Meng Lin, seorang gadis modern yang baru menyelesaikan pendidikan S2 di bidang sains, tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah hanya karena sebuah novel.
Suatu malam, ia tertidur saat membaca novel berlatar tahun 1974. Ketika terbangun, ia justru mendapati dirinya berada di dalam novel tersebut—menjadi Meng Lin, gadis berusia sembilan belas tahun yang memiliki nama sama dengannya.
Meng Lin asli adalah gadis cantik, baik hati, dan lemah lembut. Setelah kedua orang tuanya meninggal, ia tinggal bersama paman, bibi, dan sepupunya, Meng Wan. Meski memiliki nilai sekolah terbaik, kesempatan kerja justru diberikan kepada Meng Wan. Tanpa pilihan lain, Meng Lin dikirim ke desa sebagai pemuda terpelajar.
Lebih menyedihkan, kekasihnya, Tang Qi, perlahan terlibat dengan Meng Wan. Dalam cerita asli, Meng Lin akhirnya menghilang dari kisah, sementara Meng Wan dan Tang Qi menikah.
"Hmm.. Karakter Utama itu akan menjadi milikku!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Fii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21. Tiba di Asrama
Beberapa menit berlalu, Kepala Tim kembali keluar. "Kalian sudah menempuh perjalanan jauh. Sebentar lagi aku akan mengantar kalian ke asrama. Kalian bisa meletakkan barang-barang di sana dan beristirahat!"
"Terima kasih, Kepala Tim Zu," jawab salah seorang pemuda.
Kepala Tim Zu melambaikan tangan. "Tidak perlu sungkan. Kalian datang ke sini untuk bekerja dan tinggal di sini. Kalau ada kesulitan, bicarakan saja dengan tim."
Kepala Tim Zu berjalan di depan, sementara ketujuh pemuda terpelajar mengikutinya menyusuri jalan tanah di antara rumah-rumah penduduk.
Tidak lama kemudian, mereka tiba di sebuah bangunan sederhana yang terletak agak terpisah dari rumah warga.
Bangunan itu tidak besar. Ada dua bangunan utama yang berdiri berhadapan, masing-masing memiliki dua kamar. Di bagian tengah terdapat dapur bersama yang beratap sederhana, dengan dinding sebagian terbuka agar asap dari tungku bisa keluar.
Di halaman, para pemuda terpelajar lama baru saja selesai sarapan, dan bersiap untuk pergi bekerja. Mereka hanya menyapa sekadarnya saja, karena tidak ada waktu lagi.
Kepala Tim Zu menunjuk ke arah bangunan tersebut. "Inilah asrama kalian."
Meng Lin mengamati sekeliling dengan tenang.
Halaman asrama cukup luas untuk menjemur pakaian dan menyimpan beberapa peralatan.
Namun, bangunannya terlihat tua. Dindingnya terbuat dari batu bata yang sebagian belum diplester, sedangkan pintu kayunya sudah menunjukkan bekas pemakaian bertahun-tahun.
Tidak ada yang istimewa, tetapi tempat itu cukup untuk dijadikan hunian sementara.
"Jumlah pemuda terpelajar yang sudah lama tinggal di sini awalnya lebih banyak, Tapi sudah ada yang balik ke kota. Sekarang tersisa delapan orang. Dengan kedatangan kalian bertujuh, totalnya menjadi lima belas orang."
Salah seorang pemuda terkejut. "Lima belas orang? Semuanya tinggal di sini?"
"Benar. Kalian akan berbagi tempat dengan mereka. Kalian juga harus belajar menyesuaikan diri. Kehidupan di desa berbeda dengan di kota."
Kepala Tim Zu kemudian menjelaskan bahwa delapan pemuda terpelajar yang lebih dahulu datang sudah menempati dua kamar. Empat laki-laki tinggal di kamar pertama, sedangkan empat perempuan tinggal di kamar kedua.
Dengan demikian, masih ada dua kamar kosong untuk para pendatang baru.
Kepala Tim Zu menunjuk dua kamar yang masih kosong. "Yang ini bisa ditempati untuk pemuda laki-laki. Karena ruangannya lumayan luas. Sedangkan Kamar yang lebih kecil di seberang untuk kalian berdua." ucapnya sambil menatap Meng Lin dan Yan Rao.
"Apa kalian kebaratan?"
"Tidak. Kami ikuti pengaturan kepala Tim.!"
"Ya baguslah... Kalian lihat sendirikan, bagaimana kondisi desa saat ini. Semua orang hidup pas-pasan.!" ujarnya.
Mereka semua mengangguk mengerti.
Meng Lin melihat ke dalam kamar perempuan.
Ruangan itu tidak luas, tetapi masih cukup untuk dua orang. Ada dua tempat tidur kayu dengan alas tipis, sebuah meja kecil, dan jendela yang menghadap ke halaman.
Keduanya kemudian membawa barang ke kamar tersebut. Meng Lin memilih tempat tidur yang dekat dengan jendela. Ia meletakkan koper di bawahnya, lalu menaruh tas kain di sisi tempat tidur.
Yan Rao memilih tempat tidur yang satunya.
"Aku akan membersihkan tempat ini nanti," kata Yan Rao sambil melihat debu tipis di meja.
