Di usianya yang menginjak 30 tahun, Arini hanya ingin fokus pada kariernya sebagai Manajer Pemasaran dan menghindari drama kehidupan. Namun, ketenangannya terusik sejak kedatangan Rian (24 tahun), staf baru dari generasi Gen Z di timnya.
Berbeda dengan anak muda lain, Rian adalah cowok yang efisien: kerjanya selalu satset, santai, hasilnya rapi, tapi sikapnya super dingin dan kaku kepada Arini. Rian bahkan secara terang-terangan menunjukkan prinsip hidupnya yang kaku: "Not love at work"—baginya, mencampuradukkan pekerjaan dan perasaan adalah hal konyol.
Sikap dingin dan misterius Rian justru membuat Arini penasaran setengah mati. Arini tidak tahu bahwa di balik wajah datarnya, Rian sengaja membangun benteng tinggi demi menutupi debaran jantungnya setiap kali berdekatan dengan sang manajer. Rian tahu risiko profesional di kantor mereka, namun pesona dewasa Arini perlahan meruntuhkan logikanya.
Akankah Rian melanggar prinsipnya demi Arini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danisa Danish, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jarak, Waktu, dan Alasan yang Dipaksakan
Setelah situasi dinyatakan benar-benar aman oleh petugas pemadam kebakaran, para penghuni apartemen mulai diizinkan kembali ke unit masing-masing. Dian yang sejak tadi mengamati dari kejauhan, akhirnya berjalan mendekat sambil bersedekap, memasang senyum interogasi khasnya.
"Rin, unit lo aman kan? Gak kena dampak asap?" tanya Dian, sengaja memecah keheningan kaku antara Arini dan Rian.
"Aman kok, kata petugas cuma lantai tiga yang sempat keluar api. Lantai atas cuma bau asap dikit," jawab Arini, masih berusaha menetralkan sisa-sisa kegugupan akibat insiden pegangan tangan tadi.
Dian manggut-manggut. Matanya kemudian beralih, menatap Rian dari atas sampai bawah dengan tatapan menyelidik. "Ngomong-ngomong, Rian... gue baru ngeh deh sesuatu."
Rian yang merasa ditatap seperti itu langsung gugup. "Ngeh soal apa ya, Bu Dian?"
"Setahu gue, kostan lo itu kan di daerah seberang, dekat area proyek lama, kan? Jarak dari kostan lo ke apartemen Arini ini kalau naik motor normal tanpa macet aja bisa makan waktu hampir empat puluh lima menit," Dian menjeda kalimatnya, sengaja memajukan wajah dengan senyum penuh arti. "Terus, berita kebakaran ini baru ramai di medsos sekitar dua puluh menit yang lalu. Kok lo bisa secepat kilat udah sampai di sini? Bahkan lo sampai duluan daripada gue yang searah dari kafe?"
DEG!
Skakmat. Rian langsung membeku. Pertanyaan Dian seperti peluru kendali yang tepat sasaran mempreteli sistem pertahanannya. Wajah Rian yang tadi sempat reda meronanya, kini kembali memerah, bahkan sampai ke lehernya.
Arini pun ikut tertegun. Kepalanya otomatis menoleh ke arah Rian, menanti jawaban. Benar juga kata Dian. Kok Rian bisa sampai secepat itu kalau posisi awalnya dari kostan yang jauh?
"E-eh... itu, Bu... anu..." Rian gelagapan. Jemarinya meremas botol air mineral yang dipegangnya sampai berbunyi krek. "T-tadi kebetulan saya emang... lagi gak di kostan!"
"Oh ya? Terus lagi di mana?" pancing Dian, makin bersemangat karena mencium aroma kebohongan yang manis.
"Saya tadi... lagi nyari makan! Iya, nyari makan malam di daerah dekat-dekat sini. Pas lagi nunggu pesanan pecel lele, saya lihat postingan di grup info Jakarta kalau apartemen daerah sini kebakaran. Karena saya tahu ini kompleks apartemen Bu Arini, makanya saya langsung batalin pesanan dan lari ke sini pakai ojek!" cerocos Rian panik, menyusun alasan seadanya yang penting terdengar logis.
Padahal, dalam hati Rian sudah menangis histeris. “Gila, gak mungkin gue jujur kalau sejak pulang dari apartemen Bu Arini hari Sabtu, gue jadi sering sengaja lewat atau nyari makan di daerah sini cuma karena... ah, tau ah! Jangan sampai mereka tahu!” batin Rian merutuk. Prinsip "jangan pacaran sama teman sekantor" yang baru saja ia agungkan di dalam kepala, mendadak terasa munafik dengan fakta kalau radius mainnya belakangan ini sengaja didekatkan ke wilayah Sang Kepala Staf.
Dian menaikkan sebelah alisnya, tersenyum sinis tapi jenaka. "Oh... nyari pecel lele sampai lintas wilayah ya, Yan? Jauh banget mainnya."
Arini hanya terdiam memandangi Rian yang sibuk membuang muka ke arah jalan raya, pura-pura memperhatikan mobil damkar yang mulai pergi. Ada rasa hangat yang menggelitik di sudut hati Arini. Dia tahu Rian berbohong soal pecel lele itu, tapi fakta bahwa cowok itu selalu "kebetulan" ada di radar sekitarnya saat dia butuh, membuat benteng gengsi Arini perlahan-lahan mulai retak lagi.
