Berawal dari niat Baik yang berujung pada jatuhnya ia dari lantai dua puluh Gedung Dingfeng.
Jiang Chen, seorang pemuda yang putus asa mencari pekerjaan, secara tidak sengaja mewarisi jutaan pengetahuan rahasia medis dan kekuatan kuno.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Empat pria bertubuh kekar berseragam hitam perlahan menyebar mengepung Jiang Chen.
Otot-otot di balik seragam ketat mereka terlihat menonjol, memberikan kesan intimidasi yang sangat kuat.
Dokter kepala berdiri di ambang pintu sambil tersenyum licik dengan wajah pucatnya.
"Patahkan saja kedua kakinya kalau dia berani melawan kalian," perintah dokter tua itu dengan suara bergetar menahan amarah.
"Biar dia tahu apa akibatnya membuat keributan di area VIP rumah sakit ini."
Jiang Chen hanya berdiri santai dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celananya.
Dia menatap keempat penjaga keamanan itu dengan pandangan yang sangat malas.
'Tubuh mereka memang besar, tapi pusat gravitasi mereka berantakan,' batin Jiang Chen sambil memindai mereka.
Energi hangat kembali mengalir ke matanya, memperlihatkan jaringan otot dan titik meridian keempat pria itu.
"Anak muda, lebih baik kau menyerah saja dan ikut kami ke pos keamanan," ucap salah satu penjaga yang memiliki bekas luka di wajahnya.
"Kalau kami yang bertindak, kau pasti harus dirawat di rumah sakit ini selama berbulan-bulan."
Jiang Chen tertawa kecil mendengar ancaman klise tersebut.
"Maaf Paman, tapi aku bahkan tidak punya uang untuk membeli obat merah," balas Jiang Chen santai.
"Jadi aku terpaksa harus menolak tawaran rawat inap gratis dari kalian."
Penjaga berwajah codet itu mendengus marah merasa dipermainkan oleh seorang pemuda kurus.
Dia melangkah maju dengan cepat dan mengayunkan tangan kanannya yang sebesar batang pohon ke arah kerah baju Jiang Chen.
Wusss.
Angin dari ayunan tangan itu terasa cukup kencang menyapu poni rambut Jiang Chen.
Su Yuhan yang masih berbaring di atas ranjang tanpa sadar menahan napasnya karena tegang.
Namun Jiang Chen sama sekali tidak memundurkan langkahnya.
Dia hanya memiringkan bahunya sedikit ke kiri, membiarkan tangan besar itu lewat hanya beberapa sentimeter dari wajahnya.
Di saat yang bersamaan, tangan kanan Jiang Chen melesat ke depan seperti patukan ular berbisa.
Tap.
Hanya dua jari Jiang Chen yang menyentuh bagian bawah ketiak penjaga bertubuh besar itu.
Sentuhannya terlihat sangat ringan, seolah hanya menepuk debu dari baju.
"Uargh!"
Penjaga berwajah codet itu tiba-tiba menjerit keras dengan mata terbelalak lebar.
Seluruh sisi kanan tubuhnya seketika kehilangan tenaga dan mati rasa dalam sekejap mata.
Bruk.
Tubuh besarnya langsung ambruk ke lantai keramik dengan posisi berlutut tak berdaya.
Dia mencoba mengangkat tangan kanannya, tetapi lengan itu terasa seperti sebongkah batu yang sangat berat.
"Apa yang kau lakukan padaku, iblis?!" teriak penjaga itu dengan keringat dingin bercucuran.
Tiga penjaga lainnya langsung mematung melihat komandan mereka tumbang hanya dalam satu sentuhan.
"Aku hanya menekan titik meridian Jianjing milikmu," jawab Jiang Chen sambil tersenyum tipis.
"Itu akan membuat setengah tubuhmu mati rasa selama sepuluh menit, lumayan untuk terapi otot yang kaku."
Jiang Chen kembali menatap tiga penjaga yang tersisa sambil menggoyangkan jari telunjuknya.
"Nah, siapa lagi yang mau mendapatkan terapi pijat gratis dariku malam ini?" tantangnya dengan nada mengejek.
Wajah ketiga penjaga itu memerah karena merasa terhina.
"Jangan takut! Dia hanya menggunakan trik kotor! Serang dia bersama-sama!" teriak salah satu penjaga.
Ketiga pria berotot itu langsung menerjang ke arah Jiang Chen dari tiga arah yang berbeda secara bersamaan.
Jiang Chen menghela napas panjang melihat kekeraskepalaan mereka.
Dia memusatkan energi hangat dari perutnya dan mengalirkannya ke kedua kakinya.
Srak.
