NovelToon NovelToon
Ayah Tiriku, Sugar Daddy-ku

Ayah Tiriku, Sugar Daddy-ku

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Mafia / Cinta Terlarang
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Wandhansari

Veliora tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah setelah ibunya menikah dengan pria paling berbahaya di dunia elite Jakarta.
Kaelric Vorn.
Pria dingin yang dikenal sebagai penguasa bisnis internasional itu memiliki segalanya, kekuasaan, uang, dan dunia gelap yang tidak tersentuh orang biasa.
Namun di balik mansion mewah, tatapan tajam, dan nama besarnya…
Kaelric menyimpan sesuatu yang jauh lebih menakutkan.
Seekor black panther betina bernama Nyx.
Dan anehnya, binatang liar itu memilih Veliora.
Awalnya Veliora hanya ingin bertahan hidup di dunia baru yang terasa asing baginya.
Namun semakin lama dia berada di sisi Kaelric…
semakin dia menyadari bahwa pria itu bukan sekadar ayah tirinya.
Kaelric terlalu protektif.
Terlalu dominan.
Dan perlahan mulai memperlakukannya seperti sesuatu yang tidak ingin dia lepaskan.
Di tengah dunia elite penuh rahasia, pengkhianatan, dan kekuasaan…
Veliora terjebak di antara rasa cinta terhadap Ayah Tirinya....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wandhansari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15 : Pengangkatan CEO Baru Di Adiwinata Corporation

Selama satu minggu lamanya, perusahaan Adiwinata Corporation mengalami vakum. Tahta kepemimpinan yang kosong. Dan, membuat suasana perusahaan semakin tak tentu arah.

Banyak sekali karyawan yang kebingungan.

Kesan semrawut terlihat seminggu terakhir ini.

Kaelric sendiri belum menemui Tuan Adiwinata. Dan hari itulah, dia mengunjungi perusahaan vacuum of power itu.

Mobil Rolls-Royce Phantom warna hitam memasuki halaman Adiwinata Corporation.

Semua orang yang berada di halaman perusahaan nampak tercengang melihat kedatangannya. Mereka belum tahu siapa orang yang ada di dalam Rolls-Royce Phantom tersebut.

Turunlah Kaelric Vorn dari dalam mobilnya. Dia berdiri di samping bodi mobilnya. Membuka kacamata hitam. Lalu memandang sekeliling.

"Akhirnya, kamu menjadi milikku. Aku tahu, Adiwinata. Kamu begitu berjasa pada Papiku. Dan, aku tahu. Aku harus melindungi usaha yang kau bangun sedari muda dulu."

"Kau tidak tahu, bahwa seseorang akan mengambil usahamu ini dari tanganmu. Dan.. Maafkan aku. Aku akan melindungimu. Tapi, beginilah caraku."

Kaelric tidak pernah melihat ini sebagai perebutan. Di matanya, Adiwinata sudah terlalu lama berdiri di ujung yang rapuh.

Dunia di sekelilingnya berubah menjadi lebih cepat, lebih kejam, lebih tanpa ampun.

Dan orang-orang di dalamnya tidak lagi cukup kuat untuk menjaganya.

Jika bukan dia yang mengambil alih, maka orang lain akan melakukannya dengan cara yang jauh lebih buruk.

Jadi Kaelric memilih satu hal, yaitu mengambilnya terlebih dulu. Pengambilalihan ini bukanlah untuk menghancurkan, tapi untuk memastikan, bahwa tidak ada yang bisa menyentuhnya lagi.

Para karyawan terutama yang wanita, saling berbisik karena melihat kedatangan Kaelric. Nah, siapa coba yang tidak merasa senang melihat wajah Kaelric yang tampan, macho, cool dan sederetan pujian untuknya. Apalagi kalau Kaelric yang jadi Bos mereka. Wah, pasti mereka sangat menyukainya.

"Wah, itu siapa? Keren banget!"

"Andaikan punya cowok kayak dia pasti senang ya?. Udah ganteng, cool, tajir lagi!"

"Eh, itu namanya Tuan Kaelric. Dia yang punya Vorn Aegis Consortium. Tanteku kerja disana, namanya Katarina. Tau gak sih??. Tanteku sangat mengidolakan Bosnya itu. Dan, katanya mau menjebaknya dengan rayuan dan tidur satu malam saja."

