NovelToon NovelToon
AKU KEMBALI MEMBALAS SEMUA

AKU KEMBALI MEMBALAS SEMUA

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Mengubah Takdir / CEO
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Tiga Alif

Di sungai ia mendorong pacarnya, lalu ikut tenggelam. Ketika membuka mata, usianya lima belas: 1 April 2005, tiga bulan sebelum ujian, dengan ingatan penuh akan semua yang akan terjadi. Di laci rumah tua ia menemukan kotak kayu ukiran berisi tanah sakti—satu tegukannya menyembuhkan luka dan mengubah takdir. Ia membangun keluarga dari nol: gerobak es campur, bakso, juara satu se-kota, kuliah, dan cinta yang dulu ia tolak. Setelah hidup pertama berakhir pada usia seratus tahun, ia terbangun lagi—dan sadar semuanya hanya penglihatan. Ibu kritis, bisnis hilang, dan ia harus mulai dari nol sekali lagi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

31 - Rumah Baru di Lantai Sebelas

Unit yang mereka minati itu berada di lantai sebelas, sangat tinggi, dan sekalipun berhadapan dengan jalan raya suasananya tetap tenang.

Yang paling membesarkan hati mereka adalah liftnya yang masih baru.

Kondisinya berbeda dari rumah relokasi: meskipun tidak ada penjaga keamanan, keamanan di sini cukup baik dan ada kamera pengawas.

Gerbang luarnya merupakan gerbang kedua; pos jaga di lantai dasar hanya menjadi tempat keluar masuk penghuni, sehingga biasanya tidak ditutup.

Ada satu pintu lagi setelah masuk; pintu itu harus dibuka dengan anak kunci, lalu barulah bisa naik lift.

Di lantai sebelas hanya ada empat unit hunian; lift berfungsi sebagai gerbang utama, dan di sepanjang garis tengah masing-masing sisi ada dua unit.

Penghuni memasang pintu besi antikarat secara berpasangan, sehingga dari bawah sampai atas setara dengan melewati tiga pintu berlapis.

Rumah itu luasnya seratus sepuluh meter persegi, dengan tiga kamar tidur, satu ruang belajar kecil, dan dua kamar mandi.

Ruang tamunya tidak besar, tetapi dibandingkan dengan rumah lamanya di kompleks kumuh, ini sudah jauh lebih lega; Ibu bahkan bisa membayangkan meja makan utuh untuk empat orang tanpa harus memiringkan kursi.

Ada juga balkon besar dengan pencahayaan sangat baik; dapurnya menghadap matahari dan jendelanya bisa dibuka lebar, sehingga terasa lapang dan terang, tidak perlu lagi khawatir berjamur atau lembap seperti dapur lama yang pengap.

Ketika itu Ibu menatap langit-langit dan lantai keramik yang bersih, lalu mengelus dindingnya seperti takjub; tempat seperti ini sudah lebih dari cukup.

Di lantai setinggi ini hampir tidak ada nyamuk atau lalat.

Semua jendela diberi pengaman antimaling, dan angin dari balik jendela cukup kencang sampai bisa mengacak rambut; pemiliknya sebelumnya sudah memasang tirai.

Di dalam rumah juga ada beberapa perabot biasa: meja dan kursi di ruang tamu, lemari pakaian di kamar, bahkan tempat tidur sudah lengkap dengan kasurnya; lapisan plastik bening pembungkus kasur itu belum dilepas.

Kamar mandi dilengkapi pemanas air dan wastafel, dapur punya penghisap asap dan kompor gas.

Singkatnya, orang langsung bisa menempati rumah ini hanya dengan membawa barang bawaan, dan tidak perlu menunggu lama untuk membereskan seluruh isi pindahan, karena kamar, dapur, dan tempat tidur sudah siap pakai.

Semakin dilihat Ibu semakin suka.

Ia menoleh kepada agen itu: "Kalau kami menyewa, mungkin satu dua tahun atau lebih. Jangan-jangan tuan rumah tiba-tiba mau mengambil kembali rumahnya?"

