NOVEL INI ADALAH FIKSI (Alternate Universe) DARI UNIVERSE NOVEL TIRAKAT
Haruma dan Harumi, dua kakak beradik yang kini sudah kuliah semester 5 di salah satu universitas yang cukup ternama di Indonesia, tak lama lagi akan mengikuti sebuah lomba seni drama yang bertempat di Candi Prambanan.
Lomba itu mengangkat tema tentang kisah cinta Bandung Bondowoso dan Roro Jonggrang.
Akan tetapi, momen perlombaan yang diikuti oleh Haruma-Harumi justru akan menjadi sebuah pertunjukan yang MENUMPAHKAN DARAH MANUSIA ATAS NAMA DENDAM.
Seolah, kutukan Bandung Bondowoso kepada Roro Jonggrang, menimbulkan kutukan mengerikan.
Apa yang akan terjadi dengan Harumi saat tampil di atas panggung sakral di depan Candi Prambanan itu?
Dan apa yang akan dilakukan oleh Haruma?
.
.
.
DISCLAIMER‼️
Jika ada unsur sejarah, latar tempat, seni, budaya, nama tokoh, ritual, kepercayaan, dan mitos yang sama dengan kehidupan nyata, itu semua murni hanya untuk dijadikan bagian dalam cerita saja.
SELAMAT MEMBACA... ☺
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22 PENJELASAN KAKEK
“Kalian harus mencari orang yang mewarisi darah 'Bandung Bondowoso'... darah Sang Pembuat Candi.”
Kalimat dari Pak Rusdi itu menggantung di udara ruang tamu layaknya awan mendung pekat yang siap menumpahkan badai petir. Zaki dan Nisa terdiam membeku.
Di luar rumah, sisa-sisa angin malam yang lembap menggesek daun-daun pepohonan mangga, menciptakan suara desir yang membuat bulu kuduk semakin meremang.
Zaki menelan ludah yang terasa seperti kerikil tajam.
“Darah Bandung Bondowoso? Darah Sang Pembuat Candi? Pak... ini tahun 2026. Bagaimana mungkin kita mencari keturunan orang yang hidup ribuan tahun lalu, yang bahkan keberadaannya lebih sering dianggap sebagai mitos?” tanya Zaki, nadanya dipenuhi keputusasaan dan ketidakpercayaan.
Pak Rusdi menghela napas panjang, bersandar kembali ke sofa tuanya. Wajah keriputnya tampak lelah, namun sorot matanya menajam. Ia membiarkan keheningan menguasai ruangan sejenak sebelum kembali bersuara.
“Di dunia ini, Zak, mitos itu lahir dari jejak nyata yang ditinggalkan oleh sejarah yang dikubur,” ucap Pak Rusdi perlahan, suaranya berat dan berwibawa. “Kalian pikir legenda seribu candi itu murni dongeng sebelum tidur? Candi-candi itu berdiri nyata. Darah dan keringat yang dikorbankan untuk membangunnya adalah nyata. Dan sihir kutukan yang mengikat jiwa di dalamnya... sayangnya, juga sangat nyata.”
Nisa meremas saputangannya, menatap ayahnya dengan mata yang memerah dan sembap. “Tapi Pak, kenapa harus Harumi yang menjadi wadahnya? Dan kenapa makhluk itu sangat bernafsu membunuh Haruma? Kalau mereka kembar, bukankah seharusnya energi mereka sama-sama kuat untuk menolak atau menerima iblis itu?”
Pertanyaan Nisa menyentuh inti dari misteri yang menyelimuti kedua putrinya.
Pak Rusdi mengangguk pelan, seolah memang sedang menunggu pertanyaan tersebut dilontarkan. Ia meletakkan kedua tangannya di atas pangkuan, menautkan jari-jarinya yang mulai bergetar dimakan usia.
“Itulah rahasia terbesar dari kelebihan spiritual yang dibawa oleh anak-anak kalian, Nisa,” Pak Rusdi memulai penjelasannya dengan nada yang sangat serius. “Seperti yang sudah Bapak singgung tadi, Haruma dan Harumi terlahir dengan darah Tulang Wangi. Tapi, ada satu detail yang selama ini tidak Bapak ceritakan pada kalian.”
Zaki mencondongkan tubuhnya ke depan, mendengarkan dengan saksama.
“Mereka memang saudara kembar yang lahir dari rahim yang sama dalam waktu yang berdekatan. Secara fisik, mereka hampir tidak bisa dibedakan,” lanjut Pak Rusdi, matanya menerawang menembus lorong waktu, kembali ke masa puluhan tahun lalu saat ia melakukan penelusuran di desa asal si kembar. “Tapi secara spiritual... secara gaib... darah tulang wangi mereka itu tidak identik.”
