Di tengah dinginnya kota New York, pernikahan megah Adiba Abbey dan Raynazh Leon Osborn hancur berantakan dalam waktu semalam.
Di dalam kamar griya tawang keluarga Osborn yang remang dan mabuk oleh atmosfer perayaan, sebuah kesalahan fatal terjadi.
Adiba menyerahkan segalanya kepada pria yang dia kira adalah sang suami yang baru saja mengikat janji suci bersamanya di altar.
Namun, tepat di detik-detik pelepasan yang intim, sebuah suara asing yang bergetar hebat meloloskan nama Adiba.
Kesadaran menghantamnya bak badai es; pria yang baru saja menidurinya bukanlah Raynazh, melainkan sang adik ipar, Louis Enver Osborn.
Pengkhianatan tak sengaja yang dipicu oleh kegelapan dan alkohol ini meruntuhkan dinding pernikahan mereka, menyeret Louis dan Adiba ke dalam jurang penyesalan, dendam, dan rahasia kelam yang mengancam kehancuran total dinasti Osborn.
_🌷_
Happy reading 🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#24
Malam kian melarut ketika mobil sport hitam milik Louis membelah jalanan yang menghubungkan Manhattan dan Brooklyn.
Di bawah temaram lampu jalan dan pendar neon papan reklame raksasa, kendaraan itu melaju dengan kecepatan di atas rata-rata, memuntahkan deru mesin yang parau ke dalam keheningan malam New York.
Di balik kemudi, Louis Enver Osborn masih mencengkeram setir dengan ketegangan yang belum juga mengendur.
Pikirannya melompat-lompat liar, berantakan bagai pecahan kaca yang berserakan. Bayangan Adiba yang mundur dua langkah di pelataran parkir, caranya mendekap perut dengan kedua telapak tangan yang gemetar, serta runtuhnya binar obsesi di sepasang mata hitam wanita itu terus berputar, terproyeksi di atas aspal jalanan yang basah oleh embun malam.
“Aku bersumpah akan menghapus cinta ini… Pergilah… aku tidak akan pernah mengejarmu lagi, Louis.”
Kalimat itu terngiang, berulang-ulang laksana kaset rusak di dalam kepala Louis. Ada semacam kegetiran yang aneh yang mendadak menyumbat tenggorokannya. Louis memaki pelan, menghantamkan telapak tangan kanannya ke atas setir hingga menimbulkan bunyi klakson pendek yang nyaring.
"Dia berbohong," desis Louis pada dirinya sendiri, mencoba mempertebal dinding penyangkalannya. "Dua kali. Kami hanya melakukannya dua kali. Tidak ada kehamilan yang terjadi secepat itu. Dia hanya wanita gila yang pandai berakting."
Namun, jauh di dalam lubuk hatinya, getaran sunyi dari sumpah terakhir Adiba tidak bisa dibohongi.
Ada perbedaan yang teramat jelas antara taktik manipulasi dengan kehancuran murni seorang wanita yang jiwanya baru saja dibunuh. Dan malam ini, Louis tahu dia telah mengeksekusi perasaan itu dengan cara yang paling kejam.
Begitu mobilnya memasuki pelataran penthouse pribadinya di Brooklyn, Louis mematikan mesin. Dia duduk diam selama beberapa menit di dalam kegelapan kabin mobil, membiarkan keheningan malam perlahan meredam gemuruh di dadanya.
Pria itu mengusap wajahnya dengan kasar, mencoba menyingkirkan sisa-sisa aroma mawar Adiba yang seolah masih tertinggal di indra penciumannya, sebelum akhirnya membuka pintu dan melangkah keluar.
Di dalam penthouse, suasana teramat hangat namun sarat akan kedamaian yang mendadak terasa asing bagi Louis. Pendar lampu meja berwarna kuning temaram menerangi ruang tengah.
Di atas sofa kulit hitam yang besar, Christine tampak tertidur pulas dengan posisi meringkuk kecil laksana seekor kucing. Sebuah buku novel tebal terbuka di atas pangkuannya, dan sebuah selimut rajut krem menutupi sebagian tubuh rapuhnya.