Itulah hal yang paling dikhawatirkan Ibu; ia tidak suka dipindah-pindah.

Keluarga Bu Irma saja sudah cukup membuatnya terpaksa pindah ke sini; kalau sudah pindah ke mari lalu besok-besok disuruh angkat kaki lagi, ia lebih baik tidak usah menempati tempat ini sama sekali.

Agen itu buru-buru meyakinkan: "Ibu tenang saja!" Sejujurnya tuan rumah pemilik rumah ini orang kaya; ia tidak kekurangan uang, apalagi rumah untuk ditinggali.

"Rumah ini ia beli murni untuk investasi, bukan untuk ditempati." Lihat saja, rumah ini baru didekorasi secara sederhana.

"Kalau betul ditinggali, mana mungkin cuma sesederhana ini? Kalau Ibu ingin menyewa lama, akan kukontakkan langsung dengan tuan rumahnya, dan minta tuan rumah datang menandatangani kontrak dengan Ibu. Langsung bicara dengan tuan rumah lebih menenteramkan."

Sudut bibir Ibu bergetar.

Rumah ini jauh melampaui dugaan Ibu; di mata agen, ini cuma dekorasi sederhana, dan ia tidak ingin mendengar lagi kata-kata yang memilukan.

Ibu langsung menjawab: "Baik, bantu kami buat janji dengan tuan rumah, makin cepat makin baik; nanti begitu ketemu baru kami bicarakan."

Agen itu girang; ia bertukar nomor ponsel dengan Ibu, lalu dengan semangat mengantar beramai-ramai turun.

Sepanjang jalan turun lewat tangga, Ibu masih menoleh ke belakang; ia sudah bisa membayangkan letak furnitur yang mungkin dikirimkan nanti mengikuti denah yang tadi ia lihat.

Pulang dari sana, keluarga singgah di pasar membeli sayur.

Ibu memilih-milih sayur hijau dan cabai; ia sudah berpikir kalau nanti gerobak beres, lauk tambahan seperti ini bisa ikut dijual.

Begitu memasuki kompleks lama, mereka menarik tatapan-tatapan tersirat maupun tersurat dari warga; beberapa berbisik mengingat keributan beberapa hari terakhir, tetapi tidak berani bertanya lebih jauh mengingat garis kapur yang tergambar di lantai.

Nenek tua lantai dasar sedang duduk di depan pintu mengobrol dengan beberapa ibu-ibu; begitu melihat mereka, ia melambaikan tangan.

Pandangannya jatuh pada wajah Dimas, dan hatinya terenyuh: "Wajah yang setampan ini kok jadi begini saja!" Kau kenapa? Sudah dikasih obat belum?

"Nenek masih punya jamu di sini; bisa ditumbuk jadi getah buat dioles."

Dimas tersenyum lebar: "Terima kasih, Nek, tidak usah." Ibu tadi sudah membawaku ke klinik, sudah ditangani.

"Nanti besok-besok bengkaknya kempes sendiri."

Nenek tua tidak memaksa, lalu mulai menegur: "Sudah kubilang kalian yang serius!" Masa kau tidak tahu keburukan budi Bu Irma?

"Buat apa kalian beneran bertengkar sama dia?" Cuma membuat badanmu sendiri sakit percuma, sekarang masih saja tinggal satu kompleks, hidup sampai mati saja saling ada di sebelah!

"Kita semua sama-sama tetangga, buat apa ribut begini?"

Ibu yang biasanya justru menenangkan kali ini bersikeras: "Selama ini aku tidak bicara bukan karena takut kepadanya, tetapi kupikir tidak perlu." Karena dia tidak tahu malu dan tidak ada gunanya diajak baik, aku ingin memperlihatkan bahwa keluarga kami bukan keluarga yang gampang dijajah! Kau, kau, kau! Kalau sudah keras kepala, siapa pun nasihatinya percuma!