"Emm.. Seharusnya kita bersihkan dulu, baru kita masukkan barang-barang kan?" keluh Meng Lin.
"Astaga benar juga.. Mungkin kita masih kelelahan, jadi kurang fokus..!"
"Haaah, mungkin saja.. Kalau begitu kita bersihkan sekarang, agar bis segera rebahan dan beristirahat..!" sahut Meng Lin lalu membawa kembali barang-barangnya keluar.
Sementara mereka membereskan barang, Kepala Tim Zu menunggu di halaman. Setelah semua selesai, ia memanggil mereka untuk melihat dapur bersama.
"Ada apa? Kenapa barangnya dibawa keluar lagi?" tanya Kepala Tim bingung.
"Tidak ada apa-apa..Cuma kamarnya sedikit berdebu, jadi mau kami bersihkan dulu!" balas Yan Rao.
"Oh benar juga. Kamar itu, sudah satu bulan kosong, jadi wajar saja kalau sedikit kotor." balasnya dengan jujur. "Kalau begitu, kalian bisa pinjam sapu rekan kalian!"
"Baik kepala Tim..!"
Kepala Tim kemudian menjelaskan dapur. Bangunannya sederhana, dengan meja kayu panjang di satu sisi dan rak untuk menyimpan panci, mangkuk, serta peralatan memasak di sisi lainnya.
Di dekat dinding terdapat dua tungku tanah liat.
Hanya dua.
Kepala Tim Zu menunjuk keduanya. "Semua penghuni asrama menggunakan dapur ini. Kalian harus mengatur waktu memasak dengan baik. Tungkunya hanya dua. Kalau lima belas orang memasak sendiri-sendiri, kalian akan menghabiskan banyak waktu hanya untuk menunggu giliran."
Salah seorang pemuda mengangguk. "Lalu bagaimana cara mengaturnya?"
"Delapan orang yang lebih dahulu tinggal di sini sudah membuat jadwal sendiri. Kalian bisa mengikuti jadwal itu atau membicarakan perubahan bersama mereka."
Kepala Tim Zu menjelaskan bahwa para penghuni asrama memasak secara bergiliran. Mereka menyusun daftar tugas sendiri, menentukan siapa yang bertanggung jawab menyiapkan makanan, siapa yang mengambil air, dan siapa yang membersihkan peralatan setelah selesai.
Dengan cara itu, mereka bisa memasak dalam kelompok dan menggunakan kedua tungku secara bersamaan.
Jika setiap orang memasak sendiri, dua tungku itu tidak akan cukup. Belum lagi waktu yang dibutuhkan untuk memotong sayuran, menyalakan api, memasak nasi, serta membersihkan peralatan.
"Di sini kalian harus saling membantu," lanjut Kepala Tim Zu. "Tidak ada yang bisa hanya menunggu makanan tersedia. Kalau hari ini kalian bertugas memasak, lakukan bagian kalian. Kalau besok giliran orang lain, jangan mengganggu pekerjaan mereka."
"Baik, Kepala Tim Zu."
Setelah memberi beberapa petunjuk mengenai penggunaan dapur, Kepala Tim Zu membawa mereka kembali ke halaman.
"Aku masih harus mengurus pekerjaan tim. Kalian bisa beristirahat dua hari, dan berkenalan dengan penghuni lama. Lusa, kalian akan mulai mengikuti pengaturan kerja yang sudah ditentukan." Ia kemudian pergi meninggalkan asrama.
Ketujuh pemuda terpelajar yang baru datang saling berpandangan. Setelah perjalanan panjang, mereka akhirnya memiliki tempat untuk beristirahat.
Yan Rao duduk di bangku dekat pintu kamar.
"Tempatnya lebih sederhana daripada yang kubayangkan."
Meng Lin membuka jendela agar udara masuk.
"Setidaknya ada tempat tidur dan dapur."
"Itu benar." Yan Rao menatap kedua tungku di dapur. "Sepertinya memasak akan menjadi masalah kalau semua orang ingin makan pada waktu yang sama."
"Karena itu mereka membuat jadwal."
Yan Rao mengangguk. "Nanti kita lihat bagaimana aturan mereka."
Meng Lin tidak menjawab lagi. Ia mulai membersihkan kamar dari setiap sudut.
Sebenarnya bisa saja mereka tinggal di rumah warga desa yang kamarnya masih ada kosong. Tapi Meng Lin merasa, numpang di rumah orang itu tidaklah enak meski membayar sewa.
Baginya, hal terpenting saat ini adalah mengenali lingkungan baru, memahami aturan asrama, dan memastikan segala sesuatunya berjalan sesuai rencana.
Ia tidak datang ke desa ini untuk menghabiskan waktu mengeluh tentang keadaan. Selama tempat itu masih bisa ditinggali dan ia memiliki kesempatan untuk menjalankan rencananya, keadaan sederhana seperti ini bukan masalah besar.
Di luar, angin pagi melewati halaman asrama. Suara penduduk yang mulai bekerja terdengar dari kejauhan.
.
.
.
.
next double up ya Thor 😁
update nya kurang banyak Thor 😀👍
gift ☕ biar semangat 🥰🥰