Di sudut kota yang tenang, hiduplah keluarga Baskara yang tampak sederhana namun menyimpan kehangatan yang luar biasa. Cerita ini berpusat pada kehidupan sehari-hari mereka yang dinamis, berputar di antara aroma masakan dapur, wewangian parfum langka, dan ambisi masa depan.
Kyla Rebecca Lynette M., si bungsu berusia 18 tahun yang memiliki kecantikan visual mutlak bak boneka hidup, menyimpan dunia emosionalnya sendiri di balik taman belakang yang luas dan laboratorium parfum rahasianya. Di saat sang kakak sulung, Tamara, berjuang dan akhirnya berhasil menembus beasiswa penuh S2 di London membawa kebanggaan sekaligus rasa haru yang hebat bagi keluarga Rebecca harus menghadapi ujian akhir SMA-nya.
Dalam proses pendewasaan ini, Rebecca dibimbing sekaligus "diganggu" oleh kakak keduanya, Naufal, seorang pemuda dingin di luar namun menjadi mentor sekaligus pencipta kerusuhan yang manja di kamar Rebecca. Di bawah asuhan hangat kedua orang tua mereka, novel ini mengeksplorasi arti kedewasaan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Oviamarashiin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cangkir yang Kosong dan Pandangan yang Menerawang
Makan malam larut itu akhirnya ditutup dengan piring-piring yang tandas tanpa sisa. Tahu isi ayam suwir super pedas buatan Rebecca benar-benar menjadi bintang malam itu, meninggalkan rasa hangat yang nyaman di perut semua orang, sekaligus membasuh sisa dingin dari sisa badai hujan di luar rumah. Bramantyo sang ayah, menghela napas lega sembari menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi kayu jati, tangannya mengusap perutnya dengan senyuman puas.
"Masakanmu malam ini beneran penolong, Rebecca. Ayah merasa stamina Ayah kembali penuh setelah pusing melihat laporan anggaran kantor sejak siang tadi," ujar Bramantyo dengan nada suara yang dalam dan kebapakan.
Rebecca yang baru saja meneguk sisa teh melati dinginnya meletakkan gelas kaca itu tanpa menimbulkan suara. "Alhamdulillah kalau Ayah suka. Nanti kalau Ibu sedang ada acara arisan atau malas memasak lagi, Rebecca buatkan menu yang berbeda."
Di sebelahnya, Tamara sudah mulai mengemasi mangkuk-mangkuk kosong ke atas nampan. Gerakannya yang tinggi semampai tampak sangat anggun di balik gamis katun rayonnya. "Sini, Re, biar Mbak saja yang mencuci piringnya ke belakang. Kamu sudah lelah memasak dan diganggu Mas Naufal sejak sore tadi."
"Eh, enak saja! Aku tidak mengganggu, ya. Aku kan membantu memberikan bimbingan belajar gratis untuk masa depan Tuan Putri ini," protes Naufal tidak terima. Ia berdiri dari kursinya, meregangkan tubuh kekarnya hingga otot-otot lengannya yang berotot tercetak jelas di balik kaus putih tipisnya yang kini sudah kering dari sisa peluh olahraga.
Naufal berjalan mendekati Rebecca yang masih duduk tenang di kursinya. Dengan gerakan jahil yang sudah menjadi rutinitasnya, ia menyentil pelan poni depan see-through adiknya hingga terbelah sedikit. "Lagipula, gara-gara tutor jenius seperti aku, dia jadi tahu cara menghitung pergeseran Wien dengan benar. Iya, kan, dek?"
Rebecca hanya menatap abangnya dengan sepasang mata abu-abu langkanya yang tenang namun menajam. Bibir ombrenya bergerak membentuk garis lurus, menolak memberikan kepuasan kepada Naufal dengan tidak menyahuti godaan tersebut. Namun, tangannya yang kecil bergerak di bawah meja, diam-diam mengambil sebuah sendok bekas yang masih menyisakan sedikit sisa minyak cabai dari tahu isi tadi.
Cles...