"Sudah, jangan dibahas lagi. Kalian boleh senang, tetapi kalau suatu saat bertengkar lagi jangan terlalu impulsif. Kami di sini masih ada; kalau terjadi apa-apa, teriak saja."

Nenek tua berkata dengan santai.

"Jangan khawatir, Bi!" Justru kamilah yang merepotkan. Selama mereka tidak mencari perkara, kami tidak akan pernah mencari gara-gara terlebih dahulu.

"Tidak banyak bicara; kami harus naik dulu memasak!"

Ibu berterima kasih berkali-kali, lalu memimpin anak-anaknya naik dengan senyuman.

Begitu membuka pintu, Intan memperhatikan seberang gang.

Pintu rumah Bu Irma tertutup rapat dan tidak ada gerak-gerik di dalamnya; garis kapur yang ditarik Ibu masih terlihat utuh di teras.

Setelah masuk, Ibu langsung menuju dapur; di ruang tengah, Intan dan Dimas memeriksa adonan bakso daging ayam yang sedang didiamkan.

Di atas meja kecil terbentang mangkuk-mangkuk berisi adonan bumbu; sebagian tertutup kain bersih untuk menjaga aromanya.

"Kak, sudah bisa digoreng belum?"

Perut Dimas seketika melilit begitu mencium aromanya.

Intan menekan-nekan bulatan adonan itu dengan sumpit beberapa kali lalu berkata dengan serius: "Sebenarnya seharusnya didiamkan di kulkas lebih dari dua puluh empat jam supaya rasanya mantap; tetapi kita belum punya kulkas, dan cuaca yang panas begini tidak boleh dibiarkan menunggu terlalu lama." Yang penting kita cicipi dulu rasanya.

"Kalau berhasil, kita kunci resepnya lalu beli lemari pendingin."

Dimas mengangguk kuat-kuat sambil menepuk paha, lalu berteriak ke dapur: "Bu, kami mau goreng bakso; boleh kami coba dulu?"

Ibu baru saja menaruh beras yang sudah dicuci untuk ditanak; mendengar ucapan Dimas, ia langsung menyerahkan dapur.

Mereka berdua mengerjakan adonan itu hampir satu jam sebelum bakso-bakso akhirnya jadi.

Dapur dipenuhi asap gorengan yang harum; Ibu yang tadinya menanak nasi jadi menonton dari balik pintu, dibuat penasaran oleh desis minyak panas yang bergemuruh.

Setelah bakso-bakso goreng itu digelar di beberapa piring, masing-masing diberi label kecil di bawahnya, barulah mereka duduk melingkar.

Melihat bakso goreng yang harum menggiurkan, Ibu semakin yakin untuk berjualan.

Ia menatap anak-anaknya dengan mata berbinar: "Bisa dimakan?"

Intan mengangguk: "Setiap piring bakso goreng ini resepnya berbeda-beda. Kita cicipi satu per satu. Ini kusiapkan teh untuk kalian berkumur nanti. Ah, yang repot sekali!"

Ibu geli. Intan tetap pada pendiriannya: kalau mulut masih penuh rasa resep sebelumnya, resep berikutnya lambat laun tertutup rasanya.

Setelah mencicipi piring pertama, Ibu mengangguk-angguk: "Enak! Wangi, renyah, dan lezat!"

Dimas setuju: "Beneran enak!"

Intan mendongak, melihat resep di bawah piring, lalu menarik sudut mulutnya pasrah: "Yang kalian makan ini bumbu khas kita, terutama bawang merah, bawang putih, jahe, kecap manis, dan ketumbar; wajar kalau enak. Coba cicipi yang bumbu ala Barat ini; bakso gorengnya pasti tidak seberasa itu."

Ibu dan Dimas mencicipinya, lalu mata mereka langsung terbelalak: "Bener juga! Ternyata benar, tidak seberapa!"

Dimas menambah satu gigitan lagi sambil mengernyit; ia tidak suka resep kedua dan ketiga.

Resep keempat lumayan, tetapi masih kurang gurih; Ibu pun hampir senada, mengangguk sambil mengusap bibirnya.