"Darimana elo tahu, kalau itu namanya Tuan Kaelric?"

"Bukankah aku bilang, tanteku kerja disana."

"Ih, jangan bilang kalau tantemu ingin menjebaknya."

"Memang kenapa? Salah?"

"Bukan, bukan begitu. Sepertinya, Tuan Kaelric ini tipe Bos yang.... Ah gimana mau ngomong ya?. Susah!"

"Iya, emang ganteng, sih!. Tapi, kayak menakutkan gitu!"

"Aahh!. Sudah sudah, ayo masuk!"

Akhirnya mereka masuk ke kantor. Meski perusahaan tempat mereka bekerja masih bergejolak, mereka masih berusaha bekerja dengan rajin. Sambil berdoa, semoga kondisi perusahaan segera pulih kembali.

Kaelric masuk ke dalam gedung Adiwinata Corporation. Sesampainya di resepsionis, dia disuruh menunggu.

Sembari duduk di lobby, dia menghubungi Ravian. Agar segera menyusul ke Adiwinata Corporation.

Tak berapa lama, sampailah Ravian dengan menenteng beberapa dokumen penting. Yaitu, surat pengesahan CEO baru di perusahaan tersebut.

Akhirnya, mereka berdua dipersilahkan masuk ke dalam. Ke sebuah ruangan privasi. Tempat dimana Tuan Adiwinata berada.

Tuan Adiwinata sudah tidak lagi menempati ruang CEO lagi kini. Dia hanya pasrah. Bahkan, kemungkinan terburuk pun dia sudah memikirkan dengan matang.

Kaelric dan Ravian mengetuk pintu ruangan itu. Hingga  Tuan Adiwinata mempersilahkan mereka untuk masuk ke dalam.

"Silakan duduk, kalian berdua."

Kaelric dan Ravian duduk di sofa.

"Aku sekarang, tidak tahu lagi. Bagaimana menghadapi semua ini?"

Tuan Adiwinata nampak bersedih.

"Bagaimana cara untuk mengatakan semua ini kepada putriku. Aku benar-benar tidak punya keberanian untuk itu."

Dia pun menangis tersedu dihadapan Kaelric dan Ravian.

Mereka berdua membuat Tuan Adiwinata menangis. Agar hatinya merasa lega. Dan rasa sakit dapat berkurang dengan tangisannya.

"Tuan, maafkan aku. Karena, aku sudah tega denganmu."

"Tapi, aku tidak punya pilihan lain. "

Begitu kata hati Kaelric.

Kaelric melirik ke arah Ravian, sambil memberi kode dengan mata. Supaya Ravian mendekati Tuan Adiwinata. Ya, Ravian pun berjalan ke arah Tuan Adiwinata.

Ravian memeluknya erat. Mendekap jiwa renta yang tak berdaya. Sebenarnya, dia juga tidak tega. Tetapi, jika Bosnya tidak segera bertindak, maka semua akan hancur. Apalagi, Adisti kekasihnya terseret pada hal yang lebih berbahaya lagi.

"Tuan Adiwinata, percayalah. Saya dan Tuan Kaelric tidak akan membiarkan Tuan jauh menderita lagi. Kami bukan berniat mengambil semuanya. Tuan akan  tetap duduk disini. Dan bukan sebagai CEO lagi. Tapi, sebagai Kepala Dewan Komisaris. Tuan tetap punya hak."

Tuan Adiwinata  agak terperanjat juga mendengar ucapan Ravian.

"Aku malu, Tuan Ravian. Sungguh!"

"Kenapa mesti malu?. Usia Tuan sudah memasuki usia senja. Kami juga tidak akan membiarkan Tuan Adiwinata jatuh lebih dalam lagi."

Begitu penuturan Ravian. Kaelric pun maju ke depan. Di hadapan Tuan Adiwinata.

"Tuan Adiwinata, percaya saja denganku. Aku benar-benar kasihan kepadamu. Jika perusahaan ini tidak segera aku ambil alih. Aku tidak tahu, nasib apa yang akan anda alami."

Tuan Adiwinata sebelumnya memang tidak tahu. Bahwa sebenarnya dibalik kesuksesan perusahaan yang dia bangun itu terselip sebuah ancaman.

