan berubah hanya karena sebuah novel dark romance yang ditulis oleh saudara kandungnya sendiri. Saat membaca bab terakhir, ia menggerutu karena merasa alurnya terlalu kejam dan tokoh utama perempuan diperlakukan tanpa belas kasihan. Namun, ketika tanpa sengaja terjatuh dari tempat tidur, Alexa membuka mata di dunia yang sama persis dengan novel itu. Yang lebih mengejutkan, ia bukan menjadi tokoh sampingan—melainkan Alexa, karakter utama dengan nama yang sama dengannya. Kini ia adalah istri dari Raiden Damon Alteir, seorang mafia paling berkuasa yang namanya ditakuti di seluruh dunia bawah tanah. Di balik wajah tampannya, Raiden dikenal sebagai pria yang dingin, kejam, dan tak mengenal belas kasihan. Setiap kali amarahnya memuncak, kedua matanya berubah menjadi merah, seolah memperlihatkan sisi tergelap yang bahkan para pembunuh bayaran pun takut hadapi. Dalam alur novel, Alexa hanyalah pion yang terus dipermainkan dan dikendalikan oleh sang mafia psikopat. Ia tahu bagaimana kisah itu seharusnya berakhir—tragis. Karena itulah, Alexa bertekad mengubah takdirnya dan keluar dari cerita sebelum semuanya terlambat. Namun, semakin keras ia berusaha melarikan diri, semakin Raiden Damon Alteir menolak melepaskannya. Di dunia yang dipenuhi rahasia, perebutan kekuasaan, dan bahaya di setiap sudut, Alexa harus memilih: mengubah akhir cerita yang sudah ditulis, atau tenggelam dalam takdir kelam yang menantinya bersama sang raja mafia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
sarapan panas
Tangan Alexa bergetar kaku di udara. Rasa dingin yang menjalar di jemarinya kontras dengan hawa panas yang mendadak membakar kedua pipinya. Di bawah tatapan mata kelam Raiden yang menghujam tanpa kedip, Alexa perlahan-lahan menurunkan retsleting dan menyibakkan kardigan longgar tebal yang membungkus tubuhnya.
SRAK...
Kardigan tebal itu terlepas dari bahunya, jatuh terkulai ke atas karpet tebal di dekat kakinya.
Kini, penampilan Alexa terpapar jelas. Ia mengenakan tanktop bahan rajut ketat tanpa lengan berwarna krem yang melekat sempurna di kulit mulusnya, dipadukan dengan rok span hitam sepanjang lutut yang membungkus pinggang ramping serta lekukan pinggulnya dengan sangat indah. Baju ketat itu memperlihatkan dengan jelas betapa sempurnanya proporsi tubuh yang kemarin sempat dihina oleh wanita lain.
Alexa seketika menundukkan kepalanya dalam-dalam. Matanya terpejam rapat, menggigit bibir bawahnya erat-erat untuk menahan rasa malu yang membumbung tinggi. Kedua tangannya meremas pinggiran rok spannya, berusaha menutupi ketelanjangan emosional yang dirasakannya. Wajah cantiknya kini memerah padam hingga ke ujung telinga.
Sementara itu, pandangan Raiden makin menggelap. Iris mata hitamnya menyusuri garis bahu mulus Alexa, leher jenjangnya yang halus, hingga ke lekukan dadanya yang naik turun seirama dengan napasnya yang memburu. Rasa panas yang membakar dadanya sejak semalam bukannya mereda, melainkan kian menjadi-jadi.
"Buka berikutnya," perintah Raiden dingin. Suaranya serak, rendah, dan begitu pekat.
DEG.
Kalimat itu bagaikan petir di siang bolong bagi Alexa. Ia mendongak kaget, matanya membelalak lebar memancarkan ketakutan yang teramat sangat.
"K-kenapa... kenapa harus dibuka lagi?" bisik Alexa terbata-bata dengan suara bergetar. Tangannya refleks naik menyilang di dada, mencoba melindungi tanktop-nya. "I-ini kan udah... Tuan, tolong jangan begini..."
Namun, tidak ada jawaban berbentuk kata-kata dari Raiden.
Pria itu hanya miringkan kepalanya sedikit. Tatapan matanya mendadak berubah menjadi teramat tajam dan mematikan—sebuah isyarat tanpa suara yang menegaskan bahwa kesabarannya berada di ambang batas dan penolakan sekecil apa pun akan berakibat fatal.
