Di saat fisiknya yang sawo matang selalu dihina oleh geng Ivanka, Alisha membuktikan bahwa kecerdasan dan rasa percaya diri jauh lebih memikat daripada standar kecantikan dunia. Namun, ketangguhannya diuji oleh Reyshaka, rival abadi berotak encer yang hobinya berdebat, tapi diam-diam selalu pasang badan paling depan saat Alisha direndahkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danisa Danish, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gengsi, Modus, dan Sifat Asli yang Kembali
Hari Selasa tiba dengan atmosfer yang jauh lebih segar di SMA Pelita Bangsa. Bagi Alisha, wejangan dari Bapak malam tadi benar-benar manjur. Begitu melangkah melewati gerbang sekolah, ia tidak lagi menunduk. Kepalanya tegak, siap menghadapi siapa pun—termasuk sampah-sampah kelas yang kemarin sempat membuat mentalnya sedikit jatuh.
Namun, ada satu hal yang tidak berubah: Reyshaka tetaplah cowok paling menyebalkan dan menjengkelkan yang pernah Alisha kenal.
Saat Alisa sampai di ruang kelas,matanya melirik ke arah meja dimana Shaka duduk,tapi ia tidak melihat Shaka di kursinya.Alisha kemudian berbalik keluar kelas mencari dimana laki-laki itu berada.Alisha kemudian pergi ke perpustakaan dan benar saja laki laki itu sedang duduk membaca buku di sudut dekat jendela.
"Nih, hoodie lo. Udah gue cuci bersih, wangi, gak ada sisa air mata gembel kayak yang lo bilang kemarin," ketus Alisha sambil menyodorkan sebuah paper bag tepat di samping Buku yang dibaca Shaka.
Shaka yang sedang fokus membaca sebuah buku langsung mendongak. Ia melirik paper bag itu, lalu menatap Alisha dengan senyum miring andalannya. "Bagus deh. Gue kira bakal menyusut gara-gara ketularan aura sedih lo."
Alisha mendengus, melipat tangan di dada. "Satu lagi. Soal kejadian di taman kemarin... anggap aja kita impas. Lo udah balikin novel gue, dan gue udah terpaksa dengerin petuah gak bermutu lo. Jadi, jangan harap gue bakal bersikap lembek atau berterima kasih sama lo ya, Shak."
Shaka terkekeh pelan, bersandar pada sandaran kursinya dengan gaya santai yang angkuh. "Siapa juga yang butuh terima kasih dari lo? Lagian, gue cuma kasihan aja liat partner olimpiade gue mukanya mirip zombi. Kalau lo gak fokus, yang rugi kan nama baik gue juga."
"Oh, jadi cuma demi reputasi lo?" Alisha menaikkan sebelah alisnya, matanya berkilat menantang. "Oke. Mulai detik ini, permusuhan kita resmi berlanjut. Gak ada kamus 'kasihan' lagi di antara kita."
"Siapa takut? Lagian, draf materi fisika bab fluida dinamis lo kemarin masih banyak yang keliru. Kerjaan lo gak becus," cibir Shaka sengaja memantik api.
"Heh! Itu karena kemarin otak gue lagi keganggu! Sini drafnya, biar gue benerin sekarang dan gue buktiin kalau otak lo gak seberapa dibanding gue!" seru Alisha emosional, langsung merebut kertas di meja Shaka. Permusuhan kecil yang akrab itu kembali menyala, membuat beberapa anak di kelas menggeleng-geleng pasrah melihat dua juara kelas itu sudah mulai berdebat lagi.
Di tengah-tengah perdebatan sengit tentang rumus fisika itu, sebuah aroma parfum vanila yang sangat menyengat mendadak menusuk indra penciuman. Langkah kaki yang sengaja dibuat anggun mendekat ke arah mereka.
"Hai, Shaka..."
Suara yang dibuat-buat manja dan mendayu-dayu itu memotong kalimat Alisha. Ivanka berdiri di sana, menopang dagunya di pembatas meja Shaka sambil mengerjapkan matanya berkali-kali. Rambutnya yang sengaja dicatok rapi dikibas ke belakang dengan gerakan yang sangat dramatis.