Nisa mengerutkan kening. “Maksud Bapak? Darah mereka tidak identik bagaimana?”
“Dalam kacamata supranatural kuno,” jelas pria tua itu, “tulang wangi bukanlah sekadar bakat melihat hantu. Itu adalah sebuah spektrum energi. Meskipun mereka kembar, energi yang mereka bawa bertolak belakang. Terpola menjadi dua kutub yang sangat ekstrem.”
Pak Rusdi menunjuk ke arah pintu kamar Harumi yang tertutup rapat, dari balik pintu itu, sayup-sayup terdengar isak tangis Harumi yang tertahan.
“Harumi... memiliki tulang wangi dengan spektrum energi menerima. Energinya terbuka lebar bagaikan bejana kosong yang sangat luas dan indah. Ia tidak memiliki perisai batin bawaan. Itulah sebabnya, bagi entitas tingkat tinggi seperti Panglima Jin dari Prambanan itu, tubuh Harumi adalah 'wadah' yang paling sempurna. Sebuah singgasana berdaging yang bisa mereka tempati tanpa perlawanan spiritual yang berarti dari si pemilik raga. Harumi tidak bisa menolak saat iblis itu mengambil alih kesadarannya di atas panggung.”
Air mata Nisa kembali tumpah. Ia membayangkan putri bungsunya yang lembut dan rapuh, dipaksa menjadi boneka bagi iblis pembunuh.
“Lalu... bagaimana dengan Haruma, Pak?” Zaki memotong, suaranya parau. Mengingat bagaimana putri sulungnya itu selalu berusaha melindungi adiknya, bahkan sampai rela mempertaruhkan nyawa untuk menjadi tameng hidup.
Pak Rusdi beralih menatap Zaki. “Haruma memiliki tulang wangi dengan spektrum energi menolak. Energinya memancar keluar seperti perisai. Ia tidak bisa dijadikan wadah, karena darahnya secara alami menolak masuknya entitas asing. Alih-alih menjadi bejana, Haruma menjadi 'pawang' alamiah bagi adiknya.”
Zaki terenyak. Fakta itu menghantamnya dengan sangat keras.
“Pawang... maksud Bapak, selama ini Haruma yang menahan energi Harumi agar tidak menarik makhluk halus?”
“Benar,” Pak Rusdi mengangguk tegas. “Selama belasan tahun kalian membesarkan mereka, apakah kalian pernah menyadari bahwa mereka tidak pernah bisa tidur terpisah? Atau bagaimana Haruma selalu yang pertama kali jatuh sakit setiap kali Harumi merasa ketakutan atau bermimpi buruk saat kecil? Energi Haruma secara tidak sadar selalu menyelubungi dan melindungi Harumi. Darah Haruma adalah dinding pelindung yang menutupi 'aroma' wangi dari darah adiknya.”
Suasana ruang tamu terasa semakin mencekam.
Hawa dingin merayap perlahan dari bawah pintu masuk, membuat bulu kuduk meremang.
“Saat pementasan di Prambanan itu...” suara Pak Rusdi merendah menjadi bisikan yang sangat kelam. “Kalian harus paham bagaimana liciknya iblis tua itu. Saat segel terbuka dan iblis itu mencium keberadaan Harumi, ia tahu ia tidak bisa menguasai tubuh Harumi sepenuhnya selama energi perlindungan dari Haruma masih hidup dan aktif.”
Mata Zaki terbelalak lebar. Potongan puzzle kengerian itu akhirnya tersambung sempurna di dalam kepalanya. Tragedi di atas panggung itu bukanlah sebuah kecelakaan. Itu bukanlah amukan acak dari orang yang kesurupan.
“Itu adalah pembunuhan yang sangat terencana secara gaib,” desis Pak Rusdi, mengonfirmasi kengerian di benak menantunya. “Iblis itu menggunakan tangan Harumi untuk membunuh Haruma, bukan sekadar untuk menumpahkan darah. Ia ingin menghancurkan 'dinding perisai' itu. Ia harus membunuh Haruma agar ia bisa menguasai jiwa dan raga Harumi secara utuh dan mutlak!”
Nisa menutup mulutnya, menangis histeris mendengarkan kekejaman taktik iblis tersebut.
Pantas saja Haruma tertusuk. Pantas saja iblis itu menampakkan diri lagi di sel penjara dan di rumah ini, mengancam akan mencabut nyawa Haruma malam itu juga.