Tubuh Alexa bergetar hebat. Tatapan tajam itu seolah sanggup mencabut nyawanya dalam sekejap jika ia nekat membantah.
"I-iya... aku buka..." cicit Alexa akhirnya, kepalanya kembali menunduk pasrah.
Dengan jemari yang gemetaran parah hingga beberapa kali tersangkut, Alexa memegang bagian bawah tanktop rajutnya. Ia perlahan merayap naik, menyingkap kain ketat itu melewati perut rampingnya yang rata, menaikkannya melewati dada, hingga akhirnya menyilangkannya keluar dari kepala.
SRAK.
Tanktop krem itu melayang jatuh menyatu dengan kardigannya di lantai.
Napas Alexa tercekat di tenggorokan. Udara dingin kamar berpendingin ruangan mendadak menyapa kulit polos bagian atas tubuhnya secara langsung.
Kini, tubuh bagian atas Alexa hanya dibungkus oleh selembar bra renda berwarna hitam yang menyangga dengan sempurna keindahan dadanya yang padat dan berisi. Kulit porselennya yang mulus, tulang selangkanya yang begitu anggun, serta pinggangnya yang sangat kecil terpampang nyata tanpa celah di hadapan pria yang berstatus sebagai suaminya itu.
Alexa memeluk tubuhnya sendiri dengan kedua tangannya yang gemetar hebat, menunduk begitu dalam hingga rambut hitamnya jatuh menutupi sebagian wajahnya yang membara merah panas karena rasa malu dan panik yang menyatu.
Pemandangan di hadapannya membuat jakun Raiden naik turun menelan ludah secara kasar. Dada pria itu naik turun seirama dengan napasnya yang kian memburu, memanas oleh gairah yang tak lagi sanggup ia bendung. Pendar lampu kamar yang temaram memantulkan keindahan kulit porselen Alexa yang begitu halus, terbingkai sempurna oleh bra renda hitam yang menyangga keindahan dadanya.
Tanpa peringatan, Raiden bergerak cepat. Tangannya yang besar dan kekar menyambar pergelangan tangan Alexa yang gemetar, menariknya dengan satu sentakan kuat hingga tubuh ramping wanita itu terhuyung maju.
"AAKH!" jerit Alexa tertahan.
Dalam hitungan detik, Raiden mengukung tubuh Alexa di atas tempat tidur raksasa. Postur tubuhnya yang tinggi besar mengunci pergerakan Alexa dari segala sisi, menebarkan bayangan intimidatif dan hawa panas yang begitu membakar. Alexa gemetaran hebat, kedua tangannya yang canggung tertahan di antara dada kekar Raiden dan matanya bergetar menatap iris kelam pria itu dari jarak yang sangat dekat.
"K-kau... lepaskan..." bisik Alexa terbata-bata, napasnya tersendat oleh rasa takut campur aduk yang menghimpit dadanya.
Raiden menatap tepat ke dalam manik mata Alexa dengan pandangan yang teramat pekat. Suaranya terdengar serak dan dalam di dekat telinga Alexa, "Kau yang memulainya semalam, Alexa... Kau yang bilang sanggup memuaskanku, bukan?"
Alexa tak sanggup menjawab. Rasa malu yang memuncak membakar seluruh wajah dan lehernya. Karena tak sanggup menatap raut dominan Raiden lebih lama lagi, Alexa akhirnya memejamkan kedua matanya rapat-rapt, membiarkan kepasrahan menguasai dirinya di bawah tekanan sang penguasa.
Sensasi panas sentuhan telapak tangan Raiden yang lebar merayap perlahan ke atas kulit perutnya yang mulus, naik hingga mencapai keindahan dadanya. Jemari pria itu meremas dengan cengkeraman yang mantap namun penuh tuntutan, membangkitkan desiran aneh yang mendadak melintas liar di seluruh penjuru saraf Alexa.
"Nghh..."
Sebuah desahan halus lolos begitu saja dari bibir Alexa, meski ia sudah berusaha sekuat tenaga menahannya dengan menggigit bibir bawahnya erat-erat.
Mendengar suara desahan lemah itu, Raiden seolah kian terpacu. Dengan gerakan yang perlahan namun pasti, jemarinya menyangkut di pinggiran kain bra renda hitam itu, lalu menyingkapnya naik ke atas.
Dada polos Alexa kini sepenuhnya terpapar tanpa penghalang di bawah tatapan tajam Raiden. Pria itu terpaku sejenak, mengagumi keindahan alami yang berada dalam kuasanya. Sentuhan demi sentuhan berlanjut, makin intim dan menuntut, memancing hela napas Alexa makin memburu. Desahan-desahan kecil yang bergetar kembali lolos dari tenggorokan Alexa, memenuhi keheningan kamar yang kian membara oleh gairah yang tak tertahankan.
