NovelToon NovelToon
Hiraisin: Legenda Pedang Kilat

Hiraisin: Legenda Pedang Kilat

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Action / Penyelamat
Popularitas:254
Nilai: 5
Nama Author: Astrius

Dianggap sampah tanpa bakat. Dikhianati oleh seniornya sendiri. Dan dipaksa menyaksikan kematian sang guru di depan mata.
Hiraisin hanyalah murid terbuang di Sekte Awan Putih yang dianggap tak punya masa depan karena meridian tubuhnya terluka. Namun, di tengah gempuran brutal pasukan Raja Kegelapan, darah Hiraisin menetes di atas hulu pedang patah berkarat—membangunkan rahasia purba yang lama tertidur.
Segel di tubuhnya hancur. Petir dari langit menyambar, membakar meridiannya dan membangkitkan legenda yang telah lama punah: Pedang Kilat.
Kini, dengan luka pengkhianatan di dada dan percikan listrik yang sanggup merobek malam, Hiraisin memulai perjalanan darah. Di hadapannya berdiri jutaan pengikut iblis, para jenderal mengerikan, dan Raja Kegelapan yang menguasai takhta dunia.
Satu tebasan telah lahir. Dan kegelapan tak akan pernah sama lagi.
"Saat dunia dikuasai bayang-bayang, kilat adalah satu-satunya keadilan."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Astrius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertempuran Takhta Abadi & Penyatuan Lima Elemen

Gerbang besi bercabang delapan hancur berkerak, runtuh menjadi serpihan logam hitam yang terhempas ke lantai porselen kelam. Di dalam aula takhta yang teramat luas dan megah, pilar-pilar batu obsidian menjulang tinggi menopang kubah yang dipenuhi gumpalan awan kegelapan berputar liar. Suara dentuman meriam dan gemuruh perang dari Pasukan Aliansi di luar benteng terdengar bagaikan bisikan samar dari balik dinding tebal ini.

Di ujung aula, di atas takhta batu bertatahkan tengkorak naga purba, duduk sosok raksasa yang menjadi sumber dari seluruh bencana Benua Tianlan: Raja Abyss.

Zirah baja kehitaman yang membungkus fisiknya memancarkan aura kehancuran yang amat pekat, begitu dingin dan berat hingga membuat lantai batu di sekeliling takhtanya retak membeku. Di dada zirahnya, tertanam Pecahan Kelima—Pecahan Takhta Purba—sebuah kristal hitam keemasan yang berdenyut kencang, memasok energi kegelapan tak terbatas ke dalam seluruh jaringan tubuh sang penguasa iblis.

Di tangan kanannya, Raja Abyss menggenggam sebuah pedang raksasa berukirkan Runa kematian yang meneteskan cairan korosif.

"Pewaris Petir..." suara Raja Abyss bergema bagaikan gempa bumi yang meretakkan pilar-pilar aula. Sepasang matanya yang menyala merah darah mengunci sosok Hiraisin dan Liora. "Kau berhasil mengumpulkan empat pecahan dan menumbangkan seluruh jenderalku. Namun perjalananmu berakhir di takhtaku!"

Raja Abyss bangkit berdiri. Tinggi tubuhnya melampaui empat meter, dan gelombang kejut tenaga batinnya yang luar biasa dahsyat meledak menghempaskan udara di aula, memaksa Liora mundur beberapa langkah seraya memegang erat Mutiara Es Jiwa Samudera.

"Hiraisin, auranya... dia berada di Ranah Transenden Dewa Iblis!" peringat Liora dengan raut wajah sangat serius, mengalirkan seluruh Qi Seroja Kehidupannya untuk membentengi jiwa mereka berdua dari tekanan batin musuh.

"Tetap di belakangku, Liora," pangkas Hiraisin datar.

SWOOOSH-BOOOOM!

Tanpa aba-aba, Raja Abyss menghilang dari atas takhtanya. Dalam hitungan mikrosatuan, sosok raksasa itu sudah muncul di atas kepala Hiraisin, mengayunkan pedang besarnya dalam tebasan pembelah bumi!

"Tebasan Kehancuran Abyss!"

CLANG-BOOOOOOM!

