Bukan tentang pengkhianatan ataupun perselingkuhan, tapi tentang obsesi cinta yang menjadi luka dan dosa.
Nisa harus menerima hatinya terluka saat suaminya, Rangga secara terang terangan pergi berkencan dengan kekasihnya, Tiwi. Tapi itu adalah harga yang harus diterimanya atas dosa yang dilakukannya sendiri.
Lalu bagaimana kisah selanjutnya saat cahaya lain hadir dalam hidup Nisa. Akankah semuanya berakhir bahagia atau sebaliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon farhati fara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ingin Rujuk
Nisa sedang larut dalam lantunan ayat suci yang terdengar dari ponselnya. Dia sekarang memang tidak dapat melihat namun pendengarannya masih baik saja
"Assalamualaikum..." terdengar ucapan salam dari luar. Nisa hendak memanggil Ali namun Ali sedang mandi. Akhirnya Nisa melangkah dengan tongkat walkernya untuk membuka pintu. Dia tidak mungkin menunggu kakaknya untuk membuka pintu, karena bisa jadi kakaknya selesai setelah tamu di balik pintu itu akan pergi.
"Waalaikum salam" jawabnya setelah perlahan membuka pintu. Nisa mendadak membeku, dia dapat mengenali bau maskulin yang berdiri di depannya.
"Nisa, aku merindukanmu!" seru Rangga spontan saat melihat Nisa yang membukakan pintu untuknya.
"Ma..mas Rangga" ucap Nisa agak terbata. Rasanya dia tidak percaya Rangga berani mampir kesini, setelah semua yang terjadi di antara mereka.
"Iya, ini aku. Bagaimana kabarmu Annisa?" tanya Rangga sambil menyentuh kedua bahu Nisa. Wajahnya tampak begitu riang karena berhasil kembali memandang Nisa setelah terakhir kalinya dia melihatnya di Cafe Heaven.
"Mas, bisakah Mas jangan menyentuhku. Kita bukan lagi suami istri sekarang"
Dulu, mungkin Nisa akan begitu senang dan bahagia saat Rangga mau menyentuhnya walau hanya sentuhan ringan seperti sekarang. Tapi kini, setelah mereka resmi bercerai, semua itu harusnya tidak lagi boleh diharapkan olehnya.
"Oh maaf" Rangga dengan cepat melepaskan tangannya. Rasa canggung mendadak merayapi hatinya. Beruntung Nisa tidak dapat melihat bagaimana ekspresi wajahnya sekarang ini yang merasa malu.
"Ada urusan apa ya Mas kemari?" tanya Nisa kemudian
"Memang harus punya urusan dulu ya untuk ke sini?" tanya Rangga balik. Sungguh dia begitu senang melihat wanita yang pernah menjadi istrinya itu kini di depannya dan dalam kondisi yang jauh lebih baik daripada saat bersamanya. Walau Nisa tidak dapat melihat lagi sekarang tapi wajah mantan istrinya itu jauh lebih segar dan cerah. Tidak ada lagi air mata, tidak ada lagi tatapan sendu dari mata yang sembab dan tidak ada lagi wajah tirus yang selalu menampilkan senyum yang terlihat menyedihkan.
"Tidak, tapi bukankah orang bertamu jika ada tujuan?"
"Iya memang. Tujuanku ke sini ingin melihat keadaanmu sekaligus untuk bersilaturahmi" ujar Rangga dengan alasan yang cukup masuk akal walau itu semua sebenarnya hanyalah alasan sekilas yang melintas di kepalanya.
Nisa terdiam. Dia merasakan hatinya kembali bergejolak saat mendengar nada lembut Rangga. Tidak... dia tidak boleh jatuh hati lagi pada pria itu.
"Oh... kalau begitu mari silakan masuk. Kak Ali ada di dalam. Dia sedang mandi." Nisa mempersilahkan seraya menggeser tubuhnya, memberikan ruang bagi Rangga untuk melangkah masuk.
Rangga hanya dapat menghelakan nafas panjang saat mengetahui Ali ada di rumah. Tadi, dia begitu senang saat ternyata Nisa yang membukakan pintu untuknya. Namun, jika Ali ada di rumah pasti mantan kakak iparnya itu akan menghajarnya begitu melihat wajahnya. Tentu saja, Ali kan membencinya. Apalagi sekarang Rangga yang datang sendiri ke sini yang bisa di bilang kandang macan yang siap mencabik- cabiknya. Dimana Ali adalah macannya.
"Silakan duduk Mas! Mas Rangga ingin minum apa?"
Bukan basa basi, tapi itu adalah etika dasar saat menerima tamu. Walau Nisa buta bukan berarti dia mengabaikan etika yang sudah di pelajarinya hampir seumur hidupnya.
