Beda Usia + Berondong + Manis-Cemburu + Ambigu Kantoran + Cinta Diam-Diam + Cerita Per Unit】
Katanya pacaran sama berondong itu bahaya. Tapi kenapa makin bahaya, makin nagih?
Kirana cuma mau relaksasi otot di gym. Bukannya rileks, dia malah "khilaf" satu malam sama pelatih pengganti yang mukanya polos kayak anak anjing. Besok paginya? Cowok itu ternyata suami in-game sahabatnya di Raja Nusantara, anak semata wayang bos-nya Pak Handoko, dan… anak magang baru di divisinya.
Kirana pengin kabur. Tapi si adik malah bisik-bisik: "Kak, malam ini sekali lagi, ya?"
Dan Kirana bukan satu-satunya yang kejeblos.
Ada yang salah jemput di bandara, eh malah bawa pulang "pacar bayaran" yang ternyata naksir dia diam-diam sejak lima tahun lalu. Ada yang mabuk lalu nikah dadakan sama "cowok bayaran"—yang ternyata putra mahkota konglomerat. Ada manajer artis yang, semalam sebelum resign buat nikah, malah "termakan" sama aktor papan atas asuhannya sendiri selama sepuluh tahun. Ada dokter relawan yang dikejar-kejar adik tetangga yang dulu ia besarkan—sekarang balik jadi dokter pulangan luar negeri yang… nggak mau ngalah.
20 berondong. 20 kisah. Satu pola yang bikin jantungan: siang hari manis manggil "Kakak", malam hari berubah jadi serigala yang nggak mau dipanggil adik lagi.
Mereka polos di depan, tapi posesif di belakang. Mereka bilang "aku masih kecil, Kak", tapi merekalah yang ngejar sampai ke ujung dunia, beliin rumah diam-diam, jagain sampai babak belur, dan bilang: "Berhenti nganggap aku adik. Anggap aku laki-laki yang sejajar sama kamu."
Masalahnya… si Kakak keburu kabur duluan tiap pagi.
Pertanyaannya sekarang: berapa lama Kakak bisa lari, kalau tiap berondong ini nagihnya minta ampun?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aluna Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22
Bab 22
Tunggu Aku Lebih Tinggi, Kamu Nikah sama Aku
Tangan kecil Rangga menutup telingaku rapat, tetapi tubuhnya sendiri gemetar.
Kami bersembunyi di sisi teras rumah keluarga Nugroho. Dari rumahku yang hanya berjarak beberapa bangunan, suara Ayah masih terdengar menuduh Ibu. Rania berlari memanggil orang tuanya. Rangga tetap duduk di depanku, keningnya menempel pada keningku.
"Jangan takut, Kak Wulan. Aku yang jagain kamu."
"Kamu lebih kecil dariku."
"Nanti aku besar."
Tangannya tidak cukup lebar untuk menutup seluruh telingaku. Namun sejak hari itu, setiap kali rumahku terasa sesak, keluarga Nugroho membuka pintu tanpa bertanya.
Mimpi berpindah ke suatu Lebaran bertahun-tahun kemudian. Kami duduk mengelilingi meja penuh opor, ketupat, dan kue kering. Salah satu tante bertanya kepada Rangga yang masih duduk di sekolah dasar tentang anak perempuan yang ia sukai.
Rangga menunjukku dengan sendok.
"Aku mau nikah sama Kak Wulan."
Semua orang tertawa. Aku yang merasa lebih dewasa mencubit pipinya.
"Mana boleh nikah sama kakak? Kamu pendek."
"Emang nggak boleh nikah sama Kak Wulan? Kita bukan saudara."
Orang-orang kembali tertawa, tetapi Rangga menatapku dengan sangat serius.
"Kalau aku sudah lebih tinggi dari Kakak, Kakak nikah sama aku?"
Aku mengangguk asal-asalan sambil menyodorkan segelas susu. "Minum yang banyak dulu."
Rangga menghabiskannya sampai setetes terakhir.
Kenangan berikutnya datang seperti potongan film. Rangga kecil dijauhi teman sekelas karena selalu menjawab pertanyaan guru terlalu cepat. Aku menunggu di gerbang sekolah dan membawanya pulang. Ketika beberapa anak mengolok-oloknya sok pintar, aku berdiri di depan tubuhnya.
"Kalau kalian iri karena nilainya bagus, belajar," kataku kepada mereka. "Jangan ganggu anak yang lebih kecil."
Sepanjang jalan pulang, Rangga tidak bicara. Di depan rumah, ia menyodorkan permen yang sejak pagi disimpannya untuk diri sendiri.
"Buat Kak Wulan."
"Kenapa?"
"Karena Kakak jagain aku. Nanti gantian."
