Dipaksa pamannya menikah setelah lulus SMA, kehidupan Andara yang sudah yatim piatu tidak menjadi lebih baik.
Setelah difitnah sudah tidak perawan, dituduh berzinah saat hamil setelah 3 bulan menikah, Andara menjadi janda di usia sembilanbelas tahun.
Penderitaan tidak berhenti di situ, rumah peninggalan orangtua Andara diambil paksa oleh keluarga Irfan, mantan suaminya dengan alasan melunasi hutang-hutang orangtua dan paman Andara.
Dikucilkan karena dianggap aib dan pembawa sial membuat Andara memutuskan untuk mengadu nasib ke Jakarta dalam keadaan hamil.
Bagaimana kehidupan Andara selanjutnya ?
Apakah nasib Andara bisa berubah setelah bertemu dengan bayi Lily yang kehilangan ibunya saat ia dilahirkan ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bareta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Rasanya lega melihat Daisy sudah kembali seperti biasa di pagi ini. Bibir mungilnya mengoceh sambil misuh-misuh tampak menggemaskan.
Ternyata hati Daisy kesal karena beberapa temannya mengatakan kalau Andara tidak cocok jadi ibu sambungnya karena terlalu muda tapi pantas jadi ibunya Lily yang masih bayi.
“Memangnya Sisi tua banget sampai nggak cocok jadi anaknya kak Ara ?”
“Sisi masih imut dan menggemaskan,” sahut Ara sambil mencubit kedua pipi chubby Daisy.
“Hari ini kak Ara antar aku ke sekolah ya ?”
“Boleh, ajak Lily juga ya.”
“Boleh dong.” Kepala Daisy mengangguk-angguk dengan wajah ceria.
Sebetulnya gambaran situasi yang diceritakan Daisy membuat Andara tambah malu ke sekolah karena faktanya Andara hanya pengasuh yang sebentar lagi akan berhenti kerja.
Untungnya sampai di sekolah, Lily agak rewel hingga Andara tidak perlu lama-lama di sana. Rasanya tidak nyaman senyum terpaksa demi membalas sapaan orang-orang yang mengenali wajahnya gara-gara kejadian Savira.
Sepanjang perjalanan pulang pikiran Andara kemana-mana, yang terberat adalah masalah Irfan. Firasat Andara makin kuat kalau tujuan utama Irfan ke Jakarta adalah mengacak-acak hidupnya lagi.
Padahal Andara sudah punya rencana. Setelah tugasnya sebagai ibu susu selesai, ia ingin melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Beberapa waktu lalu Andara sudah mencari tahu soal syarat dan biayanya. Semuanya bisa ia penuhi.
Usianya masih muda dan gaji yang diberikan Deswita sampai ia berhenti kerja cukup untuk biaya kuliah di PTN sementara masalah biaya hidup sehari-hari, Andara bisa mencari kerja yang tidak mengganggu jadwal kuliahnya.
Tidak harus di Jakarta, Andara akan mencoba di beberapa kota kecuali Yogyakarta. Sampai saat ini Andara belum siap kembali ke sana meski ia lahir dan dibesarkan.
“Ra, ada yang mau ketemu kamu tuh di gerbang,” ujar Imah mendekati Andara yang baru saja turun dari mobil.
Pandangan Andara berpaling ke arah gerbang. Wajahnya berubah pucat dan seluruh tubuhnya menegang. Meski dalam posisi membelakanginya, Andara yakin pria yang berdiri itu adalah Irfan.
Bagaimana mungkin dia sampai tahu rumah ini ? Apa jangan-jangan dia membuntutiku sampai kemari ? Kalau iya, darimana dia tahu sekolah Daisy ?
Apa pak Bas begitu membenciku sampai melakukan teror sejauh ini ?
“Mbak Ara nggak apa-apa ?” Sentuhan Lastri membuat Andara gelagapan.
“Nggg…. nggak apa-apa.”
“Kenal sama orang itu ?”
Kepala Andara mengangguk. “Dia mantan suami saya.”
Lastri mengernyit, memperhatikan pria yang sedang merokok di luar gerbang tapi sayang ia tidak bisa melihat wajahnya.
Sepertinya Irfan sengaja mencari posisi yang tidak bisa tertangkap kamera.
“Perlu saya suruh pergi ? Atau kita panggil satpam ?”
“Tidak usah,” Andara menggeleng. “Besok-besok dia akan datang lagi kemari kalau saya tidak mau menemuinya. Saya titip Lily.”
Meski ragu membiarkan Andara sendirian, Lastri mengambil alih Lily.
“Mbak Ara….” Lastri menahan lengan Andara. Tatapan wajahnya mengkhawatirkan Andara yang kelihatan tegang meski bibirnya tersenyum.
“Tenang saja, saya yakin dia nggak bakalan berani macam-macam di sini,” ujar Andara menepuk-nepuk punggung tangan Lastri dan melepaskan dari lengannya.
Sebelum menghampiri Irfan, Andara mengaktifkan mode rekam di handphonenya yang disimpan di saku celana panjangnya.
“Ada apa lagi ?” ketus Andara dengan wajah datar.
Irfan berbalik dan mengepulkan asap rokok yang membuat Andara kesal dan refleks memecah asap di depan wajahnya.
“Jadi ini tempat tinggalmu sekarang ?” Irfan tersenyum sinis, menginjak puntung rokoknya lalu menatap banguan rumah 2 lantai yang cukup besar.
