Mencintai sahabat Hazel adalah tantangan terbesar dalam hidup Andrea. Sejak kecil, Luq selalu ada di sana, begitu dekat namun terasa sulit digapai. Kini, saat masa SMA menuntut mereka untuk memilih jalan hidup masing-masing, rintangan mulai bermunculan satu per satu.
Antara janji yang belum terucap dan cita-cita yang harus diraih, Andrea harus belajar bahwa cinta terkadang berarti harus berani melepaskan... atau justru berjuang lebih keras. Sanggupkah mereka mempertahankan ikatan itu saat jarak dan waktu mulai menguji?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rea Sayne, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 21: Error 404 – Koneksi Terputus
Waktu adalah variabel yang paling sulit diprediksi dalam algoritma hidup.
Tahun kedua di China terasa seperti maraton yang tak berujung. Aku, Andrea, bukan lagi gadis SMP yang takut akan nilai matematika. Aku adalah mahasiswi beasiswa di Zhejiang University yang kini fasih berbahasa Mandarin dan terbiasa dengan ritme belajar yang ketat. Namun, di balik semua pencapaian itu, ada satu file yang tidak pernah bisa aku akses: Luq.
Semua dimulai perlahan saat Luq duduk di kelas 11. Awalnya, kabar darinya teratur—setiap malam Minggu, video call berdurasi satu jam. Namun, saat dia menginjak kelas 12, frekuensi itu menurun drastis. Alasan klise muncul: "Gue lagi sibuk praktik industri," atau "Internet di sini lagi down." atau "Kuota Gue Sisa dikit" Aku memaklumi. Aku tahu perjuangannya. SMK bukanlah tempat yang santai, apalagi dengan dua pekerjaan yang dia lakoni.
Namun, memasuki bulan keenam kelas 12, segalanya menjadi sunyi.
Pesan WhatsApp-ku hanya menunjukkan centang satu. Telepon selalu masuk ke kotak suara. Aku menghubungi Kak Hazel, namun jawabannya selalu ambigu. "Dia lagi fokus banget, Rea. Biarin dia sendiri dulu," hanya itu yang Kak Hazel katakan dengan nada yang terdengar berat, seolah menyembunyikan sesuatu yang besar.
Puncak kehampaan itu terjadi saat hari kelulusanku di SMA. Aku berdiri di depan gedung sekolah, memegang ijazah dengan tangan gemetar. Aku meraih ponsel, menunggu satu pesan saja. Congrats, Partner. Hanya itu. Tapi ponsel itu tetap membisu.
Satu tahun berlalu, lalu dua tahun. Nomor Luq benar-benar tidak aktif. Tidak ada jejak di media sosial. Seolah-olah dia telah melakukan format total pada eksistensinya sendiri.
Aku menangis di sudut kamar asramaku saat malam kelulusanku. Aku merasa dikhianati oleh keadaan. Apakah dia melupakanku? Apakah kesuksesanku dan jarak yang memisahkan kami membuat dia merasa tidak lagi selevel? Pertanyaan-pertanyaan itu menjadi bug di kepalaku, merusak konsentrasi belajarku setiap hari.
Aku berusaha mengikhlaskan, meski sulit. Aku membangun kembali diriku dari awal. Aku tidak lagi mencari bayangannya di setiap orang yang lewat. Aku berhenti mengecek ponsel setiap lima menit. Aku menjadi Andrea yang baru—mandiri, dingin, dan fokus pada masa depan. dua tahun berlalu tanpa satu pun kabar. Luq bagi hidupku telah menjadi masa lalu yang terkunci rapat di dalam folder kenangan yang tidak berani kubuka.
...----------------...
Satu tahun kemudian.
Satu tahun setelah aku memulai kuliahku di China, kampus mengadakan sebuah acara besar: International Tech Innovation Summit. Sebagai mahasiswi berprestasi, aku diminta untuk menjadi asisten panitia sekaligus penerjemah untuk para delegasi dari luar negeri.
Ruang lobi hotel tempat acara berlangsung dipenuhi oleh para eksekutif muda dan akademisi dari berbagai negara. Aku mengenakan setelan blazer formal, rambutku diikat rapi, penampilanku jauh berbeda dari gadis SMP yang dulu bergelut dengan oli di bengkel Pak Edi.
"Andrea," panggil salah satu profesor. "Tolong dampingi delegasi dari perusahaan teknologi baru ini. Mereka akan mempresentasikan sistem AI manajemen industri."