Ruangan bernuansa hitam-abu itu kian diselimuti hawa panas yang membakar. Sensasi sentuhan jemari Raiden yang penuh tuntutan serta erangan-erangan halus yang bergetar dari bibir Alexa membuat atmosfer di atas tempat tidur raksasa itu berada di puncak ketegangan. Alexa pasrah dalam pejaman matanya, membiarkan gejolak aneh yang belum pernah ia rasakan sebelumnya menguasai akal sehatnya.
Namun, tepat saat situasi kian memanas dan tak terkendali...
DZZZ... DZZZ... DZZZ...
Suara dering telepon genggam milik Raiden mendadak memecah keheningan kamar dengan nyaring. Ponsel berbalut bahan mahal yang tergeletak di atas meja samping tempat tidur itu bergetar hebat, membawa irama interupsi yang teramat mengganggu.
Gerakan tangan Raiden seketika terhenti kaku di udara.
Pria itu mematung di atas tubuh Alexa. Helaan napasnya yang berat dan memburu bertabrakan dengan hembusan angin dingin AC kamar. Deringan telepon yang terus berbunyi seolah menjadi air es yang menyiram habis kabut gairah yang sempat menguasai benaknya.
Perlahan tapi pasti, kesadaran dingin Raiden kembali sepenuhnya.
Pria itu mengepalkan tangannya rapat-rapt, mengontrol deru napasnya yang sempat liar. Iris mata hitamnya yang semula dinaungi kegelapan gairah kini kembali mendingin, menatap tajam sosok Alexa yang masih terengah-engah di bawah kuasanya dengan kondisi pakaian yang berantakan.
Raiden menarik kembali kedua tangannya, lalu menegakkan tubuhnya dan turun dari tempat tidur. Tanpa memandang Alexa lagi, ia menyambar telepon genggamnya, melihat nama sekretaris utamanya tertera di layar, lalu menempelkan ponsel itu ke telinganya.
"Bicaralah," ucap Raiden dengan suara yang mendadak kembali begitu dingin, datar, dan berwibawa, seolah-olah kejadian panas beberapa detik lalu tidak pernah terjadi.
Sembari mendengarkan laporan dari balik telepon, Raiden memutar tubuhnya membelakangi tempat tidur. Tanpa sedikit pun menoleh, ia mengibaskan sebelah tangannya ke udara—sebuah gestur dingin dan mengusir yang teramat sangat jelas.
"Pergi. Keluar dari kamarku," pangkas Raiden pendek dan tajam.
DEG.
Alexa yang baru saja merapikan bra renda hitamnya dan menarik tanktop-nya turun dengan jemari gemetaran seketika membeku. Matanya mendadak melotot lebar, menatap punggung tegap Raiden yang kini membelakanginya dengan tatapan tak percaya campur aduk.
Rasa malu yang tadinya membakar wajahnya kini berganti menjadi gelombang amarah yang amat sangat menyengat!
'Apasih?! Setelah bikin orang deg-degan setengah mati, disuruh buka baju, diremas-remas, terus cuma gara-gara telepon langsung disuruh keluar begitu aja?! Dasar psikopat tidak punya perasaan!' amuk Alexa dalam hati, dadanya naik turun menahan kekesalan yang siap meledak.
"Menyebalkan! Iblis gila!" cerca Alexa spontan dengan nada setengah berbisik tapi penuh penekanan dan nada kesal yang membara.
Tanpa membuang waktu lagi, Alexa menyambar kardigan tebalnya dari atas lantai dengan gerakan kasar. Sembari mengancingkan kardigannya terburu-buru, ia memutar tubuhnya dan melesat berlari keluar dari kamar raksasa itu secepat yang ia bisa.
BAM!
Pintu kamar Raiden ditutupnya dengan sedikit bantangan keras. Alexa berlari menyusuri koridor mansion dengan wajah memerah padam, napas memburu, dan sumpah serapah yang terus membanjiri pikirannya untuk sang suami mafia.
ok...let's play 🤣🤣
Alexa swaaaag🤣🤣🤣🫣
double up
takut Raiden nya kelamaan ngejelasinnya nya
Alexa main lompat aja🥹
anak orang udah diperawanin trus ilang
jangan salahin kalau ntar Alexa nya menghilang juga😔