“Saya kerja di sini.”
“Berarti gajimu cukup besar.”
Rasanya Andara ingin muntah melihat wajah Irfan yang dibuat sangar, kumis dan jambangnya sengaja tidak ducukur rapi. Tapi yang lebih menjijikan adalah tatapan matanya yang memancarkan sifat licik, congkak dan serakah.
“Ada keperluan apa ?”
Irfan tertawa sinis. “Sombong sekali gayamu Andara ! Tapi lumayan juga, kamu sedikit lebih pintar sekarang, tidak sia-sia setahun tinggal di Jakarta.”
Andara menghela nafas sambil membuang muka. Penyesalan terbesarnya adalah pernah menganggap Irfan sebagai pria baik yang bisa menjadi pendamping hidupnya seumur hidup.
“Silakan pergi kalau tidak ada hal penting.”
Irfan menahan pintu gerbang dengan kakinya.
“Hasil penjualan rumahmu tidak cukup untuk melunasi hutang Pardi jadi kamu masih harus membayar kekurangannya.”
Andara tersenyum sinis. “Aku sudah sebatang kara, tidak kenal Pardi atau siapapun juga !”
“Berani sekali kamu…. Aaaahhh !”
Andara mendorong Irfan sekuat tenaga sampai tersungkur ke aspal lalu cepat-cepat menutup gerbang dan menurunkan selotnya lalu cepat-cepat berbalik masuk ke dalam rumah.
Tidak terima diperlakukan demikian, Irfan berusaha membuka gerbang sambil berteriak memanggil-manggil Andara.
Sumi keluar, mendekati Andara yang masih berdiri bersandar di depan pintu utama. Tatapannya yang biasa dingin berubah jadi menyeramkan.
“Jangan bawa masalah pribadi ke rumah ini !”
“Maaf tapi saya tidak pernah memberitahu dimana saya bekerja.”
Sumi beralih ke jendela kecil yang ada di samping kiri dan kanan pintu. Menyibak tirainya supaya bisa melihat keluar. Andara mengikutinya namun berdiri di sisi yang berbeda.
Dua orang sekuriti menghampiri Irfan dan entah apa yang dibicarakan sampai akhirnya Irfan pergi membawa motornya.
“Terima kasih mbak Sumi,” ujar Andara yang yakin kalau Sumi-lah yang menghubungi pos keamanan.
*****
Tiba-tiba menjelang sore Deswita datang ke rumah setelah berbulan-bulan hanya menghubungi Andara lewat handphone.
“Siapa laki-laki itu ?” tanya Deswita dengan tajam.
Keduanya berbicara di kamar Daisy yang kebetulan kosong karena si pemilik sedang tidur siang di kamar Lily.
“Dia mantan suami saya, Nyonya,” sahut Andara dengan kepala tertunduk dan tidak berani memanggil Deswita dengan sebutan ibu.
“Berapa sisa hutangmu padanya ?”
“Saya tidak punya hutang apa-apa padanya, Nyonya,” sahut Andara dengan ekspresi terkejut.
“Lalu kenapa dia datang kemari dan membuat malu ?”
Andara menelan ludah saat mendengar suara Deswita tiba-tiba meninggi dan melengking.
“Maafkan saya, Nyonya. Saya bersedia mengundurkan diri supaya tidak membuat nyonya dan pak Baskara tambah malu.”
Deswita berdecih dan tersenyum sinis. “Aku tidak menyangka kamu se-egois ini, mengambil keputusan tanpa memikirkan tanggungjawabmu pada Lily.”
“Saya tidak bemaksud seperti itu Nyonya. Sebetulnya saya…”
“Aku tidak akan membuatmu belerja selamanya di sini,” potong Deswita dengan tatapan semakin tajam hingga Andara memilih untuk menundukkan kepalanya lagi.
“Tapi tidak sekarang !” Deswita menjeda, mengambil handphonenya dari dalam tas.
“Aku yang akan menentukan kapan kamu bisa berhenti menjadi ibu susu Lily jadi sampai waktunya tiba, jalankan tanggungjawabmu sesuai kesepakatan kita.”
“Baik Nyonya.”
Pembicaraan kembali terputus, sepertinya Deswita sedang mengetik di layar handphonenya.
“Sementara ini jangan pernah keluar rumah termasuk mengantar Daisy. Aku akan menempatkan satpam untuk mencegah dia berbuat onar lagi. Paham ?”
“Baik Nyonya. Terima kasih.”
Deswita menghela nafas, beranjak dari tepi tempat tidur menuju pintu namun sebelum keluar kamar, ia berbalik dan menatap Andara yang buru-buru menundukkan kepalanya.
“Satu lagi yang perlu kamu ingat baik-baik ! Mulai hari ini hanya Sumi yang boleh mengurus segala keperluan Baskara termasuk membersihkan kamar dan ruang kerjanya. Serahkan semua kunci pada Sumi. Mengerti ?”
“Nngggg…..”
“Jangan lupa kalau akulah yang mempekerjakanmu dan yang membayar gajimu setiap bulan jadi sudah seharusnya kamu menuruti perintahku bukan Baskara !”
“Baik Nyonya.”
Deswita keluar dengan suara pintu sedikit dibanting. Andara pun menghela nafas dan merogoh saku celana panjangnya.
Sejumlah pesan yang dikirim ke nomor Rio sejak Irfan pergi masih centang satu dan Andara tidak berani menghubungi Baskara untuk minta waktu bertemu.