"Shaka, kamu ternyata lagi disini ya,aku cariin kamu loh dari tadi,kamu sibuk gak sekarang?ada yang mau tanyain shak," ucap Ivanka, sepenuhnya mengabaikan keberadaan Alisha yang berdiri tepat di sebelah Shaka.
Shaka menghentikan kegiatannya, menatap Ivanka datar. "Nanya apa?"
Ivanka langsung tersenyum lebar, merasa mendapat lampu hijau. Ia mengeluarkan sebuah ponsel dengan casing berbulu merah muda yang heboh, lalu menyodorkannya ke depan wajah Shaka. "Ini loh... aku bingung banget mau milih warna jepit rambut buat acara pensi bulan depan. Menurut kamu, bagusan yang warna soft pink atau fuchsia? Kulit aku kan putih, kayaknya cocok dua-duanya, tapi aku butuh second opinion dari cowok sekeren kamu."
Alisha yang mendengarnya langsung memutar bola matanya malas. Nanya jepit rambut ke anak olimpiade fisika? Yang bener aja, batin Alisha jengkel.
Melihat Ivanka yang mulai mengeluarkan jurus capernya yang luar biasa tidak penting, Alisha memutuskan untuk mundur. "Gue balik ke kelas. Gak level ngelayanin obrolan gak bermutu," sindir Alisha pelan, bersiap membalikkan badan.
Namun, sebelum Alisha sempat melangkah, Shaka tiba-tiba menahan ujung seragam Alisha dengan dua jarinya, membuat Alisha terpaksa berhenti.
Shaka kemudian menoleh ke arah Ivanka dengan ekspresi tanpa dosa. "Tanya aja sama Alisha. Dia lebih paham soal ginian. Tuh, liat aja jepit rambut hitamnya yang polos, sangat fungsional buat nahan rambut biar gak ganggu pas ngitung rumus."
Ivanka langsung cemberut, menatap Alisha dengan pandangan sinis dan meremehkan. "Ih, Shaka! Kok nanyanya ke Alisha sih? Selera dia kan... ya kamu tahu sendiri, kuno banget. Gak aesthetic sama sekali."
Alisha yang tadinya ingin pergi, mendadak mengurungkan niatnya begitu mendengar fisiknya dan seleranya disenggol lagi. Sembari mengingat kata-kata Bapak tentang 'sampah', Alisha tersenyum manis—sebuah senyuman sarkastik yang mematikan.
"Iya, Ivanka. Selera gue emang kuno," potong Alisha santai, matanya menatap Ivanka dari atas sampai bawah. "Tapi setidaknya, otak gue gak sekosong kotak jepit rambut lo. Dan maaf ya, Shaka lagi sibuk bantuin gue ngerjain materi olimpiade yang bobot nilainya bisa ngangkat akreditasi sekolah kita, bukan sibuk mikirin warna yang cocok buat kepala lo."
Setelah mengucapkan kalimat menohok itu, Alisha langsung menyentak pelan seragamnya dari pegangan Shaka, lalu melenggang pergi kembali ke kelas dengan puas.
Ivanka menghentakkan kakinya kesal, wajahnya memerah karena malu. "Shaka! Liat tuh Alisha, judes banget! Kok kamu betah sih temenan sama cewek kasar kayak dia?!" rengek Ivanka, mencoba mencari pembelaan.
Shaka tidak menanggapi rengekan Ivanka. Pandangannya justru mengikuti langkah Alisha yang berjalan kembali ke kelas dengan dagu terangkat. Shaka berdiri mengekor alisha ke kelas meninggalkan Ivanka sendiri di perpustakaan.shaka terlihat menahan senyum geli. Singa betinanya yang galak dan bermulut tajam ternyata sudah benar-benar kembali, dan entah mengapa, Shaka merasa hari Selasanya kali ini tidak akan membosankan lagi.