Melihat sosok Christine, denyut rasa bersalah yang biasa mendekam di dada Louis kembali terbangun. Gadis ini dari kepolosan dan korban dari kebiadaban kakaknya, Raynazh. Louis melangkah dengan sangat perlahan, menanggalkan jaket kulitnya, lalu berlutut di samping sofa.
Dia memandangi wajah tidur Christine yang damai. Tidak ada gumpalan ambisi gila di wajah ini, tidak ada darah Ambar yang melumuri jemarinya, dan tidak ada plot manipulasi yang dirancang untuk menghancurkan sebuah dinasti bisnis. Christine adalah dunia yang lurus, dunia yang seharusnya dia pilih jika dia menginginkan ketenangan.
Namun, kenapa saat menatap Christine saat ini, kepala Louis justru membandingkannya dengan wajah pucat Adiba di meja rapat tadi? Kenapa ingatan tentang bagaimana Adiba muntah parah di meja makan Manhattan mendadak melintas, merusak fokusnya?
"Louis...?"
Christine melenguh pelan, sepasang mata bulatnya perlahan terbuka. Begitu melihat sosok Louis yang berada di dekatnya, sebuah senyuman tulus langsung merekah di bibir tipisnya. Gadis itu bangkit duduk, mengucek matanya sejenak sebelum merentangkan tangan untuk memeluk leher Louis.
"Kau pulang larut sekali," bisik Christine dengan suara serak khas orang baru bangun tidur. Dia menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Louis, menghirup aroma tubuh pria itu. "Rapatnya berjalan buruk? Kau wangi sekali... tapi kenapa tubuhmu dingin?"
Louis tertegun. Pertanyaan Christine tentang 'wangi' seketika membuat seluruh tubuhnya menegang. Apakah aroma parfum mawar Adiba masih melekat di pakaiannya? Apakah sisa-sisa konfrontasi di pelataran parkir tadi terbawa hingga ke dalam rumah ini?
Louis memaksakan sebuah senyuman tipis, menepuk-nepuk punggung Christine dengan kelembutan seorang kakak. Dia perlahan mengurai pelukan itu, tidak ingin Christine mendeteksi detak jantungnya yang berdegup dengan ritme yang kacau.
"Hanya rapat dewan direksi yang sedikit melelahkan," ucap Louis, suaranya diatur sedatar mungkin. "Kenapa tidak tidur di kamar, Christine? Udara di ruang tengah agak dingin malam ini."
"Aku menunggumu," Christine menggenggam jemari besar Louis yang dipenuhi tato. "Aku membuatkanmu sup hangat di dapur. Mau kupanaskan?"
"Tidak usah, aku sudah makan di Manhattan tadi," bohong Louis. Jangankan makan, memikirkan makanan saja saat ini membuat ulu hatinya terasa mual akibat ketegangan psikologis yang mendera. "Kau kembalilah tidur di kamar. Aku masih harus memeriksa beberapa dokumen di ruang kerja."
Christine menatap Louis dengan pandangan mata yang sedikit redup. Sebagai seorang wanita yang hidupnya sangat bergantung pada Louis, dia bisa merasakan ada jarak tak kasat mata yang mendadak membentang di antara mereka malam ini. Ada sesuatu yang menyita pikiran pria itu, sesuatu yang besar, yang tidak bisa dia jangkau.
"Baiklah..." Christine mengecup pipi Louis sekilas, lalu bangkit berdiri sembari membawa selimutnya. "Jangan bekerja terlalu larut, Louis. Kau tampak sangat pucat malam ini."
Setelah sosok Christine menghilang di balik pintu kamar, Louis mengembuskan napas panjang. Dia berjalan menuju dapur bersih, menuangkan segelas air es, lalu meminumnya dalam sekali tegak. Sensasi dingin yang membakar tenggorokannya setidaknya berhasil menariknya kembali ke alam realitas.
Sementara itu, di seberang jembatan, di dalam kemegahan Griya Tawang Manhattan, malam itu bergulir dengan kesunyian yang jauh lebih mengerikan.
Adiba Abbey berdiri di tengah kamar utamanya yang gelap gulita. Mantel bulu hitamnya telah tergeletak begitu saja di atas lantai marmer, bersandingan dengan surat cerai yang telah ditandatangani oleh Raynazh.
Dokumen yang seminggu lalu dia mimpikan sebagai tiket kebebasannya untuk bersatu dengan Louis, kini tidak lebih dari selembar kertas tanpa arti.