Intan mencatat di buku kecilnya: resep kedua terlalu pekat pala sehingga menutupi rasa rempah lain, resep ketiga justru kelewat tipis, sementara resep keempat perlu sedikit tambahan merica hitam agar lidah tidak bosan di gigitan kedua.

Ia menuliskan angka-angka takaran dengan hati-hati, karena dari catatan beginilah kunci dagangan mereka akan disusun.

Terakhir, Intan menyesuaikan lagi resep pertama dan keempat, lalu membentuk sisa adonan menjadi bulatan-bulatan bakso baru di dua piring lagi untuk didiamkan.

Kali ini ia benar-benar memasukkannya ke dalam kulkas; besok pagi dicoba lagi bagaimana rasanya setelah semalaman meresap.

Ia menempelkan secarik kertas kecil pada kemasannya agar tidak tertukar dengan yang lain, lalu membersihkan meja bersama Dimas.

Setelah Ibu menggoreng sayur, Dimas menyantap beberapa suap lalu bergegas mengantarkan makanan untuk Bapak di plaza. (Bersambung)

1
Putry Chan
sebenarnya tadi itu apa ya
Kartika Candra Buwana: nanti akan tau deh
total 1 replies
Putry Chan
rumah ini beneran udh tua ya gak da yang tempatin juga banyak debu nya
Putry Chan
Kakek nya sudah tidak ada tapi kenangan itu masih ada sampai saat ini
Xlyzy
Ayah nya sampai bertanya sangking berubah nya sang anak
Xlyzy
itu dia miskin bukan jadi alasan kita ga bisa sukses
Mingyu gf😘
Ortunya peduli banget sama pendidikan anaknya😍
Mingyu gf😘
Bagus, di kesempatan kedua ini, kamu memang harus banyak berubah
Mingyu gf😘
Waduhh kamu manja juga ya, kalau aku udah melayang sapu kalau kayak gitu🤣
Arni Arlinawati Pratiwi💃
bertekad maksud nya ya.. ayok intan, kamu bisa memperbaiki lagi hal yang menurut mu kurang di kehidupan sebelumnya.. /Determined//Determined//Determined/
Arni Arlinawati Pratiwi💃
menghormati leluhur nya juga.. di bacain alfatihah kalo muslim mah, di do'a in! /Determined//Determined//Determined/
Kartika Candra Buwana: betul. ini sengaja ku ganti ke ajaran lain
total 1 replies
Arni Arlinawati Pratiwi💃
🙄.. emak inget dulu mamak nya emak, nenek kalian ngejewer emak karena emak bilang nanti nanti terus akhir nya di jewer di arahin ke tempat cuci piring!!! emak nangis kejer, kan sakit.. 😑
Arni Arlinawati Pratiwi💃: 🙄... ga ada ya.. tokoh utama cerita nya tukang marahin author,🗿.. gak berfaedah banget, 🙄
total 2 replies
Prayy
kalau terus sembahyang gak ada gunanya kan kalau tidak di iringi dengan tindakan,,
Kartika Candra Buwana: betul sekali
total 1 replies
Prayy
ini kaya doa di anime itu kan ?
Kartika Candra Buwana: iya ada yg seperti itu
total 1 replies
Prayy
hahahah mampus di marahin di suruh apa yang di kerjakan apa
Kartika Candra Buwana
ya, rajin lah sembahyang
Kartika Candra Buwana
untung saja ramalannya baik
Kartika Candra Buwana
lebih baik pake masker
ginevra
Yap ....sekarang kamu harus lebih rajin lagi... seneng banget kan kalau bisa ikut sama ibu sembahyang
Myz Pena
wkwkkwkw dimana2 ibu gitu ya guys.. cerewet tapi bikin rindu ❤️❤️
Myz Pena
rumah tua atau rumah nenek,, adalah warisan kehangatan yang diturunkan ke anak cucunya yang nggak akan pernah pudar... selalu dirindukan setiap momentnya apalagi berkumpul di hari2 besar dan hari raya 🥹
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!