Hazella Adeline, atau Hazel, adalah gadis 19 tahun yang dikenal sebagai bad girl. Meski keras kepala dan berani, Hazel sebenarnya memiliki hati yang sangat baik. Saat pindah sekolah, Hazel harus tinggal di rumah kakaknya, Cateline, yang ternyata sudah menikah selama dua tahun dengan seorang pria bernama Sagara. Namun, Sagara jauh dari bayangan Hazel tentang seorang suami. Ia terlihat penakut, mudah menangis, selalu mengalah, dan sering menjadi sasaran amarah Cateline. Hazel pun selalu membelanya hingga tanpa sadar mulai menyukai pria itu. Hazel tahu perasaannya salah karena Sagara adalah suami kakaknya. Ia berusaha menahannya. Hingga sebuah rahasia perlahan terbongkar. Sagara ternyata mengalami amnesia dan tidak mengingat siapa dirinya sebelum kecelakaan. Tak ada yang tahu bahwa sebelum kehilangan ingatan, Sagara adalah mafia paling kejam sekaligus salah satu pria terkaya di dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14
"Tapi kenyataannya... ibumu itu cuma pelakor!" teriak Cateline dengan wajah merah padam, suaranya melengking penuh kebencian.
Cateline melangkah maju, membusungkan dadanya dengan angkuh, berusaha keras mengembalikan harga diri ibunya yang baru saja ditampar. "Ibumu itu wanita murahan yang merebut Papa dari Mama! Kau cuma hasil dari hubungan haram wanita pengganggu yang merusak keluarga orang lain!"
Mendengar jeritan histeris itu, Hazel bukannya tersinggung atau emosi, ia justru terkekeh pelan sebuah tawa dingin yang terdengar amat meremehkan. Hazel menyilangkan kedua tangannya di dada, menatap Cateline dan Helena bergantian dengan pendar mata yang teramat tajam.
"Tentu saja aku tahu cerita aslinya," potong Hazel dengan suara sangat tenang, namun sanggup membungkam seluruh ruangan. "Kau pikir aku bodoh, Cateline? Kau pikir aku tidak tahu sejarah kotor keluargamu?"
Helena dan Cateline membeku seketika. Wajah Helena yang tadi memerah akibat tamparan perlahan berubah pucat.
"Saat Ayah dan Ibuku sudah resmi bertunangan dan saling mencintai, ibumu yang haus harta ini sengaja menjebak Ayah!" tekan Hazel, menunjuk Helena dengan lirikan tajam. "Ibumu membius Ayah di sebuah pesta, tidur bersamanya secara licik, lalu hamil... sampai akhirnya melahirkan anak yang sekarang dinamai Cateline!"
Hazel memajukan tubuhnya selangkah, menyunggingkan senyum miring yang teramat menakutkan.
"Kau lupa, Cateline? Media dan berita gossip bisnis bertahun-tahun lalu bahkan ramai membahas skandal skema jebakan ibumu itu!" lanjut Hazel dengan intonasi penuh penekanan. "Ibumu memaksa Ayah bertanggung jawab atas kehamilannya, merusak tunangan Ayah dengan ibuku, dan merebut posisi Nyonya Adeline lewat cara yang teramat jijik! Jadi siapa pelakor dan penjebak sebenarnya di sini?!"
Cateline mengepalkan tangannya rapat-rapt, bibirnya gemetar karena tak mampu membantah fakta kelam yang sengaja dikubur rapat oleh keluarganya selama bertahun-tahun.
"Dengar baik-baik, Cateline," bisik Hazel dengan nada suara yang teramat dingin dan menusuk hingga ke tulang. "Kau dan ibumu berada di puncak kemewahan saat ini... hanya melalui cara-cara yang sangat kotor."
Hazel menatap Cateline lurus-lurus, mengunci iris mata kakaknya yang mulai dipenuhi ketakutan.
"Dan jangan pernah berpikir bahwa kebohongan dan cara kotor itu tidak akan menghancurkan dirimu nanti," lanjut Hazel pelan namun sarat ancaman mematikan. "Roda itu berputar, Cateline. Semua takdir buruk yang kau susun untuk orang lain... pada akhirnya bakal berbalik menghantam dan meruntuhkan hidupmu sendiri sampai tak tersisa."
Tanpa memberi kesempatan sedikit pun bagi Cateline atau Helena untuk membalas, Hazel berbalik badan. Ia menarik lengan Sagara dengan lembut namun tegas dari cengkeraman pengawal yang sudah lemas tak berani bertindak.
"Ayo naik, Kak Sagara. Jangan buang waktumu mendengarkan ucapan orang-orang frustrasi," ucap Hazel santai.
Dengan langkah anggun, penuh keangkuhan, dan kepala tegak mendongak, Hazel menuntun Sagara melangkah menaiki tangga menuju lantai atas, meninggalkan Cateline dan Helena yang berdiri terpaku kaku di tengah ruang tamu mewah yang kini terasa amat dingin dan membisu.
Begitu pintu kamar Hazel tertutup rapat, suasana riuh dan penuh ketegangan di lantai bawah mendadak lenyap, berganti dengan keheningan yang tenang. Hazel mengunci pintu dari dalam, memutar kuncinya dua kali untuk memastikan keamanan mereka.
Di tengah remang lampu kamar, Hazel membalikkan badan dan menatap Sagara. Pria itu berdiri kaku di dekat meja belajar, menundukkan kepalanya dalam-dalam. Jemari panjangnya bergemetar pelan, dan raut wajahnya terpancar rasa bersalah serta ketakutan yang teramat sangat.
