Clara hanyalah seorang gadis penderita anemia kronis yang terjebak utang almarhumah ibunya. Demi melunasi utang tersebut, ia terpaksa menjadi asisten pribadi sekaligus "penawar tidur" bagi Arsen Baskara—Tuan Muda yang dingin, kejam, dan menderita insomnia parah.
Di bawah satu atap, Arsen bertindak sangat posesif dan mendominasi Clara. Namun anehnya, setiap kali Arsen berhasrat melangkah lebih jauh, benteng penolakan ghaib di dadanya selalu bergejolak. Rasa penasaran berlanjut ketika orang-orang di sekitar mereka menyadari kemiripan garis wajah dan kebiasaan refleks yang ganjil di antara keduanya.
Saat Baskara—sang penguasa kejam klan Baskara—pulang untuk memburu dokumen masa lalu, terungkaplah rahasia terlarang yang paling mendalam: Clara bukan sekadar pelayan, melainkan adik kandung Arsen yang dulu melarikan diri bersama ibunya demi menghindari paksaan aborsi akibat fitnah perselingkuhan.
Di antara jeratan posesif sang Tuan Muda, ancaman pembunuhan dari ayah mereka sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhea Vey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17: ACARA FORMAL DAN KEBIASAAN YANG SAMA
Malam itu, kediaman megah Keluarga Baskara disulap menjadi ruang jamuan makan malam privat yang sangat mewah. Arsen mengadakan pertemuan bisnis skala kecil dengan beberapa kolega dan investor penting keluarganya. Lampu gantung kristal memancarkan pendar keemasan, mempertegas kemewahan aula utama.
Sebagai asisten pribadi, Clara bertugas memastikan seluruh kenyamanan dan kebutuhan Arsen terpenuhi selama acara berlangsung. Pakaian seragam pelayan khususnya diganti dengan gaun formal hitam polos yang simpel namun sangat anggun. Meskipun tubuhnya masih sedikit lemah akibat anemia, Clara menjalankan tugasnya dengan sangat teliti.
Clara berdiri di dekat meja saji, memegang nampan perak berisi cangkir porselen khusus untuk Arsen.
Di sudut aula, Arsen sedang berbincang serius dengan Tuan Haryo—salah satu investor veteran yang sudah mengenal keluarga Baskara sejak puluhan tahun lalu.
"Suhu di ruangan ini agak terlalu dingin untukmu, Arsen?" tanya Tuan Haryo terkekeh pelan melihat Arsen yang secara refleks mengetukkan jari jempolnya dua kali pada tepi jas sebelum merapatkan jas mewahnya.
"Hanya menyesuaikan," jawab Arsen datar.
Tak lama kemudian, Clara melangkah mendekat tanpa suara. Ia mengulurkan nampan berisi cangkir teh chamomile tanpa gula dengan suhu yang pas.
"Teh Anda, Tuan Muda," ujar Clara pelan sambil menunduk sopan.
Saat Clara memegang gagang cangkir porselen itu untuk menyerahkannya pada Arsen, Tuan Haryo yang berdiri di hadapan mereka mendadak membelalakkan mata. Langkah kakinya terhenti sejenak, matanya menatap bergantian ke arah Clara dan Arsen dengan raut wajah penuh keterkejutan.
"Tunggu dulu..." gumam Tuan Haryo, tatapannya menyipit penuh selidik.
Arsen mengerutkan dahi. "Ada apa, Tuan Haryo?"
"Caranya memegang cangkir porselen itu..." Tuan Haryo menunjuk telunjuk Clara yang agak menekuk ke luar dengan tumpuan pada jari manis—sebuah kebiasaan refleks yang sangat spesifik. "Dan gerakan mengetuk jempol dua kali saat menahan hawa dingin... Arsen, kebiasaan refleks gadis ini sangat unik dan eksklusif. Itu adalah kebiasaan refleks yang persis sama persis dengan yang dimiliki almarhumah ibumu dulu! Bahkan kamu sendiri selalu melakukan hal yang sama tanpa kamu sadari."
DEG!
Suasana di sekitar meja itu mendadak menghening. Clara membeku di tempat, tangannya yang memegang porselen gemetar tipis.
Tuan Haryo memajukan tubuhnya, menatap garis wajah Clara dari dekat di bawah sorotan lampu kristal. "Luar biasa... Bukan cuma kebiasaannya. Garis alis, lekuk bibir saat menahan napas, dan bentuk mata gadis ini... Kenapa wajah dan gesturnya sangat mirip denganmu dan mendiang ibumu, Arsen?"
Arsen menegang seketika. Hawa dingin terpancar dari aura Tuan Muda itu. Matanya menyipit tajam menatap Clara yang berdiri terpaku dengan raut pucat pasi.
Garis rahang Arsen mengeras. Komentar Tuan Haryo bukan sekadar bisikan murid di sekolah lagi, melainkan kesaksian langsung dari orang tua yang menyaksikan masa lalu keluarganya.
"Tuan Haryo, Anda tampaknya sudah terlalu banyak minum anggur malam ini," potong Arsen dengan suara rendah, dalam, dan sarat peringatan yang amat dingin. "Dia hanya asisten pribadiku."
Tuan Haryo tertawa canggung, menyadari perubahan aura membunuh dari Arsen. "Ah... ma-maafkan aku, Arsen. Mungkin aku memang hanya salah lihat karena merindukan sosok ibumu. Penglihatanku di usia tua ini mulai kabur."
Tuan Haryo segera berpamitan menyapa tamu lain, meninggalkan Arsen dan Clara dalam keheningan yang mencekam.
Arsen melangkah maju satu tapak, memangkas jarak di antara mereka. Matanya menancap sangat tajam ke dalam manik mata cokelat Clara yang bergetar.
"Ikut aku ke atas setelah acara ini selesai," bisik Arsen dingin di telinga Clara.
Di sudut aula yang gelap, dua pria berjas hitam suruhan Baskara memperhatikan seluruh interaksi tersebut dari kejauhan, lalu dengan cepat mengetikkan laporan rahasia ke ponsel mereka untuk dikirimkan langsung kepada sang Tuan Besar.