Sebelum Naufal sempat menghindar, Rebecca dengan kecepatan instingnya mengoleskan ujung sendok berminyak itu tepat ke punggung lengan kekar Naufal yang terbuka.
"Aduh! Re! Ini panas cabainya membekas di kulitku, astaga!" Naufal melompat mundur se langkah, memegangi lengannya yang terasa mulai kesat dan hangat akibat minyak cabai rawit setan buatan adiknya. "Kau ini benar-benar menyimpan dendam kesumat, ya!"
Ibu Anggraini yang menyaksikan kelakuan kedua anak bungsunya hanya menggelengkan kepala sembari tersenyum geli. "Sudah, Naufal, jangan diganggu terus adikmu. Rebecca, masuk kamar dan istirahatlah. Ujian sekolahmu tinggal beberapa minggu lagi, jangan sampai tidur terlalu larut."
"Iya, Ibu," jawab Rebecca lembut. Ia berdiri, merapikan letak gaun rajut kremnya yang membungkus sempurna lekuk tubuhnya yang matang, lalu melangkah meninggalkan ruang makan dengan keanggunan seorang model yang tenang. Sebelum menaiki tangga, ia menyempatkan diri melirik Naufal yang masih sibuk mengusap lengannya di dekat wastafel dapur, memberikan senyuman kemenangan yang sangat tipis namun mematikan.
Saat Rebecca menapaki anak tangga menuju lantai dua, suasana rumah perlahan - lahan kembali sunyi. Gerimis di luar telah sepenuhnya reda, menyisakan hawa sejuk yang menyelinap masuk melalui celah-celah ventilasi kayu. Rebecca membuka pintu kamarnya, disambut kembali oleh aroma sandalwood.hangat yang menenangkan, bercampur dengan sisa wewangian ekstrem jeruk purut yang untungnya sudah mulai menipis karena sirkulasi udara dari jendela yang sengaja ia buka sedikit tadi.
Ia berjalan menuju jendela besar yang menghadap langsung ke arah taman belakang. Di bawah sana, permukaan air di kolam renang besar tampak berkilau memantulkan sisa cahaya lampu taman. Di dekat sekat pagar kolam kecil, Dabo terlihat sudah tertidur pulas di dalam rumah rumahan khususnya yang hangat.
Rebecca menempelkan dahinya pada kaca jendela yang dingin. Pandangan matanya yang berwarna abu-abu langka menerawang jauh ke langit malam yang pekat tanpa bintang. Pikirannya melayang pada cerita Naufal di meja makan tadi tentang teman-teman kampus abangnya, dan tentang Doktor Adrian, dosen berhati dingin yang meluangkan waktu untuk mencicipi masakannya. Ada rasa penasaran yang aneh, sejenis letupan kecil di dalam dadanya yang selama ini selalu tenang dan datar. Gadis berusia delapan belas tahun itu menarik napas dalam - dalam, membiarkan aroma malam dan sisa wewangian kamarnya memenuhi rongga dadanya, bersiap untuk menghadapi hari esok dengan segala kejutan yang mungkin menantinya.
...----------------...
Ketika fajar menyingsing keesokan harinya, cuaca kota tidak lagi menyisakan kemarahan badai semalam. Langit subuh berganti menjadi bentangan kanvas berwarna biru pastel yang tenang, diselimuti oleh lapisan kabut tipis yang turun berarak dari perbukitan pinggiran kota. Udara terasa sangat dingin dan menggigit, menyusup melalui pori-pori dinding batu bata kediaman Baskara. Di dalam kamarnya, Rebecca sudah terbangun sejak dentang jam dinding menunjukkan pukul lima pagi.
Gadis berusia delapan belas tahun itu berdiri di depan cermin besar kamarnya. Penampilannya pagi ini tampak sangat segar namun tetap modis dalam kesederhanaan pakaian rumah. Ia memilih mengenakan sweater rajut berkerah tinggi (turtleneck) berserat tebal dengan warna hijau sage yang lembut, dipadukan dengan celana panjang kulot berwarna putih gading. Potongan baju itu menyelimuti tubuhnya dengan hangat, namun bahan rajutnya yang lentur tetap tidak bisa menyembunyikan siluet tubuhnya yang luar biasa matang lekukan dada jumbo yang padat serta pinggul semoknya tercetak begitu proporsional, memberikan kesan kontras dengan wajahnya yang kecil dan polos bak porselen.