Hazel melangkah mendekat, mengikis jarak di antara mereka. "Kak Sagara... kamu baik-baik saja?" tanya Hazel lembut, suaranya sangat berbanding terbalik dengan nada tajam yang ia gunakan di ruang tamu tadi. Matanya yang jernih meneliti tubuh Sagara dari atas sampai bawah, takut-takut ada luka yang luput dari perhatiannya.
Sagara mendongak pelan. Senyum tipis yang canggung berusaha ia ukir di bibirnya yang masih agak pucat. "T-tidak apa-apa, Hazel... sungguh, aku baik-baik saja," bisik Sagara lirih, berusaha mengendalikan getaran pada suaranya. "Aku cuma... aku cuma takut kamu kenapa-kenapa gara-gara membela aku. Nyonya Helena dan Nona Cateline... mereka sangat marah."
"Biarkan saja mereka marah sampai melayang ke langit," potong Hazel cepat, mendecak pelan. "Yang penting kamu tidak diapa-apakan oleh wanita-wanita gila itu."
Hazel berjalan menuju lemarinya, mengambil satu set selimut tebal dan bantal ekstra. Ia meletakkannya di atas tempat tidur berseprai lembut miliknya. Kemudian, Hazel menatap Sagara dengan raut wajah sangat serius.
"Malam ini, kamu tidur di kamarku," cetus Hazel tanpa ragu.
Sagara membelalakkan matanya kaget, melangkah mundur setengah jalan. "E-eh?! Tidur di sini? Tapi Hazel, ini kamarmu, tidak enak kalau—"
"Tidak ada tapi-tapi, Kak," pangkas Hazel tegas, menunjuk kasur empuknya dengan dagu. "Aku tahu tabiat Cateline. Dia dan ibunya sedang memendam amarah yang luar biasa setelah kubongkar kebusukannya. Kalau kamu tidur di kamarmu sendiri, Cateline pasti akan datang dan melampiaskan seluruh kekesalannya padamu. Aku tidak akan membiarkan kamu disiksa lagi malam ini."
"Tapi Hazel, kamu masa harus tidur di..." Sagara memandang kasur mewah itu, merasa sangat tidak pantas.
"Kamu tidur di kasur, dan aku tidur di sofa," tekan Hazel, menunjuk sofa panjang berbahan bludru empuk yang terletak di sudut kamarnya. "Sofa ini sangat nyaman, jadi jangan memprotes. Sekarang, bersihkan dirimu dan langsung tidur."
Melihat ketegasan di mata Hazel yang tak bisa dibantah, Sagara akhirnya menurut pasrah. Rasa hangat yang luar biasa mengalir di dada pria itu. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun hidup dalam kegelapan amnesia dan siksaan, ada seseorang yang berdiri pasang badan dan melindunginya sekuat ini.
Tengah malam merambat perlahan. Kamar Hazel diselimuti kegelapan yang tenang, hanya dibiaskan oleh lampu tidur temaram di sudut ruangan. Hazel tertidur lelap di atas sofa dengan selimut menutupi tubuhnya, sementara Sagara berbaring di atas kasur empuk.
Namun di dalam lelapnya, alam bawah sadar Sagara mendadak terseret ke dalam sebuah mimpi yang teramat gelap dan mencekam.
Di dalam mimpinya, Sagara berdiri di sebuah ruangan remang yang luas dan dingin. Bau amis besi menyengat menembus inderanya. Sagara menundukkan kepala dan terpaku kedua telapak tangannya berlumuran darah segar yang pekat dan merah menyala. Cairan hangat itu menetes perlahan dari jemarinya, membasahi lantai dingin di bawah kakinya.
Di sekelilingnya, genangan darah meluas seperti lautan kecil.
Anehnya, tidak ada rasa panik, cemas, atau takut di dalam dada Sagara. Kepolosan dan ketakutannya mendadak menguap total dalam mimpi itu. Raut wajahnya di dalam mimpi begitu dingin, tenang, dan tajam seperti sosok predator yang sudah terbiasa dengan kekejaman dan kematian. Mata cokelatnya menatap lekat darah di tangannya tanpa berkedip sedikit pun, seolah-olah bau dan warna darah adalah bagian dari kehidupan aslinya sebelum ingatan itu direnggut darinya.
Sensasi dingin dan dominasi yang pekat merayapi seluruh tubuhnya dalam tidur...
DOK! DOK! DOK!
BAM! BAM! BAM!
Suara gedoran pintu yang teramat keras dan kasar mendadak memecah keheningan malam. Kayu pintu kamar Hazel bergetar hebat akibat hantaman dari luar.
"HAZELLA! BUKA PINTUNYA! KELUAR KAU ANAK HARAM!" teriak suara Cateline melengking penuh emosi dari luar koridor.
Sagara tersentak hebat, matanya terbuka lebar secara mendadak. Ia terduduk di atas kasur dengan napas terengah-engah memburu, peluh dingin membasahi dahinya. Binar dingin dari mimpinya perlahan sirnah, berganti kembali dengan raut linglung dan panik saat mendengar gedoran liar itu.
Di sudut ruangan, Hazel juga langsung terbangun. Gadis itu membuka matanya, mendudukkan tubuhnya di sofa, dan menatap pintu kamarnya dengan pendar mata yang seketika berubah sangat tajam dan membara di dalam kegelapan malam.
double up y thor 😄🙏
kasihan si hazel ...