Iblis itu marah karena Haruma berhasil selamat dari kematian, yang berarti perisai pelindung Harumi belum benar-benar hancur.
“Tapi, Pak...” isak Nisa, suaranya bergetar hebat. “Sekarang Haruma sedang dirawat intensif dan sangat lemah di rumah sakit. Energi perlindungannya pasti sudah nyaris habis. Berarti... iblis itu sebentar lagi bisa...”
“Ya,” Pak Rusdi memotong cepat, wajahnya dipenuhi ketegangan.
“Waktu kita tidak banyak. Iblis itu sekarang terus meneror Harumi untuk mengikis sisa-sisa kewarasannya, sekaligus mencoba membunuh Haruma yang sedang tak berdaya. Begitu Haruma mati, jiwa Harumi akan sepenuhnya tertelan oleh kegelapan, dan ia akan berakhir seperti Sekar Ayu di tahun 1992... menggorok lehernya sendiri setelah iblis itu selesai menumpahkan darah mangsa-mangsanya.”
Zaki berdiri dari sofa, mengusap wajahnya dengan kasar. Ia mondar-mandir di ruang tamu, merasa seperti binatang yang terperangkap dalam sangkar tak kasatmata.
“Ini gila! Ini benar-benar gila!” racau Zaki, matanya memerah. “Lalu bagaimana caranya kita mencari 'Darah Pembuat Candi' itu, Pak? Apa tidak ada cara lain? Kiai, dukun, pendeta... siapapun yang bisa mengusir makhluk itu!”
Pak Rusdi menggeleng pelan, bangkit dari duduknya, lalu berjalan menghampiri Zaki. Ia menepuk bahu menantunya itu dengan penuh pengertian.
“Kutukan yang lahir dari karma masa lalu hanya bisa dipatahkan oleh penebusan dosa masa lalu juga, Zak,” ucap Pak Rusdi bijak, namun menyakitkan.
“Kutukan Roro Jonggrang itu tercipta karena amarah dan sihir hitam Bandung Bondowoso. Entitas yang terperangkap di dalamnya adalah Panglima Jin yang mendendam pada sang pembuat candi. Hanya darah dari garis keturunan Bandung Bondowoso—manusia yang memiliki sisa-sisa aura sihir kuno itu di nadinya—yang bisa menetralkan racun kutukan tersebut dan menyegel kembali arca itu ke dasar bumi.”
“Tapi Pak...” Zaki memohon, “kita bahkan tidak tahu apakah garis keturunan itu masih ada! Sekarang tahun 2026, Pak... Tahun 2026! Dan kalaupun ada, bagaimana cara kita menemukannya di antara ratusan juta orang di tanah Jawa ini?”
Sebelum Pak Rusdi sempat menjawab, sebuah suara pecahan kaca yang sangat keras terdengar dari arah kamar Harumi.
PRAAANG!!!
Suara itu disusul oleh jeritan Harumi yang luar biasa melengking, merobek keheningan malam dan menghentikan detak jantung semua orang di ruang tamu.
“AAAAAAAKKKHH!!! PERGIIII!!!”
Zaki, Nisa, dan Pak Rusdi serempak memutar tubuh mereka.
Tanpa pikir panjang, Zaki langsung berlari menerjang pintu kamar putrinya, memutar gagangnya dengan kasar. Namun, pintunya terkunci dari dalam.
“Harumi! Buka pintunya, Nak! Harumi!” teriak Zaki sambil menggedor pintu dengan panik.
Dari dalam kamar, suara Harumi terdengar meronta-ronta dan berteriak histeris, seolah-olah ia sedang bertarung melawan seseorang yang memiliki kekuatan luar biasa besar. Bunyi barang-barang yang terlempar dan hancur menghantam dinding membuat suasana semakin mencekam.
“Dia mau mematahkan tangankuuu! Bapaaak!!! Ibuuu!!! TANGANKU!!! SAKIIIITT!!!” jeritan Harumi terdengar memilukan.
“Minggir, Zak!” perintah Pak Rusdi tegas. Pria tua itu, meski usianya sudah lanjut, mengambil ancang-ancang dan bersama dengan Zaki, mereka mendobrak pintu kayu itu dengan sekuat tenaga.
BRAKK!
Pintu kamar terbuka dengan paksa, engselnya nyaris lepas dari kusennya.
Zaki dan Nisa langsung menghambur masuk. Pemandangan di dalam kamar itu membuat darah mereka membeku.
Kamar Harumi hancur berantakan. Cermin di meja rias pecah berkeping-keping. Lemari pakaian terbuka lebar. Namun, yang paling mengerikan adalah posisi Harumi.