Saat itu aku menganggapnya ucapan anak kecil. Namun tahun-tahun setelahnya, ia selalu menepati giliran. Ia menunggu di halte ketika aku pulang les, memperbaiki rantai sepedaku, dan suatu malam berdiri di luar rumah sampai pertengkaran Ayah berhenti. Ia tidak pernah masuk atau menantang orang dewasa. Ia hanya memastikan aku tahu ada seseorang di balik pagar.
Lalu waktu berlari. Rangga masuk SMP, bertambah tinggi, dan suatu sore berdiri di depanku di lapangan basket.
"Sekarang aku lebih tinggi."
Aku menepuk kepalanya. "Tetap bocah."
Senyumnya saat itu sama seperti senyum laki-laki yang kini tidur di sampingku.
Aku terbangun dengan mata basah.
Rangga masih berpakaian lengkap di atas selimut. Satu lengannya menjadi bantalku, sementara tangan lain menjaga jarak dari tubuhku. Ketika aku bergeser, matanya terbuka.
"Yudha balik?" tanyanya cepat.
"Nggak. Aku cuma mimpi."
"Mimpi buruk?"
Aku menatap wajah yang pernah jauh lebih kecil dariku. "Aku lupa kamu pernah janji menjaga aku."
Rangga terdiam. Kemudian ia menarik selimut sampai bahuku. "Aku nggak pernah lupa."
Jawaban itu justru membuatku takut.
Selama satu minggu berikutnya, aku menghindarinya.
Aku pulang sebelum malam, mengirim kabar kepada Rania, dan meminta keamanan memastikan Yudha tidak masuk. Yudha mengirim dua permintaan maaf sebelum akhirnya berhenti setelah menerima peringatan tertulis dari pengelola gedung. Ancaman luar mereda. Yang tidak mereda adalah ingatanku pada dada Rangga, susu hangat, dan janji masa kecil.
Setiap kali Rangga menelepon, aku menjawab lewat pesan singkat. Ketika ia mengajak bertemu, aku memakai pekerjaan sebagai alasan.
Pada hari ketujuh, ia menungguku di area parkir kantor.
Rangga berdiri di samping mobilnya, mengenakan kemeja hitam dengan lengan tergulung. Begitu aku mendekat, ia membuka pintu penumpang.
"Kita bicara."
"Aku capek."
"Aku antar pulang setelah kita selesai. Kalau Kakak nggak mau masuk mobil, kita bicara di sini. Pilih."
Beberapa rekan kerja lewat sambil melirik. Aku masuk mobil agar tidak menjadi tontonan. Rangga duduk di belakang kemudi, tetapi tidak menyalakan mesin.
"Kenapa menghindar?"
"Aku butuh waktu."
"Seminggu cukup buat memutuskan aku ini apa?"
Aku menatap dashboard. "Aku nggak butuh hubungan tanpa perasaan. Kamu juga nggak perlu merasa wajib tanggung jawab cuma karena satu kejadian."
"Siapa bilang aku nggak punya perasaan?"
"Kita dari kecil seperti kakak-adik."
"Menurut Kakak. Menurut aku, kita calon suami istri yang janjinya tertunda."
Aku menoleh. Rangga tersenyum tipis, tetapi matanya tidak bercanda.
"Kakak benar-benar lupa janji waktu Lebaran? Kalau aku lebih tinggi, Kakak mau nikah sama aku."
"Kita masih kecil."
"Aku minum susu setiap hari gara-gara itu. Waktu SMP akhirnya aku lebih tinggi, Kakak malah bilang aku tetap bocah. Aku tunggu sampai kuliah supaya dianggap boleh pacaran. Kakak malah duluan punya cowok."
"Angga..."
"Aku suka kamu, Wulan. Sudah lama sekali sampai aku nggak tahu kapan mulainya berubah dari ingin dilindungi menjadi ingin menjaga."
Suara parkiran mendadak menjauh. Jemariku mencengkeram tali tas.
"Kenapa kamu nggak pernah bilang?"
"Aku sudah bilang berkali-kali. Kakak yang lemot."
Aku memukul lengannya. Rangga menangkap tanganku, tetapi hanya menggenggam ujung jemari.
"Dari sekolah nggak pernah ada yang menyukaiku," kataku. "Bagaimana aku tahu kamu serius?"
Rangga mengalihkan pandangan dengan ekspresi bersalah.
"Apa?"
"Sebenarnya ada."
"Ada siapa?"
"Lumayan banyak."
Pengakuannya keluar sedikit demi sedikit. Saat SMP, beberapa anak laki-laki menitipkan pesan melalui Rangga karena tahu dia dekat denganku. Ia membalas bahwa aku sedang fokus ujian atau tidak tertarik berpacaran. Di SMA, ia sengaja ikut duduk setiap kali ada teman yang ingin mengajakku pergi, lalu membuat suasana begitu canggung sampai mereka mundur.
"Kamu mengusir semua orang?"
"Aku nggak mengancam. Cuma bilang Kak Wulan punya standar tinggi dan mereka harus bicara langsung. Kebanyakan mundur sendiri."