"Baik, Prof," jawabku sopan.
Aku berjalan menuju area VIP, tempat pria itu berdiri. Awalnya, aku hanya melihat punggungnya. Dia mengenakan jas navy yang dipotong sempurna, terlihat sangat mahal dan berkelas. Posturnya tegap, bahunya lebar, jauh lebih tegap daripada pemuda SMK yang kukenal dulu. Dia dikelilingi oleh banyak orang penting yang mendengarkan setiap katanya dengan takzim.
Saat dia berbalik untuk mengambil minuman dari pelayan, aku terpaku.
Pria itu... wajahnya. Rahangnya tegas, rambutnya ditata pomade dengan rapi ke belakang, dan ada aura dominasi yang terpancar dari matanya yang tajam. Dia tampak begitu asing, begitu jauh dari kata "mekanik".
Namun, ada sesuatu. Caranya memegang gelas, cara dia berdiri... itu sangat familiar.
"Tuan?" aku mendekat, suaraku sedikit bergetar karena gugup. "Saya Andrea, asisten yang akan mendampingi Anda."
Pria itu menatapku. Matanya tajam, dingin, seolah-olah dia sedang menatap obyek, bukan manusia. Dia tidak tersenyum. Dia tidak menunjukkan tanda-tanda mengenali aku sama sekali.
"Terima kasih," suaranya berat, dalam, dan terdengar sangat profesional. Tidak ada sisa-sisa aksen santai yang dulu sering ia gunakan.
Aku merasa bodoh. Tentu saja itu bukan dia. Apa yang kuharapkan? Bahwa Luq, sahabat masa kecilku, tiba-tiba muncul di sini sebagai CEO perusahaan teknologi raksasa?
"Apakah Anda butuh sesuatu yang lain, Tuan?" tanyaku, mencoba menetralkan perasaan aneh di dadaku.
"Hanya ruang yang tenang untuk persiapan presentasi," jawabnya singkat tanpa menatapku lagi. Dia berlalu begitu saja, meninggalkan aroma parfum yang maskulin dan mahal, melintas tepat di sampingku seolah aku hanyalah staf biasa.
Aku berdiri mematung di sana. Rasanya aneh. Mengapa seorang pria asing bisa membuat jantungku berdebar dengan cara yang sama seperti yang dulu dilakukan Luq?
Aku terus memperhatikannya sepanjang sesi presentasi. Dia berbicara tentang sistem AI dengan keahlian yang luar biasa. Itu adalah topik yang dulu kami diskusikan di pojok bengkel. Logika yang dia gunakan... itu adalah logika "BengkelLog" yang kami kembangkan bersama.
Apakah mungkin?
Tapi tidak. Dia terlihat begitu sukses, begitu tidak tersentuh. Dia tampak seperti seseorang yang tidak pernah tahu apa itu bau oli, apa itu kemiskinan, dan apa itu kesedihan karena kehilangan ibu dan ayah. Dia adalah pria asing yang sempurna.
Saat acara berakhir, aku melihatnya berjalan menuju pintu keluar. Aku memberanikan diri untuk mengejarnya.
"Permisi, Tuan!" panggilku.
Dia berhenti, lalu berbalik perlahan. Di bawah lampu lobi yang terang, aku melihat detail wajahnya lebih dekat. Tidak ada bekas luka kecil di pelipisnya yang dulu didapatkannya karena jatuh saat main bola bersama Hazel. Tidak ada tatapan lembut yang biasa dia berikan padaku.
Dia menatapku dengan tatapan datar. "Ya? Ada yang bisa saya bantu, Nona?"
Aku menelan ludah, kecewa pada diriku sendiri. "Tidak... maaf. Saya hanya berpikir... wajah Anda mirip dengan seseorang yang dulu saya kenal."
Dia terdiam sesaat. Sudut bibirnya sedikit tertarik, tapi bukan senyum. Itu lebih seperti seringai kecil yang misterius.
"Dunia ini luas, Nona. Banyak orang yang terlihat mirip," jawabnya pelan, lalu dia pergi begitu saja tanpa menoleh lagi.
Aku berdiri di sana, memegang ponselku. Di layar ponselku, masih ada gantungan kunci mesin motor tua yang kupakai sebagai hiasan tas. Aku menatap punggung pria itu yang menghilang di balik pintu kaca.
Itu dia. Aku tahu itu dia. Tapi kenapa dia tidak mengenalku? Atau... apakah dia sengaja berpura-pura tidak mengenalku?