Dia berjalan mendekati cermin besar di meja riasnya. Tanpa menghidupkan lampu, hanya dengan bantuan cahaya bulan yang menembus kaca jendela, Adiba menatap bayangan dirinya sendiri.
Wajahnya pucat laksana mayat. Sudut bibirnya yang terluka tidak lagi terasa perih, karena rasa sakit di dadanya telah mematikan seluruh saraf sensorik di tubuhnya. Perlahan, kedua tangannya kembali bergerak turun, meraba permukaan perutnya yang terbalut gaun tidur sutra putih.
“Aku tidak akan pernah sudi mengakui anak yang sama hina dan menjijikkannya seperti kau ibunya!”
Kata-kata Louis kembali bergema, menghantam dinding kamarnya seolah pria itu sedang berdiri di sana dan melontarkan kutukan itu berulang kali.
Adiba memejamkan mata, membiarkan air mata terakhirnya jatuh kesepian di dalam kegelapan. Perlahan, bibirnya mengulas sebuah senyuman—bukan senyuman gila penuh obsesi seperti biasanya, melainkan senyuman mati dari seorang wanita yang telah kehilangan seluruh alasannya untuk mencintai.
"Dia tidak menginginkanmu, Sayang..." bisik Adiba pada janin di dalam rahimnya, suaranya terdengar teramat lembut namun dingin, laksana es yang membeku di kutub terluar. "Daddy-mu menganggap kita hina. Dia menganggap cinta yang kubangun selama sepuluh tahun ini sebagai sebuah penyakit menjijikkan."
Adiba membuka matanya kembali. Sorot mata hitamnya kini benar-benar kosong, kehilangan seluruh pendar kehidupan. Labirin obsesi yang dia bangun selama sepuluh tahun untuk memuja Louis Osborn telah hancur lebur malam ini di pelataran parkir Manhattan, menyisakan puing-puing berdarah yang tidak akan pernah bisa disusun kembali.
Dia telah berjanji demi tuhan, dan dia tidak akan pernah melanggar sumpah seumur hidupnya. Dia tidak akan mengejar Louis lagi. Dia tidak akan mengemis cinta pada pria yang mengutuk darah dagingnya sendiri.
"Mulai detik ini... nama Louis Enver Osborn telah mati di dalam duniaku," ucap Adiba lirih, suaranya bergetar dengan ketetapan hati yang mutlak. "Jika dia menganggapku sebagai neraka, maka aku akan memastikan neraka ini menjauh sepenuhnya dari hidupnya. Aku akan membesarkanmu sendirian, Anakku... dan kita akan melihat bagaimana dinasti Osborn ini runtuh oleh puing-puing yang mereka ciptakan sendiri."
Adiba melangkah menuju tempat tidur besar, merebahkan tubuhnya yang lemas di atas kasur dingin. Malam itu, untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun, Adiba Abbey tidur tanpa membayangkan wajah Louis sebelum memejamkan mata. Cinta gila itu telah resmi mati, dikubur dalam-dalam di bawah tumpukan hinaan yang dilontarkan sang pemilik rasa bersalah di Brooklyn.
Keesokan paginya, New York disambut oleh berita besar yang mengguncang lantai bursa Wall Street.
Kabar tentang penandatanganan surat gugatan cerai antara Raynazh Leon Osborn dan Adiba Abbey bocor ke permukaan, memicu spekulasi liar di kalangan investor dan media massa. Saham Osborn Group mengalami fluktuasi tajam sejak bel pembukaan perdagangan berbunyi.
Di dalam kantor CEO, Arthur Osborn berdiri menghadap jendela dengan wajah yang memerah padam akibat amarah yang tak terkendali. Di belakangnya, Raynazh duduk dengan kepala tertunduk, tidak berani menatap mata sang ayah yang memancarkan kilat kekecewaan mendalam.
"Kau merusak semuanya, Raynazh!" bentak Arthur, suaranya menggelegar, menghantam dinding ruangan kerja yang luas itu. "Pernikahan bisnis ini adalah fondasi kita untuk menguasai proyek pelabuhan dan mengunci dinasti Abbey! Dan kau... kau menandatanganinya begitu saja tanpa persetujuanku?! Apa yang ada di dalam otak bodohmu itu?!"