Tidak semua ancaman datang dari luar. Beberapa justru duduk di dalam, tersenyum, dan menunggu waktu yang tepat.

Bismantaka adalah salah satunya. Selama bertahun-tahun, ia menjadi bagian dari Adiwinata Corporation. Dia telah mengamati, juga menghitung beberapa kemungkinan.

Hingga akhirnya ia melihat satu celah, yaitu keluarga.

Adisti, bukan hanya sekadar putri. Tapi adalah kunci untuk menuju kendali penuh. Melalui sebuah pernikahan.

Dan pernikahan itu bukan tentang perasaan, tetapi tentang kepemilikan. Dan ketika semuanya telah selesai, tidak akan ada lagi yang bisa menyingkirkannya dari p

osisi itu. Itulah tujuannya semula.

Dengan masuk ke Dewan Direksi, lalu masuk lebih dalam lagi. Dan ingin menguasai semua milik Tuan Adiwinata.

Beruntung Ravian sigap waktu itu. Mengetahuinya dari sumber yang terpercaya.

"Mari Tuan, mari saya bawa ke ruangan milik Tuan Adiwinata yang baru. Ruang ini tidak layak untuk anda."

"Setiap hari  saya masih mengijinkan Tuan untuk hanya sekedar melihat perusahaan Tuan."

Kata Kaelric. Sebenarnya, airmatanya ingin tumpah, tapi dia menahannya. Jauh hari kemarin. Semenjak dia mendengar dari Ravian. Bagaimana kondisi perusahaan Tuan Adiwinata sedang dalam kondisi diambang kehancuran. Dimana, Tuan Adiwinata selaku pemilik perusahaan tidak menyadarinya.

Karena, Tuan Adiwinata melihat semua berjalan baik seperti biasanya.

Kemudian, Kaelric dan Ravian membawa Tuan Adiwinata ke sebuah ruangan baru. Dimana ruangan itu sangat luas. Lebih luas dari ruangan yang dia tempati seminggu yang lalu. Bahkan lebih luas lagi dari ruangan CEO yang dulu.

Tuan Adiwinata nampak terkejut dengan semua ini.

"Sejak kapan ada ruangan seluas ini di perusahaan saya, Tuan Kaelric?"

Kaelric tersenyum, lalu menyuruh Ravian untuk memberi penjelasan.

"Ruangan ini ada sudah seminggu yang lalu, Tuan Adiwinata."

"Benarkah?"

"Siapa yang memberi perintah untuk membuat ruangan ini?. Karena, selama itu aku tak pernah sekalipun menyuruh pekerjaku untuk membuatnya."

"Maaf Tuan, dalam kondisi kolaps kemarin. Saya menyuruh beberapa orang menyiapkan tempat ini."

"Saya memohon beribu maaf kepada Tuan Adiwinata. Karena sudah lancang."

Ravian menjelaskan semuanya tanpa ada yang ditutupi. Sedangkan Kaelric hanya memperhatikan dari jauh interaksi antara calon mertua dan calon menantu itu.

Tuan Adiwinata nampak terdiam mendengar penjelasan Ravian. Dia sebenarnya kagum melihat kinerja Ravian. Kaelric begitu menyukainya.

Akhirnya, obrolan mereka sampai juga pada Bismantaka.

"Seperti yang saya jelaskan tadi,bahwa Bismantaka - lah dalang kehancuran di perusahaan Tuan. Bukan hanya sekali saya memergokinya, Tuan. Tapi, sudah berkali-kali. Hingga, akhirnya Tuan Kaelric meminta saya untuk menyelidiki sendiri secara diam-diam."

"Bahkan, Tuan Kaelric menyediakan anak buahnya untuk membantu saya melakukan penyelidikan."

Tuan Adiwinata memperhatikan Ravian lebih lama dari biasanya. Pria muda itu memang tidak banyak bicara, tapi setiap kalimat yang keluar dari bibinya selalu tepat sasaran.

Ia tidak menunggu instruksi, tetapi ia sudah lebih dulu memahami.

Dan untuk pertama kalinya, Tuan Adiwinata melihat sesuatu yang jarang ia temui. Yaitu seseorang yang tidak hanya mampu membaca keadaan, tapi juga mengendalikannya.