"Itu tetap curang."
"Iya. Maaf. Waktu itu aku remaja cemburuan. Setelah kuliah di kota berbeda dan sibuk UTBK, aku nggak bisa lagi mengganggu. Yudha masuk."
Aku seharusnya marah. Sebagian diriku memang kesal karena pilihan-pilihan yang tidak pernah sampai kepadaku. Namun Rangga tidak membanggakan perbuatannya. Ia mengakui kesalahan tanpa menyebutnya sebagai bukti kepemilikan.
"Aku nggak akan melakukan itu lagi," katanya. "Sekarang pilihan ada di tangan Kakak. Aku cuma minta kesempatan."
Ia melepaskan tanganku dan membuka kunci pintu.
"Kalau jawabannya tidak, aku akan mundur. Aku tetap adiknya Rania, tetap datang kalau Kakak butuh bantuan, tapi aku nggak akan memaksa."
Rangga hendak keluar. Tanganku bergerak lebih cepat daripada pikiranku dan menangkap ujung kemejanya.
Ia menoleh.
"Aku bukannya nggak suka," kataku.
Senyum perlahan menyebar di wajahnya. "Berarti suka."
"Aku bilang bukan nggak suka. Beda."
"Tipis sekali bedanya."
Aku menarik napas. "Kita coba dulu. Kalau nggak cocok, jangan dipaksa. Dan apa pun yang terjadi, hubunganku dengan Rania nggak boleh rusak."
"Setuju."
"Aku belum selesai."
"Aku sudah setuju sebelum syaratnya habis."
Rangga membawa kami ke apartemen Rania malam itu. Sahabatku baru pulang dari perjalanan dinas dan sedang menata makanan di meja. Begitu melihat kami masuk bersama, ia tidak tampak terkejut.
"Akhirnya ngaku juga?" katanya.
Aku hampir tersandung. "Ngaku apa?"
Rania menghitung dengan jari. "Seprai kamar Rangga diganti, satu kemejanya hilang, kamar utama yang seharusnya lo pakai masih rapi, dan kamar tamu berantakan. Adik gue juga mendadak beli susu dua kotak. Mau gue lanjut?"
Rangga menutup wajah. "Kak Rania menyeramkan."
"Lo berdua mengira gue bodoh."
Aku duduk di depan Rania. "Kalau hubungan kami gagal, lo bakal membenciku?"
Raut mengejeknya lenyap. Ia menggenggam kedua tanganku.
"Wulan, adik gue nggak sepenting lo. Kalau dia nyakitin lo, gue yang buang dia dari keluarga."
"Aku adik kandungmu," protes Rangga.
"Makanya gampang dicari lagi di kartu keluarga. Sahabat susah."
Aku tertawa dengan mata panas.
Rania memelukku. "Bocah ini mengincar lo bertahun-tahun. Demi mengusir cowok-cowok di sekitar lo, jodoh gue juga pernah dia babat. Tiap ada yang mau dekat, Rangga ikut nongkrong dan ngomongin nilai matematika sampai orangnya kabur. Jadi jangan takut kehilangan kami. Keluarga gue sudah menganggap lo keluarga jauh sebelum dia cukup tinggi buat sok jadi pacar."
"Orang tua kalian tahu dia suka aku?"
"Semua orang tahu kecuali lo. Ibu bahkan pernah tanya kenapa Rangga selalu menyisakan kursi di meja Lebaran. Jawabannya karena kursi itu buat Kak Wulan kalau rumah sebelah sedang ribut."
Dadaku mengencang. Rumah ternyata bukan bangunan yang bisa hilang karena satu hubungan gagal. Rumah adalah orang-orang yang tetap menyisakan kursi, bahkan ketika aku terlalu malu untuk datang.
"Kak Rania, jangan buka semua aib."
"Bayar kerusakan masa muda gue dulu."
Makan malam berubah menjadi sidang kelakuan Rangga sejak remaja. Untuk pertama kalinya, cerita-cerita itu tidak membuatku merasa hidupku dicuri. Rasanya seperti menemukan pintu yang selama ini selalu terbuka, hanya saja aku terlalu takut masuk.
Rangga mengantarku pulang. Di depan pintu, ia tidak mencoba ikut masuk.
"Soal malam itu," katanya, "anggap saja kecelakaan. Jangan merasa harus menerima aku karena itu. Nanti kalau Kak Wulan benar-benar mau, baru aku datang minta tanggung jawab."
"Bukannya kamu sudah minta status seharian?"
"Aku boleh berharap. Tapi keputusan tetap punya Kakak."
Ia mencium keningku, lalu mundur satu langkah.
"Aku cinta kamu. Semoga suatu hari kamu juga bisa cinta aku tanpa takut kehilangan rumah."
Aku menggenggam tangannya sebelum ia pergi.
"Jangan lama-lama menunggu, Angga. Aku sedang belajar pulang ke arahmu."