"Tidak perlu... duduklah! Aku ingin bicara denganmu"
"Bicara denganku..." ulang Nisa yang kembali merasakan hatinya tak karuan. Sepertinya masih ada rasa di hatinya untuk Rangga. Itu mungkin saja di karenakan besarnya rasa yang di milikinya buat Rangga hingga membutakan jalan pikirannya dengan menjebak pria itu dulu.
Dengan perlahan Nisa mulai duduk setelah meraba permukaan sofa.
"Mas Rangga ingin bicara apa?" tanyanya. Rangga menghembuskan nafasnya secara perlahan sebelum mengeluarkan suaranya
"Aku ingin rujuk kembali denganmu," ujar Rangga langsung tanpa ingin sedikit pun berbasa basi. Nadanya terdengar begitu serius. Nisa terkejut.
"Apa maksud Mas Rangga ingin rujuk kembali?"
"Nisa, aku minta maaf karena aku terlambat menyadari perasaanku yang telah begitu dalam mencintaimu. Kini aku sadar kalau aku tidak ingin bercerai denganmu..." Rangga menjelaskannya dengan suara pelan. Dia benar- benar menyesal.
"Kurasa Mas Rangga sudah salah mengerti perasaan Mas sendiri. Mungkin rasa yang Mas miliki untukku itu hanya rasa kasihan bukan cinta. Mas Rangga hanya mencintai Mbak Tiwi, bukan?" jelas Nisa lembut, walau hatinya berdetak dengan menggebu- gebu mendengar pengakuan Rangga, tapi dia sudah membulatkan tekad agar tidak terjatuh pada lubang yang sama. Apalagi dia sudah berjanji pada kakaknya, Ali.
"Aku serius Nisa. Ini bukan rasa kasihan, aku bisa merasakannya. Tidak bisakah kita memulai dari awal lagi?" suara Rangga terdengar memohon dengan melas.
"Lalu bagaimana dengan Mbak Tiwi? Bukankah Mas Rangga sangat mencintainya. Bahkan teriakan lantang Mas Rangga saat kita kecelakaan masih terngiang jelas di telingaku."
Rangga memandang penuh penyesalan kearah wajah Nisa saat ucapan itu terlontar dari bibir wanita yang kini mendiami hatinya. Perlahan matanya mulai mengeluarkan air mata mengingat bagaimana Annisa berlari dengan perut besar untuk melindunginya, sedangkan dia sendiri malah berusaha melindungi wanita lain.
"Maafkan aku, waktu itu aku dalam keadaan bingung hingga spontan meneriakkan kata itu..." jelas Rangga sembari memperhatikan wajah Nisa yang sama sekali tidak tersentuh dengan penjelasannya.
"Dan aku sekarang sudah memutuskan berpisah dengan Tiwi" lanjutnya sembari menunduk. Dia sadar kalau Nisa sama sekali tidak akan percaya dengan penjelasannya di awal.
"Apa maksud Mas Rangga berpisah? Aku berharap Mas menikah dengan Mbak Tiwi dan hidup dengan bahagia. Hatiku kini sudah siap melepaskan semua yang berhubungan dengan Mas Rangga"
"Nisa, tidak bisakah kamu memberikan kesempatan kedua untukku. Aku janji akan membahagiakanmu." Rangga kembali berujar dengan memohon.
"Jangan sembarangan mengucapkan janji Mas, karena kita tidak tahu apakah janji itu bisa kita tepati atau tidak ke depannya. Dan aku juga sedang tidak ingin menjalin hubungan sekarang. Aku ingin lebih mendekatkan diri dengan sang pencipta dan tidak ingin menghancurkan kehidupanku untuk kedua kalinya hanya karena rasa kecintaanku terhadap ciptaan- Nya."
"Tapi Nisa, aku__" ujaran Rangga terpaksa terputus saat Nisa memotongnya
"Aku hanya ingin kita kembali seperti dulu, bersahabat tanpa adanya perasaan apapun. Bus yang ku tunggu telah lewat dan ada baiknya jika aku menunggu bus lain di kehidupanku." Nisa mengucapkan istilah itu lancar sembari mengeraskan hati agar air matanya tidak keluar di depan Rangga. Cinta Rangga yang di tunggunya telah kadaluarsa dan sekarang saatnya bagi Nisa untuk menunggu cinta lain dalam hidupnya.
Rangga hendak menjawab, namun terhenti saat seorang wanita masuk dan memandang terkejut ke arahnya.
"Rangga...!" seru wanita itu yang terkejut.
.
.
.
dasar Tiwi ulet bulu
ah couple baru dong😍
semangat kak fara💪lanjut LG yg byk ya😄
apakah Nita punya peran besar jg di novel ini JD penasaran
ngebayangin JD Nisa psti sakit bgt deh/Cry/
cerai aja GX sih klean