Tubuh Jiang Chen melesat ke depan dengan kecepatan yang sulit diikuti oleh mata orang biasa.
Dia merunduk menghindari pukulan pertama dari penjaga di sisi kirinya.
Brak.
Bahu Jiang Chen menghantam dada penjaga itu dengan keras, sekaligus menekan titik meridian di area rusuknya.
Penjaga itu langsung terbatuk hebat dan jatuh terduduk karena paru-parunya seolah kehabisan udara.
Di saat yang sama, tangan kiri Jiang Chen menepis tendangan dari penjaga kedua.
Tap tap.
Dua ketukan beruntun mendarat tepat di persendian lutut penjaga tersebut.
Krek.
Suara persendian yang bergeser terdengar mengerikan, disusul oleh jeritan kesakitan yang sangat melengking.
Penjaga kedua langsung berguling-guling di lantai memegangi lututnya yang seolah lumpuh sementara.
Kini hanya tersisa satu penjaga yang berdiri mematung di belakang.
Pria itu mengangkat kedua tangannya ke udara dengan wajah pucat pasi dan seluruh tubuh bergetar hebat.
"Aku, aku menyerah! Tolong jangan sentuh aku!" mohon penjaga terakhir itu sambil mundur perlahan.
Jiang Chen menghentikan langkahnya dan merapikan kerah kemejanya yang sedikit berantakan.
Pertarungan yang tidak seimbang itu berakhir hanya dalam waktu kurang dari lima belas detik.
Keempat pria besar yang seharusnya bisa menghancurkan batu bata itu kini terkapar tak berdaya di lantai.
Dokter kepala yang berdiri di ambang pintu terlihat seperti baru saja menelan lalat hidup-hidup.
Kedua kakinya bergetar hebat hingga lututnya saling beradu menciptakan suara gemeretak pelan.
"Monster, kau ini monster dari mana?!" teriak dokter kepala itu dengan suara melengking panik.
Dia berbalik badan dan bersiap untuk melarikan diri dari ruang ICU tersebut.
Namun sebelum dia bisa melangkah pergi, Jiang Chen sudah menendang sebuah nampan besi dari lantai.
Trang.
Nampan itu melayang dan menghantam dinding tepat di sebelah kepala dokter tersebut.
"Kalau kau berani melangkah satu sentimeter lagi, yang melayang selanjutnya adalah jarum akupunktur ke lehermu," ancam Jiang Chen dengan suara dingin.
Dokter itu langsung mematung di tempatnya seperti patung es.
Dia bahkan tidak berani bernapas terlalu keras karena takut pemuda iblis di belakangnya benar-benar menepati janjinya.
Di atas ranjang, Su Yuhan menatap punggung Jiang Chen dengan tatapan yang sangat rumit.
Jantungnya berdebar kencang, bukan karena sisa syok akibat henti jantung, melainkan karena apa yang baru saja disaksikannya.
'Siapa sebenarnya pria ini?' batin Su Yuhan penuh dengan tanda tanya besar.
'Pakaiannya seperti gelandangan, sifatnya seperti preman, tapi ilmu medis dan bela dirinya sangat tidak masuk akal.'
Keluarga Su adalah salah satu keluarga konglomerat di kota ini, jadi dia tahu betul tentang keberadaan ahli bela diri tersembunyi.
Tetapi pria sehebat ini biasanya adalah tetua dari keluarga besar atau pembunuh bayaran tingkat tinggi.
Sangat tidak masuk akal melihat orang sekuat ini kelaparan dan kebingungan membayar uang sewa kos.
Jiang Chen memutar tubuhnya dan kembali menatap Su Yuhan yang sedang melamun.
"Nah Nona kaya raya, karena masalah lalat pengganggu sudah selesai, mari kita kembali ke urusan utama kita," ucap Jiang Chen santai.
Dia berjalan mendekat ke sisi ranjang dan menyodorkan telapak tangan kanannya ke depan wajah Su Yuhan.
"Biaya konsultasi medis, biaya terapi pijat jantung darurat, dan ganti rugi kemejaku yang rusak."
"Totalnya mari kita bulatkan saja menjadi seratus ribu. Apakah kau mau mentransfernya atau bayar tunai?" tagih Jiang Chen tanpa rasa malu sedikit pun.
Su Yuhan terdiam sejenak mendengar tagihan yang sangat tidak masuk akal itu.
Seratus ribu untuk nyawa seorang direktur utama Grup Su? Itu terlalu murah atau pria ini memang tidak tahu harga pasaran.
"Aku akan memberimu satu juta," ucap Su Yuhan dengan nada datar.
"Hah?! Satu juta?!" teriak Jiang Chen dengan mata terbelalak lebar dan mulut menganga.