Malam makin larut saat Rian akhirnya melangkah masuk ke kamar kostnya dengan tubuh lelah dan pikiran yang lebih berantakan daripada kabel colokan di sudut kamar. Begitu pintu terbuka, pemandangan pertama yang ia lihat adalah Bagas yang sedang duduk bersila di atas kasur, memegang bungkusan martabak manis sambil menatapnya dengan senyum yang sangat amat menyebalkan.
"Wah, wah, wah... pahlawan pemadam kebakaran kita udah pulang," sambut Bagas dengan nada teatrikal, langsung meletakkan sepotong martabak ke piring. "Gimana aksi heroiknya, Bro? Nyawa Bu Kepala Staf berhasil diselamatkan dari kepulan asap asmara?"
Rian tidak menyahut. Ia langsung ambruk di kasur busanya yang tipis, menutupi wajahnya dengan bantal. "Gue capek, Gas. Jangan mulai deh."
Bagas malah bergeser mendekat, lalu menyenggol kaki Rian pakai jempol kakinya. "Heh, jangan ngumpet lo! Gue dapet laporan pandangan mata dari grup info warga ya. Apartemen Bu Arini kebakaran tipis-tipis jam delapan lewat. Terus gue cek jam lo keluar dari kostan... lo keluar dari sini jam delapan kurang sepuluh menit!"
Rian langsung menurunkan bantal dari wajahnya, matanya membelalak panik. "Lo... lo ngitungin jam gue keluar?"
"Gue kan punya mata, Malih!" ketus Bagas sambil menunjuk matanya sendiri. "Satu hal yang bikin otak cerdas gue ini mikir: berita kebakaran belum naik di Twitter ataupun Instagram pas lo dapet telepon darurat dari entah siapa, terus lo langsung ngibrit kayak dikejar setan. Pertanyaan gue... kok lo bisa tahu duluan kalau daerah apartemen dia bakal ada insiden? Lo punya indra keenam atau... lo emang lagi nongkrong di daerah sana?"
Rian menelan ludah. Lidahnya mendadak kelu, persis seperti saat diinterogasi Dian tadi di lokasi kejadian. "Gue... gue kan udah bilang, gue lagi nyari makan pecel lele di daerah sana.!"
"Halah! Bohong lo bau terasi!" cibir Bagas, langsung menoyor bahu Rian pelan. "Sejak hari Sabtu lo diusir dari apartemennya gara-gara rumus 'kakak-adik' ciptaan lo itu, lo tiap malam nyari makan sengaja ke daerah sana kan? Ngaku lo! Lo sengaja muter-muter di radius apartemen Bu Arini biar kalau dia keluar, lo bisa 'kebetulan' berpapasan?"
Rian menghela napas pasrah, lalu mengubah posisinya menjadi duduk bersandar di dinding kamar. Bahunya merosot. "Ya... ya terus gue harus gimana, Gas? Gue ngerasa bersalah banget udah bikin dia tersinggung soal ucapan kemarin. Gue cuma mau mastiin dia baik-baik saja."
"Mastiin baik-baik saja sampai rela jadi ojek payung darurat pas ada kebakaran?" goda Bagas, tapi sedetik kemudian ekspresinya berubah agak serius. "Tapi bentar... muka lo kok kusut amat? Gak dapet pelukan terima kasih nih?"
Rian teringat kembali momen di mana Arini menggenggam erat kedua tangannya di tengah kerumunan. Rasa hangat dan debaran itu kembali menyengat dadanya, namun dengan cepat Rian menggelengkan kepala kuat-kuat.
"Tadi... Bu Arini gak sengaja megang tangan gue, Gas. Kenceng banget karena dia panik nanyain keadaan gue," aku Rian pelan, wajahnya mulai memerah lagi. "Tapi langsung gue tepis pikiran aneh-aneh gue. Gue inget prinsip gue. Gue gak boleh pacaran sama temen sekantor, apalagi Bu Arini itu atasan langsung gue. Jarak jabatan kita jauh, Gas. Kalau gue baper, yang ada kerjaan gue di kantor makin berantakan."
Bagas terdiam sejenak, menatap sahabatnya yang tampak tersiksa antara mengikuti kata hati atau logika profesionalnya. Bagas menghela napas, lalu menyodorkan sisa martabak manis ke depan muka Rian.
"Prinsip lo emang bagus, Yan. Kedengarannya sangat berwibawa dan dewasa," ujar Bagas dengan nada sarkas yang khas. "Tapi sori-sori nih... prinsip lo itu udah resmi kedaluwarsa sejak lo rela nemenin dia lembur semalaman, nganterin obat pas dia ngumpet, sampai rela muter-muter di daerah apartemennya tiap malam. Badan lo udah bergerak duluan sebelum otak lo selesai mikirin prinsip, Rian goblok!"
Rian tertegun mendengar ucapan Bagas. Ia meraih potongan martabak itu dengan lesu, menyadari bahwa benteng pertahanan "profesionalisme" yang ia agung-agungkan sebenarnya sudah jebol sejak lama tanpa bisa ia kendalikan lagi.