Hiraisin mencabut Pedang Kilat Purba dengan kedua tangannya, menahan tebasan raksasa itu tepat di atas kepalanya. Benturan dua kekuatan tingkat transenden meledakkan gelombang shockwave yang meruntuhkan puluhan pilar obsidian dan menghancurkan lantai porselen aula hingga radius puluhan meter.

Tanah di bawah kaki Hiraisin ambles sejauh setengah meter, namun pemuda itu tidak bergeming. Empat ukiran Runa di pedangnya—Petir, Es, Api, dan Jiwa—berpendar terang benderang, menahan dorongan berat sihir kegelapan Raja Abyss dengan keteguhan yang tak tergoyahkan.

"Oho? Kau sanggup menahan tebasanku?!" raung Raja Abyss.

Sang penguasa iblis memutar pedangnya, melancarkan sabetan bertubi-tubi yang menyemburkan cambuk-cambuk api hitam dan racun pembusuk jiwa. Setiap ayunan senjatanya membelah udara dan meretakkan dimensi di sekitar mereka.

Hiraisin bermanuver lincah dengan pergerakan Aliran Senyap. Dipandu oleh kesadaran Ranah Dewa Pedang Mula, setiap tangkisan dan tebasan balasan Hiraisin memancarkan kombinasi tiga elemen purba: petir yang membelah, es yang membekukan, dan api yang membakar racun musuh.

Tring! Clang! CRASSS!

Namun, setiap kali Hiraisin berhasil melukai zirah atau memotong serat daging Raja Abyss, Pecahan Takhta Purba di dada sang Raja memancarkan pendar hitam keemasan yang menyembuhkan luka-luka tersebut dalam sekejap mata.

"Hahaha! Percuma, Bocah!" tawa Raja Abyss menggelegar penuh kepuasan. "Selama aku menyatu dengan Pecahan Takhta, tubuhku tidak bisa dimusnahkan! Energi kegelapan ini abadi!"

Raja Abyss menghentakkan kaki kirinya ke lantai. Ratusan tombak bayangan pekat menyembur keluar dari tanah, mengurung ruang gerak Hiraisin dari segala penjuru.

"Awas, Hiraisin!" teriak Liora.

Gadis tabib itu menancapkan tongkatnya, mengibaskan Mutiara Es Jiwa Samudera ke udara. "Teknik Seroja Es: Formasi Pelindung Nol Mutlak!"

Kubah es bersuhu nol mutlak meledak membungkus tubuh Hiraisin, membekukan dan menghancurkan ratusan tombak bayangan sebelum sempat menggores kulit pemuda itu.

Kesempatan singkat itu dimanfaatkan Hiraisin dengan sempurna.

Hiraisin melompat mundur, melayang perlahan di udara tengah aula. Ia mengabaikan gemuruh pertarungan dan tekanan batin musuh, memejamkan matanya rapat-rapat selama sepersekian detik untuk memasuki keheningan jiwa yang mutlak.

Ia merasakan denyut empat pecahan artefak di dalam tubuh dan pedangnya. Namun, ia juga merasakan getaran resonansi halus dari Pecahan Takhta Purba di dada Raja Abyss.

Pecahan kelima itu bukanlah elemen kegelapan alami; ia adalah Inti Tanah Purba yang telah dicemari oleh darah dan sihir iblis Raja Abyss!

Sifat tanah adalah menampung dan menopang seluruh elemen... batin Hiraisin bergetar penuh pemahaman agung. Pecahan kelima itu tidak menolakku... ia sedang menjerit memohon untuk disucikan!

"Liora! Alirkan seluruh Qi Seroja Kehidupan dan energi dingin Mutiara Es ke dalam Dantianku!" seru Hiraisin.

"Diterima!" Liora tidak ragu sedikit pun. Ia menepuk dadanya sendiri, menumpahkan seluruh sisa Tenaga Batin dan Qi Kehidupannya. Gelombang pendar hijau seroja bercampur kristal es menyembur dari telapak tangannya, meluncur dan menyatu secara penuh ke dalam meridian punggung Hiraisin.

HUMMMMMM!

Suhu udara di dalam aula takhta mendadak tenang dan sejuk.

Hiraisin membuka matanya. Sepasang pupil matanya kini menyala terang oleh pendar putih keemasan yang amat jernih, membiaskan empat warna elemen yang berputar dalam harmoni yang sempurna di sekeliling fisiknya.

"Sinergi Empat Elemen... Penyucian Jiwa Purba!"