Gadis itu sedang berlutut di tengah ruangan. Wajahnya pucat pasi, dibanjiri oleh keringat dingin dan air mata ketakutan.
Matanya membelalak lebar, menatap ke udara kosong di hadapannya.
Tangan kirinya mencengkeram tangan kanannya sendiri dengan kekuatan yang sangat brutal, seolah-olah tangan kanannya itu bergerak di luar kendalinya sendiri.
Tangan kanannya, yang sebelumnya memiliki memar biru, kini perlahan-lahan bergerak naik, mengarahkan pecahan kaca besar dari cermin yang hancur tadi... tepat ke arah lehernya sendiri!
“Harumi!!! Jangan, Nak!!!” jerit Nisa histeris, langsung berlari dan menubruk tubuh putrinya.
Nisa berusaha merebut pecahan kaca itu, namun tenaga di lengan kanan Harumi terasa seperti baja. Tangan itu bukan lagi milik Harumi; itu adalah perpanjangan tangan iblis yang mendiami rumah mereka.
“Bantu aku, Mas! Tangan Harumi nggak mau lepas!” teriak Nisa sambil menangis.
Zaki segera bergabung, mencengkeram pergelangan tangan kanan putrinya dengan sekuat tenaga. Namun, meskipun ditekan oleh dua orang dewasa, tangan Harumi masih perlahan-lahan merayap mendekati lehernya.
“Dia... dia menyuruhku melakukannya, Paaak...” isak Harumi, suaranya parau dan terputus-putus. Matanya menatap ayahnya dengan penuh keputusasaan. “Dia bilang... kalau Kak Haruma selamat... maka aku yang harus menggantikan nyawanya... SAKIIIIT, PAK! TANGANKU SAKIIITT!”
Pak Rusdi yang berdiri di ambang pintu segera menyadari bahwa kekuatan fisik manusia tidak akan bisa mengalahkan entitas tersebut. Ia memejamkan mata, merapalkan doa-doa pelindung dari ayat suci Al-Qur'an dengan suara yang tegas dan lantang. Ia melangkah maju, meletakkan telapak tangannya tepat di kening Harumi.
“Bismillahi tawakkaltu ‘alallah, laa hawla wa laa quwwata illaa billaah!”
Doa yang diucapkan dengan keyakinan penuh dari seorang hamba yang saleh itu seakan meledakkan energi panas di ruangan tersebut.
Tangan kanan Harumi seketika tersentak hebat, seolah tersengat aliran listrik ribuan volt. Pegangannya pada pecahan kaca itu melemah.
Zaki tidak membuang kesempatan itu. Ia langsung merebut pecahan kaca tajam itu dan melemparnya jauh ke sudut ruangan.
Bersamaan dengan terlepasnya kaca itu, sebuah jeritan melengking dari suara wanita parau yang sangat menyeramkan bergema memenuhi kamar, namun suara itu seolah berasal dari dalam dinding-dinding rumah, bukan dari mulut Harumi.
Suara itu disusul oleh embusan angin dingin yang berbau kemenyan pekat, yang menyapu wajah mereka sebelum akhirnya lenyap menembus jendela kamar yang tertutup rapat.
Harumi langsung merosot lemas tak bertenaga ke dalam pelukan ibunya, menangis tersedu-sedu layaknya bayi yang baru lahir.
Pak Rusdi bernapas terengah-engah, wajahnya pucat. Ia tahu, doa barusan hanya mengusir makhluk itu sementara, bukan memusnahkannya.
Pria tua itu menatap Zaki yang masih syok memandangi pecahan kaca di tangannya yang berdarah.
“Kalian lihat sendiri, Zaki, Nisa,” ucap Pak Rusdi dengan napas memburu, suaranya dipenuhi peringatan keras. “Waktu kita tidak banyak. Iblis itu sudah tidak sabar. Dia tidak lagi peduli apakah Haruma sudah mati atau belum. Dia siap merenggut nyawa Harumi kapan saja.”
Malam itu, di tengah puing-puing kamar yang hancur dan isak tangis yang memilukan, Zaki menyadari satu hal dengan sangat jelas.
Penjelasan bapak mertuanya bukan sekadar teori supranatural. Ini adalah realitas yang mematikan.
Mereka harus segera menemukan kepingan terakhir dari teka-teki berdarah ini—Darah Sang Pembuat Candi—atau mereka akan kehilangan Harumi selamanya.
kira kira ntar ada plot Twitter nya nggak ya, kek pov lain bwt bantu mereka. selain yuda