"Bahkan... Bahkan......... "

"Dia ingin menikahi putri anda, Tuan."

Ravian mengatakan dengan berat. Karena, ya dia mencintai gadis itu. Sangat mencintainya. Dan tak mau kehilangannya.

"Aku sudah menduga sejak awal, Tuan Ravian. Kalau Bismantaka ingin menghancurkan aku. Tapi, dia melakukannya dengan sangat halus. Hingga, aku tidak bisa melihat kejahatannya."

Ucap Tuan Adiwinata lirih.

"Baiklah, sekarang semua sudah jelas. Sekarang, usaha anda selamat, diri anda juga selamat. Bahkan, putri anda pun begitu."

"Saya menurunkan anak buah saya untuk melindungi putri anda, Tuan. Jadi, anda tidak perlu khawatir lagi akan keselamatannya."

Tuan Adiwinata menatap Kaelric dan Ravian bergantian.

"Setelah semua sudah ada titik terang. Hari ini saya ingin membuat sebuah pengumuman di halaman depan, Tuan Adiwinata. Agar semua karyawan disini tahu bahwa CEO baru sudah ada."

"Apakah CEO baru disini, anda sendiri Tuan Kaelric? "

"Oh, tidak tidak. Bukan saya yang menjabat sebagai CEO disini. Tapi, dia. Ravian, Tuan Adiwinata!"

"Benarkah?. Jadi, nanti saya bekerja dengan Tuan Ravian?"

"Ya, betul." Kaelric mengangguk pelan.

"Wah, saya senang sekali bisa bekerja dengan Tuan Ravian."

Binar bahagia terlihat di wajah Tuan Adiwinata. Perbincangan mereka terdiam setelah mendengar pengumuman dari pengeras suara. Bahwa semua karyawan hari itu. Diminta berkumpul di halaman perusahaan.

Halaman utama Adiwinata Corporation siang itu dipenuhi karyawan.

Tidak ada yang benar-benar mengerti apa yang akan terjadi, hanya panggilan mendadak yang membuat mereka berdiri di bawah terik yang sama. Bisik-bisik pun mulai terdengar.

Sampai akhirnya, suara itu terdiam dengan sendirinya. Seorang pria melangkah maju ke depan.

Kaelric berdiri tanpa tergesa. Dia tidak perlu melakukan pengenalan. Tidak perlu juga memberi penjelasan panjang. Kehadirannya saja sudah cukup membuat suasana berubah.

“Mulai hari ini,” ucapnya, suaranya tenang namun jelas terdengar ke seluruh penjuru,

“struktur kepemimpinan di Adiwinata Corporation mengalami perubahan.”

Tidak ada jeda yang panjang. Juga tidak ada keraguan.

“Posisi CEO… tidak lagi dipegang oleh kepemimpinan sebelumnya.”

Beberapa wajah mulai berubah.

Tapi tidak ada yang berani menyela.

Kaelric melanjutkan.....

“Terhitung mulai saat ini,”

“Ravian Kestler akan mengambil alih sebagai CEO.”

"Saya minta Tuan Ravian Kestler maju ke depan. Supaya semua karyawan tahu, yang mana Tuan Ravian Kestler."

Ravian pun maju ke depan dan membungkukkan sedikit badannya sebagai tanda hormat kepada seluruh penjuru karyawan yang hadir.

Suasana terasa sunyi. Bukan karena tidak ada reaksi tapi karena tidak ada yang berani menentang. Kaelric tidak menjelaskan alasan.

Tidak juga membuka ruang pertanyaan. Ia hanya menambahkan satu kalimat,

“Keputusan ini bersifat final.”

“Dan bagi siapa pun yang masih mempertanyakan arah perusahaan ini…”

tatapannya menyapu kerumunan begitu dingin, tenang, tanpa tekanan yang berlebihan,

“kalian akan melihat jawabannya… segera.”

Tidak ada tepuk tangan. Tidak ada penolakan terbuka. Yang ada hanya keheningan yang berat,  seolah seluruh perusahaan baru saja bergeser ke arah yang tidak bisa lagi mereka hindari.

Setelah itu, Kaelric mengakhiri pengumuman. Hari itu juga sekaligus penandatanganan surat keputusan pengangkatan CEO di Adiwinata Corporation.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!