Gerald—mantan tentara pasukan elit dari dunia modern—mengakhiri hidupnya setelah kehilangan tujuan hidup.
Namun kematian bukanlah akhir.
Ia terbangun di tubuh seorang prajurit rendahan di tengah medan perang dunia asing yang dipenuhi pedang, darah, dan kerajaan yang saling membunuh.
Tanpa sihir.
Tanpa kekuatan dewa.
Hanya perang.
Di saat umat manusia sibuk saling menghancurkan, bencana muncul dari bawah tanah.
Orc.
Ribuan monster brutal menyerbu benua dan memaksa seluruh kerajaan manusia bersatu demi bertahan hidup.
Di tengah kekacauan itu, Gerald mulai membangun pasukannya sendiri.
Bukan ksatria.
Bukan bangsawan.
Melainkan orang-orang buangan: pengemis, bandit, budak, pecandu alkohol, dan tentara gagal.
Pasukan sampah yang kemudian dikenal sebagai—
The 10th Battalion
Pasukan paling kacau.
Paling brutal.
Dan paling ditakuti di medan perang.
Dari unit buangan menjadi legenda perang umat manusia, Gerald akan membuktikan bahwa monster terb
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BAGERAAA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana Membunuh Raven
Pagi datang bersama udara dingin dan suasana yang jauh lebih berat dibanding biasanya.
Desa kecil The 10th Battalion masih berdiri di tengah reruntuhan dan hutan gelap, namun sekarang semua orang tahu satu hal:
Perang sudah dekat.
Dan untuk pertama kalinya…
Mereka punya target nyata.
Raven.
Gerald duduk di dalam rumah kayu rusak yang sekarang dijadikan ruang rapat sementara.
Di depannya:
Varn
Doran
Elias
Luca
Boris
dan Kael
Mantan tangan kanan Raven itu duduk bersandar di dinding sambil membalut lukanya sendiri.
Meski tubuhnya terlihat lemah…
Tatapannya masih tajam.
Gerald langsung bicara tanpa basa-basi.
“Ceritakan benteng utara.”
Kael mengangguk pelan.
Lalu mengambil arang dan mulai menggambar di lantai kayu.
“Benteng utara dulunya benteng kerajaan.”
Garis-garis mulai terbentuk:
tembok luar
gerbang utama
menara pengawas
dan bangunan dalam benteng
“Sekarang Raven menguasainya.”
Elias melihat gambar itu lalu langsung pucat.
“ANJIR GEDE BANGET.”
“Karena itu benteng,” jawab Doran santai.
“TERIMA KASIH INFORMASI TIDAK BERGUNA ITU.”
Kael melanjutkan:
“Raven punya sekitar seratus lima puluh orang.”
Suasana langsung sunyi.
Beberapa detik tak ada yang bicara.
Lalu Boris angkat tangan.
“Kalau kita pura-pura mati gimana?”
“ITU BUKAN STRATEGI!”
Kael bahkan sampai menatap Boris lama.
“…Dia selalu begini?”
“Sayangnya iya,” jawab Elias lelah.
Namun Gerald tetap fokus.
Seratus lima puluh orang.
Dan itu belum termasuk:
mantan ksatria
tentara bayaran
serta orang-orang brutal yang ikut Raven
Sedangkan The 10th Battalion?
Masih sekumpulan pengungsi bersenjata seadanya.
Kalau perang terbuka…
Mereka kalah.
“Raven sendiri?” tanya Gerald.
Kael diam beberapa detik.
Lalu menjawab pelan:
“…Monster.”
Suasana langsung berat lagi.
“Seberapa kuat?” tanya Doran sambil menyeringai tertarik.
Kael menatap pria besar itu.
“Kalau kau lawan dia sendirian…”
Tatapannya dingin.
“…kau mati.”
Doran malah tertawa senang.
“HAHAHAHA!” “Aku suka orang kuat.”
“KAU SUKA SEMUA YANG BISA BUNUH KAU!”
Namun Gerald memperhatikan sesuatu.
Kael takut.
Bukan hormat. Bukan kagum.
Takut.
Dan orang seperti Kael seharusnya bukan tipe yang gampang takut.
“Itu sebabnya kita gak lawan langsung,” ujar Gerald akhirnya.
Semua langsung menoleh.
“Hah?” Elias bingung.
Gerald menunjuk gambar benteng.
“Benteng besar punya kelemahan.”
“Apa?”
“Mereka terlalu percaya diri.”
Kael langsung mengangkat wajah sedikit.
Gerald melanjutkan:
“Raven pikir kita cuma kelompok kecil.”
Tatapannya menyipit.
“Berarti dia bakal meremehkan kita.”
Doran mulai menyeringai.
“Aku mulai suka rencana ini.”
“Padahal belum ada rencananya!” teriak Elias.
Gerald berdiri lalu melihat semua orang.
“Kita gak akan serang benteng.”
Suasana langsung hening.
Luca mengernyit.
“Lalu?”
“Kita bikin mereka keluar.”
Kael langsung sadar sesuatu.
“…Supply.”
Gerald mengangguk kecil.
“Benteng butuh makanan.” “Butuh kayu.” “Butuh jalur perdagangan.”
Ia menunjuk garis jalan di gambar.
“Kalau semua itu hilang…”
Matanya berubah dingin.
“…mereka keluar sendiri.”
Keheningan memenuhi ruangan.
Karena perlahan… semua mulai mengerti.
Gerald tidak mau perang biasa.
Ia mau mencekik Raven perlahan.
“Anjir…” gumam Elias.
“Itu licik banget.”
“Perang memang licik,” jawab Gerald datar.
Boris angkat tangan lagi.
“Kalau mereka keluar benteng…”
“Hm?”
“…boleh gak kita curi makanannya dulu?”
“….”
“….”
Kael menatap Boris beberapa detik.
Lalu tertawa kecil pelan.
Untuk pertama kalinya…
Pria itu benar-benar tertawa.
“Aku gak nyangka kelompok yang ditakuti Raven isinya orang-orang begini.”
“HEY!” protes Elias.
Namun Kael justru melihat semua orang di ruangan itu:
veteran tua
pengungsi
preman
orang gila
dan mantan tentara dari dunia lain
Pasukan aneh.
Namun anehnya…
Mereka terasa hidup.
Berbeda dari pasukan Raven yang dipenuhi rasa takut.
Tiba-tiba—
DUUMM!!
Suara keras terdengar dari luar desa.
Semua langsung berdiri.
“Apa itu?!” Elias panik.
Seorang penjaga langsung berlari masuk.
“GERALD!”
“Apa?”
“Orang Raven datang!”
Suasana langsung berubah dingin.
Gerald mengambil pedangnya.
“Berapa banyak?”
Penjaga itu terlihat pucat.
“…Cuma satu.”
“Hah?”
Semua langsung bingung.
Satu orang?
Gerald berjalan cepat keluar rumah menuju gerbang desa.
Dan benar saja…
Di luar pagar kayu berdiri satu pria sendirian.
Memakai armor hitam. Membawa pedang besar di punggungnya. Dan wajahnya penuh bekas luka.
Tatapannya dingin.
Namun yang paling mengerikan—
Aura pria itu berbeda.
Bahkan Doran yang biasanya santai… langsung berhenti tersenyum.
Kael perlahan membelalak.
“…Mustahil.”
Gerald menyipitkan mata.
“Siapa dia?”
Kael menelan ludah.
Lalu berkata pelan:
“…Raven.”