Rebecca menyisir rambut hitam panjang bergelombangnya yang sangat dominan dan lebat hingga jatuh menjuntai melewati pinggang. Setiap helai rambutnya mengeluarkan aroma alami campuran minyak kelapa murni dan distilasi bunga sedap malam yang sangat wangi. Setelah merapikan poni depan see-through-nya dengan jemari tangan yang lentik, ia melangkah turun tangga membawa sebuah keranjang rotan kecil.
Tujuan pertamanya pagi ini adalah taman belakang rumah mereka yang luas sebuah oasis pribadi yang dipisahkan oleh sekat pagar kayu bercat putih dari area kolam renang. Begitu pintu kaca digeser, embusan angin berkabut langsung menerpa wajah mulusnya, membuat bibir alaminya yang merah cerah tanpa polesan lipstik sedikit mengatup menahan dingin.
"Meong..."
Sebuah gesekan bulu halus yang tebal di pergelangan kakinya membuat Rebecca menunduk. Dabo, kucing persia berbulu putih salju itu, sudah mengekor di belakangnya dengan mata bulat yang berkedip malas.
"Selamat pagi, Dabo. Dingin, ya? Jangan dekat-dekat kolam dulu, airnya masih seperti es," bisik Rebecca lembut, suaranya terdengar jernih di tengah kesunyian pagi.
Rebecca berjalan menyusuri jalan setapak yang terbuat dari susunan batu kali yang lembap oleh embun. Taman belakang ini adalah mahakarya kerja sama antara keasrian alami Ibu Anggraini dan kegilaan eksperimental Rebecca terhadap tanaman langka. Di sisi kiri, tumbuh subur beberapa rumpun tanaman bunga mawar hitam (Black Baccara) yang kelopaknya tampak sepekat beludru gelap, bersanding dengan pohon buah tin yang berbuah lebat dan beberapa pohon jeruk bergamot yang sengaja ditanam untuk kebutuhan bahan dasar parfumnya.
Jemari halus Rebecca bergerak memetik beberapa kuntum mawar yang kelopaknya masih menyimpan tetesan embun pagi, lalu memasukkannya ke dalam keranjang rotan. Penciumannya yang genius mendeteksi aroma tanah basah, sisa uap air kolam, dan wangi pekat kelopak bunga yang mekar di suhu dingin sebuah kombinasi aroma yang sangat mahal jika berhasil ia isolasi di dalam ruang rahasianya nanti.
Saat ia sedang asyik memilah daun mint segar di dekat sudut pagar, telinga sensitif Rebecca menangkap suara deru napas yang berat dan ritmis dari arah seberang kolam renang besar. Ia menegakkan tubuhnya, menatap menembus kabut tipis yang mulai mengikis.
Di sana, di tepi kolam yang berair jernih kebiruan, Naufal rupanya sudah terjaga lebih dulu. Abangnya yang berusia 21 tahun itu hanya mengenakan celana pendek hitam tanpa atasan sama sekali, mengabaikan suhu pagi yang berada di bawah dua puluh derajat Celsius. Tubuhnya yang kekar, tegap, dan berotot tampak berkilau oleh lapisan keringat tipis setelah melakukan rutinitas push-up dan shadow boxing. Otot-otot punggungnya yang lebar bergerak dinamis setiap kali ia melayangkan pukulan lurus ke udara, sementara otot perut six pack -nya tampak mengencang dengan keras saat ia mengatur napasnya.
Rebecca menghela napas pelan, menatap abangnya dengan pandangan matanya yang tenang dan datar. "Mas Naufal beneran tidak punya rasa dingin di tubuhnya, ya," gumamnya dalam hati, menggelengkan kepala melihat kegilaan fisik sang kakak yang selalu beralasan sedang menjaga performa fisiknya sebagai atlet amatir sasana tinju kampus.