Demi membeli sebuah kue ulang tahun untuk sang adik, Rio yang baru berusia sepuluh tahun rela tak menebus obat hingga penyakit jantungnya kumat parah dan nyaris merenggut nyawanya. Tak ingin ibunya mati perlahan karena terjerat hutang biaya operasi sebesar lima ratus juta, Rio nekat kabur dari rumah sakit di tengah malam untuk menjemput ajalnya sendiri, meninggalkan ibunya yang hancur dalam tangisan. Namun takdir berkata lain; lima belas tahun berlalu, Rio yang diselamatkan oleh seorang konglomerat kini kembali sebagai Direktur Utama Grup Sentosa yang berkuasa, hanya untuk mendapati kenyataan yang menjijikkan. Rizky, adik kecil yang dulu sangat ia sayangi, kini tumbuh menjadi pria gila harta yang tega mengusir dan tak mengakui ibu kandung mereka yang pincang di tengah kemewahan pesta pernikahannya. Di detik itulah Rio melangkah maju ke tengah pesta, bukan lagi sebagai kakak yang rela berkorban, melainkan sebagai sang penguasa yang akan menghancurkan siapa pun yang berani meneteskan air
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Krek.
Pintu rumah kayu yang sudah lapuk itu terbuka dengan suara berderit kasar.
Seorang pemuda masuk sambil mengibas-ngibaskan kerah kemejanya yang basah oleh keringat.
"Panas banget sih rumah ini, kayak di dalam oven saja," keluh Rizky dengan wajah ditekuk.
Santi yang sedang menghitung uang receh hasil jualan mi ayam langsung menoleh.
Senyum lebar seketika terbit di wajah keriput wanita paruh baya tersebut.
"Rizky? Tumben kamu pulang jam segini nak, biasanya kamu sibuk di kantor," sambut Santi dengan mata berbinar riang.
Santi buru-buru memasukkan uang recehnya ke dalam kaleng biskuit bekas lalu berjalan tertatih menghampiri anaknya.
"Ibu buatkan teh manis dingin ya, kamu pasti haus kan di luar panas terik begitu," tawar Santi lembut.
Rizky langsung menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur tipis yang ada di sudut ruangan.
"Nggak usah Bu, aku cuma sebentar di sini," tolak Rizky tanpa menatap wajah ibunya.
Dia sibuk mengipasi wajahnya dengan buku tulis usang yang dia temukan di lantai.
"Loh kok cuma sebentar? Ibu tadi niatnya mau masak sayur lodeh kesukaan kamu," kata Santi dengan nada sedikit kecewa.
"Aku sibuk Bu, banyak urusan proyek yang harus aku urus hari ini," bohong Rizky lancar.
Santi mengangguk-angguk bangga mendengar betapa sibuk dan pentingnya pekerjaan anak bungsunya itu.
"Ya sudah kalau begitu, kamu harus jaga kesehatan ya nak, jangan sampai telat makan," nasihat Santi penuh kasih sayang.
Rizky mendengus pelan mendengar nasihat yang menurutnya sangat basi dan tidak penting itu.
"Iya Bu aku tahu, oh ya Bu, Ibu ada uang tabungan nggak?" tanya Rizky mulai melancarkan niat busuknya.
Santi mengerutkan dahinya bingung mendengar pertanyaan mendadak dari anaknya.
"Uang tabungan? Ada sih sedikit di dalam kaleng, memangnya untuk apa nak?" tanya Santi balik.
Rizky bangkit dari posisinya dan duduk bersila menatap ibunya dengan wajah memelas yang dibuat-buat.
"Gini Bu, perusahaan tempatku bekerja mau mengirim aku dinas ke luar kota," karang Rizky dengan wajah serius.
"Dinas ke luar kota? Wah anak Ibu hebat sekali bisa dipercaya sama bos kamu," puji Santi tulus.
"Iya Bu, tapi masalahnya aku harus pakai uang pribadi dulu buat biaya hidup di sana," lanjut Rizky memelas.
"Nanti kalau proyeknya sudah selesai, uangnya pasti diganti seratus persen sama kantor," tambah Rizky meyakinkan ibunya.