Raynazh mengepalkan tangannya di atas lutut. Dia tidak bisa membela diri. Dia tidak mungkin mengatakan bahwa jika dia tidak menandatanganinya, rekaman video istrinya dengan Louis akan tersebar dan menghancurkan sisa harga dirinya sebagai seorang pria. Pagi ini, Raynazh menyadari bahwa meskipun dia telah terbebas dari ancaman langsung Adiba, dia kini berada di ujung tanduk kekuasaan yang diberikan ayahnya.
Di saat yang sama, di kawasan pelabuhan Brooklyn, Louis berdiri di tepi dermaga, menatap hamparan air laut yang tenang namun menyimpan arus bawah yang deras. Angin laut yang dingin menerpa wajah tegasnya, menerbangkan beberapa helai rambut hitamnya yang berantakan.
Zack berjalan mendekat dari belakang, memegang sebuah map dokumen baru dengan ekspresi wajah yang masih menyiratkan ketegangan dari telepon malam lalu.
"Louis," panggil Zack pelan.
Louis tidak menoleh. "Apa ada perkembangan baru?"
"Adiba Abbey... dia tidak kembali ke kediaman utama Abbey pagi ini," ucap Zack, membuat Louis secara refleks menoleh dengan cepat, sepasang mata elang abu-abunya menyipit tajam. "Informan pelabuhan mengatakan bahwa jet pribadi keluarga Abbey telah dijadwalkan untuk terbang ke Swiss sore ini. Dan nama Adiba berada di manifes penerbangan utama."
Deg.
Jantung Louis kembali berdegup dengan ritme yang ganjil. Swiss? Wanita itu benar-benar pergi? Dia benar-benar melaksanakan sumpahnya untuk menghapus cinta itu dan tidak akan pernah mengejarnya lagi?
"Dia pergi...?" gumam Louis, ada rasa kosong yang mendadak merayap di ulu hatinya, sebuah perasaan aneh yang menolak disetujui oleh logikanya.
"Ya, dia pergi, Louis," Zack menatap bosnya dengan pandangan serius. "Dan ada satu hal lagi dari rumah sakit jiwa di Paris yang baru kudapatkan setengah jam lalu. Dokumen medis digital yang sempat dihapus itu... berisi hasil pemeriksaan laboratorium Adiba Abbey dua minggu lalu."
Zack menjeda kalimatnya, menatap Louis dengan tatapan mata yang sarat akan kecemasan mendalam. "Hasil tesnya positif, Louis. Adiba Abbey... dia benar-benar sedang mengandung. Usia kandungannya baru memasuki minggu ke'empat."
Mendengar kalimat terakhir Zack, seluruh dunia di sekitar Louis Enver Osborn seolah berhenti berputar. Langit Brooklyn di atas kepalanya mendadak terasa runtuh, menghantam kesadarannya hingga berkeping-keping.
Tebakannya salah. Penyangkalannya adalah sebuah kebodohan yang fatal. Adiba tidak sedang berbohong. Janin itu... anak yang dia kutuk sebagai makhluk hina dan menjijikkan semalam di pelataran parkir Manhattan... adalah benar-benar darah dagingnya sendiri.
Louis mundur satu langkah, tangannya mencengkeram pembatas besi dermaga begitu kuat hingga urat-urat di lengannya menegang ekstrem. Mulutnya menganga, napasnya tersengal-sengal oleh gelombang penyesalan dan rasa ngeri yang teramat masif yang mendadak melumat seluruh egonya.
“Aku tidak akan pernah sudi mengakui anak yang sama hina dan menjijikkannya seperti kau ibunya!”
Kutukan yang dia lontarkan semalam kini berbalik arah, menjelma menjadi belati paling tajam yang menghujam tepat di jantung moralitasnya sendiri.
Dia telah membuang wanita yang mencintainya dengan kegilaan, dan di saat yang sama, dia telah mengutuk anaknya sendiri sebelum anak itu sempat terlahir ke dunia.
Alur takdir di antara mereka kini telah bergeser sepenuhnya, meninggalkan Louis yang membeku di tepi dermaga Brooklyn, terjebak di dalam penyesalan sunyi yang baru saja dimulai.