BZZZZZT-FIRE-FROST-LIGHT!

Hiraisin mengangkat Pedang Kilat Purba dengan kedua tangannya tinggi-tinggi. Pendar kilat ungu-keemasan, jilatan api emas membara, pendar es biru murni, dan pendar putih suci dari Runa Jiwa meledak menyatu, membentuk sebuah naga pedang raksasa bercahaya lima warna yang memenuhi seluruh angkasa aula takhta!

"Apa-apaan kekuatan ini?!" jerit Raja Abyss histeris. Untuk pertama kalinya dalam ribuan tahun, rasa ketakutan spiritual yang amat sangat merayapi jiwanya.

"Terima ini! Jurus Mahakarya Terakhir: Pedang Kilat Purba Penyelaras Alam!"

FLASH-BOOOOOOOOOOOOOOM!

Hiraisin tebas mengayunkan pedangnya ke bawah!

Naga pedang cahaya lima warna meluncur membelah ruang dan waktu dengan kecepatan yang melampaui batas penglihatan mortal. Tebasan ilahi itu menembus pertahanan pedang raksasa Raja Abyss, membelah zirah baja kehitamannya, dan menghantam lurus tepat di pusat Pecahan Takhta Purba di dadanya!

"TIDAKKKKKKKKK!"

Jeritan histeris Raja Abyss membahana memecahkan pilar-pilar dan kubah aula takhta.

Cahaya lima warna yang memancar dari tebasan Hiraisin tidak menghancurkan fisik ksatria itu secara kasar, melainkan membakar habis seluruh darah iblis, sihir hitam, dan kotoran Abyss yang menempel di dalam Pecahan Takhta Purba sampai ke akar jiwanya!

CRACK-SPARKLE!

Kristal hitam keemasan di dada Raja Abyss berubah warna secara bertahap, memuntahkan cairan hitam berbau busuk yang menguap menjadi abu putih. Kristal itu kini bersinar terang benderang dengan pendar Kuning Emas Purba yang amat murni dan suci!

Wujud monster raksasa Raja Abyss meluruh dan hancur berkeping-keping, terurai menjadi abu netral yang terbang tertiup angin penyucian.

SZZSSSH!

Pecahan kelima—Pecahan Takhta Purba (Inti Tanah)—terlepas dari sisa zirah musuh. Kristal kuning emas itu melayang pelan di udara, meluncur lembut dan menyatu masuk ke dalam pangkal hulu Pedang Kilat Purba di tangan Hiraisin!

BOOM-HUMMMMMMM!

Penyatuan lima pecahan artefak telah utuh sempurna!

Kelima ukiran Runa di sepanjang bilah pedang—Angin/Petir, Air/Es, Api, Jiwa, dan Tanah—menyala terang bersinergi secara mutlak. Pedang patah berkarat yang dulu dibawa Hiraisin dari Sekte Awan Putih kini telah lahir kembali secara utuh sebagai senjata legendaris transenden: Pedang Kilat Purba Sejati.

Aura keberadaan Hiraisin melonjak drastis menembus batas alam mortal, mendarat dengan kokoh dan sempurna di Ranah Dewa Pedang Abadi.

Awan hitam kegelapan di atas Benteng Utama Abyss pecah berkeping-keping dan sirna seketika. Sinar mentari pagi yang hangat dan terang benderang menerobos masuk dari kubah aula yang hancur, menyinari sosok Hiraisin dan Liora yang berdiri tegap di atas puing-puing takhta.

Di luar benteng, sorak-sorai kemenangan dari puluhan ribu Pasukan Aliansi menggema membahana membelah langit. Pasukan bayangan dan monster Abyss meluruh menjadi abu di mana-mana, menandai berahirnya cengkeraman kegelapan di Benua Tianlan untuk selamanya.

Hiraisin perlahan menyarungkan Pedang Kilat Purba Sejati ke dalam sarungnya di punggung. CTAK!

Ia membalikkan tubuhnya, melangkah mendekati Liora yang tersenyum anggun dengan mata berembun air mata bahagia. Hiraisin merengkuh tubuh gadis itu secara halus, menatap panorama benua di bawah naungan langit biru yang damai.

Perang abadi telah usai. Sang Pewaris Petir telah menyelesaikan takdirnya, membawakan fajar baru bagi seluruh kehidupan di Benua Tianlan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!