Santi tidak curiga sama sekali dengan cerita bohong yang dikarang oleh anak kandungnya itu.
Wanita itu segera mengambil kaleng biskuit bekas dari bawah kolong mejanya.
Klotak klotak.
Bunyi koin dan uang kertas bergesekan saat Santi membuka tutup kaleng tersebut.
"Ini semua uang hasil jualan mi ayam Ibu bulan ini, jumlahnya ada sekitar tiga juta rupiah," kata Santi menyodorkan setumpuk uang lecek.
Mata Rizky langsung membelalak melihat tumpukan uang ribuan dan dua ribuan yang kumal itu.
"Tiga juta? Cuma segini Bu?" keluh Rizky dengan nada suara yang sangat meremehkan.
"Maaf ya nak, Ibu belum bisa kumpul uang banyak karena sepi pembeli akhir-akhir ini," sesal Santi menundukkan kepalanya.
"Uang segini mana cukup buat sebulan di luar kota Bu," gerutu Rizky sambil meraup semua uang itu ke dalam tas selempangnya.
Rizky merasa jijik memegang uang lecek berbau bumbu dapur itu, tapi dia tetap mengambilnya karena butuh uang pegangan.
"Ya sudah deh dari pada tidak ada sama sekali, aku berangkat sekarang ya Bu," pamit Rizky terburu-buru berdiri.
"Kamu dinasnya berapa lama nak? Jangan lupa kasih kabar ke Ibu ya," pesan Santi mengantar Rizky sampai ke pintu.
"Mungkin sekitar satu bulan Bu, Ibu nggak usah telepon aku dulu ya," larang Rizky sambil memakai sepatunya.
"Loh kenapa Ibu tidak boleh telepon kamu nak?" tanya Santi sedih.
"Aku bakalan sibuk banget rapat sama klien penting, nanti kalau HP-ku bunyi malah mengganggu," dusta Rizky tanpa rasa bersalah.
"Baiklah nak kalau begitu, kamu hati-hati di jalan ya, doa Ibu selalu menyertai langkahmu," ucap Santi tersenyum hangat.
Rizky hanya mengangguk asal lalu berjalan pergi meninggalkan ibunya sendirian di rumah kumuh itu.
"Tiga juta sialan, uang segini mana cukup buat bayar uang muka gedung pernikahan," umpat Rizky dalam hati sepanjang jalan.
"Aku harus memutar otak lagi buat cari sisa uang enam ratus juta itu dari mana," pikir Rizky dengan kepala pening.
Pemuda itu sama sekali tidak mempedulikan nasib ibunya yang kini tidak punya uang sepeserpun untuk makan besok.
Di otaknya hanya ada nama Cynthia dan gengsi keluarga besarnya yang harus dia jaga.
Sementara itu di gedung pencakar langit milik Grup Sentosa.
Tok tok tok.
Pintu ruangan kerja direktur utama diketuk dari luar.
"Masuk," sahut Rio dari dalam dengan suara beratnya.
Cklek.
Nadia melangkah masuk dengan membawa sebuah map berwarna merah terang di tangannya.
"Maaf mengganggu waktu Anda Tuan Rio, ada laporan penting yang harus saya sampaikan," lapor Nadia berdiri tegap di depan meja kerja Rio.
Rio mengalihkan pandangannya dari layar komputer dan menatap asisten wanitanya itu.
"Laporan tentang pencarian Ibu dan adikku?" tanya Rio dengan nada penuh harap.
Nadia menggelengkan kepalanya pelan dengan raut wajah menyesal.
"Bukan Tuan, ini laporan tentang pengajuan proposal kerja sama dari Grup Makmur," jawab Nadia menyerahkan map merah itu.
Rio langsung mengerutkan keningnya tidak suka mendengar nama perusahaan tersebut.
"Grup Makmur? Perusahaan kelas menengah yang hampir bangkrut itu berani mengajukan proposal ke kita?" sindir Rio dingin.
Rio membuka map merah itu dan membaca sekilas isi proposal yang diajukan.
"Mereka meminta suntikan dana investasi sebesar lima puluh miliar rupiah untuk proyek properti baru mereka," jelas Nadia menambahkan.